RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
MIMPI BURUK



EPISODE 77


Semenjak kejadian di pemandian itu, Ken dijuluki Albatros dari Utara oleh para tahanan. Mereka juga tidak mencoba macam-macam pada pria pembunuh satu itu.


Pada akhir bulan di bulan ke lima masa hukuman, ada kunjungan dari rumah sakit untuk mengecek kesehatan para tahanan. Mereka dikumpulkan di aula dan berbaris rapi menunggu gilirannya dipanggil perawat.


Ken tidak tahu, dua perawat yang ikut datang adalah perawat yang juga menangani Suzy di rumah sakit.


Pada saat giliran ia dipanggil untuk mendapatkan pemeriksaan dan suntikan, dua perawat itu tengah membicarakan Suzy.


"Benar. Wanita itu seharusnya melahirkan bayinya dalam bulan ini, tapi entah mengapa dia belum juga bangun. Aku kasihan padanya," ucap salah satu perawat dengan bisik-bisik.


"Hmm. Aku juga merasa seperti itu. Aku dengar, suaminya bikin ulah dan dipenjara. Kabarnya, keluarganya pun kesulitan membayar tunggakan rumah sakit," jawab perawat satunya.


Ken mendengarkan cerita itu sambil lalu tanpa menyadari bahwa orang yang sedang dibicarakan kedua perawat itu adalah istrinya. Jadi ketika ia selesai disuntik, Ken langsung pergi begitu saja.


Sambil duduk menimang-nimang batu kerikil, Ken menerawang langit siang terang. Ia memikirkan Suzy yang satu bulan lagi melahirkan.


"Wanita yang sebentar lagi melahirkan namun masih koma? Aah, Kasihan sekali. Bagaimana dengan bayinya? Huff,, Bagaimana juga kabarmu sayang? Apa kau baik-baik saja di luar sana? Apa kau tahu? Aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu," Ken bicara sendiri.


Pada saat itu, muncul sebuah gagasan di otak Ken. Yah! Jika dia merindukan Suzy, mengapa tidak mencoba menelepon?


Maka, berlarilah ia menuju pos para sipir. Ia meminta sebuah kesempatan untuk menelepon keluarganya sekali saja.


Untungnya, mereka memberi ijin meski hanya sepuluh menit!


Dengan cepat, jari telunjuk Ken menekan nomor ponsel Suzy di telepon kabel dalam ruangan sipir.


Satu kali.


Dua kali.


Tiga kali.


"Apa yang terjadi padamu, sayang. Jangan buat aku khawatir...."


Usahanya tidak berhasil karena nomor Suzy tidak bisa dihubungi. Maka dengan sendirinya ia mencoba kembali dengan nomor Akiyama. Lagi-lagi, mereka tidak juga dapat dihubungi.


"Apa yang terjadi pada mereka?" Ken jadi cemas.


Ia berusaha mengingat nomor lain. Nomor siapa kira-kira yang harus ia hubungi lagi?


"Ah! Ibu!"


Ditekannya nomor telepon rumah Kenie, sang ibu. Tersambung!


"Halo? Siapa ini?" suara dari seberang.


"Ibu, apa itu kau? Ini aku Ken!"


"Ken! Bagaimana kabarmu??!" Kenie merasa sangat senang ketika mendengar suara putranya.


"Aku baik-baik saja. Oh ibu, apa kau menemui Suzy? Bagaimana kabarnya? Apa dia baik-baik saja dan makan teratur??" pertanyaan Ken begitu banyak.


Kenie diam dan merasa bingung harus berkata apa.


"Ibu? Halo ibu? Kenapa kau diam?" Ken cemas. "Apa Suzy dan bayiku baik-baik saja, Bu? Tolong katakan padaku.." lanjutnya sedih.


"Ken,,,"


"Ya, Bu? Cepat katakan padaku, apa yang ingin kau katakan??"


"Ibu kehilangan jejak istrimu. Rumah mereka kosong, restoran ayam mereka juga sudah tutup, tidak berjualan lagi."


DEG!


"Apa katamu, ibu? R rumah mereka kosong?" Ken pucat seketika.


"Benar, ibu tidak,-"


TUUUUT... TUUUUT.. TUUUUUT...


"Ibu?! Halo?!!"


Seorang sipir mencabut colokan kabel karena sepuluh menit sudah berlalu.


"Waktumu sudah habis!"


"T tunggu, pak! Tolong ijinkan aku bicara pada ibuku sebentar lagi saja," Ken memohon.


"Tidak. Keluarlah."


"T tapi,,,"


"Waktumu sudah habis. Kembalilah ke tempatmu."


Ken berjalan keluar dengan lesu. Ia merasa jantungnya berdebar kencang setelah mendengar berita dari ibunya.


Ia kembali ke dalam sel dan merenungi ucapan ibunya. Rumah Suzy kosong, restoran juga tutup? Lalu, di mana mereka?


Bibir Ken bergerak-gerak menahan kesedihannya. Linangan air mata pun mulai menggenang di pelupuk matanya. Sambil mengepalkan tinjunya, Ken berusaha mengatur emosinya.


Ketika ia mengedipkan mata, air matanya pun tak mampu ia bendung lagi. Ia merasa sangat cemas karena kehilangan kabar dari wanita yang ia cintai.


Hari berikutnya dan berikutnya lagi, Ken berusaha menghubungi nomor Suzy dan keluarganya kembali. Meski waktu yang ia punya hanya sepuluh menit, namun ia tetap berusaha.


Dan akhirnya, ketika ia mencoba menghubungi nomor Suzy sekali lagi, usahanya itu berhasil.


"Halo? Ini siapa?"


"Ibu? Apa itu kau?"


"Maaf sepertinya kau salah sambung!" jawab bibi Tamako hendak menutup telepon dari menantunya.


"Tunggu ibu! Aku tahu itu kau. Aku mohon, katakan padaku bagaimana kabar Suzy??" suara Ken gelisah.


"Untuk apa kau menanyakan kabar putriku?" jawab bibi Tamako ketus.


Ken terkejut dengan nada bicara ketus ibu mertuanya yang biasa baik kepadanya itu.


"Ibu, apa yang terjadi?" tanyanya gemetaran.


Bibi Tamako diam tidak menjawab, namun terdengar dengusan nafasnya.


"Ngomong-ngomong, ibu. Apa kau sedang bersama Suzy? Jika iya, tolong berikan teleponnya padanya," Ken benar-benar ingin bicara pada istrinya.


"Sudah, hentikan. Mulai sekarang, jangan pernah hubungi kami lagi. Sejak kau dipenjara, kami telah menganggapmu tiada," kata ibu mertua Ken.


"K kenapa ibu bicara seperti itu..."


Belum lagi selesai bicara, ibu mertuanya itu sudah menutup teleponnya. Meski Ken mencoba menghubunginya kembali, namun tetap saja tidak diangkat.


"Ada apa ini? Mengapa ibu sepertinya marah dan membenciku?" gumam Ken.


Setelah beberapa hari merenung, Ken mengerti kenapa sikap ibunya ketus dan antipati kepadanya seperti itu.


Jika dipikir-pikir, hal itu pantas ia terima. Ibu mertuanya pasti merasa kecewa dan menyesal menikahkan putrinya pada seseorang sepertinya. Bahkan sejak dirinya membuat masalah lima bulan lalu, ia yakin perbuatannya itu telah melukai hati ayah dan ibu mertuanya.


Terutama hati Suzy.


•••••••••••


WUZZZ...


Ken mengigau pelan saat ia mendapatkan mimpi buruk tentang Suzy dan bayinya. Dalam mimpinya tersebut, ia berdiri di tengah-tengah tebing. Di tangan kanannya, ia memegang erat tangan Suzy. Sedangkan di tangan kirinya, ada seorang anak laki-laki berpegang erat pada tangannya.


Keduanya seakan hendak jatuh ke dalam jurang dalam dan meminta pertolongan pada Ken.


Tanpa berhenti berjuang, Ken berusaha menyelamatkan dua manusia itu dari ancaman kematian. Masing-masing, ditariknya dengan kuat tubuh mereka menggunakan kedua tangan yang ia punya.


Entah siapa anak laki-laki itu, namun ia merasa harus memperjuangkannya.


Di saat bersamaan itu, tiba-tiba saja Suzy melepaskan diri dari genggaman tangannya tanpa bicara apapun dan hanya tersenyum. Seketika Ken berteriak histeris saat menyaksikan tubuh Suzy jatuh ke dalam jurang yang dalam dan seakan tanpa dasar.


"Tidaaaaakkkk!!! Suzy!! Jangan pergi!!"


***


Tepat pada saat Ken bermimpi, Suzy sedang menjalani operasi untuk kelahiran bayi yang ada di dalam kandungannya.


Mereka memutuskan untuk melakukan operasi meski Suzy tidak sadarkan diri karena jika kelahiran itu ditunda, maka akan berdampak lebih buruk bagi sang bayi.


Paman Akihiro dan bibi Tamako duduk dengan tangan kanan mereka yang mengepal di dada. Rupanya mereka sedang berdoa agar putri dan cucunya selamat dari maut.


Di samping mereka, Akiyama berdiri dan bersandar di dinding. Ia pun mendoakan keselamatan adik dan keponakannya itu dengan tulus.


Ketika akhirnya dokter keluar dengan menggendong seorang bayi laki-laki, pecahlah tangis bibi Tamako. Ia bersyukur bahwa cucunya tersebut telah lahir dengan selamat, tampan dan sempurna.


Namun, sepertinya Suzy masih harus dirawat agar kesehatannya pulih pasca melahirkan. Selain itu, mereka juga menunggu wanita itu bangun dari koma.


Di ruang inap Suzy,


Akiyama duduk mendekati ibunya yang sedang menggendong sang cucu.


"Ibu. Bukankah sebaiknya kita memberitahu Ken bahwa putranya telah lahir dengan selamat?"


"Tidak perlu."


"Kenapa, bu?"


"Dia tidak pantas mendapatkan seorang putra dari rahim putriku," jawabnya tegas.


"Apa ibu masih marah soal pengakuan darinya pada kasus pembunuhan itu?"


"Tentu saja. Ibu mana akan membiarkan pria lain menyakiti hati putrinya?"


"Tapi Bu, dia hanya manusia biasa. Bukankah yang terpenting bukan dia pelaku pembunuhannya?"


"Ibu tidak yakin. Bukankah sebelumnya dia pernah membunuh?"


"Ibu!"


"Apa?"


"Dulu dia terpaksa membunuh untuk menyelamatkan keluarga kita! Ibu dan Suzy. Apa ibu lupa?" Akiyama tidak setuju jika ibunya ikut membenci Ken seperti orang lain.


"Tapi apa sekarang? Di mana dia saat istri dan anaknya membutuhkan kehadirannya?! Gara-gara mendapat suami sepertinya, hidup Suzy menjadi sia-sia dan menyedihkan seperti ini. Aih, kasihan sekali putriku," bibi Tamako menangisi putrinya yang malang.


"Tapi Bu....."


"Jika terjadi sesuatu pada putri kesayanganku, ibu tidak akan pernah memaafkan dia. Ingat! Jangan sebut nama dia di hadapan ibu. Mengerti?!"


Akiyama diam seribu bahasa dan hanya bisa memperhatikan ibunya yang tampak benar-benar kecewa. Saat mengikuti sidang keputusan waktu itu, ibunya berharap banyak bahwa menantunya tidak pernah menyentuh gadis pelayan itu.


Namun saat ia mendengar pengakuan Ken perihal ciuman itu, ia sangat kecewa. Bisa-bisanya menantunya itu menghianati putri kesayangannya.


Dari kekecewaan itulah, bibi Tamako meyakinkan diri bahwa bukti yang ditemukan polisi juga benar adanya. Bahwa menantunya juga sempat berhubungan badan dengan pelayan restoran mereka.


Bersambung.......