RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
NASEHAT



EPISODE 138


Beberapa tahun kemudian....


Pagi hari yang mendung, tampaklah Suya berdiri di depan makam Suzy bersama Ken. Mereka, ayah dan anak itu datang menyapa wanita yang istimewa dalam hidup.


Untuk pertama kalinya, Ken membawa Suya menemui Suzy. Selain baru-baru ini ia bisa pergi bersama Suya dengan leluasa, ia juga baru berdamai dengan nenek Tama, wanita yang menjaga Suya selama ini.


"Sayang, bagaimana kabarmu? Apa kau masih suka memasak?" Ken tersenyum. "Maaf, ya. Aku baru sempat membawa Tatsuya kemari. Akhirnya, aku bisa hidup bersatu dengan putra kita."


Ken meraih punggung Suya dan menyuruhnya untuk menyapa ibunya.


"Sapalah ibumu."


Suya mengangguk. Kemudian memberi sujud penghormatan pada makam ibunya.


"Ibu, senang bertemu denganmu meski secara tak langsung. Hari ini, aku datang sebelum aku pergi ke sekolah. Oh ya! Sekarang aku sudah kelas dua SMP, Bu. Apa ibu melihatku dari atas sana?"


Suya mengambil nafas dalam-dalam.


"Semoga ibu bahagia dan hidup damai, ya. Ibu bahkan tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi. Aku dan ayah kini semakin sering bertemu. Kami juga sesekali tinggal bersama. Tidak seperti dulu lagi yang harus hidup terpisah," lanjut Suya.


Ken menepuk-nepuk punggung putranya. Kemudian ia berdoa dan memberi salam penghormatan sebentar, lalu mengajak Suya pulang.


Sambil berjalan menuju motornya, Ken mengajak bicara Suya.


"Apa kau ingin memancing?"


"Memancing?"


"Ya."


"Sepertinya menarik."


"Akhir pekan nanti, bagaimana kalau kita mengajak mama berkemah."


"Ide bagus. Mama pasti sangat senang mendengar ide ayah," Suya memanggil Yuna dengan sebutan mama.


"Jangan beritahu mama. Kita akan memberinya kejutan."


"Oke. Setuju."


••••••••


Ken pulang ke rumah Kenie satu jam setelah tuan Hide. Ia memarkirkan motornya ke halaman dan disambut oleh Yuna.


"Selamat malam suamiku!" serunya mengagetkan seraya keluar dari persembunyiannya.


"Kau belum tidur?"


"Tentu saja. Aku tidak bisa tidur kalau kau belum pulang," jawabnya.


"Baiklah, baiklah. Ayo masuk."


Ketika Ken turun, tampaklah seseorang yang memboncengnya. Dialah Tatsuya!


"Suya?!" pekik Yuna dan langsung memeluknya.


Suya mengangguk sambil meringis dengan mata sipit. Karena putra Ken ada di sana, Yuna pun amat gembira. Meski anak itu bukan darah dagingnya, namun keakraban yang terjalin amatlah menakjubkan.


Antara Yuna dan Suya, hanya terpaut usia tiga belas tahunan. Itulah mengapa mereka mudah dekat seperti kakak beradik. Sebagai ibu sambung, Yuna sangat menyayangi putra Ken.


Bila sudah bertemu, maka Ken sendiri akan tersingkirkan oleh Suya. Sebab Yuna akan membuatkannya makanan, sampai menemaninya curhat. Hal-hal seperti itu justru membuat Ken tersenyum senang karena putranya mendapat ibu pengganti yang cukup menyenangkan.


"Apa kau mau menginap, Suya?"


"Iya. Ayah sudah mengemasi barangku."


"Bagus kalau begitu, hmm," Yuna menepuk lengan Suya.


Mereka memasuki ruang keluarga dan disambut Kenie yang langsung berteriak menyapa Suya.


"Suya! Kau datang?" sapanya gembira luar biasa.


"Iya, nenek, hehe.


"Hmm, cucu nenek makin tampan saja. Bagaimana sekolahmu? Apa berjalan lancar?"


"Hmm. Cukup lancar."


"Benarkah?"


"Baiklah ibu, biarkan Suya istirahat dan menyimpan barangnya terlebih dahulu di kamarnya."


"Aah,, iya iya baiklah. Nona Kira, bantu Suya merapikan kamarnya, ya," Kenie memanggil asisten Kira dan memintanya membantu sang cucu.


"Aku naik dulu, ya nek."


"Hmmm.." Kenie mengangguk sambil tersenyum.


"Aku juga, Bu," Ken pergi naik tangga sambil melonggarkan ikatan dasinya.


HUFFT


"Aahh.. Sepertinya Ken bisa hidup tenang sekarang. Selama ini, ibu merasa kasihan padanya setiap kali ia mendapat masalah. Karena sekarang ia sudah berdamai dengan nenek Tama, ia bisa bersama Suya kapanpun ia mau."


"Benar, ibu. Aku bisa melihat perjuangannya selama ini. Dia berusaha keras untuk mendapatkan ampunan dari nenek Tama."


"Benar, bukan?"


"Hmm," Yuna mengangguk. "Oh ya, aku sampai lupa. Aku harus menyiapkan makan malam untuk Ken dan Suya dulu, ibu!" lanjutnya heboh sambil berlari menuju dapur.


•••••


KYAAA


KYAAA


Pagi itu di sebuah tempat alam terbuka di danau Hamana, Suya tengah bermain bulu tangkis dengan Yuna. Ken sendiri tengah sibuk menyiapkan tenda dan perapian untuk membakar ikan yang mereka bawa di dalam kotak pendingin. Loh? lalu mengapa ia susah-susah memancing kalau ternyata membawa ikan dari rumah?


Ya. Kegiatan memancingnya itu bisa dibilang hanya untuk menciptakan keakraban yang lebih antara Ken dan Suya.


Untuk bisa menghabiskan satu hari yang menyenangkan seperti itu, Ken mendaftarkan diri terlebih dahulu untuk mendapatkan ijin ataupun lisensi memancing yang tidak mudah didapatkan meski hanya satu hari.


Dan setelah mendapatkan lisensi itu sendiri, akhir pekan yang mereka inginkan pun terlaksana. Mereka berangkat pagi-pagi benar dengan mobil dan bawaan yang bermacam-macam.


Yuna pun sangat gembira mendapat kejutan berkemah di alam bebas seperti itu.


Ken hanya melambaikan tangannya sambil terus menyiapkan perapian. Tiba-tiba saja, datanglah Ayumi. Rupanya, ia sempat mendengar lokasi perkemahan mereka. Sehingga ia pun berinisiatif menyusul.


"Ooh? Bukankah itu bibi Ayumi!!" seru Suya.


"Eh???" Yuna menoleh.


"Hai semuanya! Boleh aku ikut bergabung???" tanya Ayumi seraya menjinjing tas campingnya mendekati Ken yang sedang menyiapkan tenda perapian.


"Dari mana kau tahu tempat ini?" Ken heran.


"Aku mendengarnya saat kalian bicara semalam," Ayumi duduk di sebelah Ken. "Kau ini, seharusnya kalian ajak-ajak aku kalau mau melakukan kegiatan mengasyikkan seperti ini."


"Aku sengaja pergi hanya dengan mereka berdua."


"Emm, tapi tenang saja. Aku akan mengerjakan apapun untuk membantumu. Kemarikan itu, aku bisa menyelesaikannya," Ayumi mencoba menggantikan pekerjaan Ken.


"Tidak perlu, aku sudah hampir selesai dengan itu. Kau bawa tenda sendiri kan?"


"Tidak. Memangnya harus, ya? Kalau aku lihat, tendanya cukup luas untuk empat orang."


"Aiishh, apa-apaan kau ini. Kau menyusul kami berkemah tapi tidak membawa perlengkapan untuk berkemahnya?" Ken mendelik.


"Hehehe, iya. Aku terlalu senang sehingga tidak memikirkan apa yang harus ku bawa selain pakaian ganti."


"Mobilmu mana?"


"Itu."


"Kalau begitu, malam ini kau bisa tidur di dalam mobil."


"Apa? Tapi kalau di dalam mobil, aku sendirian dong?"


"Salah siapa kau datang kemari?"


"Heehh?? Teganya kau."


Ken menghela nafas pelan. Ia sudah selesai membuat tenda dan api unggun. Ia pun meraih kursi lipat, ember dan pancingnya kemudian berjalan ke tepian danau.


Sebenarnya mereka bisa saja naik perahu yang disewakan untuk para pemancing. Namun, untuk berkemah ia hanya membutuhkan waktu mengobrol saja sebenarnya.


"Suya! Ayo kita memancing!!"


"Baik, ayah!"


Suya pun meletakkan raketnya dan berlari ke tempat ayahnya.


"Ini pancingmu."


"Waaahh... apa di sini kita bisa mendapatkan banyak ikan?" diterimanya pancingan yang diulurkan ayahnya sambil duduk di kursi lipat yang sudah disiapkan ayahnya pula.


"Kita lihat saja," Ken mulai melempar kailnya.


Suya mengikuti apa yang ayahnya lakukan. Melempar kail dan diam menunggu mangsa. Sementara Yuna dan Ayumi menyiapkan sayuran dan menanak nasi menggunakan ketel piknik yang mereka bawa.


"Mereka tampak gembira, ya."


"Hmm. Damai melihatnya," Yuna tersenyum menatap ayah dan anak yang sedang mengobrol sambil menunggu pancingannya dilahap ikan.


Beberapa menit kemudian, pancingan Suya ada yang menariknya kuat dari dalam air.


"Ayah, sepertinya pancinganku mengenai sesuatu."


Ken langsung mendekati Suya dan membantu putranya memegangi pancingannya. Benar saja! Ada mangsa yang terjerat di kailnya. Dengan hati-hati ia pun membantu memutar roda pancing dan menariknya perlahan.


SPLAASSHH!


Seekor ikan sidat tertangkap oleh kail Suya.


"Bagus, Suya! Tarik terus!"


Suya teramat senang mendapatkan hasil pancingan. Ia memasukkan sidat itu ke dalam ember dan melempar kail kembali sambil duduk.


"Apa kau senang?"


"Senang sekali, ayah."


"Oh ya. Ayah dengar, ada seorang anak yang merundungmu di sekolah karena masa lalu ayah. Dan karena itu, kau memukulnya. Apa itu benar?"


GLEK


"Dari mana ayah tahu itu?" Suya terkejut.


"Tidak penting ayah tahu itu dari mana. Sebelumnya, ayah hanya bisa meminta maaf padamu soal itu."


"I itu...."


"Apa kau malu dan terganggu saat anak itu berkomentar buruk tentang ayah?"


"Tidak! Aku tidak malu sedikitpun tentang ayah. Mereka hanya bisa berkomentar tanpa mengetahui siapa ayah yang sebenarnya," Suya langsung membantah.


Ken tersenyum seraya menepuk punggung tangan Suya. Ia mengerti bagaimana perasaan Suya kala itu. Sama seperti dirinya yang dulu selalu terpancing amarah ketika seseorang menghina Kenie, ibunya.


"Kau benar. Mereka tidak mengenal bagaimana ayah. Untuk beberapa alasan, ayah mengerti bagaimana perasaanmu. Dan berterima kasih atas pembelaanmu pada ayah. Tapi, Suya. Berjanjilah pada ayah, kau tidak akan menggunakan tinjumu untuk hal-hal yang tidak berguna seperti itu lagi. Ya??"


"Kenapa? Mereka pantas mendapatkannya."


Ken mengangguk, "Benar. Ayah pun begitu saat masih muda. Tapi ayah menyesali itu ketika ayah sudah tumbuh dewasa dan menjadi orang tua seperti saat ini."


"Maksud ayah?"


"Dengar baik-baik. Ayah ingin, kau fokus pada pelajaran dan jaga sikap saat di sekolah, demi masa depanmu nanti. Untuk menghadapi orang-orang yang jahat, tidak harus selalu menggunakan tinju. Kau boleh lakukan itu. Tapi hanya untuk situasi darurat yang memang benar-benar dibutuhkan. Hmm??"


Suya memperhatikan ayahnya. Ia tidak mengerti. Akan tetapi, ia berusaha untuk memahami masa lalu sang ayah. Jika memang ayahnya pernah mengalami masa seperti dirinya, mungkin sebab itulah ia menyesali semuanya


.


.


.


.


BERSAMBUNG.....