RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
AYAM MARINASI



EPISODE 26


Pagi itu Ken sedang mencuci pakaiannya saat Linzhi mendekatinya. Meski agak khawatir dengan emosi Ken, wanita itu berusaha mengajaknya bicara.


"Apa kau mau sarapan?" tanya Linzhi gugup.


"Tidak. Aku berangkat pagi mulai sekarang," jawab Ken datar.


"Apa kau masih marah padaku?"


"Tidak. Untuk apa marah padamu?"


"Soal semalam itu,," Linzhi hendak mengulas perdebatan mereka yang sempat tertunda.


"Jika kau mau mendengar pendapatku. Sebaiknya kau berhenti dari pekerjaanmu itu dan beralih ke pekerjaan yang lebih baik," Ken memindah pakaiannya ke dalam tabung pengering.


"Aku tidak yakin bisa melakukan sesuai keinginanmu. Selama ini, aku hidup dari pekerjaan itu. Uang yang ku dapat, semuanya dari pekerjaan memijat dan melayani para pria hidung belang. Kau tidak bisa memintaku berhenti begitu saja, Ken. Jika aku berhenti. Apa kau bisa menghidupiku dengan statusmu yang menganggur??" Linzhi tiba-tiba saja menyinggung soal pekerjaan Ken.


Mendengar ucapan Linzhi barusan, Ken meletakkan pakaiannya kembali. Kemudian ia menelan ludah dan membuang nafas kasar. Ia sadar betul bahwa dirinya bukan pria yang mempunyai segalanya.


"Baiklah. Sebagai pria pengangguran sepertiku, aku cukup sadar diri. Aku tidak ingin memaksamu untuk melakukan sesuatu yang bukan keinginanmu."


Ken melanjutkan pekerjaannya dan mulai menjemur pakaian yang baru ia cuci.


"Tunggu Ken. Apa kau tersinggung dengan kata-kataku?"


"Tidak. Kata-katamu memang benar. Tidak ada yang meleset sedikitpun."


Linzhi diam sesat. Lalu melanjutkan bicara, "Kau tahu, bukan? Orang tidak hanya hidup untuk bercinta. Bahkan kau tidak bisa mengandalkan barang besar dan panjang sebagai jaminan bahwa kau mampu membuat seseorang bahagia. Jika orang tidak bekerja dan mendapatkan uang, itu artinya sama saja bunuh diri. Secara pribadi, aku tidak bisa hidup hanya mengandalkan hubungan badan semata."


Ken diam dan tetap menjemur pakaiannya. Ia merasa bahwa Linzhi semakin memojokkannya.


"Aku pergi dulu. Ada seseorang yang harus ku temui hari ini," ucapnya sambil melangkah melewati Linzhi.


"Tunggu Ken. Kita harus selesaikan pembicaraan ini," kata Linzhi mencegat langkah Ken.


"Tidak perlu. Aku rasa, aku sudah memahami soal ini," ucapnya sambil menepuk pundak kekasihnya itu.


•••••••


Begitu mengambil kunci mobil bak di rumah bibi Tamako, Ken langsung pergi ke rumah potong ayam. Ia menggantikan pekerjaan Akiyama dan memperkenalkan dirinya kepada pemilik rumah potong, sebelum mengambil beberapa peti ayam potong.


Setelah peti-peti ayam diangkat ke atas mobil bak yang ia kendarai dan siap meluncur, Ken mulai berangkat ke restoran ayam Suzy.


"Terima kasih tuan! Aku pergi dulu. Sampai jumpa besok!" teriaknya pada pemilik rumah potong dari dalam mobilnya.


"Ya! Hati-hati," jawab pemilik ramah.


Brum... Brum...


Mobil bak yang dikendarai Ken, sampai di depan restoran ayam dengan selamat. Dua orang pelayan pria datang membantunya menurunkan peti. Tetapi tenaga mereka yang lemah membuat sebuah peti hampir jatuh.


Untung saja, Ken yang sedang memasuki pintu belakang restoran sambil mengangkat sebuah peti pun melihatnya dari jauh. Dengan cepat ia menurunkan peti yang sedang diangkutnya ke tanah dan segera berlari membantu menopangnya.


"Huff. Terima kasih, kakak!" pekik Gorou merasa bersyukur.


"Lain kali perhatikan langkahmu. Jika tidak, kau bisa membawa kerugian pada restoran," ucapnya.


"Iya. Maafkan kami, kak."


Gorou dan Daisuke pun berterima kasih serta meminta maaf pada Ken. Benar sekali. Jika saja peti itu benar-benar jatuh, maka ia akan mengganti kerugian yang cukup besar.


Rupanya, hal yang baru saja terjadi juga disaksikan oleh Suzy.


"Ck Ck Ck,, Jika saja Ken tidak bergerak cepat menolong kalian, kalian berdua akan tamat di tanganku," katanya sambil menggoreskan tangan ke lehernya.


Daisuke membungkukkan badan untuk meminta maaf. Diikuti Gorou yang juga membungkuk untuk menyampaikan maafnya. Sedang Ken melanjutkan pekerjaannya tanpa banyak bicara.


Tap Tap Tap..


Semua peti sudah selesai ia bawa masuk. Begitu semua sudah diangkut, Ken segera memindahkannya ke dalam kotak peti beku yang disediakan di dapur.


Kemudian ia mengambil beberapa kotak ayam potong untuk dicuci dan dipotong kembali menjadi beberapa bagian.


Satu kotak mampu menampung dua puluh ekor ayam potong utuh. Ayam utuh yang akan ia bagi menjadi beberapa potong bagian. Misalnya bagian dada, paha dan sayap. Selanjutnya ia mulai memarinasi sebagian ayam dengan bumbu merah pedas. Ken mengerjakannya sendiri dengan cepat tanpa bertanya lagi.


Di meja lain, Suzy mengenakan celemek dan mulai menyiapkan tepung. Tanpa sengaja ia melihat Ken yang sedang memarinasi ayam. Begitu tahu bahwa Ken belum memakai celemek, Suzy langsung meraih sebuah celemek lagi.


"Kamu pasti begitu bersemangat sampai lupa mengenakan celemek."


Ken menoleh.


Omaigot! Suzy menjadi deg-degan. Jantungnya berdetak begitu cepat. Nafasnya pun seolah berhenti ditempat. Siapa yang bisa menyembunyikan perasaan di hadapan seseorang yang disukainya??


Aih. Seketika ia pun panik di dalam hati. Tapi ia mencoba tetap tenang di luar.


"Gawat! Gawat! Kenapa aku harus bersandar di dada Ken? Lihat, kan? Jantungku jadi deg-degan seperti ini??"


Ken menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya, saat Suzy tanpa sengaja bersandar di dadanya. Tiba-tiba saja ia berkeringat dan lehernya pun terlihat bergerak naik turun saat menelan ludah.


Ken gelagapan. Dengan gemetaran, jari tangannya meraba-raba meja dan tempat ia memarinasi ayam. Begitu menemukan daging ayam di dekatnya, diremasnya daging ayam tersebut dengan gemas tanpa diketahui Suzy. Ia lupa bahwa saat itu ia sedang memarinasi ayam dengan bumbu pedas.


GLEK!


Wajah Ken tampak jelas sedang menahan sesuatu. Begitu Suzy selesai memasangkan celemek ke tubuhnya, mereka berdua bertatapan dan terlihat jelas bahwa mereka merasa kikuk.


"S Sudah selesai. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu," kata Suzy.


"Ah. Ya. Kau juga."


Ken tertawa kecil mempersilahkan Suzy melanjutkan pekerjaannya. Begitu wanita itu kembali pada pekerjaannya, Ken mengusap wajahnya dengan tangan bersarung yang ia gunakan untuk meremas ayam potong marinasi tadi.


Spontan saja Ken terkejut. Bagaimana tidak? Tangannya itu belepotan bumbu merah marinasi!


Saat diusapkannya tangan berbumbu merah itu ke wajahnya, wajah Ken pun menjadi ikut dimarinasi. Seolah-olah siap ditepungi dan digoreng garing.


"Hmmmpphh!!! Xixixii!!!


Terdengar suara cekikikan Gorou dan Daisuki dari meja seberang. Rupanya kedua anak itu melihat kemesraan yang terjadi di antara Ken dan bos mereka.


Ken menoleh dan menatap tajam mereka dengan sedikit mengangkat dagunya. Gorou yang jahil bergerak mempertemukan kedua ujung tangannya seakan mengajari Ken untuk berciuman.


"Issh. Dasar bocah!!" Ken menyeringai kesal.


Rupanya Daisuki ikut-ikutan menggoda Ken. Mereka berdua tahu betul, bahwa bos mereka memiliki perasaan pada Kenzhi.


Dengan kesal Ken melempar dua potong ayam marinasi ke arah mereka. Splash!! Splash!! Mereka terkena lemparan ayam tepat di muka mereka. Karena tembakannya tepat mengenai sasaran, Ken tertawa puas. Dengan tatapan mengancam, ia menggerakkan dua jari ke arah matanya dan kemudian dibalikkannya ke arah Daisuki dan Gorou.


GLEK!


Anak-anak muda itu menelan ludah. Mereka suka menggoda Ken. Tapi mereka juga harus berhati-hati saat bercanda padanya. Sebab mereka tahu bahwa Ken cukup sangar. Lebih-lebih senior mereka itu juga mempunyai tato di lengannya. Saat Ken mengancam dengan gerakan seperti itu, mereka tidak tahu itu sebagai ancaman murni atau hanya sebagai guyonan.


•••••••


Sore itu,


Ken sedang mengelap meja dapur saat anak-anak lain sedang membersihkan meja tamu depan di waktu sepi. Hari itu, restoran mereka cukup ramai. Sudah ada dua ratus box pesanan antar yang mereka terima. Dan tujuh puluh mangkuk hidang serta beberapa masakan pendampingnya.


"Istirahatlah sebentar dan nikmati jatah makan siangmu," kata Suzy.


"Eh? Iya baiklah."


Ken masih tetap mengelap kompor dan meja masaknya. Suzy yang tidak betah menunggu pun menarik tangan Ken agar berhenti bekerja.


Dibawanya Ken ke meja makan khusus karyawan. Di atas meja tersebut sudah terhidang beberapa menu makanan.


"Ayo makan dulu, Ken."


Ken mengangguk, "Temani aku makan, ya?"


Suzy mengerjapkan matanya dan sedikit bingung. Kemudian ia pun mengangguk, bersedia menemani Ken menikmati makan siangnya.


"Baiklah. Ayo makan bersama."


.


.


.


.


Bersambung ke Episode 27


.


Hai readers!


Jangan lupa tinggalkan Like 👍🏻👍🏻🤗