
EPISODE 55
Rumah kediaman Suzy menjadi gempar karena ibu dan ayah mereka mengumpulkan dua manusia yang menikah beberapa bulan yang lalu itu di kamar Suzy.
Keduanya mendapat sidang dadakan saat itu juga. Baik Suzy maupun Ken, duduk berlutut dengan kedua tangan menopang di atas paha. Tatapan mata keduanya juga jatuh ke bawah. Bahkan mereka berdua pun tidak berani mengangkat kepala di hadapan ayah dan ibu mereka.
Melihat keduanya diam begitu saja, bibi Tamako memulai pertanyaannya.
"Jadi, jelaskan pada ibu. Apa yang sebenarnya terjadi."
Suzy tersenyum gugup seraya mengangkat kepala sebentar lalu kembali menunduk karena menyadari kesalahannya.
Bibi Tamako tidak percaya jika putrinya hanya meringis dan tetap menyembunyikan kebenaran.
"Menantu? Cepat, katakan sejujurnya pada ibu. Apa yang kalian sembunyikan selama ini."
Ken mengangkat kepala sebentar dan menatap ibu mertuanya. Lalu menoleh pada Suzy yang langsung melirik dan mendelik kepadanya. Memberi kode agar Ken tidak banyak bicara. Merasa bahwa rahasia yang mereka simpan sangat penting, ia kembali menunduk dan berusaha tetap menyimpan rahasia.
"Menantu?" bibi Tamako kembali memanggil menantunya.
"I itu....."
"Apa kalian berbuat suatu kesalahan? Mengapa ayah melihat kalian seperti menyembunyikan sesuatu?" kata paman Akihiro yang melihat sikap putri dan menantunya.
"B bukan begitu, ayah mertua."
"Lantas? Ada apa?" paman Akihiro penasaran.
Bibi Tamako memperhatikan keduanya dengan seksama. Lalu ia pun berinisiatif melakukan suatu cara.
"Apa selama ini kalian tidur terpisah dan belum melakukan hubungan suami istri??" pertanyaan bibi Tamako sungguh mengenai sasaran.
GLEK
Ken berkeringat dingin. Sedang Suzy jadi salah tingkah dan memilin-milin ujung bajunya. Melihat sikap gugup keduanya, bibi Tamako pun mengerti.
"Apa itu benar?" tanya paman Akihiro.
Suzy maupun Ken tetap diam seribu bahasa. Lagi-lagi mereka hanya saling melirik dan mengunci rapat-rapat mulut mereka.
"Jadi, apa kau yang menolak putriku, menantu?" bibi Tamako sengaja menjatuhkan kesalahan pada Ken agar putrinya mengaku.
"Apaa?! B bukan seperti itu," Ken jadi serba salah.
"Jadi benar, kalian belum melakukan apa-apa?"
"T tidak juga," Ken menjawab cepat.
Suzy langsung refleks menoleh dan mencubit kencang paha Ken. Tentu saja Ken merasa kesakitan dibuatnya.
"Tidak juga? Apa maksudnya?" bibi Tamako melihat putrinya mencubit sang menantu.
Ken diam kembali.
"Baiklah. Ayah dan ibu punya sesuatu agar kalian mau mengakui semuanya."
"Apa yang akan ibu lakukan?" tanya Suzy cemas.
"Menantu, apa kau menyayangi putriku?"
Ken mengangguk.
"Kalau begitu kau tidak ingin dia dihukum cambuk, bukan?"
"C cambuk??" Ken gelisah hingga akhirnya mengangguk sekali lagi.
"Kalau begitu, katakanlah dengan jujur. Apa kalian sudah?"
Ken menelan ludah lalu menunduk. Suzy berusaha mempengaruhi Ken supaya tidak berterus terang.
"K kami sudah berciuman."
"Hanya itu?"
"S sebenarnya,-" Ken hendak mengatakan sesuatu yang lainnya namun Suzy dengan sigap menutup mulutnya.
"Ada apa dengan ayah dan ibu? Apa kalian tidak mempercayai putri kalian sendiri?"
"Kalian yang bersikap mencurigakan!"
"Apa kami harus memberitahu kalian saat kami baru saja melakukannya?"
"Jadi, apa kau mau mengatakan bahwa kalian berdua sudah melakukannya?"
"Tentu saja," Suzy menjawab dengan percaya diri.
"Kalau begitu, berciuman. Cepat! Lakukan itu sekarang!" kata bibi Tamako tegas.
"Apa??!!" Suzy syok.
"Apa lagi? Cepatlah!"
Suzy melirik Ken.
"Menantu, coba cium istrimu," perintah bibi Tamako.
DEG
Lagi-lagi Ken merasa serba salah. Ia bisa saja mencium Suzy di depan mata kepala kedua mertuanya. Akan tetapi bagaimana jika Suzy menyimpan kemarahan setelahnya?
Ah! Situasi ini membuatnya benar-benar tersudut.
"Kenapa lagi? Ayo lakukan...."
Suzy menoleh pada Ken dan mengangguk. Melihat Suzy sudah mengizinkannya, Ken perlahan mendekatkan wajahnya.
Ketika bibir mereka hampir bersentuhan, Suzy melakukan tipu muslihat.
"Ayah, ibu, ada apa di belakang kalian??!!" serunya sambil menunjuk dinding yang ada di belakang ayah dan ibunya.
Lucunya, ayah dan ibu Suzy langsung menoleh mengikuti arahan putrinya. Selagi orang tua mereka menoleh ke belakang, Suzy langsung mencubit pipi kanan kiri Ken hingga bibir Ken tertarik pula ke arah berlawanan.
Wajah Ken terlihat lucu saat kedua pipinya dicubit Suzy.
"Dasar mesum!" bisik Suzy mengancam Ken.
Ken melotot!
Rupanya wanita yang ada di depannya pandai berbohong. Saat pipinya dicubit seperti itu, Ken mendesis dan berusaha membalas. Dalam hitungan detik yang singkat, keduanya saling mencubit pipi masing-masing.
"Tidak ada apa-apa di belakang, apa yang kau lihat tadi?" tanya bibi Tamako masih memeriksa dinding belakangnya.
"Entahlah. Seperti kecoa. Atau,,,,, apa ya tadi,,," Suzy sengaja membuat orang tuanya berlama-lama membelakangi mereka.
Dengan begitu, aksi saling cubit yang sedang mereka lakukan tidak ketahuan.
"Hiiihh...." gumam Suzy lirih beradu cubitan dengan Ken.
Begitu orang tua mereka kembali melihat ke arah mereka, keduanya spontan bersandiwara dengan saling memijit tangan.
"Sudah??" bibi Tamako bertanya.
"Sudah, hehehe," Suzy mengangguk sambil menekan kepala Ken agar ikut mengangguk.
"Ibu belum melihatnya."
"Wuaaah.. Ibu. Tidak perlu diulang lah ya? Bukankah hal seperti itu malu jika dilakukan di hadapan orang?" Suzy mencari alasan.
Ken mengangguk cepat sambil mengusap-usap kedua pipinya yang sakit.
"Oh ya, Ken. Ayo pergi ke restoran sekarang. Pasti anak-anak sudah menunggu kita berdua!!" Suzy menyeret Ken agar berdiri mengikutinya.
Alhasil, keduanya melarikan diri dari persidangan yang digelar orang tua mereka. Sambil berlari, Suzy menarik tangan kiri Ken dan menggenggamnya dengan erat.
Setelah di luar rumah, Suzy baru menyadari bahwa mereka pergi keluar rumah tanpa mantel penghangat.
Alhasil, mereka duduk di tepi jalan dekat rumah dengan kedinginan. Karena pergi terburu-buru, mereka juga lupa membawa uang.
"Ini semua salahmu! Kalau kau mendengar teriakanku lebih cepat, ibu dan ayah tidak akan menyidang kita berdua. Dan kita pun tidak perlu berlari keluar di tengah hujan salju seperti ini," Suzy menggerutu dan menyalahkan Ken.
Ken yang mendengar omelan Suzy pun hanya bisa pasrah menerima kenyataan bahwa dirinya sedang disalahkan. Ia berdiri mengamati wajah Suzy sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Tanpa ia sadari, bibirnya terangkat naik.
"Apa kau sedang tersenyum? Kau meledekku, ya?" Suzy memergoki senyuman Ken.
"Apa? Siapa yang tersenyum?" Ken membuang muka cepat.
"Issh. Sudah ketahuan tapi tidak mau mengaku..." Suzy menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya yang kedinginan.
"Salahmu juga. Mengapa mempersulit situasi. Kau bisa saja, kan? Berbohong pada ibu jika diantara kita sudah pernah terjadi hubungan suami istri. Mengapa jawabanmu berbelit-belit?" lagi-lagi Suzy menggerutu menyalahkan Ken.
Suzy duduk ke trotoar yang ada di belakang mereka sambil menunjukkan sikap kesalnya. Tentu saja Ken mengikutinya duduk juga. Selagi duduk seperti itu, mereka mencoba menghangatkan diri mereka masing-masing.
Huuuff... Huuufff...
Suara tiupan nafas Suzy pada kepalan telapak tangannya terdengar mengganggu pendengaran Kenzhi. Bahkan gerakan menggosok tangan berulang-ulang itu membuat mata Ken tidak nyaman.
Tidak ingin melihat Suzy kedinginan lebih lama atau mati membeku, Ken segera mengulurkan tangannya dan meraih kedua tangan Suzy.
Dengan kehangatan yang ia punya, digenggamnya kedua tangan Suzy sambil dikepal-kepalnya pelan. Sesekali ditiupnya pula kepalan tangannya tersebut untuk mengalirkan udara hangat dari mulutnya.
Nah! Sentuhan hangat tangan Ken tanpa sengaja memberi getaran dalam sanubari Suzy. Perhatian yang diberikan Ken padanya itu pun, rupanya mampu menggoyang pendirian dalam dirinya.
Beberapa kali, Suzy menyadari bahwa Ken menunjukkan perhatian untuknya. Apakah pria itu benar-benar sudah melupakan mantan kekasihnya dan mulai mencintainya?
Suzy tenggelam dalam lamunan.
"Apa kau yakin tidak mau masuk?" tanya Ken menawarkan pada Suzy untuk masuk kembali ke dalam rumah.
"Tidak mau."
"Kalau begitu, apa kita akan mati membeku bersama?" tanya Ken lagi.
"Menurutmu bagaimana, apakah kau akan tetap di sini dan mati bersamaku?" Suzy menjawab asal sambil menggigil.
Tiba-tiba saja, Ken meraih tubuh Suzy dan merengkuhnya ke dalam dada. Meski sendirinya sedang kedinginan, Ken berusaha menghangatkan tubuh Suzy yang mulai menggigil.
"Jika itu maumu, mengapa tidak?" jawab Ken sambil mengusap kepala Suzy.
Suzy mengangkat wajahnya dengan pelan sehingga dirinya mudah melihat wajah Ken yang mulai memucat. Tidak bisa dipungkiri memang, dirinya maupun Ken, sama-sama merasakan getaran cinta istimewa.
••••••••••
Ken dan Suzy masuk kembali ke dalam rumah dengan penampakan seperti boneka salju. Pakaian mereka dipenuhi bunga es berwarna putih yang seperti kapas.
"Kalian dari mana saja? Astaga, pasti kedinginan di luar tanpa mantel dan alas kaki," tanya Nonaka begitu melihat dua-duanya pulang bersama dalam keadaan pucat hampir membeku.
Istri Akiyama itu langsung membawa keduanya ke kamar mandi yang ada di kamar Suzy. Di dalamnya ternyata sudah disiapkan air panas.
"Berendamlah di dalam air panas. Setelah itu kalian bisa minum air jahe hangat,"kata Nonaka sambil menggiring adik iparnya ke dalam bathup.
Ken maupun Suzy hanya menuruti apa yang diperintahkan istri Akiyama. Sebab, mereka juga sudah merasa putus asa. Rasa dingin yang menyergap tubuh mereka benar-benar serius.
Di dalam bak mandi, Ken dan Suzy duduk berhadapan. Kaki mereka sama-sama ditekuk di depan dada. Mereka hanya diam menunggu sampai tubuh mereka terasa hangat kembali.
Mereka tidak tahu kalau di luar kamar mandi tersebut, bibi Tamako dan Nonaka menunggui mereka. Rupanya, Nonaka sudah menceritakan apa yang dilihatnya malam itu pada ibu mertuanya.
Mendengar hal itu dari Nonaka, tentu saja bibi Tamako kembali mempunyai ide cemerlang.
Ide apa itu?
Baca di episode selanjutnya ya 😁
.
.
.
Bersambung ke Episode 56