RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
SEBUAH MISI



EPISODE 122


Karena Yuna sedang kesal dengan Ken, maka ia duduk menyendiri di halaman samping rumah. Ia mengais-ngais tanah menggunakan batang bambu yang tergeletak di halaman tersebut.


Sebagai pria dewasa, Ken memperhatikan Yuna dari dalam rumah. Ia berjalan perlahan mendekati wanita yang sedang merajuk tersebut.


Ia duduk di sisi Yuna sambil membawa dua gelas coklat panas.


"Besok, aku akan mengantarmu pulang ke rumah. Kemudian, setelah itu aku akan memeriksa keadaan Suya. Apakah dia baik-baik saja setelah hari ini bertemu Kazuki. Jika ya, aku akan mengirimnya ke rumah keluargaku untuk menjamin keselamatannya."


Ken melirik Yuna, "Baru setelah semuanya beres, aku akan kembali kepadamu. Jadi tolong beri aku sedikit waktu untuk menyelamatkan putraku terlebih dahulu. Aku harap, kau tidak terlalu marah padaku soal ini."


Sambil bicara seperti itu, Ken menyodorkan segelas coklat panas yang ada di tangan kanannya.


Yuna masih saja diam mengais-mengais tanah dan tidak mau menerima gelas yang diulurkan Ken.


"Kau tidak tahu bukan? Aku seorang yang pantang menyerah. Jika aku mengatakan akan kembali lagi padamu, tentu aku akan melakukannya," Ken berusaha bicara dengan ceria.


Namun Yuna masih kesal dan berdiri begitu saja sampai menyenggol gelas yang disodorkan padanya hingga isinya tumpah mengenai baju Ken.


"Aih panas!" pekik Ken kaget.


Yuna menoleh dan ikut kaget. Spontan saja ia berjongkok dan menanyakan keadaan Ken.


"Maaf maaf. Apa kau tidak apa?" Yuna berusaha mendinginkan baju Ken yang terkena minuman panas.


"Kau sudah tidak marah padaku?"


"Apa?"


NGEK


Yuna menyingkirkan tangannya dan kembali merajuk, "Aku masih marah padamu!"


"Hey? Tapi baru saja kau..." Ken berhenti berkata lalu hanya bisa tersenyum.


Ia mengikuti Yuna yang pergi ke ruang makan. Tanpa peduli Yuna yang sedang mengambek, Ken menyodorkan kembali gelas berisi coklat panas yang sejak tadi ia bawa-bawa.


"Minumlah selagi panas," ucapnya sambil meletakkan gelas tersebut di depan Yuna.


Untuk beberapa saat, suasana menjadi hening. Yuna mencuri-curi pandang kepada Ken.


"Setelah menyelamatkan Suya, kau akan memperjuangkan aku kembali? Benar begitu?" Yuna tiba-tiba bicara.


"Ya. Aku akan berusaha melakukan itu."


"Tapi jika saat pulang nanti ayah memintaku menikahi Kazuki, apa yang harus ku lakukan?"


"Bisakah kau mengulur waktu untukku?" Ken bertanya ragu.


"Maksudmu aku harus membuat acara itu gagal sampai kau datang menjemputku?" tanya Yuna.


"Benar. Seperti itu. Apa kau bisa melakukannya?"


"Tergantung."


"Mengapa tergantung?"


"Tergantung situasi di rumahku. Tentu saja aku akan menolak atau membuat alasan, namun itu tidak bisa terus ku lakukan. Mereka pasti memiliki banyak rencana. Kau harus segera menjemput dan membawaku pergi."


"Baiklah. Dua hari. Aku akan berusaha keras selama dua hari untuk mengirim Suya ke tempat aman. Setelah itu aku akan datang padamu. Jadi tunggulah aku."


"Hmm," Yuna mengangguk bersama Ken.


Setelah rencana yang mereka susun malam ini, keduanya pergi tidur di kamar yang sama. Bahkan tempat tidur yang sama pula. Hal seperti itu kini sudah biasa bagi mereka.


•••••••


Pukul 02.32


Ken terbangun karena ia merasakan seseorang tengah merangkak di atasnya. Ketika ia membuka mata, Yuna tengah berada di atasnya dan tanpa busana sedikitpun. Kedua tangan wanita muda itu memagari tubuhnya yang juga telanjang.


Apa? Bagaimana bisa!


Menyadari bahwa dirinya juga tanpa sehelai kain pun penutup, Ken memiringkan kepalanya dan bertanya malas.


"Aiisshh! Apa yang akan kau lakukan sepagi ini?" Ken bertanya dengan suara masih mengantuk.


"Aku tidak bisa tidur sedikitpun. Jadi aku memikirkan ide ini," senyumnya.


Ken mendengus pelan, "Aku masih mengantuk, Yuna."


"Tidak. Bangunlah. Temani aku berolahraga!" ucap Yuna seraya mengusap dada Ken.


"Badanku tidak siap melakukannya," Ken bicara sambil terus memejamkan matanya melanjutkan tidur.


Maka Yuna meraih kepala Ken dan membuka kelopak matanya dengan dua jarinya, " Bangunlah. Ayooo...."


Karena Ken tidak juga bangun, Yuna tidak mau menyerah. Ia merunduk ke bawah lalu merangsek masuk ke dalam selimut. Di sana, ia menstimulasi tongkat milik Ken supaya bangun dan berdiri tegak.


Meski sedang tertidur, Ken dapat merasakan permainan panas Yuna di bagian anunya. Maka seakan baru saja mendapat isi ulang bensin pada tubuhnya, ia jadi tidak mengantuk lagi.


Perlahan ia duduk dan meraih kepala Yuna yang masih aktif bergerak. Begitu dirinya berhasil membangunkan tongkat milik Ken, Yuna merangkak naik dan menyesap bibir Ken.


Semakin lama pemanasan yang dilakukan mereka, semakin besar pula hasrat yang tercipta. Keinginan untuk bercinta pun membuncah, menggebu-gebu bagai luapan lahar panas yang tak dapat di hindarkan.


Dengan nafas yang terengah dan siap untuk bercinta, Yuna mulai menancapkan tongkat milik Ken ke dalam liang persenggamaannya.


"Aaaahhhh!! Aaaahhhh!!"


Yuna melenguh kencang begitu ia menggerakkan badannya naik turun dengan irama yang lembut.


Jika pada awalnya dulu Suzy selalu menolak dirinya untuk bercinta, kali ini ia bertemu wanita yang sangat berani dan cukup agresif seperti Yuna. Tanpa ragu, sesekali Ken menyesap pelan buah dada Yuna dengan ujungnya yang mencuat.


Sambil terus bergerak, Yuna menurunkan kepalanya dan balas menyesap kuat leher Ken untuk membuat bekas merah keunguan di banyak tempat.


"Hey Ken, kau telah berkali-kali menikmati tubuhku. Kau harus menikahiku setelah ini," kata Yuna dengan suara mendesah.


"Hmm. Baiklah."


"Sungguh?"


"Hhmm."


•••••••


"Kalau begitu kita langsung saja ke bengkel," kata Yuna.


Dan begitu akhirnya mereka tiba di bengkel, Ichigo, Kurosaki dan Takeda langsung menghampiri mereka.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ichigo pada Ken.


"Kau menginap di rumahnya? Jadi benar apa yang kami lihat, bukan? Kalian berdua berpacaran?" sambung Takeda.


"Hati bos sedang memanas, kenapa kalian malah datang kemari?"


"Aku membawa Yuna pulang," itu saja jawaban yang keluar dari mulut Ken.


Tepat saat mereka berjalan ke ruang tuan Tanaka, Kazuki datang dengan mobil yang digunakan untuk mencelakai Ken. Lalu turun dan menyapa Yuna dengan sumringah.


"Yunaku! Akhirnya kau pulang juga!" katanya seraya membentangkan kedua tangan untuk memeluk Yuna.


Tepat sebelum Kazuki memeluk wanitanya, Ken menghalangi dan menanyakan soal Suya.


"Bagaimana dengan Suya?"


"Aah, putramu? Dia baik-baik saja."


Ken tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Sepertinya Kazuki belum mengembalikan Suya ke rumah.


"Jangan katakan kau belum memulangkannya ke rumah?!"


"Yaa. Aku harus melihatmu membawa Yuna pulang dulu. Apa itu salah?"


Ken menarik kerah Kazuki dan berkata tegas, "Kau salah besar bila menyeret putraku ke dalam urusan ini!"


"Baiklah. Tenanglah, bung. Aku akan mengembalikannya siang ini."


"Keenapa harus siang? Kembalikan dia sekarang juga! Seperti yang kau lihat, aku juga mengembalikan Yuna ke tempatnya. Jadi jangan membuat alasan lain untuk berbuat curang."


Ketiga kawan Ken akhirnya tahu apa permasalahannya dan mengapa pula Ken kembali dengan Yuna kemari. Pada saat tegang seperti itu, tuan Tanaka muncul.


"Bos?" sapa Takeda dan Kurosaki.


Ken menoleh dan melepaskan tangannya dari kerah baju Kazuki untuk memberi hormat pada ayah Yuna. Namun Kazuki tiba-tiba saja meninjunya beberapa kali. Saat Ken mencekal tangan Kazuki, tuan Tanaka berseru.


"Sudah hentikan!"


Maka mereka pun berhenti dan berdiri dengan benar.


"Lepas bajumu!" ucapnya pada Ken.


Karena Ken hanya menatapnya dengan bingung, tuan Tanaka pun maju mendekatinya dan membuka paksa jaket dan kemeja Ken sebatas lengan tanpa melepasnya dari tangan. Hanya untuk mempertontonkan tato dan bekas luka di tubuh Ken pada yang lain.


Tepat saat dirinya membuka kemeja yang dikenakan Ken, tuan Tanaka dan yang lainnya melihat tanda cinta merah keunguan yang dibuat Yuna semalam itu memenuhi leher Ken dan dadanya.


Dengan suara bergetar karena menahan emosi, ayah Yuna pun berucap.


"Mulai hari ini kau dipecat! Aku tidak akan lagi mempekerjakan seorang mantan pembunuh dengan banyak bekas luka sepertimu. Jadi jangan pernah datang kemari lagi!"


"Tapi, ayah!" seru Yuna.


"Jangan pula temui putriku. Karena sebentar lagi dia akan menikah dengan Kazuki."


Selesai bicara, tuan Tanaka menyeret Yuna masuk ke ruangannya bersama Kazuki.


"Ken!!" seru Yuna.


Karena Yuna sudah dibawa masuk, Ken berbalik dan berjalan menuju motornya seraya merapikan kembali pakaiannya.


"Ken!" Ichigo memanggilnya.


Yang dipanggil berhenti melangkah dan menoleh.


"Jika kau ingin menanyakan sesuatu tentang Yuna, kau bisa menghubungiku."


"Kami juga."


Ichigo dan dua kawan lainnya mengangguk bersama. Mereka kini ada di pihak Ken.


"Baiklah. Terima kasih, kawan-kawan. Aku harus pergi sekarang untuk mencari putraku."


"Hhmm. Semoga dia baik-baik saja."


Ken mengangguk dan pergi mengendarai motornya dengan kencang.


...----------------...


Sepeninggal Ken, Takeda bertanya pada Ichigo, "Apa kau sudah tahu kalau dia mempunyai seorang putra?"


"Ya. Seorang putra dari mendiang istrinya."


"Mendiang? Maksudmu...." Kurosaki terkejut mendengar kata mendiang.


"Kalian tahu tersangka kasus pembunuhan putri wali kota? Dialah orangnya yang ditangkap pertama kali. Kemudian setelah menjalani masa hukuman sepuluh tahun, polisi baru mengungkap soal adanya tersangka lain yang menjebak Ken."


"Ah! Benar! Aku ingat sekarang. Makanya aku seperti tidak asing dengan wajahnya saat bertemu pertama kali di sini," jawab Takeda cepat.


"Iya. Kenapa aku juga tidak mengiranya? Padahal saat berita itu muncul di televisi, aku selalu mengutuk dirinya karena membunuh seorang wanita muda. Dan sempat meminta maaf padanya juga saat berita penangkapan tersangka yang sebenarnya ramai diberitakan," Kurosaki menggaruk-garuk kepalanya.


"Tapi ada apa dengan mendiang istrinya?"


"Istri dan kakak iparnya mengalami kecelakaan tragis dalam perjalanan hendak menjenguknya di penjara."


"Ck Ck Ck... Jadi dia kehilangan istrinya itu saat mendekam di sel tahanan? Pasti dia juga sangat tersiksa karena tidak dapat melihat kelahiran putranya."


"Aku pikir juga begitu."


"Kalau begitu. Keputusan kita untuk mendukungnya tidaklah salah. Karena dia bersaing dengan Kazuki, aku akan dengan senang hati membantu," Kurosaki yang mempunyai masa lalu buruk dengan Kazuki menjadi bersemangat.


"Baiklah. Semangat untuk kawan kita!" seru Ichigo.


"Yeaaahhh!!!"


......................


BERSAMBUNG.....