
EPISODE 25
Ken melihat bahwa Linzhi benar-benar seorang wanita yang cukup agresif padanya. Sangat berbeda dari masa saat ia mengenalnya dulu. Yaitu, Linzhi yang begitu lembut dan sering menyendiri karena dibully.
Kini, Linzhi menjelma sebagai wanita yang begitu pandai memijat bagian-bagian sensitif seorang pria dan membangkitkan gairahnya.
Yaah. Manusia bisa berubah kapanpun juga. Begitupun isi hatinya. Siapa yang bisa mengetahui apa yang terjadi pada hati seseorang?
Kadang pula, kita sebagai pemilik hati pun tidak mampu memahami apa yang benar-benar ada di dalam hati kita. Apa yang benar-benar dibutuhkan diri kita.
Seperti Ken. Ia berusaha mengatakan tidak untuk Linzhi. Akan tetapi, meskipun ia berpegang teguh dalam hatinya, hasil yang ia pilih pun menjadi berbeda ketika wanita itu memberikan semua sentuhannya.
Aiih.... Mengapa bisa begitu?
Lagi-lagi Ken jatuh dalam lumpur hina. Begitu lemahkah pendiriannya??
Ken mengusap wajahnya kasar.
Disibaknya selimut putih yang menutupi tubuhnya. Dengan dada telanjang, Ken berdiri dan merapikan celananya lalu meraih bajunya yang tergeletak di lantai.
Ia berdiri mematung sejenak menatap Linzhi yang tidur berselimut, kemudian berbalik pergi meninggalkan kamar wanita itu dengan perlahan.
Begitu sampai di ruang tamu tempat ia meninggalkan tas selempangnya, ia meraih kembali tas itu dan pergi ke kamarnya sendiri.
Huh!
Dengan kecewa ia menjatuhkan pantatnya ke atas tempat tidur dan meraih kotak musik yang ada di dalam tas. Diputarnya alunan musik dari kotak musik klasik tersebut.
"Apa yang aku lakukan?" gumam Ken.
Lambat laun, ia terlena ke dalam alunan musik. Iramanya terdengar menenangkan jiwanya. Begitu tenang,,,, begitu pelan. Seketika itu juga, perasaannya menjadi damai.
••••••••
Esok harinya, Linzhi mengajak Ken joging mengelilingi apartemen tempat tinggalnya. Mereka berbagi minuman dan semangat berolahraga. Dari sanalah, mulai muncul kedekatan seperti yang Ken harapkan.
Suatu kedekatan yang tercipta dari kegiatan yang positif di pagi hari.
"Jika kau ingin menikmati malam bercinta dengan memuaskan, kau harus rutin olahraga menjaga stamina tubuh dengan baik," kata Linzhi berlari beriringan dengan Ken.
"Aaah..." Ken mengangguk pelan karena tidak ingin membahas soal itu.
"Apa kau suka makan telur mentah? Mengkonsumsi telur mentah juga mampu meningkatkan stamina pria," ujarnya.
"Sayang sekali, aku tidak suka," jawab Ken.
"Tidak apa. Cukup aku saja yang menikmati dua telur lezat setiap harinya," ucap Linzhi mendekatkan tubuhnya dan mengusap lembut bagian anu Ken.
"Woo???"
Ken terkejut karena tidak menyangka bahwa Linzhi berani menyentuh bagian tersebut di tempat umum. Ditengoknya ke kanan dan ke kiri karena khawatir seandainya ada orang lain yang melihat kelakuan Linzhi barusan.
Benar saja. Ada dua orang wanita yang melihat mereka di sana. Dan kedua wanita itu pun tersenyum-senyum cekikikan sambil memperhatikan anu Ken dengan kentara. Ken yang malu spontan menutupi wajahnya.
"Apa kau sengaja melakukan itu di depan mereka?" Ken gugup.
"Hmmm. Aku akan memberitahu semua orang bahwa kau adalah milikku," Linzhi mengecup bibir Ken dan berlari menjauh.
"Hey??"
••••••••
Hari berikutnya, mereka membuat kue tart bersama. Pada awalnya, ada rasa canggung di antara mereka berdua. Bahkan Ken dengan jelas menarik garis di depan Linzhi. Tapi semakin lama, suasana romantis muncul diantaranya.
Beberapa minggu tinggal di apartemen Linzhi, Ken menjadi semakin dekat dengan Linzhi. Apa lagi kalau bukan karena Linzhi yang pandai mengambil hati Ken.
Karena pada mulanya Ken memiliki perasaan pada Linzhi, pada akhirnya ia pun tidak kesulitan untuk mencintainya kembali.
Dan akhirnya pula mereka berdua mulai berpacaran. Hidup di satu atap yang sama tidak lagi terasa sulit bagi Ken. Sesekali mereka berdua menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan keluar dan menonton film bersama. Pokoknya, sebisa mungkin Ken mengisi kegiatan mereka dengan hal-hal yang positif dan berusaha keras menghindari kegiatan yang menyangkut soal hubungan badan.
Hingga suatu hari, restoran Suzy membuka lowongan untuk pelayan dapur pria. Sebagai pengangguran yang susah sekali mendapat pekerjaan, Ken akhirnya melamar di restoran tersebut.
Untungnya, Suzy sebagai pemilik restoran itu mempunyai hati yang besar. Ia mau menerima karyawan tidak hanya berdasarkan bukti resume yang dikirimkan. Namun ia juga melihat cara kerja pelamarnya.
Selama beberapa hari, Ken melakukan tes kerja dengan baik. Ia mampu menunjukkan diri sebagai pekerja yang giat dan ulet dalam bekerja. Setelah melalui masa tes yang berbelit-belit, akhirnya Ken diterima bekerja!
Tanpa disuruh pun, Ken melakukan pekerjaan dengan cekatan. Misalnya saat Suzy mengaduk bumbu di sebuah tempat, Ken segera bergegas menggoreng ayam pesanan yang sudah masuk. Belum lagi saat ada beberapa pesanan makanan tumisan yang membutuhkan sayuran sebagai pelengkap, Ken dengan cepat pula memotong sayuran dan menumisnya.
Begitu Suzy menghidangkan ayam berbumbu ke dalam mangkuk hidang, Ken menyiapkan tumisan sayuran ke dalam piring.
"Pesanan meja dua dan sepuluh sudah siap!" seru Ken pada pelayan yang bertugas mengantar pesanan ke meja tamu.
••••••••
Begitu restoran sudah tutup, Suzy duduk beristirahat di ruang tengah restoran sambil memijit-mijit kakinya. Ken datang mendekat dan menyodorkan minuman dingin dalam kaleng.
"Apa kakimu sakit?" tanya Ken sambil menghampiri Suzy.
"Eh?? Tidak apa. Em,, Kerjamu bagus hari ini, jangan lupa istirahat yang cukup untuk membuka restoran besok," kata Suzy menerima minuman kaleng yang diulurkan Ken padanya.
"Ya. Kau juga harus banyak beristirahat. Pekerjaanmu hari ini lumayan menguras tenaga. Lihat, kau bahkan mengalami pegal-pegal, sekarang," Ken meneguk minumannya, kemudian meletakkannya di lantai.
Dengan penuh perhatian, Ken meraih kaki Suzy dan memjitnya perlahan. Rupanya, Suzy sedikit mengalami keram otot sehingga kakinya tampak kaku.
"Sssshhh...." rintih Suzy.
"Apakah sakit?" Ken nampak khawatir.
Suzy mengangguk.
"Lain kali, jika kau sudah merasakan lelah, serahkan saja semua pekerjaan padaku."
"Apakah itu kau? Bukankah kau juga mempunyai batasan juga? Aku tidak mungkin merepotkanmu berlebihan," kata Suzy.
"Tidak apa. Apa kau lupa bahwa aku ini seorang pria? Tenagaku berkali lipat darimu. Jadi mulai besok, gunakan saja tenagaku itu sepuas hatimu," jawabnya sambil terus memijat kaki kanan Suzy.
Suzy menatap wajah Ken yang serius. Wajah itu terlihat tenang dan tampan.
"Ya Tuhan,,, aku gemetaran. Jantungku juga berdegup kencang seperti ini. Semoga Ken tidak mendengarnya."
Suzy merasa gugup dalam hati. Sambil terus menatap wajah tampan Ken dari samping, ia memberikan jawaban.
"Baiklah. Aku akan memanfaatkan dengan baik tenaga dan keberadaanmu di dapur. Apa kau sudah puas??"
"Hmm. Sudah sepantasnya," Ken menoleh dan tersenyum.
"Baiklah. Baiklah."
Ken membantu Suzy menutup restoran sebelum mengantarnya pulang. Karena Akiyama juga tidak bisa terus membantu Suzy di restorannya, Ken bersedia menggantikan dan memikul semua pekerjaan yang semula dipegang Akiyama.
"Dia harus menjaga toserba. Jadi, hanya sesekali saja membantu mengambil pasokan ayam."
"Oh, begitu rupanya. Lalu, siapa yang memasok ayam jika Akiyama sibuk?"
"Biasanya aku akan mengambilnya sendiri ke rumah potong," jawab Suzy.
"Berikan saja tugas itu padaku. Jadi, kapan aku harus mengambil ayam potong pesananmu?"
"Setiap pagi," jawab Suzy.
"Baiklah. Aku bersedia."
Ken mengantar Suzy pulang. Sepanjang perjalanan, Ken memegangi tangan wanita itu untuk membantunya berjalan. Sebab bagaimana pun juga, Ken merasa khawatir saat kaki Suzy mengalami keram.
Begitu sampai di depan gerbang, Suzy dengan malu-malu melepas genggaman tangan Ken.
"Ehm. Kita sudah sampai," katanya.
"Baiklah. Selamat malam. Beristirahat dan tidurlah dengan nyanyak. Semoga mimpi indah," kata Ken berdiri mematung.
Suzy masuk. Tapi kemudian menoleh ke belakang, "Apa kau yakin tidak mau mampir?"
"Hmm. Lain kali saja aku mampir," jawab Ken tersenyum.
"Baiklah. Sampai jumpa besok."
••••••••
Ken berjalan pulang kembali seorang diri. Melewati trotoar perkotaan yang cukup lengang di hari Sabtu. Ia berjalan dengan kedua tangannya yang masuk ke dalam kantong celana.
Pada waktu melewati sebuah rumah usaha bercat merah dengan ornamen lampu kertas gantung, Ken berhenti sejenak. Ia menatap tajam tempat tersebut seakan hendak menembusnya sampai ke dalam dengan tatapannya.
Begitu ia hendak melanjutkan perjalanannya, terdengar dari belakang suara seseorang yang sangat ia kenal. Suara Linzhi. Wanita itu sedang mengantar tamunya di parkiran depan tempat itu.
"Terima kasih tuan, jika kau berkenan, datanglah kembali lain waktu," kata Linzhi dengan manja.
"Tentu saja sayang, aku akan datang kembali menemuimu," jawab pria paruh baya yang menjadi tamu Linzhi.
"Aah, Senang sekali. Baiklah. Hati-hati di jalan, tuan," kata Linzhi lagi.
"Sampai jumpa," kata pria itu sambil meraba dada Linzhi lembut.
Dari kejauhan, Ken mengepalkan tangannya. Ia merasa cemburu saat kekasihnya yang pernah tidur dengannya itu benar-benar seorang pelayan di rumah pijat tersebut.
Ketika akhirnya Ken melihat dengan kepala matanya sendiri pekerjaan Linzhi, ia mencoba membuktikan sekali lagi apa yang baru saja dilihatnya.
Maka, ia pergi ke tempat tersebut tanpa ragu lagi. Begitu sampai di rumah pijat, Ken masuk dan mendapat sambutan hangat dari pengelola yang terlihat sangat seksi. Setelah bertanya dan melakukan tawar menawar, akhirnya ia bisa mendapatkan terapis yang disebut stroberi di tempat itu.
Ken duduk menunggu di ruangan yang bisa disebut sebagai kamar pelayanan.
"Selamat malam, tuan."
"Malam."
Ken terkejut saat Linzhi benar-benar datang sebagai terapis yang dipanggil stroberi. Linzhi juga menyambutnya dengan sebuah piring berisi stroberi.
Hoodie yang dikenakan Ken, menutupi kepalanya secara penuh hingga Linzhi tidak mengenali siapa yang sedang berada di hadapannya.
"Sepertinya tuan sedikit malu-malu padaku," kata Linzhi sambil duduk di pangkuan Ken dan mengusap dagunya dengan lembut.
Ken sedikit mengangkat kepalanya saat Linzhi membelai pipinya. Sebuah stroberi pun disuapkan dengan pelan ke mulut Ken. Meski Ken sudah beberapa kali menerima suapan stroberi, Linzhi belum juga mengenalinya.
Bahkan saat Linzhi mulai berlutut di hadapannya dan memijat bagian batang panjang Ken, wanita itu belum juga menyadari situasinya.
"Aaah,,, Apakah tuan merasa nikmat?" tanyanya sambil menengadahkan kepala.
"Ya," jawab Ken singkat.
Melihat batangan yang panjang dan besar milik tamunya, Linzhi buru-buru melepas pakaiannya. Setelah melakukan usapan erotis di beberapa bagian tubuh Ken, Linzhi mulai menyesap bibir dan menyingkirkan penutup Hoodie yang dikenakan tamunya tersebut. Betapa terkejutnya ia ketika melihat pria yang sedang ia layani itu adalah Ken.
Sebagai seorang wanita yang kepergok sendiri oleh kekasihnya, Linzhi terkejut bukan main hingga wajahnya menjadi pucat pasi.
"K Kenzhi? Sedang apa kau di sini?" tanyanya gelagapan dan menghentikan aktifitasnya.
"Kenapa kau berhenti, nona? Lanjutkan apa yang sedang kau lakukan padaku," pinta Ken.
"I Itu,,, itu tidak seperti yang kau lihat, Ken,,," Linzhi jatuh terduduk di ranjang karena mundur ke belakang.
"Tidak apa-apa. Aku akan memahaminya."
Ken berdiri dan mendekati Linzhi dengan batangannya yang sudah terlanjur menegang. Tanpa ragu, ia terang-terangan meminta Linzhi melakukan aksinya kembali.
"Jadi, lakukan lagi padanya hingga tuntas," Ken meraih kepala Linzhi dan menariknya paksa untuk menelan kembali batangannya.
Namun Linzhi menolak dan mendorong pelan pinggul Ken, "Ada apa denganmu? Apa kau sengaja melakukan ini?"
"Ya. Aku juga ingin merasakan pelayanan yang didapat orang lain," jawabnya.
"Tapi, kita tidak perlu melakukan ini di sini. Aku bisa melayanimu di rumah."
"Tidak. Cobalah untuk lakukannya di sini. Karena aku sudah menyewamu."
Linzhi merasa bersalah pada Ken. Ia merasa amat gugup saat melakukan hubungan badan dengannya di luar rumah. Maka, Linzhi menghentikannya dengan cepat.
"Maaf Ken. Aku tidak bisa melanjutkannya. Aku rasa, kau bisa langsung mengatakan semua kekesalanmu padaku dan tidak perlu menghukumku dengan cara seperti ini," kata Linzhi lmengenakan kembali pakaiannya.
"Kenapa?"
"Aku tahu kau hanya kesal," jawab Linzhi.
Ken duduk membuang nafas dan merapikan celananya. Begitu selesai, ia berkata pada Linzhi.
"Baiklah. Selesaikan pekerjaanmu sampai malam ini. Dan katakan pada bosmu. Kau akan berhenti mulai besok."
Ken berjalan keluar kamar dan pergi meninggalkan kekasihnya itu tanpa menoleh kembali ke belakang.
.
.
.
.
Bersambung ke Episode 26