
EPISODE 78
Malam itu, Ken terbangun karena mendengar suara tangisan bayi. Entah itu nyata atau hanya perasaannya saja. Sudah dua hari ini ia bermimpi soal Suzy dan seorang anak laki-laki.
Ditengoknya Kazuki yang sedang tidur tengkurap sambil memainkan sesuatu di tangannya. Entah mengapa, benda itu mengusik pikirannya dan berhasil membuatnya mendekat.
"Woah? Kau bisa memiliki itu di sini?" tanyanya heran saat melihat ponsel di tangan Kazuki.
"Eh?"
Ken duduk di sebelah Kazuki. Sebenarnya, kasus Kazuki tidak jauh berbeda darinya. Tapi, sikap pria itu padanya cukup baik sehingga Ken tidak merasa canggung untuk berkawan.
"Apa kau mau?"
Ken melirik sebentar, "Ponselku disita sebelum masuk sel. Dari mana kau mendapatkannya?"
"Itu mudah. Cukup siapkan uang pada ketua sipir untuk mendapatkan hal seperti ini."
"Aah, jadi kau memiliki koneksi orang dalam?"
"Bisa dibilang seperti itu. Ayahku begitu memanjakanku. Jadi apapun yang aku mau, dia berusaha mewujudkannya," jawabnya nyengir.
"Hmm. Aku mengerti. Tapi ngomong-ngomong, apa kau dengar suara tangisan bayi?"
"Apa? Suara tangis bayi? Haha, kau bercanda? Bagaimana mungkin di penjara seperti ini ada bayi. Itu hanya perasaanmu saja," Kazuki menganggap perkataan Ken sebuah lelucon.
"Tapi, baru saja aku mendengarnya," Ken berpikir sambil keheranan. "Ah, entahlah. Mungkin kau benar, itu hanya perasaanku saja."
"Benar, bukan? Sudah sana, lanjut tidur saja," Kazuki menepuk pangkuan Ken.
"Hmm..."
Ken kembali merangkak menuju pojokan tempatnya tidur. Sebenarnya, ia berharap bisa meminjam ponsel Kazuki sebentar saja. Tapi ia urungkan niatnya tersebut.
Ken merebahkan tubuhnya perlahan dan menutupi wajahnya dengan tangan kanannya. Ia masih tidak habis pikir bagaimana ia bisa mendengar suara tangisan bayi yang terasa begitu jelas di telinganya.
Apa itu hanya halusinasinya saja?
Aah.. Sudahlah.
Mungkin karena ia memikirkan Suzy dan bayinya. Jadi pikirannya dipenuhi hal yang tidak ia mengerti.
Lambat laun ia pun tertidur.
••••••
Pagi ini, para tahanan dikumpulkan di lapangan. Mereka melakukan tugas minggu bersih per masing-masing kelompok.
Dari kelompok orang berduit yang suka membayar pajak pada ketua sipir hingga kelompok orang miskin yang hanya mengikuti alur cerita.
Meski orang tuanya kaya, Ken tidak mendapat dukungan apapun. Lebih tepatnya, tuan Hideaki mengambil langkah aman untuk melindungi perusahaannya. Sebab, bagaimanapun juga lawannya adalah wali kota yang memiliki jaringan kuat dan koneksi di beberapa tempat.
Begitu pula tuan Kido. Saat mendengar putranya itu mendapat kasus baru, ia hanya menonton dan tidak berbuat apapun.
Sebagai warga binaan kalangan ke bawah, Ken ikut dalam kelompok orang-orang miskin yang biasa-biasa saja. Tugas mereka membersihkan gorong-gorong saluran pembuangan.
Mendapat tugas yang kotor seperti itu, kelompok mereka diharuskan untuk tidak mengenal rasa jijik. Sebab, saluran pembuangan di gorong-gorong tersebut berbau sangat tidak sedap alias busuk.
Sambil menyingkirkan sampah yang menyumbat saluran, pikiran Ken terus terganggu. Hingga saat sebuah langit-langit paralon besar retak dan hampir rubuh menimpanya membuatnya kaget dan mundur beberapa langkah.
Pada saat yang kebetulan, seorang tahanan lewat di depannya dan tidak melihat ancaman yang ada. Pada saat yang tepat, langit-langit paralon itu rubuh menimpanya.
"Awas! Lihat ke ataa!" Ken sempat berseru sebelum akhirnya langit-langit paralon itu menimpa tahanan tersebut.
BUUMMBB!
Tanpa menunggu bantuan dari yang lain datang, Ken berlari mendekati pria yang tertimpa runtuhan.
"Kau tidak apa-apa, pak?" tanyanya sambil mengais-mengais runtuhan.
Pria itu mengangguk sambil menyingkirkan bongkahan paralon yang menimpanya sambil terbatuk-batuk. Rupanya kaki pria itu terluka sehingga tidak dapat berdiri.
"Astaga. Kakimu terluka!"
Ken berteriak minta tolong pada yang lainnya untuk menyelamatkan pria yang tertimpa runtuhan dengan segera. Otomatis semua berdatangan dan memberi pertolongan lanjutan seperti melaporkan kejadian itu pada sipir penjaga.
•••••
Di lapangan,
Ken duduk menopang dagu seraya membuat garis di tanah dengan ranting kayu. Ia sudah menghela nafas beberapa kali sejak duduk di sana.
Meski tubuhnya ada di sana, namun sangat jelas bahwa pikirannya melayang jauh entah ke mana.
"Hey, Albatros dari Utara! Mengapa melamun?" Kazuki duduk menyebelahi Ken.
Ken tidak menoleh dan hanya menjawab, "Hmm..."
"Apa ada yang kau pikirkan?"
"Aku mencemaskan istriku."
"Istrimu?"
"Sepertinya aku membuat pilihan yang salah dengan menerima hukuman ini begitu saja tanpa memperjuangkan kebenarannya. Tanpa aku sadari, aku melukai hati keluarga istriku dan membuat Ibu mertua melarangku menghubunginya."
"Jika itu benar. Mungkin saja itu wujud kekecewaan mereka terhadapmu."
"Benar sekali. Sejak kemarin aku mencoba menghubungi keluarganya, tidak satu pun yang memberitahu padaku di mana keberadaan istriku."
Kazuki memperhatikan mimik muka Ken yang serius.
"Kalau begitu, apa kau mau menghubungi mereka sekali lagi?" tanya Kazuki.
"Entahlah. Apa mereka mau bicara padaku lagi."
"Ini. Cobalah sekali lagi," Kazuki mengeluarkan sesuatu dari dalam pakaiannya.
Itu ponsel!
Awalnya, Ken menoleh pada benda yang disodorkan Kazuki padanya. Kemudian dengan mata yang terbuka lebar, ia lanjut menatap Kazuki. Pria itu tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Halo? Siapa ini?" suara bibi Tamako terdengar lagi.
"Ibu, ini aku."
"Kau lagi? Sudah kubilang bukan, jangan hubungi kami lagi," jawabnya kasar.
Pada saat yang kebetulan, putra Suzy yang sedang digendong bibi Tamako menangis.
OEEE....
OOEEEEEEE......
Ken terkesiap mendengar suara tangis bayi yang lantang. Tiba-tiba saja ia begitu sedih dan ingin menangis.
"Ibu, aku tidak salah dengar, bukan? Apa Suzy sudah melahirkan? Apa itu bayiku, Bu?" ia memberondongkan pertanyaan pada ibu mertuanya dengan suara bergetar.
"B bukan!! Itu suara bayi orang. Ah!! Sudah cukup! Jangan pernah hubungi kami lagi!" suara bibi Tamako gugup.
"Tunggu, ibu! Aku mohon jangan tutup teleponnya! Biarkan aku bicara pada Suzy," Ken hampir saja menangis.
"Lupakan saja!!"
Telepon pun ditutup.
Tubuh Ken mematung dan gemetar karena tidak mampu melupakan apa yang baru saja ia dengar. Suara bayi itu benar-benar mengusik hatinya.
"A apa aku boleh menggunakannya sekali lagi?" tanya Ken pada Kazuki dengan suara tersendat.
"Tentu saja," Kazuki yang sedari tadi mendengar dan melihat percakapan Ken, merasa kasihan pada kawannya tersebut.
Ken yang kini putus asa menghubungi Kenie, ibunya.
"Ya?"
"Ibu, ini aku."
"Ken?? Ada apa?"
"Apa kau bisa membantuku mencari lokasi panggilan dari ponsel?"
"Siapa yang harus ibu cari?"
"Suzy. Ibu mempunyai nomornya, bukan?"
"Ya. Ibu punya. Apa kau berhasil menghubunginya?"
"Ibu mertua yang menerima panggilanku. Namun dia tidak mau memberitahuku di mana Suzy. Lagipula, ada sesuatu yang mengusikku. Disela-sela waktu kami bicara, aku mendengar suara bayi dengan jelas. Jadi ibu, tolong cari tahu untukku apa mungkin dia bayiku."
"Baiklah, baiklah. Ibu akan berusaha sebaik mungkin mencari istrimu."
"Terima kasih ibu, aku mengandalkanmu," Ken merasa ada sedikit harapan.
Fiuh!
••••••
Sudah dua bulan sejak hari itu, Ken selalu memikirkan bayi yang menangis kala itu. Apakah itu benar suara bayinya? Mengapa ibu mertua menutupi hal itu darinya?
Dalam waktu itu pun, Kenie berhasil mencari lokasi panggilan dan mendapatkan nama sebuah rumah sakit.
Rumah sakit? Siapa yang sedang sakit? Apa mereka di sana karena Suzy perlu melahirkan?
Entah siapapun itu, Ken berharap yang terbaik untuk istri dan bayinya.
Sejak itu pula, Ken rajin mengunjungi katedral yang ada di sisi barat aula. Ia duduk berdiam di sana begitu lama. Berdoa memohon kebaikan untuk keluarga kecilnya.
Pada waktu ia sedang khusyuk berdoa, seorang sipir memanggilnya karena ada tamu kunjungan untuknya.
Dengan buru-buru, Ken bergegas menemui siapa yang mengunjunginya kali ini.
"Ken!"
"Yama????"
Dua pria itu langsung saling merangkul dan berpelukan karena sudah lama tidak bertemu.
"Apa yang terjadi? Mengapa aku susah sekali menghubungi Suzy?" Ken sampai menangis.
Yama ikut menangis, "Suzy koma dan dirawat di rumah sakit."
"Apa? K kenapa baru sekarang kau beritahukan padaku?" Ken mencengkeram lengan Akiyama dan mengguncangnya dengan kuat.
"Maafkan aku. Ibu memintaku untuk tidak menghubungimu lagi. Tapi aku rasa, setidaknya aku harus memberitahumu bagaimana kabar Suzy."
"Lalu, apa dia bayiku? Suara yang kudengar waktu itu, apa itu suara anakku?!" suara Ken meninggi.
Akiyama mengangguk.
"Ough..." Ken memegangi kepalanya yang tiba-tiba pening. Ia benar-benar terpukul mendengar kabar dari Akiyama.
Bisa-bisanya mereka menutupi semua itu darinya. Bahkan, kelahiran putranya pun dirinya sampai tidak tahu.
Pada pertemuan mereka berdua itu, Akiyama menceritakan semua kejadian yang menimpa keluarga mereka. Dari diusirnya mereka dari rumah, bangkrutnya restoran, soal Nonaka hingga alasan Suzy koma.
"Aku menyesal melakukan ini semua pada kalian. Tidak seharusnya kalian menerima perlakuan buruk yang disebabkan olehku. Terlebih, istriku sendiri menjadi menderita karenanya," Ken bicara sambil menangis.
Akiyama menepuk-nepuk pundak Ken. Ia sama sedihnya dengan kawan lamanya itu. Diusapnya air mata yang membasahi wajahnya. Ia hanya bisa ikut menangis tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Namun dari sana Ken tahu bahwa keluarganya sedang butuh uang. Khususnya untuk tunggakan rumah sakit. Tiba-tiba saja Ken memikirkan soal tabungannya.
"Yama, apa besok kau bisa datang lagi?"
"Kenapa?"
"Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu. Tapi untuk saat ini, itu tidak ada di tanganku. Jadi, datanglah lagi besok. Hmm?"
"Baiklah. Besok aku akan datang lagi."
BERSAMBUNG.......