RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
KLUB MALAM



EPISODE 97


KRAANG...


Ken tampak sedang memindahkan bagian mesin mobil yang baru saja ia rakit bersama Takeda. Kedua tangannya mengenakan sarung tangan putih yang sudah kotor karena oli.


"Hey, apa kau dan Sodou serius akan menikah?" tanya Ichigo dari jauh.


"Ya. Kami sudah menemui keluarga masing-masing minggu lalu," jawab Tekeda bahagia.


"Kalau begitu, kapan kita akan merayakan pesta kebebasan terakhirmu?"


"Bagaimana kalau malam ini?" usul Kurosaki yang baru saja dari toilet.


"Ide bagus, apa kau ikut, Ken?"


"Baiklah, aku ikut."


"Yes!! Kalau begitu, kita rayakan itu di klub malam di Shibuya," Takeda mempunyai sebuah pandangan.


"Apa tempat di sana menyenangkan?"


"Aku dengar, di sana kita bisa bertemu para gadis muda dan cantik, hehe," cerita Ichigo.


Ken tetap melanjutkan pekerjaannya meski ketiga temannya menghentikan pekerjaan untuk mengobrol.


"Hey Ken, jangan terlalu keras bekerja. Bersantailah sejenak, jika kau seperti itu, kau bisa cepat tua," ejek Kurosaki.


Ejekan Kurosaki itu disahuti oleh Takeda, "Benar. Ingatlah, usiamu sudah tidak muda lagi, Ken. Bersenang-senanglah dengan beberapa wanita. Kalau sikapmu kaku seperti itu mana ada wanita yang menyukaimu, haha."


Kedua teman yang tidak tahu menahu bagaimana kehidupan Ken sebenarnya itu menertawakannya. Namun Ichigo mematahkan ejekan yang diarahkan pada Ken.


"Kalian tahu apa? Jangan asal bicara. Beberapa waktu yang lalu, ada seorang wanita cantik yang datang kemari mencari Ken. Kalau tidak ada hubungan apapun, untuk apa wanita itu datang kemari? Lagipula, sepertinya Yuna juga menyukainya."


Takeda dan Kurosaki pun memperhatikan Ken dengan pandangan menyelidik.


"Woooaah! Sungguh? Yuna menyukai dia? Dari mana kau tahu?"


"Aku melihat matanya, saat dia memperhatikan Ken dengan tatapan yang berbeda."


Ken menoleh dan menyangkal semua yang dikatakan Ichigo, "Aah, tidak. Aku rasa dia hanya salah lihat.


"Hey, salah lihat bagaimana? Waktu itu Yuna,-" ucapan Ichigo terhenti karena Ken menatap tajam matanya.


"Apa itu? Biarkan dia melanjutkannya," kata Takeda.


"Bukan apa-apa. Jangan dipikirkan."


...----------------...


Pukul 23.22


Ketika akhirnya malam itu tiba, Ken dan Ichigo tampak baru saja datang. Mereka berangkat bersama dari bengkel karena keduanya sama-sama lembur.


Sesampainya di sana, Ichigo maupun Ken menyapukan pandangan mereka untuk mencari Kurosaki dan Takeda. Ternyata, kedua teman mereka itu duduk di sebuah sudut tempat dan tengah menikmati minuman yang mereka pesan.


Benar seperti kata Ichigo, tempat tersebut ramai dikunjungi para gadis cantik dan juga seksi. Dan karena belum pernah masuk ke tempat seperti itu, Ken jadi merasa minder.


"Kami di sini!" teriak Kurosaki.


Ichigo menyenggol lengan Ken dan menunjuk kedua kawannya yang sudah memesan meja.


"Itu mereka! Ayo ke sana!"


Ichigo sedikit berteriak karena suara musik dan suara keramaian orang membuat telinga budeg. Karena sudah menemukan Takeda dan Kurosaki, mereka pun melangkah mendekati kedua pria tersebut.


"Kalian lama sekali," sapa Takeda.


"Maaf. Kami harus lembur," Ichigo menyahut.


Kurosaki menuangkan dua gelas bir untuk kawan yang baru saja datang.


"Minumlah."


Ichigo maupun Ken menerima gelas berisi bir dingin karena ada es batunya. Mereka pun meneguknya beberapa kali.


"Apa kalian mau turun?" tanya Kurosaki sembari menggoyangkan kepalanya mengikuti alunan musik.


"Sepertinya asik," jawab Ichigo. "Bagaimana menurutmu? Apa kau ikut?"


Ketiga kawannya itu berniat turun ke lantai disco. Mereka mengincar wanita-wanita cantik yang sedang berjoget.


"Kalian pergilah. Aku akan menunggu di sini," Ken menuang bir lagi ke dalam gelasnya.


"Aaah.. Kau payah sekali! Bersenang-senanglah dengan wanita di sini, kalau kau tidak impoten tentunya, haha," candaan Takeda selalu terdengar keterlaluan.


Ken hanya menanggapi ucapan Takeda dengan senyuman.


"Baiklah, titip tasku, ya!" kata Ichigo.


"Hmm."


Begitu kawan-kawannya turun dan ikut berjoget di lantai disco, Ken melihat-lihat foto di ponselnya. Saat kemarin anak-anak panti mengadakan acara untuknya, mereka semua berfoto bersama.


Saat itu, ia juga tidak lupa untuk mengambil gambar dirinya bersama Suya. Berdua saja.


Ken tersenyum simpul. Ia teringat kembali soal kado dari Suya. Aah.. Sedang apa kira-kira anak itu? Pikir Ken.


Pada saat ia sedang tersenyum sendiri seperti itu, seseorang memperhatikannya dari kejauhan.


Tidak mau menunggu kesempatan lain, wanita itu mendekati Ken segera.


"Kau tidak ikut turun?" tanyanya menyapa.


"oh? K kau?"


Yuna duduk dan menuang bir ke dalam gelas kosong di depannya. Kemudian ia menenggaknya begitu saja.


"Kau pasti tidak percaya diri berada di tempat ini. Itulah sebabnya kau hanya duduk berdiam diri di sini, bukan?"


"Ya. Bisa dibilang begitu."


Ken menuang bir untuk dirinya sendiri, kemudian menenggaknya sambil memperhatikan kawan-kawannya.


"Kau datang sendiri? Di mana temanmu?"


"Maksudmu Arai? Dia sedang bersama wanita lain sekarang."


Suasana menjadi hening sesaat.


"Apa kau,-" Ken menghentikan ucapannya.


"Kenapa?"


"Kau tidak ingin pulang ke rumah orang tuamu?"


"Itukah sebabnya kau pergi dari rumah?"


"Ya. Kenapa kau menanyakan itu?"


"Aku, mempunyai seorang putra. Tetapi karena takdir memaksa memisahkan kami berdua, akhirnya aku tidak bisa hidup bersamanya. Terlebih lagi, putraku sendiri tidak mengetahui bahwa aku adalah ayahnya.


"Ah??" Yuna terkejut mendengar pengakuan Ken.


"Selama bertahun-tahun, aku merasa bahwa kerinduanku padanya terlalu menyakitkan untukku. Bahkan aku harus bertahan diantara hidup dan mati demi dirinya."


Ken diam cukup lama.


"Setidaknya, nona. Coba berpikir jika kau berada di pihak ayahmu."


DEG


Yuna merasa perkataan Ken benar. Selama ini, ia tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan ayahnya.


"Jadi, apa kau pernah berpikir bagaimana perasaan ayahmu?"


Yuna tidak memberikan jawaban. Tangannya tampak erat menggenggam gelas birnya. Sepertinya, hatinya sedikit terketuk setelah mendengar cerita dari mulut Ken.


Namun, Yuna tidak mau mengakui kesalahan pada ayahnya. Hatinya yang keras tidak mudah dibuat lembut begitu saja.


"Sepertinya, kau juga bukan ayah yang baik, bung. Kenapa dia tidak tahu kalau kau adalah ayahnya? Pasti kau meninggalkan anak itu saat di kandungan ibunya. Benar begitu?" jawabnya setelah cukup lama berpikir.


"Yahh," Ken menahan nafas. "Sepertinya semua ucapanmu benar," lanjutnya dengan senyuman kecut.


Dituangnya kembali bir ke dalam gelasnya sampai tumpah-tumpah. Kemudian ia minum dengan sekali tegukan. Setelah bir dalam gelasnya habis, ia menuang sekali lagi.


Yuna menatapnya lekat-lekat. Ia melihat bahwa pria yang ada di depannya seperti sedang memiliki banyak beban pikiran.


"Jika dilihat dari tatapan matanya, sepertinya beban hidupnya benar-benar berat. Aku juga baru tahu. Dia sudah punya anak? Benarkah itu?"


Yuna membatin dalam hati sambil menyapukan pandangannya ke seluruh tubuh Ken. Seperti biasanya, pandangannya itu pun berhenti pada gundukan di celana yang tertutup resleting.


"Jika benar begitu, dia pasti mempunyai banyak pengalaman," Yuna membuka bibirnya sambil bergumam dalam hati.


Saat Yuna tengah menikmati pemandangan itu, ketiga kawan Ken melihat mereka sedang mengobrol.


"A apa itu Yuna? Waaahhh,, aku sudah curiga mengapa Ken tidak mau ikut kita turun bersama kita. Rupanya dia ingin berduaan dengan Yuna," kata Takeda.


"Menurutku, Yuna yang menghampiri dia," Kurosaki berpendapat.


"Nah benar, kalian lihat sendiri, bukan? Menurutku juga, Yuna memang menyukai Ken," kata Ichigo.


"Hmm, sepertinya memang begitu," Kurosaki menimpali lagi.


"Jadi, apa kita akan kembali ke sana?"


"Ayo ."


Kedatangan ketiga kawan Ken pun mengagetkan Yuna.


"Hai, Yuna?" sapa Kurosaki kaku.


Yuna menoleh dengan tatapan khasnya.


"Kau sudah lama kenal dia?" lanjut Kurosaki masih sama kakunya.


Tanpa memberi jawaban pada Kurosaki, Yuna berdiri dan berkata pada Kenzhi, "Sepertinya aku harus pergi. Sampai jumpa lagi, Ken."


Ken mengangguk pelan dan memperhatikan kepergian Yuna. Begitu pula ketiga kawannya.


"Waaah,, Sejak kapan kau dekat dengan Yuna?" tanya Takeda heran. Sebab, menurutnya Yuna adalah tipikal wanita yang sulit didekati.


"Hanya beberapa kali waktu ini."


"Tapi sepertinya kalian sudah akrab saja?" Kurosaki heran, karena dirinya sudah bertahun-tahun mencoba mengakrabi Yuna tetapi tidak pernah berhasil.


"Dia jadi pelanggan di bengkel kita, jadi mau tidak mau kami jadi saling mengenal. Itu saja," Ken mencoba menjelaskan.


Tapi tetap saja, kedekatan mereka membuat Kurosaki ataupun Takeda iri hati. Sebab, Ken tidak perlu bersusah payah untuk mendekati Yuna. Wanita itu sudah datang sendiri padanya.


Berbeda dengan Ichigo, pria itu tidak ingin mendekati Yuna karena merasa bahwa wanita itu terlalu liar. Ibunya yang tinggal di desa pasti tidak suka memiliki menantu yang kasar.


Baru sempat minum bersama-sama lagi, wanita-wanita seksi yang tadi berjoget bersama Kuro, Take dan Ichi pun datang. Mereka membawa seorang lagi untuk dikenalkan pada Ken.


"Hai sayang, mari bersenang-senang di atas" kata Sena sambil duduk di pangkuan Kurosaki, menawarkan layanannya.


Dua wanita yang lain pun melakukan hal yang sama. Tanpa keberatan sedikitpun, Kurosaki dan Takeda segera pergi.


"Kami ke atas dulu," ucap Kuro tertawa sambil melambaikan tangan.


"Apa kau akan pergi?" tanya Ichigo.


"Tidak. Kau pergilah. Aku akan pulang."


"Pulang? Hey! Jangan katakan bahwa kau benar-benar impoten?!" Kurosaki yang setengah mabuk itu menuding Ken sambil tertawa.


"Hmm, tidak. Aku harus tidur untuk bekerja besok."


"Haiss, payah sekali kau! Nikmatilah masa kesendirianmu.. Jangan bekerja terlalu keras!" sambung Takeda.


"Sudah, sudah. Kau bisa pulang. Hati-hati di jalan," Icigo menepuk pundak Ken dan berlalu pergi bersama wanitanya.


Saat Ken beranjak pergi, wanita yang baru saja datang menahannya.


"Kau sudah mau pergi?"


"Ya."


"Minumlah sedikit lagi bersamaku," katanya.


"Maaf. Aku sudah cukup mabuk untuk minum satu gelas lagi."


"Kau tidak ingin bersenang-senang juga di atas? Aku bisa memberimu servis yang memuaskan."


Tangan wanita itu sangat berani menggerayangi dada Ken dengan usapan erotisnya bersamaan dengan bibirnya yang berusaha mencumbui bagian leher Ken.


"Maaf, nona. Aku harus pergi," ucap Ken buru-buru menyingkir.


"T tunggu..."


.


.


.


BERSAMBUNG......