RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
LESBIAN



EPISODE 93


Begitu Ken keluar dan berdiri membenahi peralatan bengkelnya, dua wanita itu saling bertatapan dan memperhatikan Ken dengan cermat.


"Kau bekerja di tempat ini?" tanya wanita dengan tindik di alis mata dan berambut cepak.


"Ya."


"Bukankah tadi pagi Ichigo yang menangani mobilku?"


"Dia ada urusan mendadak dan memintaku menyelesaikannya."


"Kau serius bisa melakukannya? Jika hasil pekerjaanmu tidak baik, aku akan membuat perhitungan denganmu."


"Silahkan saja," jawab Ken seraya menurunkan dongkrak mobil.


Begitu mobil tersebut turun, Ken menyimpan kembali alat dongkraknya.


"Kalau begitu, cepat bereskan mobilku!" lanjut si tindik alis bernama Arai.


Ken mengulurkan kunci mobil tersebut pada Arai, "Semuanya sudah beres. Kau bisa mengambilnya."


"Nyalakan mesinnya untukku!" perintah Arai.


"Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku. Jadi nyalakan sendiri mobilnya," jawab Ken berlalu sambil mengelap kedua tangannya dengan lap kain.


What???


Arai menatap Yuna karena heran pada karyawan bengkel yang baru saja menolak perintahnya.


"Hey, tunggu! Apa kau serius menolak perintah dariku!" seru Arai sambil menarik dengan kencang baju seragam bengkel yang dipakai Ken.


SRET!


Karena jumpsuit yang dikenakannya ditarik kuat oleh Arai, setengah bagiannya terbuka hingga ke bagian lengan kiri Ken.


Selain bekas luka, mereka dapat melihat bahwa di lengan itu terdapat gambar tato samurai. Arai dan Yuna terperangah saat itu juga.


Mendapat perlakuan seperti itu dari pelanggan bengkelnya, Ken berbalik setengah badan menghadap ke belakang, "Singkirkan tanganmu, nona. Jam kerjaku sudah habis sejak jam tujuh tadi. Kenapa kau berisik sekali?"


"Kau tidak tahu aku siapa?"


"Aku tidak peduli."


"Apa kau main-main denganku?"


"Aku rasa tidak."


Ken mengambil struk pembayaran yang sudah disiapkan oleh Ichigo.


"Sepuluh ribu Yen."


"Apa? Mahal sekali."


"Mengganti mesin dan semua rodanya, aku rasa itu harga yang pantas."


"Pantas apanya? Kau sedang memainkan harga, bukan?"


Ken memejamkan mata sejenak. Lalu menunjukkan pada Arai daftar harga milik mereka.


"Semua yang dipakai untuk mengganti mesin mobilmu, ada di sini. Lihat sendiri apakah aku memainkan harga atau tidak," Ken mengetuk-ngetuk bagian harga di kertas yang ada di meja dengan telunjuknya.


Wanita dengan tindik di bibir yang sejak tadi memilih diam dan menyilangkan kedua tangan di depan dadanya itu tersenyum miring. Ia baru melihat ada karyawan di bengkel ayahnya yang berani menentang pelanggan.


Rupanya pula, dia belum pernah melihatnya ataupun Arai. Sehingga tidak mengenal siapa mereka.


Karena merasa tertarik pada Ken, Yuna tiba-tiba saja ingin mengujinya. Ia melompati bagian atas kap mobil dengan cepat lalu menghampiri Ken yang kini sedang mencuci tangannya.


TAP


TAP


SRET!


Yuna menodongkan pistol tepat di kepala Ken. Ia mengancam akan membunuhnya jika melawan ataupun berteriak.


"Arai, nyalakan mobilnya sekarang!"


Yap! Wanita bernama Arai segera melompat ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya. Rupanya mereka berdua berniat melarikan diri tanpa membayar uang pemeliharaan mobil.


Melihat Ken hanya diam, Yuna pikir pria yang ada di depannya hanya menggunakan tato sebagai hiasan saja. Tidak ada kelebihan darinya selain pandai bicara.


Begitu Yuna bergerak hendak pergi, Ken meraih tangan yang sempat menodongkan pistol itu kepadanya dengan sangat cepat. Lalu ia memutar tangan kanan Yuna ke belakang dan merebut pistol darinya dengan mudah.


"Apa yang sedang kalian rencanakan? Apa kalian pikir ini lelucon? Suruh temanmu membayar biaya perawatan lebih dulu, jika kau ingin hidup." Ken gantian menodongkan pistol itu ke kepala Yuna.


DEG


Sayangnya, Yuna salah mengira. Ia tidak tahu bahwa sejak muda, Ken pandai berkelahi. Ia mencoba melepaskan tangannya dari cekalan Ken. Namun tidak bisa. Tangan itu sungguh begitu kuat menahannya.


"A' Aahh. Lepaskan tanganku," rintih Yuna kesakitan seraya meronta berusaha melepaskan diri.


Arai kembali mematikan mesin mobilnya karena melihat Yuna ditangkap. Ia tidak menyangka, pelariannya kali ini tidaklah semudah menghadapi Ichigo ataupun karyawan bengkel lainnya.


Selama ini, mereka begitu mulus mengakali karyawan bengkel yang mengurusi mobilnya. Hingga ia mampu keluar masuk ke sana tanpa sedikitpun mengeluarkan uang.


Tapi apa ini?


Perlahan, Arai keluar dari dalam mobilnya. Ia harus menyelamatkan Yuna dan melarikan diri bersama.


Tanpa pikir panjang, ia meraih besi knalpot yang bertumpuk di sebuah rak. Ia akan menggunakan itu sebagai senjatanya.


"Hey! Lepaskan dia!" teriak Arai.


"Baik, aku akan melepaskannya setelah kalian membayar semuanya. Jadi bekerja samalah."


Namun ucapan Ken tidak dipedulikan oleh Arai. Wanita itu menyerangnya dan berusaha memukulkan knalpot yang dibawanya tersebut kepada Ken.


Dengan gerakan cepat Ken menendang knalpot yang melayang ke arahnya. Lalu ia juga berputar dan menendang Arai hingga jatuh tersungkur.


BRUK


KRANG


KLONTANG


Arai jatuh ke tumpukan kaleng kosong bekas oli. Wanita itu berusaha bangkit dan berdiri.


"Menyerahlah. Jika tidak aku akan melaporkan kalian ke polisi," Ken menyeret Yuna menuju meja kasir untuk meraih telepon.


Saat dirinya berhasil meraih gagang telepon, Arai melempar beberapa kaleng bekas yang ada di sekitarnya ke arah Ken.


"Sudah, sudah. Kita hentikan di sini, Arai! Berikan dia uang!" seru Yuna.


Wanita yang disebutkan Yuna itu pun berhenti dan berjalan mendekatinya. Ia meraih dompet dari saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari dalamnya.


"Ini uangnya."


••••••


Karena perkelahian itu sudah selesai, Ken melepaskan wanita-wanita itu dan membiarkan mereka pergi. Namun begitu, ia tidak bersedia mengembalikan pistol milik mereka dan menyitanya.


Karena sudah berakhir, mereka berdua pun tidak mampu menolak saat Ken menyita pistol mereka.


BRUM BRUMM


"Siapa sebenarnya orang itu? Aku jadi kehilangan sepuluh ribu Yen karenanya," kata Arai seraya melepas jaket hitamnya.


"Menurutku, dia cukup memuaskan," Yuna terdengar sedang mengagumi Ken.


Arai menoleh pada Yuna dan merasa tidak suka. Sebagai kekasih Yuna, ia tidak suka jika teman wanitanya mengagumi seorang pria.


"Apa kau menyukainya?"


Yuna tersenyum simpul. Dilepasnya semua pakaiannya dan pergi ke kamar mandi. Wanita itu pergi berendam seperti biasanya.


Begitu ia keluar dengan handuk melilit di tubuhnya, Arai mendekatinya.


"Meski kau mengaguminya, kau tidak boleh jatuh cinta kepadanya."


"Kenapa?"


"Kau hanya milikku. Ingat?"


"Aku rasa itu hanya pikiranmu saja. Aku tidak ingin hidup seperti ini terus, Arai. Tidak bisakah aku mencintai seorang pria?"


"Tidak. Kau harus tetap mencintaiku."


Usai berkata seperti itu, Arai melepas handuk Yuna dan mendorongnya ke atas tempat tidur. Ia mencium bibir teman wanitanya itu dengan amat bernafsu.


Sesekali lidahnya yang panjang menjilat gundukan kembar Yuna dengan sensual. Lalu turun ke bagian bawah dan menyusupi liang kewanitaan Yuna dengan nakal hingga teman wanitanya itu mengejang.


Melihat keberanian Ken tadi, Arai seperti baru saja mendapat saingan. Sebagai seorang Buchy¹, Arai tidak ingin wanita pasangannya berbalik mencintai dan mengharapkan seorang pria.


Hingga ia pun sedikit terburu-buru dalam melakukannya.


"Aaah,,, pelan-pelan, Arai."


"Kau yakin ingin mencintai seseorang seperti pria yang tadi itu?" jari Arai keluar masuk ke dalam liang Yuna.


"Ada apa denganmu? Kau menyakitiku," Yuna merintih.


"Akan lebih sakit lagi saat kau bercinta dengan seorang pria! Apa kau masih menginginkannya?"


Karena Arai benar-benar menyakitinya, Yuna menyingkirkan teman kencannya itu dengan kuat.


"Hentikan! Apa kau cemburu pada pria yang baru saja kita temui?" Yuna bangkit dan meraih pakaiannya.


"Aku akan memahami bagaimana reaksi wanita lain yang akan menyukainya begitu bertemu dengannya untuk pertama kali," Arai meraih botol bir dari atas nakas.


"Tapi tidak denganmu. Kau tidak boleh mempunyai perasaan khusus untuknya. Jika kau tetap tertarik dan jatuh cinta padanya, aku akan melenyapkan pria itu seperti sebelum-sebelumnya," lanjut Arai.


GLEK


Yuna diam. Sesungguhnya, ia sudah bosan dengan hubungan lesbian yang ia jalani selama dua belas tahun ini.


Ada keinginan di dalam dirinya untuk berhenti menjadi Femme. Beberapa kali, secara diam-diam ia menjalin kedekatan dengan seorang pria. Namun Arai menghabisi semua pria yang mencoba mendekati Yuna.


Yuna khawatir. Namun, sekali lagi pertemuannya dengan Ken tadi membangkitkan kembali apa yang dia inginkan. Yaitu hidup normal.


"Tidak. Jangan lakukan itu lagi. Dia hanya tidak sengaja lewat di hidupku. Jadi jangan ganggu dia. Kalau begitu, aku mau tidur dulu. Tolong matikan lampunya."


•••••••


Dua hari setelah kejadian malam itu, Ken duduk bersama Ichigo dan menyelesaikan pekerjaannya. Setelah pergi dengan urusannya, Ichigo baru berangkat lagi pagi itu.


"Apa kau bertemu dengan mereka?"


"Siapa?"


"Pemilik mobil."


"Aah, mereka?"


"Ya. Bagaimana?" Ichigo belum memberitahu Ken bahwa salah satu dari mereka adalah putri dari tuan Tanaka.


"Mereka bandit kecil."


"Bandit kecil?" Ichigo tertawa.


"Kenapa tertawa? Apa itu lucu?" Ken merasa heran.


"Kau belum tahu bagaimana nekadnya mereka."


Ken memperhatikan Ichigo dengan seksama. Lalu ia menyadari bahwa malam itu sebenarnya Ichigo berniat menghindari pertemuan dengan keduanya.


"Apa kau sengaja memberikan pekerjaan itu padaku karena ingin menghindari mereka?" tanyanya.


"Uhuk! Uhuk! Tidak juga," Ichigo menggaruk-garuk kepalanya karena merasa tidak enak hati.


"Lalu?"


"Sebenarnya, emmm,,,"


Baru saja Ichigo hendak bicara, tuan Tanaka memanggil Ken.


"Ken, kemarilah sebentar."


"Baik."


Ken menemui tuan Tanaka di kantornya. Sepertinya akan ada tugas luar untuknya.


"Pergilah ke Shibuya, 1-1 Udagawacho."


"Apa yang harus ku lakukan di sana?"


"Teman lamaku memiliki masalah pada mesin mobilnya. Karena dia tidak sempat pergi ke bengkel, dia ingin pekerja dari bengkelku yang mengurusnya. Jadi, berangkatlah sekarang bersama Ichigo," perintah tuan Tanaka.


"Baiklah."


Ken kembali ke depan dan mengatakan pada Ichigo untuk bersiap pergi bersamanya.


"Cepat siapkan peralatan. Kita ada pekerjaan di Shibuya," ucapnya sambil berbenah.


"Shibuya? Ada apa?"


"Mengecek mesin mobil milik teman tuan Tanaka. Ayo cepat, bersiaplah!"


"Hhmm," Ichigo mengangguk dengan semangat.


"Kalian ada tugas di luar?" tanya Takeda.


"Ya. Kau bertanggung jawab selama kami pergi," kata Ichigo.


"Baiklah."


Begitu siap dengan semua peralatan, Ken dan Ichigo pergi dengan salah satu mobil milik tuan Tanaka yang sengaja disimpan di bengkel.


WUUZZZZ...


BERSAMBUNG....


______________________________________


Buchy¹, sebutan untuk lesbian yang berperan sebagai laki-laki dengan penampilan dan pakaiannya yang macho dan maskulin.


Femme², sebutan untuk lesbian yang berperan sebagai perempuan. Penampilannya masih seperti umumnya perempuan normal.