
EPISODE 67
Semalaman, Suzy tidak bisa tidur. Ia terus memeriksa keadaan Ken yang terlihat semakin pucat. Bahkan tubuh suaminya itu terasa panas sekali.
Berulang kali ia mengompres dengan air hangat dan merawat Ken dengan baik. Ketika Ken mengigau, Suzy memberinya Paracetamol untuk meredakan demam yang melanda.
Sesekali ia merasakan perutnya keram sehingga ia menghentikan aktifitasnya sesaat. Begitu keramnya hilang, ia kembali mengompres Ken dengan sabar.
Tanpa terasa, pagi pun datang. Suhu udara yang dingin karena salju membuat Ken terbangun. Ia membuka matanya dan mengerjap sebentar.
Begitu bangun, ia langsung menemukan Suzy yang tidur meringkuk di sebelahnya sambil memegangi kain kompresan yang sudah mengering.
"Apa dia tidur seperti ini?" Ken bergumam lirih.
Tanpa berpikir lama, Ken segera membetulkan posisi tidur istrinya sehingga lutut atau kakinya tidak menekan bagian perut. Kemudian ia pun menyelimuti Suzy dengan pelan sambil bergumam.
"Rupanya, kau menjagaku semalaman."
Ken membuang nafas. Ia membelai dahi dan pipi Suzy dengan punggung keempat jarinya. Semakin ke sini, posisi Linzie di dalam hatinya perlahan mulai tergantikan meski itu belum sepenuhnya.
Tapi ia juga tidak memungkiri bahwa rasa cintanya pada Suzy semakin mendalam. Apalagi di dalam rahim wanita itu telah hadir calon buah hatinya.
••••••
Menjelang jam 8 pagi, suami istri itu baru pergi ke restoran. Karena Ken sempat menitipkan kunci pada Keiko, maka Keiko pun dipercaya untuk membuka dan menyiapkan keperluan restoran sebelum mereka datang.
Tentu saja, Daisuke dan Gorou juga sudah ada di sana. Membantu membuka dan menyiapkan restoran.
"Apa sudah ada pesanan?" tanya Ken pada semuanya.
"Belum, senior. Kami baru selesai bersih-bersih," jawab Gorou cepat.
"Tunggu, ada pesanan masuk!" seru Suri memeriksa komputer pelayanan.
"Benarkah? Siapa dan berapa?" tanya Daisuke cukup antusias.
"Atas nama perusahaan Moonjin. Mereka memesan 500 kotak makan dan meminta agar makanan dikirim ke panti asuhan Takaoka."
"Apakah mereka sudah membayar uang muka?" tanya Suzy cepat.
"Bukan hanya itu. Mereka membayarnya lunas. Bahkan melebihi harga jual kita," Daisuke melongok layar komputer dan berseru girang.
"Waah! Keren sekali!!"
"PROK PROK PROK," suara tepuk tangan Suzy.
"Baiklah semuanya! Mari siapkan apa saja yang diperlukan!"
"Siap!!" jawab semuanya.
"Jadi, apa yang akan kita masak untuk anak-anak panti?"
"Tentu saja chicken katsu dengan sate dan salad sayur yang bergizi untuk pertumbuhan anak-anak," sela Ken.
"Aku setuju," Suzy menyatukan kedua jari-jarinya dan menggerakkannya sebelum memulai misi mereka.
"Aku akan membuat Onigiri dan Yakisoba udang untuk mereka."
"Baik. Kita sudah menentukan apa yang akan kita buat, jadi periksa bahan dan siapkan!" Suzy memimpin.
"Siap nona!!"
Semuanya bergerak memeriksa bahan dan lanjut mempersiapkannya. Ken juga memulai pekerjaannya dengan mengambil karung beras.
"Apa kau bisa mengangkatnya?" Suzy buru-buru membantu.
"Tentu saja. Ini mudah," jawab Ken.
Begitu Ken mengangkat karung, lukanya pun terasa senut-senut sebab otot perutnya mengencang.
"Ssshh,," desisnya.
"Tuh kan? Turunkan itu sekarang, Ken. Biarkan Dai saja yang mengangkatnya."
"Tidak perlu. Aku bisa mencobanya sekali lagi," Ken hendak mencoba sekali lagi.
"Tidak. Jangan lakukan itu," Suzy melotot.
"Daisuke, Kemarilah! Tolong angkatkan karung beras ini," memanggil Daisuke.
Orang yang dipanggil segera datang dan membantu. Begitu selesai menuang beras ke wadah tempat cuci, pemuda itu memperhatikan keadaan Ken.
"Apa kau sedang sakit, senior?"
"Tidak. Aku hanya sedikit keseleo," Ken menutupi keadaannya.
"Kalau begitu, jika kau butuh bantuan langsung panggil aku saja,"
"Hmm. Baiklah."
Begitu Daisuke pergi, Suzy menoleh pada Ken, "Pssttt!!"
"Ada apa?"
"Kau. Jangan memaksakan diri untuk menyelesaikannya. Kalau kau lelah ataupun merasakan sakit lagi, katakan saja pada Gorou atau Dai, biar mereka yang melanjutkan pekerjaanmu," Suzy mengingatkan.
"Iya baiklah."
••••••
Dua jam telah berlalu dan semua kotak makanan untuk anak panti asuhan telah di packing dalam kardus besar. Ken sempat pergi ke toserba untuk meminjam mobil barang milik Akiyama. Ia juga membeli susu kotak sebanyak makanan yang ia antar dengan uang pribadinya.
Dalam hal ini, ia pergi sendiri untuk mengirim pesanan tersebut. Sebab kebetulan, perusahaan yang memesan adalah perusahaan ayah tirinya. Ia merasa bertanggung jawab untuk itu.
Ketika ia sampai di panti, anak-anak menyambut kedatangannya dengan suka cita. Bahkan saat ia menurunkan kardus besar berisi makanan, semuanya berkumpul mengelilinginya.
Di tengah kegiatannya melakukan itu, muncul seseorang dari balik kardus. Ken menjadi terkejut saat melihat Keiko di sana.
"Sedang apa kau di sana?" tanyanya.
"Maaf senior, sebenarnya aku ingin membantumu. Aku penasaran sekali dengan reaksi anak-anak panti," jawab Keiko.
"Membantu? Baiklah, karena kau sudah ada di sini. Tolong ajak anak-anak berbaris rapi."
"Siap."
Setelah semua kotak diturunkan, Ken berbicara sebentar pada ibu panti dan pengurus lainnya. Mereka menerima sumbangan makanan itu dengan rasa syukur. Dan kemudian, memberi pengarahan pada anak-anak supaya berbaris rapi serta sabar menanti giliran mereka.
Satu, dua, tiga dan seterusnya. Anak-anak menerima kotak makan serta susu kotak mereka dengan senyuman. Ken tersenyum mengamati kebahagiaan kecil itu dengan haru.
Selama satu jam di tempat itu dan melakukan kegiatan bersama anak-anak panti, Ken merasakan kedekatannya dengan anak-anak. Ia jadi membayangkan. Kelak ia akan mengasuh buah hatinya dari Suzy dengan baik sebagai orang tua.
Namun sayang, akhirnya datang waktu baginya untuk berpamitan. Ia pun menyapa kembali anak-anak sebelum pergi dari sana. Anak-anak panti yang menyukai kepribadian baik seorang Ken pun mengantar sampai gerbang depan.
••••••
Mobil mereka sudah berlalu. Keiko duduk di sebelah Ken yang menyetir. Tiba-tiba saja ban mobil mereka meletus, membuat laju mobil tidak seimbang dan oleng. Maka untuk menghindari kecelakaan lanjutan, Ken menepikan mobilnya ke sisi jalan untuk memeriksanya.
Ia memeriksa kebocoran ban mobil yang membuatnya meletus. Ternyata letusan itu disebabkan oleh keberadaan sebuah paku besar yang menancap ke ban mobil tersebut.
Dengan cepat, Ken mencari ban ganti di dalam bak. Untungnya ada. Tanpa menunggu hari beranjak sore, Ken buru-buru memasang ban tersebut.
"Kau tunggu saja di dalam. Di sini panas," perintah Ken pada Keiko sambil menyeka keringat yang membasahi dahinya.
Keiko tidak menjawab namun hanya tersenyum menatap senior kecintaannya. Kemudian dengan percaya diri ia mendekat dan mengelap dahi Ken yang basah dengan saputangannya.
"Senior, menurutmu apa aku boleh mencintai seorang pria yang dewasa?" tanyanya tiba-tiba.
Ken menoleh sebentar, "Apa kau sedang jatuh cinta pada seseorang?"
"Ya. Aku sangat, sangat mencintainya. Dia pria yang selalu menggetarkan hatiku setiap aku berdiri di dekatnya."
"Sepertinya kau benar-benar sangat menyukainya. Lalu, apa dia memiliki perasaan yang sama denganmu?" tanya Ken sambil memasang ban baru.
"Entahlah. Aku belum sempat menanyakannya," jawab Keiko sambil tetap memperhatikan Ken.
"Jika kau mencintai dia dan tidak ingin kehilangannya, cobalah untuk mengungkapkan perasaanmu lebih dulu."
"Apa boleh begitu? Menyatakan perasaan pada pria yang sudah beristri?"
Ken sudah selesai memasang ban baru. Ia bergegas membereskan ban lama dan peralatan yang baru saja ia gunakan.
Keiko sangat penasaran akan jawaban seniornya. Ia pun mendesak Ken yang sedang beberes dengan mengulang pertanyaannya.
"Senior, kau belum memberiku jawaban. Apa menurutmu aku boleh mencintai pria milik wanita lain?"
Ken belum menjawab. Pada waktu itu, seseorang yang duduk di dalam mobil tengah mengamati mereka dari jauh dan beberapa kali mengambil gambar keduanya.
Keiko yang terus mendesak dengan pertanyaannya itu, tiba-tiba saja mencoba membantu Ken membawakan kotak alat. Namun tanpa sengaja ia justru menyikut luka pada perut Ken dengan cukup keras.
"Uugkkh.." erang Ken.
"M maaf senior, aku tidak sengaja. T tapi, apa itu? Apa kau sedang terluka? Perutmu berdarah!" Keiko terkejut.
"Sudah, lupakan saja. Ayo masuk, kita harus segera kembali ke restoran," kata Ken.
"T tapi itu...."
Sambil memegangi perutnya yang kembali mengeluarkan darah, Ken berjalan memasuki mobil diikuti oleh Keiko.
Meski sudah masuk ke dalam mobil, namun rupanya Ken tidak langsung menyalakan mesin. Ia bersandar pada setir mobil ketika merasakan sakit pada luka yang sepertinya terbuka kembali.
"Apa kau baik-baik saja, senior?" Keiko khawatir.
Sebenarnya, luka Ken perlahan terbuka sejak ia melakukan kegiatan angkat barang di restoran. Ditambah, ia harus angkat beban lagi saat menaik turunkan ban besar sewaktu mengganti ban bocor tadi.
Puncaknya, ia tidak sengaja terkena sikutan Keiko yang kencang, maka luka tersebut benar-benar terbuka kembali dan mengeluarkan darah.
Melihat Ken lemas dan hanya bersandar pada setir mobil, Keiko buru-buru keluar dan mencari toko terdekat untuk membeli kapas dan obat.
"Tunggu sebentar di sini, senior. Aku akan segera kembali."
Ken mengangkat kepala hendak mencegah Keiko pergi. Namun karena Keiko berlari kencang, gadis itu pun sudah cukup jauh dari jangkauannya.
Akhirnya, Ken hanya bisa pasrah menunggu gadis itu kembali. Ia pun menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan mengambil nafas panjang. Kemudian dengan perlahan ia membuka kancing kemejanya dan memeriksa lukanya yang entah mengapa terasa nyeri.
Lima belas menit kemudian, Keiko kembali dengan kantung plastik berisi obat dan perban. Gadis itu melihat wajah seniornya bermandikan keringat dan sedang memejamkan mata.
"Senior? Apa kau tidur??" Keiko mencoba membangunkan Ken.
Tidak ada jawaban.
Hening.
Rupanya Ken pingsan saat ia merasakan nyeri pada lukanya beberapa saat lalu.
GLEK!!
Keiko menelan ludah seketika itu juga. Dapat mimpi apa ia semalam? Pada kesempatan ini, ia dapat dengan jelas menatap wajah pria yang dia cintai. Bahkan dengan begitu dekat. Sangat dekat!
Pikiran gilanya memerintah dirinya untuk mengecup bibir sang senior. Kapan lagi kesempatan datang?
Dan benar saja. Sebagai gadis yang tidak kenal takut, Keiko pun menempelkan bibirnya perlahan pada bibir Ken. Lalu dengan cepat ia lepaskan kembali, takut kalau-kalau seniornya itu bangun.
"Ya Tuhan! Aku menciumnya! Apakah ini mimpi?? Aaaa....."
Ungkap Keiko dalam hati.
Namun karena Ken masih belum bangun, Keiko pun nekat melakukannya sekali lagi. Kali ini, ia menikmatinya dengan benar.
Disesapnya perlahan bibir Ken yang hangat. Aah! Ia merasakan dahaga dalam dirinya terpenuhi. Ia benar-benar menikmati situasi itu. Dan ia pun ketagihan!!
Maka seperti seorang wanita yang kerasukan setan, ia pun menciumi Ken sampai ke leher-lehernya. Bahkan saking bernafsunya, ia sampai meninggalkan tanda merah keunguan di leher kiri Ken.
"Oh tidak! Bagaimana nanti kalau nona Suzy melihatnya? Apa dia akan tahu bahwa aku yang melakukannya? Ah! Lupakan saja. Itu tidak mungkin terjadi."
Keiko menyadari perbuatannya dan berhenti seraya menatap lekat bibir Ken yang basah.
"Senior Ken, apa kau menikmatinya? Kau pasti tidak menyangka bahwa kita baru saja berciuman," Keiko bergumam sambil mengusap bibir Ken.
Tanpa disadari, lagi-lagi orang yang mengintai mereka mengambil gambar demi gambar.
Melihat Ken tidak juga bangun, Keiko lekas memeriksa tubuh Ken. Ia ingin tahu. Sebenarnya luka apa yang ada di balik perban seniornya itu?
"Ah? Ini kan luka tusukan?" Keiko terkejut.
Cepat-cepat ia membersihkan darah yang keluar dan membubuhi luka dengan obat. Kemudian ia juga mengganti perban yang sudah kotor dengan yang baru.
Kini ia juga tahu, senior Ken tidak tidur melainkan pingsan. Maka dengan cepat ia memberikan nafas buatan agar seniornya tersebut segera siuman.
"Senior! Senior!" panggilnya sambil menepuk-nepuk pipi Ken.
Sewaktu di sekolah dulu, ia mendapat lisensi keperawatan di kegiatan ekstrakurikuler. Jadi ia tahu perawatan apa yang dibutuhkan seorang pasien dalam keadaan seperti itu.
SRET
Perlahan, Ken membuka matanya. Ia melihat Keiko sudah kembali dan duduk di sebelahnya. Ia bahkan melihat bahwa perbannya sudah diganti.
"Kau sudah kembali?"
"Hmmm..." Keiko mengangguk.
"Lalu, apa kau juga yang melakukannya?" tanyanya.
Keiko tersenyum.
Bersambung............