RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
BERTEMU SANG PUTRA



EPISODE 80


Beberapa hari kemudian, dokter mulai menyarankan pada keluarga Suzy agar mencari pendonor hati untuk pasien. Lebih baik jika pendonor itu adalah keluarga si pasien sendiri agar melewati prosedur yang lebih cepat tanpa menunggu waktu berbulan-bulan lamanya.


Ketika semua keluarga akhirnya diperiksa, tidak ada satu pun yang dapat mendonorkan hatinya untuk Suzy. Sebab ada berbagai pertimbangan yang muncul.


Hati bibi Tamako terlalu berlemak, jadi tidak bisa didonorkan. Lalu paman Akihiro yang tidak bisa mendonor karena usianya yang sudah tua dan mempunyai diabetes. Kemudian Akiyama, hatinya terlalu kecil untuk dibagi dan didonorkan pada Suzy.


"Apakah anda memiliki keluarga lain?" tanya dokter pada bibi Tamako.


"K keluarga lain?" bibi Tamako gugup.


"Benar. Jika ada, cepat minta dia untuk diperiksa. Alangkah leganya jika dia cocok dan bisa mendonorkan hatinya" jawab dokter.


"Tapi apa tidak bisa kita ambil dari pendonor lain, dokter?" bibi Tamako enggan menyebut nama menantunya.


"Tentu saja bisa. Tapi, semua itu harus melewati prosedur yang lama hingga berbulan-bulan, nyonya. Berbeda situasi jika keluarga sendiri yang mendonor."


"Jadi begitu?"


Mereka diam.


"Hmm. Aku dengar, suami putrimu ada di penjara. Apakah itu benar, nyonya?" tanya dokter.


"Apa? I iya,,," bibi Tamako masih enggan menyebut Ken.


"Jika itu benar, saya akan mengirim surat pada lembaga permasyarakatan tersebut untuk memintakan ijin untuknya diperiksa."


"Apa itu perlu, dokter?"


"Tentu saja jika kau setuju. Kita bisa berharap padanya."


Bibi Tamako diam dan tidak bisa bicara apapun. Ia masih tidak ingin menyerahkan kembali masa depan putrinya pada Ken.


Beberapa hari berikutnya, bibi Tamako tetap berkeras hati tidak mau menyetujui usulan dokter yang akan meminta bantuan pada Ken. Namun yang terjadi, kesehatan Suzy semakin lemah dan tidak berdaya.


"Bagaimana, nyonya? Kau harus segera memutuskannya jika ingin putrimu selamat," kata dokter saat selesai menangani Suzy yang kembali kritis.


Bibi Tamako memperhatikan putrinya dari depan pintu. Ia merasa tidak sanggup melihatnya seperti itu. Namun harga dirinya yang tinggi membuatnya bersikukuh.


"Cari orang lain saja, dokter."


Begitu jawabnya.


••••••


Ken sedang membaca buku di dalam selnya ketika sipir datang membawanya keluar. Rupanya ia kedatangan seorang tamu. Siapa kira-kira?


"Apa kau baik-baik saja?" tanya seseorang setelah sekian lama menatap kedatangan Ken.


Ken yang berdiri mematung itu pun tidak menyangka bahwa Linzhi akan datang menjenguknya.


"Kenapa kau datang kemari?" tanya Ken dengan muka kecut.


"Aku hanya ingin tahu keadaanmu di sini. Apakah itu salah?" Linzhi berdiri dan menghampiri Ken.


"Tidak. Hanya saja, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi."


"Ken, maafkan aku," Linzhi meraih tangan Ken yang terbelenggu.


Ken diam, "Aku tidak tahu. Kenapa kau meminta maaf padaku?"


Linzhi ingin mengatakan pada Ken bahwa ia mempunyai bukti rekaman percakapan Yoshi tentang pembunuhan gadis bernama Keiko itu. Namun ia tidak sanggup membuka suara.


Ia hanya menatap wajah Ken begitu lama dengan sedih.


"Jika sudah selesai bicara, aku akan kembali," Ken berbalik dan melangkah pergi.


Namun Linzhi menghamburkan dirinya dan memeluk Ken dari belakang.


"Mengapa kau begitu kurus? Apa kau sangat tersiksa berada di sini?" Linzhi mulai terisak.


Ken diam.


"Maafkan aku, Ken. Maafkan aku," ucapnya sedih.


"Lepaskan aku. Sebaiknya kau pergi dari sini, aku sedang tidak ingin bertemu dengan siapa pun," kata Ken berusaha bicara dengan lembut seraya menyingkirkan tangan Linzhi.


Namun Linzhi berlari menghadang langkah Ken dan kembali memeluknya dengan erat.


"Aku berjanji akan melakukan apapun untukmu, Ken. Dengar, aku punya bukti rekaman Yoshi tentang kasusmu,-" Linzhi belum sempat selesai bicara.


BRUKK


Karena, Ken langsung berbalik menghadapinya dan mendorongnya ke dinding. Tangan kanannya mencengkeram erat lengan Linzhi dengan gemetar.


"Apa maksudmu? Cepat katakan sesuatu padaku!" Ken bicara dengan mata melotot.


"Sshh. Yoshi menjebakmu untuk posisi pemegang saham Deido waktu itu," rintih Linzhi akibat cengkeraman Ken begitu kuat pada lengannya.


"Apa? Lalu mengapa selama ini kau diam saja dan tidak bersuara?"


"A aku...."


"Sudah cukup, hentikan! Apa kau akan terus menyiksa istriku seperti itu?" suara Yoshi yang tiba-tiba berada di sana.


Ken menoleh cepat. Ia melihat Yoshi menyeringai padanya.


Berkat ucapan Yoshi, Ken diseret dengan paksa untuk kembali ke selnya.


"Tunggu! Lepaskan aku. Aku perlu bicara padanya!" Ken tidak mau pergi begitu saja dan terus menatap Linzhi.


Namun semakin Ken melawan, semakin kasar pula perlakuan kedua sipir yang membawanya. Bahkan mereka memukuli Ken dengan seenaknya meski kedua tangannya terkunci dengan borgol.


Dengan sekuat hati, Ken melawan dan mencoba mendekati Linzhi kembali. Tetapi karena kedua tangannya terbelenggu, ia tidak bisa banyak melawan.


Bahkan saat salah Yoshi tiba-tiba saja menendang perutnya dengan kencang, ia tidak bisa berbuat banyak karena kedua sipir memeganginya.


"Bawa dia pergi. Dan jangan lupa, hapus rekaman yang baru saja menampilakanku."


"Baik, tuan."


Setelah Ken terkulai lemah seperti itu, mereka menyeretnya keluar begitu saja.


"Ck Ck Ck,,, menyedihkan sekali..." Yoshi meledek dengan hina dan berjalan santai mendekati Linzhi.


SRET


Linzhi menggeser posisinya sebab ngeri. Dengan santai, Yoshi mencondongkan kepalanya ke dekat kepala istrinya.


"Apa kau mencoba mengatakan sesuatu padanya? Aaahh,, rupanya kau tidak takut pada ancamanku? Jadi, apa kau ingin melihat bagaimana caraku menyakitinya di tempat ini? Atau bahkan menghabisinya," bisik Yoshi sambil tertawa jahat tepat di telinga Linzhi.


"Apa? J jangan lakukan apapun padanya. Dia sudah sangat tersiksa berada di sini. Aku mohon," suara Linzhi tergagap.


Yoshi terkekeh seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Kemudian ia melangkah keluar dengan santainya.


Karena peristiwa siang itu, Ken diasingkan ke sel lain dan tidak mendapat jatah makan selama dua hari. Hingga akhirnya sebuah surat pengantar dari rumah sakit datang ke penjara tersebut dan meminta ijin untuk pemeriksaan Ken.


Karena itu bersangkutan dengan nyawa orang, kepala penjara tempat Ken berada memberi ijin.


***


Hari itu, Ken dibawa keluar menuju rumah sakit untuk pemeriksaan kesehatan dan kecocokan hatinya. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, ia terus merasa cemas. Sebab, ia tahu bahwa dokter akan memeriksa kecocokan hatinya untuk pasien bernama Suzy.


Begitu sampai di rumah sakit, ia segera diperiksa. Satu jam menjalani pemeriksaan, ia mendengar bahwa hasil pemeriksaannya akan keluar besok. Jadi ia akan kembali ke penjara lagi setelah hasil tes benar-benar cocok.


"Pak, tolong ijinkan aku menemui istriku sebentar saja. Ya?" Ken memohon pada polisi yang mengawalnya.


"Waktumu hanya untuk pemeriksaan. Jadi jangan membuat masalah di sini," jawab polisi pengawal.


"Aku mohon sekali ini saja. Biarkan aku melihat istriku meski hanya lima menit. Aku mohon, pak. Biarkan aku melihatnya," Ken sampai menangis.


Dua polisi itu berpandangan dan akhirnya mengijinkan Ken untuk melihat sang istri. Begitu mendapatkan ijin, ia langsung menghambur ke ruangan Suzy.


Beruntungnya, bibi Tamako sedang tidak ada di sana. Sebab, ibu dan ayah mertuanya itu sedang mengambil baju ganti di rumah. Sehingga ia bisa melihat Suzy meski dari luar ruangan.


Ken merasa tersiksa sebab kini ia hanya bisa melihat wanita yang ia cintai dari balik jendela pintu. Ia benar-benar ingin menyentuhnya. Memeluk dan membagi rasa sakit yang sedang dirasakan Suzy.


Diusapnya kaca jendela pada pintu masuk ruangan itu. Ia merasa hatinya menjadi lemah. Air mata dan tangis akan rasa bersalah pun menghiasi wajah Ken.


"Cukup. Ayo pergi!" seru polisi pengawal.


Rupanya sudah lima menit berlalu. Ken ingin tetap berada di sana. Namun ia tidak bisa. Bagaimanapun ia harus mematuhi hukum.


Maka, dengan perlahan ia melangkah pergi. Membawa hati yang luka. Kebetulan ditengah jalan menuju keluar, Ken bertemu Akiyama dan seorang perawat yang menggendong bayi.


"Ken!" panggil Akiyama.


Ken menoleh dan berhenti melangkah. Dengan sedikit berlari, Akiyama menghampirinya dengan bayi yang sudah berpindah dalam gendongannya.


"Apa kau datang untuk diperiksa?” Akiyama merasa ingin tahu.


"Hmm. Aku harap, hasil tesnya cocok denganku," jawabnya jujur.


Pandangan Ken berpindah pada bayi yang ada dalam gendongan Akiyama.


"A apa dia putraku?" tanyanya sedih.


Akiyama mengangguk haru dan mempersilahkan Ken menyapa bayinya. Tanpa basa basi lagi, tangan Ken yang terbelenggu dan sejak tadi terkulai di depan segera bergerak dan menyentuh pipi putranya.


Ia menangis tersedu-sedu!


Kesedihannya benar-benar tidak mampu ia bendung lagi. Tangisannya semakin menjadi ketika bayinya membuka mulut seakan hendak berbicara padanya sambil menggenggam erat jarinya.


"Sayang, maafkan ayah karena tidak bisa berada di sampingmu dan menjadi ayah yang baik untukmu."


Seperti mendapat keajaiban. Bayi itu menjawab ucapan Ken dengan celotehnya. Meski pada umumnya, dalam usia bayi yang belum genap satu bulan itu belum pernah terjadi yang seperti itu.


Akiyama ikut menangis. Ia mengerti betul bagaimana perasaan Ken saat itu. Namun, karena ia harus membawa keponakannya itu ke ruang perawat, maka dengan berat hati Akiyama memisahkan ayah dan anak yang baru sekali itu bertemu.


"Tuan, mari pergi," panggil perawat mengingatkan Akiyama.


"Maaf Ken, aku harus membawanya pergi sekarang," ucapnya berat.


Ken mengangguk. Namun ia merasa tidak ingin berpisah dengan bayinya. Setelah akhirnya ia mencium dan mengucapkan perpisahan pada putranya, Ken dibawa pergi. Ia harus kembali ke tempatnya.


BRUMM


Di dalam mobil polisi, Ken terus saja melamun. Meski raganya ada di sana, namun pikirannya tertinggal di rumah sakit bersama Suzy dan bayinya.


Ooh, benar-benar nasib yang menyedihkan.


Bersambung........