RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
MENGINAP DI RUMAH AYUMI



EPISODE 62


Saat menutup restoran, Ken tampak murung dan terus berdiam diri. Sampai-sampai Suzy beberapa kali menoleh ke arahnya.


"Ada apa dengannya? Tadi masih baik-baik saja dan bercanda denganku. Apa seseorang membuatnya murung?"


Suzy bicara dalam hati.


Anak-anak yang lain tidak memperhatikan soal itu dan mulai berpamitan pulang. Namun Keiko yang memiliki perhatian khusus pada Ken menatapnya cukup lama dari kejauhan. Gadis itu tahu siapa yang membuat senior kesukaannya menjadi murung tiba-tiba.


"Apa ada yang tertinggal?" tanya Suzy begitu melihat Keiko berdiri mematung di depan pintu.


"Eh? T tidak ada, nona. Aku pamit pulang dulu ya,, daah..." Keiko berjalan meninggalkan Suzy.


Melihat Keiko juga sedikit aneh, Suzy merasa heran, "Ada apa dengan anak itu? Kenapa semua orang menjadi aneh hari ini?"


"Ayo kita pulang," kata Ken mengejutkannya.


"Ah. Apa sudah selesai semua?"


"Hmm. Sudah."


Suzy mengangguk, "Baiklah. Ayo pulang!"


Ken meraih tas dan jaketnya yang ia gantung di dinding ruang istirahat. Lalu keluar sambil menggandeng tangan Suzy menuju motornya.


Setelah Suzy naik dan siap dengan helmnya, Ken bertanya padanya, "Apa kau mau jalan-jalan?"


"Ke mana?"


"Hmm. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Apa kau mau?"


"Ya. Aku ikut saja."


Setelah Suzy menyetujui ajakannya, Ken menggerakkan tangannya ke belakang lalu meraih kedua tangan Suzy dan menggiringnya perlahan agar memeluk pinggangnya.


"Pegangan yang kuat."


Suzy tersenyum dan melingkarkan tangannya ke depan. Kini ia bisa merasakan kehangatan tubuh Ken dari belakang.


WUUSS


Tidak lama kemudian, mereka berdua sampai di sebuah rumah mewah. Rumah yang baru pertama kali ini Suzy lihat.


"Di mana kita?"


Ken turun dari motornya sambil melepas helm. Kemudian ia juga membantu melepaskan helm yang dikenakan Suzy.


"Rumah ibuku," jawabnya tersenyum.


"Apa?? S siapa?" Suzy kaget.


"Rumah ibuku," ulangnya.


"Jadi, tempat yang kau maksud itu adalah rumah ibu mertuaku?"


"Ya."


Oops! Suzy merasa deg-degan. Ini baru pertama kalinya ia akan bertemu ibu mertua. Bagaimana nanti jika ibu mertuanya tidak suka padanya? Beberapa pikiran melintas di benaknya.


"Ayo masuk," Ken menggandeng Suzy.


"I Iyah."


Ketika Ken menekan bel, seseorang membukakan pintu dan langsung saja berteriak girang.


"Mr. K??"


Ken tersenyum, "Apa ibu di rumah?"


"Yah! Dia baru saja pulang bersama ayah. Ayo masuk!" Ayumi tersenyum sumringah sambil meraih lengan Ken dan menggelendot di sana.


"Ayah! Ibu! Cepat keluarlah! Coba lihat siapa yang datang!!" lanjut Ayumi semakin enjoy memeluk tubuh Ken.


Suzy mendelik melihat gadis kecil yang membukakan pintu itu begitu manja pada suaminya. Bahkan gadis muda itu juga memeluk Ken dengan santainya. Aduh duh, ia mulai cemburu!


TRAK TRAK TRAK


Suara langkah sendal rumah terdengar menuruni tangga, "Ada apa? Mengapa ribut-ribut??"


Seorang pria dengan usia kepala enam turun mengenakan piyama warna hitam garis-garisnya. Dialah tuan Hideaki. Suami Kenie, ibu Kenzhi. Di belakangnya, turun pula Kenie dengan pakaian tidur yang sama dengan suaminya.


Melihat putrinya tengah memeluk seorang pria dewasa, tuan Hideaki terkejut.


"Siapa dia?"


Kenie ikut pula terkejut melihat putranya datang tanpa memberitahu lebih dahulu sebelumnya.


"Dia Kenzhi, sayang...." Kenie meraih tangan suaminya dan mengajak turun bersama.


"Kenzhi?"


"Putraku..."


"Aah?! Jadi dia putramu itu??"


"Yah.."


Kenie turun dan segera memeluk Ken dengan penuh kerinduan. Diusapnya wajah putranya tersebut sambil tersenyum bahagia.


"Apa kau baru merindukanku? Mengapa lama tidak berkunjung?"


"Maaf ibu. Aku...."


Setelah ia dan ibunya saling menyapa, Ken tersenyum dan mengucapkan salam dengan sopan pada tuan Hideaki.


"Selamat malam, tuan. Bagaimana kabarmu? Aku harap kau sehat dan Tuhan selalu memberkatimu," kata Ken seraya membungkukkan badan.


"Yaah, terima kasih. Senang bertemu denganmu."


Tuan Hideaki tersenyum ramah, "Jadi, apa kau putra Kenieku?"


"Benar. Maaf jika aku terlambat menyapamu, tuan," Ken tersenyum.


"Tidak mengapa. Aku senang akhirnya kau mampir kemari."


Selama putranya tengah bicara pada sang suami, Kenie melihat seorang wanita berdiri menundukkan kepala di belakang Ken.


"Siapa dia?" tanya Kenie pelan.


Saat itu juga Ken ingat bahwa dirinya datang bersama Suzy. Maka dengan cepat diraihnya tangan sang istrinya itu dan memperkenalkannya pada kedua orang tuanya.


"Dia istriku. Suzy."


Ayumi menoleh dan terkejut mendengar ucapan saudara tirinya itu. Mulutnya pun menganga menatap pasangan suami istri tersebut. Sayangnya, ia tidak dapat berkomentar apapun saking kagetnya.


"Soal itu, aku hanya bisa minta maaf," Ken tersenyum menunduk.


"Baiklah lupakan saja soal itu. Kemarilah, sayang," panggil Kenie pada menantunya.


Suzy mendekat perlahan. Ia merasa gugup saat bertemu dengan ibunya Ken. Selama ini ia hanya mendengar cerita soal ibu Ken tersebut. Tidak disangka, wanita itu masih terlihat cantik di usianya yang hampir lima puluh tahun.


"Apa selama ini putraku menyusahkanmu, menantu?" tanya Kenie meraih tangan Suzy.


"Eh? Tidak, tidak sama sekali, ibu," Suzy benar-benar gugup.


"Benarkah? Syukurlah...." Kenie memeluk Suzy senang. "Maafkan aku, karena tidak memberi hadiah pernikahan untukmu," lanjutnya.


Suzy tersenyum malu.


"Apapun itu, kami senang kalian datang. Bagaimana kalau sekarang kita makan malam bersama? Bibi Sin pasti sudah menyiapkan makan malam," ajak tuan Hideaki.


"Iya benar. Ayo ikutlah kemari," Kenie mempersilahkan tamunya untuk ikut bersama mereka ke ruang makan.


Selama makan malam di rumah Kenie, mereka mengobrol dengan santai. Benar-benar seperti keluarga bahagia pada umumnya. Seorang putra datang bersama istrinya membuat suasana rumah menjadi lebih hangat.


••••••


Usai makan malam yang berkualitas itu, Ken dan Suzy tampak berada di sebuah kamar. Tidak lupa, mereka membersihkan diri terlebih dahulu sebelum beranjak tidur.


"Apa kau memberitahu ayah dan ibu bahwa malam ini kita menginap di rumah orang tuamu?" Suzy bertanya sambil menarik selimutnya.


"Ah, benar! Aku lupa."


Dengan cepat, Ken meraih ponselnya dan menelepon ayah mertua.


"Begitu rupanya? Baiklah, bersenang-senanglah di sana.." jawab sang ayah mertua begitu mendengar penjelasan menantunya.


Telepon berakhir.


Ken meletakkan ponselnya di atas nakas.


Ken membuang nafasnya yang terdengar berat dan lelah. Jari jemarinya saling terkait dengan ibu jari tangan kanan yang bergerak pelan mengusap punggung ibu jari tangan kiri.


Tiba-tiba, entah mengapa suasana di antara mereka menjadi terasa canggung. Rupanya, Suzy sudah terbiasa dengan rumahnya yang bertema tradisional dengan semua aksennya yang terbuat dari kayu.


Sedangkan kini ia harus berada dalam kamar yang luas dan terasa berkelas. Membuatnya merasa berkecil hati.


"Rupanya suamiku anak orang kaya. Bagaimana aku harus memperlakukannya sekarang?? Aaahhh,, ini terasa canggung...."


Suzy bicara sendiri dalam hati. Lalu melirik sebentar ke arah Ken yang duduk bersandar ke bantal di sebelahnya.


Untuk beberapa saat mereka saling berdiam diri. Suara detak jarum jam pun terdengar lebih jelas malam itu. Hening. Suasana benar-benar hening. Namun, keheningan itu tidak berlangsung lama ketika Ken membuka suara pada akhirnya.


"Apa kau sudah mengantuk?"


"Hmmm,,"


"Lalu mengapa kau belum juga tidur?" Ken melirik Suzy.


"Itu...." Suzy membuang muka karena jantungnya benar-benar deg-degan.


Ken menoleh. Namun Suzy tetap tidak mau menghadap padanya. Secara perlahan, diangkatlah tangan kirinya. Ia berusaha sekuat hati untuk menyentuh tangan kanan Suzy yang berada di dekatnya.


GYUT....


Perlahan ia berhasil menggenggam tangan Suzy yang hangat. Kemudian ia menoleh dan memperhatikan wanita di sampingnya dengan tenang.


Suzy pun menoleh karena terkejut dan melihat mata Ken. Eh? Pandangan apa itu??


Suzy semakin deg-degan. Mata itu! Mata yang seolah hendak menelannya bulat-bulat. Tanpa menunggu lama, ditariknya tangan kanannya dari genggaman Ken.


"Ada apa? Apa kau tidak nyaman?"


"Eh? Tidak. Tentu saja tidak, hehe," Suzy salah tingkah.


"Sepertinya aku butuh pelukan darimu. Apa kau keberatan?"


"Apa? I itu.."


Pada saat Suzy sedang gugup seperti itu, Ken mendekatkan tubuhnya dan memeluk Suzy dengan erat. Saat ini, ia benar-benar membutuhkan kedamaian dari wanita yang begitu berarti di hidupnya.


"K kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Suzy gugup saat tanpa persiapan menerima pelukan dari Ken.


Ken teringat pertemuannya dengan Linzhi sore tadi. Dan ia benar-benar terganggu dengan ucapan mantan kekasihnya itu. Sejujurnya, ia berusaha keras untuk tidak memikirkannya demi Suzy. Namun sepertinya hal itu begitu sulit baginya.


Benar seperti kata orang, bahwa cinta pertama akan sulit dilupakan meski saat ini kau telah hidup bersama orang yang benar-benar kau cintai.


"Apa kau pernah menyesal hidup bersamaku?"


"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja tidak."


"Benarkah? Kalau begitu aku merasa lega."


Suzy tersenyum kecut. Ia merasa pertanyaan suaminya itu aneh. Diusap-usapnya punggung Ken dengan sesekali tepukan lembut.


Ken melepaskan pelukannya perlahan. Namun, ia berhenti dan memandangi wajah Suzy yang merah merona. Melihat bibir bulat kecil milik istrinya itu bergerak-gerak, Ken menjadi terpikat.


Ia kembali mendekatkan wajahnya dan berusaha mencium bibir Suzy dengan pelan. Mata mereka bertemu dan saling memandang. Perlahan, nafas hangat dari keduanya terasa berhembus di muka mereka masing-masing.


DEG DEG DEG !


Jantung Suzy berdegup kencang. Tangan kirinya merayap ke belakang dan meremas selimut dengan erat.


Ken meraih kepala istrinya dan merengkuhnya dengan pelan. Tanpa memberi aba-aba, disesapnya bibir mungil itu dengan lembut. Suara berkecipak dari bibir keduanya pun terdengar menandingi suara denting jam dinding kala itu.


Perlahan, ia melepaskan kancing piyama Suzy dan menurunkannya hingga batas perut. Tidak perlu berlama-lama melakukan pemanasan, Ken mengangkat tubuh Suzy dan membuatnya duduk di atas pangkuannya.


...----------------...


Hay pembaca setiaku!


Tebak-tebakan seru yukk...🤗


Pertinyiinyi...


❤️ Apa yang terjadi selanjutnya? Apakah malam itu mereka akan melakukan hubungan suami istri?


a. Tidak. Mereka akan menghabiskan malam seperti Tom and Jerry.


b. Tentu saja. Mereka akan memanas!


c. Jangan mesum! Mereka hanya berciuman.


😁😁😁


Bersambung........