
EPISODE 46
Saat itu, Ken sedang dalam alam mimpinya. Dimana ia berduaan dengan Suzy dan berciuman dengan mesra di tengah-tengah padang bunga peoni. Kemudian mimpi itu berlanjut sampai membaringkan Suzy di atas rerumputan nan hijau. Dan detik berikutnya, perlahan ia mulai melucuti pakaian Suzy. Satu per satu.....
TRAAANGGGG!!
Suara mengagetkan itu datang tiba-tiba dan membuat Ken terkejut. Ia menyibakkan selimut dan melompat dari atas ranjang dengan cepat.
"Wooohh! Woohh!!" nafas Ken terengah. "Suara apa itu?" lanjutnya dengan muka khas bangun tidur.
Eleh eleeeh,, Ternyata itu kelakuan Suzy. Wanita itu duduk di kursi rias sambil tertawa cekikikan dengan tutup panci di kedua tangannya. Rupanya suara mengejutkan itu datang dari tutup panci yang saling dibenturkan.
"Kau sudah bangun?" tanya Suzy terkekeh.
"Aah, kau ini. Apa kau suka sekali menjahili orang lain?? Parah, kau,,,," gumam Ken.
"Xixixi. Maafkan aku, tapi aku harus mengganti perbanmu sekarang," kata Suzy menunjuk dengan gerakan kepalanya.
"Apa?"
Ken ingat saat kemarin malam Suzy membantunya memberi obat pada luka-lukanya.
"Aah.. ini?"
Ken langsung menundukkan kepala melihat dirinya sendiri. Sadarlah ia, bahwa saat itu dirinya hanya bertelanjang dada dengan celana pendeknya. Dan boxer coklat yang panjangnya setengah paha dan tidak lebih dari lutut itu tampak sedikit melorot hingga menampakkan brief di dalamnya.
Spontan saja, Ken sedikit membungkukkan badan sambil menyilangkan tangannya untuk menutupi bagian dadanya.
"B bisakah kau menungguku sebentar? Aku harus berganti pakaian terlebih dahulu," kata Ken gugup seraya melangkah mendekati lemari pakaian.
"Stop! Berhenti di sana!" seru Suzy.
"A apa?" Ken berhenti dan menelan ludahnya.
Karena Suzy gemas dengan tingkah Ken, ia pun mendekat dengan kesal. Namun dalam hatinya ia amat senang saat menggodanya.
Ketika Suzy berdiri di hadapan Kenzhi, wanita itu langsung menarik karet celana boxer yang dikenakan Ken dengan berani. Sentuhan tangan Suzy yang tidak sengaja mengenai perut Ken membuat sesuatu yang tadinya sempat bangun gara-gara mimpi indah, menjadi semakin menggeliat.
"Lepaskan celanamu. Kau akan mandi terlebih dahulu. Jadi, jangan sentuh lemari pakaian tanpa seizinku," Suzy tampak sangat serius.
"Ma maaf? Apa kau bilang?" Ken bertanya heran dan tidak percaya.
"Lepaskan celanamu. Kau harus mandi dulu sebelum aku mengganti perbanmu," jawab Suzy mengulangi perkataannya.
"Mandi? Hahaha," Ken tertawa gila menutupi mukanya.
"Kenapa kau tertawa seperti orang gila?"
Mendengar ucapan Suzy, Ken segera menutup mulut dan menghentikan tawanya. Kemudian ia mendekati kamar mandi dan meraih handuknya.
"Aah. Baiklah. Aku mandi dulu sebentar," katanya buru-buru.
Tapi, secara mengejutkan, Suzy mendahului dan menahan dada Ken dengan tangannya. Kemudian wanita itu pun mendorong Ken mundur dengan pelan.
"Apa lagi?" Ken tampak grogi saat tangan Suzy yang hangat menyentuh dadanya.
"Lepaskan dulu perbanmu," katanya santai sambil menatap Ken.
Dalam persekian detik yang terlewat, Ken merasakan sentuhan yang membuatnya seakan hilang akal. Dengan cepat ia menarik tubuh Suzy dan membawanya ke dalam kamar mandi tanpa menutup pintunya.
"Kyaa!!"
Tentu saja Suzy terkejut dan menjerit karena tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu. Dan tanpa memperdulikan jeritan Suzy, Ken menyalakan shower yang ada di atas kepala mereka hingga airnya mengguyur mereka persis seperti guyuran air hujan.
Kini, Ken menatap Suzy dengan tajam. Ia menatap lurus wajah Suzy yang berubah menjadi cemas itu.
"Kenapa?"
"Ah??" Suzy gugup bercampur gelagapan karena guyuran air.
"Kenapa kau terus memancingku?" Ken mendekatkan wajah dan tubuhnya secara perlahan.
"A apa yang akan kau lakukan?" Suzy gelisah tiada tara saat merasakan tubuh Ken mulai menempel pada tubuhnya. Selain itu, wajah Ken juga semakin dekat dengan wajahnya.
Nafas Ken mulai berat.
"Ken? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Suzy lirih karena mulai merasakan tubuh bawah Ken yang mendekapnya secara sensual.
GLEK!
"Aaahh... P perasaan apa ini? Dan.. apa itu yang menempel di bawah sana? Mengapa itu terasa memancing hasratku?"
Suzy menatap bibir Ken yang semakin seksi karena basah oleh air. Hasrat dalam diri yang menggelegak mulai menggerogoti dinding pembatasnya.
Benarkah sekarang waktunya? Suzy berharap cemas. Namun juga tidak ingin di luar batas.
Ken mendekatkan kepalanya sambil memegangi kepala Suzy dengan kedua tangannya. Dengan wajah yang kini berubah berani, ia berbisik di samping Suzy dengan pelan.
"Apa kau masih ingin melihatku melepas celana? Aaah,, Jika kau tidak keberatan, kau bisa saja ikut mandi bersamaku," bisik Ken nakal.
"Hah..." Suzy membuang nafas karena menahan hasratnya.
Air shower benar-benar membuat nafasnya terengah. Entah apakah Ken melihatnya terangsang atau tidak, yang pasti ia tidak bisa membiarkan itu berlangsung lama.
"Aku,,, aku akan menunggumu di luar. Jadi, k kau bisa melanjutkan mandi sekarang," jawab Suzy salah tingkah.
Karena pilihan Suzy adalah keluar dan tidak menanggapi dirinya, maka Ken mundur selangkah dan menyingkirkan tubuhnya dari hadapan Suzy.
"Cepat selesaikan, aku akan menyiapkan perban untukmu."
Suzy buru-buru keluar dan menutup pintu kamar mandi yang dari tadi terbuka lebar. Begitu tertutup, ia berhenti dan bersandar di pintu tersebut.
Matanya bergerak ke sana kemari karena gugup. Perasaan itu! Perasaan yang menginginkan sesuatu yang lebih!
"Ah. Itu tidak benar... Apa yang baru saja dia lakukan? Bukankah itu akan mengingkari janjinya?"
Suzy mengacak-acak rambutnya.
"Lalu. Apa lagi yang harus ditahan? Bukankah kami sudah menikah?"
Suzy tersenyum malu. Namun, sedetik kemudian ia langsung berubah pikiran.
"Ah. Tidak, tidak! Itu tidak bisa."
Selama Suzy berbicara pada dirinya sendiri di luar pintu kamar mandi, Ken yang masih berdiri dengan posisinya itu mengusap kepalanya dengan kedua tangan.
Ia merasa menyesal karena larut dalam perasaannya. Entah mengapa, pagi itu ia amat berhasrat. Apakah itu semua karena mimpinya??
Ah. Entahlah.
Tanpa ia sadari, tangannya mengambil krim waxing milik Suzy dan mengusapkannya pelan ke wajah. Aroma nanas, madu dan kekentalan krim yang ia rasakan membuatnya tersadar. Begitu melihat botol krim yang baru saja ia gunakan, Ken langsung berteriak karena kaget.
"Hhaarrhh?! Waxing **** *?"
Ken buru-buru membasuh mukanya sampai benar-benar bersih sambil melanjutkan mandinya. Beberapa kali ia bercermin untuk memastikan wajahnya tidak berubah sedikitpun akibat mengenakan krim wax milik Suzy itu.
Begitu selesai, ia kembali memeriksa krim wax yang sempat ia gunakan.
"Astaga. Apa yang dia lakukan dengan krim ini? Benarkah itu menghilangkan bulu,,, ah??" Ken menggerakkan bola matanya ke atas dan mulai berimajinasi mengenai hal itu.
Ken tersenyum dan keluar dari kamar mandi. Saat melangkah keluar, ia tidak melihat Suzy di dalam kamar.
"Ke mana dia? Bukankah dia mengatakan akan mengganti perbanku?"
"Ah. Sudahlah."
Ken memanyunkan bibirnya karena tidak mau ambil pusing.
••••••••
TRUK
TRUK
TRUK
Suara langkah Ken begitu jelas menuruni anak tangga. Ia menoleh ke sana dan kemari mencari keberadaan Suzy.
"Hey? Kau pasti juga baru selesai mandi, ya kan?" tanya Nonaka menyapa adik iparnya dengan penasaran.
"Ah. Ya.." Ken tersenyum.
"Kau mencari istrimu?"
Ken tersenyum dan mengangguk pelan, "Apa dia sedang keluar rumah?"
"Tidak. Dia sedang bersama ibu di dapur," Nonaka menunjuk keberadaan Suzy.
"Oh. Baiklah."
Melihat Ken gugup, Nonaka mendekatinya dan mulai menggoda.
"Jadi, apa kalian baru saja melakukannya? Benarkah? Iih, sepertinya aku benar," Nonaka sedikit tidak sopan karena bertanya masalah pribadi pengantin baru.
"Apa? Aah... itu,,,"
"Tidak apa. Kau tidak perlu malu kepadaku," lagi-lagi Nonaka membuat Ken tidak nyaman.
PLUK!
Akiyama menepuk bokong istrinya dengan pelan. Ia melihat bahwa Nonaka sedang menggoda Ken dengan pertanyaan sensitif seperti itu.
"Kau ini. Lihatlah. Ken menjadi malu karenamu. Sudah, jangan ganggu dia dengan pertanyaan konyolmu," kata Akiyama.
"Eeh,, tidak loh. Ini sama pentingnya dengan jawaban soal ujian," Nonaka terkekeh.
"Pagi semua! Cepat pergi ke ruang makan. Sarapan sudah siap!" Suzy berseru lantang dari dapur.
Hari yang bersiap pergi ke sekolah pun berlari turun karena mendengar seruan bibinya.
"Aku dataaang,,,"
"Kau tidak takut terlambat?" tanya Nonaka pada putrinya.
"Tidak. Hari ini ayah akan mengantarku. Ya kan, ayah?"
"Hmm. Sudah sana. Cepat pergi sarapan," jawab Akiyama.
Ken menoleh pada keponakannya, "Kau bersiap ke sekolah?"
"Iya, paman. Wew? Sepertinya, paman tampak sangat segar hari ini?" tanya Hari.
"Ah. Terima kasih. Kau juga tampak sangat cantik, Hari? Apakah kau mengganti model ponimu?"
"Eh? Paman tahu itu, ya?"
"Hmm. Apakah benar?"
"Iya. Aku coba ganti model. Apakah bagus?" Hari bertanya dengan bersemangat.
"Yah. Itu sangat cocok untukmu. Kau jadi terlihat lebih ceria dengan poni barumu," Ken bicara jujur sambil tersenyum.
"Waaahh. Paman Ken, memang yang terbaik. Ayo paman, kita sarapan dulu," Hari bersemangat turun menuju ruang makan.
.
.
.
Bersambung ke Episode 47