RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
YANG PERTAMA KALINYA



EPISODE 57


Ken menghentikan apa yang sedang ia lakukan bersama Suzy. Cukup melelahkan dan membuang energi meski percobaan pertama dalam hal itu tidak berhasil.


Entah apa penyebabnya, sumur di ladang Suzy tidak mau menerima kehadiran benda asing yang mencoba menerobos masuk.


Dengan perlahan, Ken menyingkir dari hadapan Suzy. Ia kembali duduk di depan wanita itu seperti sebelumnya.


"Hey! Matikan lampunya. Aku tidak ingin kau melihat tubuhku lagi."


Ken menoleh pada sakelar lampu yang berada di dekat pintu kamar mandi.


"Kau saja yang matikan."


"Heyy???!" Suzy melotot.


"Kenapa?"


"Cepat keluar sebentar dan matikan lampunya!" kata Suzy sambil menendang kaki Ken di dalam air.


"Kenapa harus aku? Kau juga bisa kan? Aku sangat lelah," Ken dan Suzy bersikeras tetap berdiam di dalam air.


"Apa kau sinting?"


Ken yang saat itu sedang menunduk langsung mengangkat kepalanya dan melihat pada Suzy.


"Apa kau sedang mengataiku?"


"Yaa. Kenapa?"


Ken hanya menatap Suzy dengan nafas yang masih terengah. Keringat pada dahinya pun menetes dan jatuh ke bawah.


"Aku tidak mau keluar dari air. Kau saja yang lakukan," jawab Ken singkat.


"Apa?"


"Kau saja yang lakukan. Tidak perlu terkejut yang berlebihan seperti itu, ah," Ken duduk dengan kaki kanan ditekuk. Kedua tangannya melintang di tepian bak.


"Mau pergi atau tidak?!" Suzy menendang kaki Ken kencang.


"Hissh,, baiklah akan kulakukan. Tapi tutup matamu sampai aku kembali."


"Iya. Ayo buruan."


Ken meraih handuk yang ada di atas rak. Kemudian ia turun keluar dari dalam bak mandi. Dengan langkah pelan ia mendekati saklar lampu dan menekannya.


DEP!


Lampu kamar mandi berhasil dimatikan. Suzy meminta Ken untuk tetap diam ditempatnya sekarang dan tidak boleh berjalan mendekatinya.


"Diam di sana! Jangan berani mendekatiku."


"Apa yang akan kau lakukan memangnya?" tanya Ken heran.


Dalam keremangan cahaya kamar mandi, samar-samar Ken melihat dan mendengar suara saat Suzy mengenakan handuk atau memakai kembali pakaiannya.


Namun ia tidak mengira saat Suzy datang mendekat kepadanya dan langsung menendang selangk*ngannya dengan lututnya.


DUK!


Ken mendelik sambil menganga lebar. Tongkat yang masih berdiri tegak itu kini berasa dipatahkan oleh wanita yang berstatus sah sebagai istrinya sendiri. Sekian detik menahan diri agar tidak berteriak, Ken menggelepar bagai ikan yang kehabisan air.


Namun karena rasa nyeri yang amat sangat menyakitkan, Ken pun mengerang kencang.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrgghhh!!!!


Suaranya tersebut terdengar sangat kencang dan memilukan. Sampai-sampai dua burung yang sedang bertengger di atas atap kamar Suzy itu pun terbang menjauh karena terkejut.


Ketika Suzy membuka pintu kamar mandi, ia terkejut seketika. Ibu dan kakak iparnya ternyata sedang berdiri di depan sana.


"Apa yang terjadi dengan menantuku?" tanya bibi Tamako.


"Eh? I itu....." Suzy gelisah.


Nonaka merasa senang melihat Suzy keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk. Ia pun segera berlari masuk ke dalam kamar mandi dan melihat Ken duduk di lantai dan juga hanya berbalut handuk.


"Kalian melepas pakaian?" tanya Nonaka merasa rencana ibu mertuanya berhasil.


"Itu.... Ah! Aku harus mengganti pakaianku. Sebaiknya ibu dan kakak ipar keluar sebentar," jawab Suzy berusaha mengalihkan pembicaraan dengan mendorong keduanya agar keluar dari kamarnya.


Begitu kedua wanita itu keluar dan pergi dari sana, Suzy mengunci kamarnya tersebut. Ia tidak ingin ketahuan bahwa dirinya baru saja dijamah oleh Ken.


Dijatuhkannya dengan kasar pantatnya yang bulat ke atas ranjang. Masih berbalut handuk putih, Suzy duduk dan melamun sebentar. Ia terbayang kembali saat Ken berusaha menerobos ladang virginnya.


Mengapa sangat menyakitkan?


Ketika Suzy sedang melamun seperti itu, Ken datang dan berdiri tepat di hadapannya.


"Kali ini kau sangat keterlaluan. Aku akan meminta pertanggung jawaban darimu," ucapnya.


"Eh? Apa?" Suzy sadar dari lamunan dan terkejut melihat Ken berdiri tepat di depannya.


"Kali ini, ijinkan aku melakukannya dengan benar. Aku rasa, tidak ada gunanya kita menunda kesempatan yang ada di depan mata."


Ken mengulurkan tangannya perlahan dan mulai mengusap kedua bahu Suzy dengan nafas yang memburu.


Suzy berusaha menyingkirkan tangan Ken dari bahunya, "Tidak, jangan. Itu sangat menyakitkan untukku."


"Kali ini percayalah padaku. Dan rilekskan saja pikiranmu,," jawab Ken lembut.


"T tidak,,, aku tidak mau,,,," suara Suzy cemas.


"Sebentar saja, ya? Jangan takut. Kita berdua sudah berada di situasi seperti ini, jadi aku tidak bisa mundur lagi," kata Ken.


"T tapi,-"


"Hussstt...."


Dengan cepat, Ken menutup mulut Suzy dengan jari telunjuknya.


Secara perlahan, ia merebahkan tubuh Suzy ke belakang. Sekali lagi, pada tempat dan ruangan yang berbeda, Ken menyesap bibir wanita itu dengan penuh penghayatan. Gairah yang ada dalam sukmanya menggelegak dan mulai membakar hasrat dalam jiwa.


Rupanya, pertarungan di kamar mandi tadi belum selesai. Ada babak kedua yang akhirnya akan dimulai saat itu juga. Disingkirkannya handuk yang menutupi tubuh Suzy menggunakan tangan kanannya. Dengan ciuman yang menunjukkan betapa berpengalamannya pria itu soal bercinta, Suzy dibuat kewalahan.


Berbeda dari cara sebelumnya yang sedikit terburu-buru, kali ini, Ken menggunakan sentuhan yang sangat lembut menggunakan jarinya untuk menyapa ladang virgin Suzy.


Selagi jarinya bermain di ladang, bibirnya terus saja menyesapi bongkahan dada Suzy yang makin lama makin tegang.


"Aaaah, Ken!"


Wanita itu menggeliat pelan merasakan kenikmatan di semua bagian tubuhnya. Wajah yang merah tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa dirinya tengah menikmati situasi tersebut.


"Apa kau menginginkanku masuk sekarang?" tanya Ken dengan suara berat.


Dengan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya, Suzy mengangguk perlahan. Ia sangat berharap agar Ken segera menyelesaikan dan membawanya ke puncak.


Benar saja. Karena Suzy tampak sudah sangat terangsang, Ken mempertemukan bagian sensitif mereka sekali lagi.


"Ooouuugghhh!!"


Ken melenguh pelan begitu berhasil melakukan penetrasi. Berbeda dari sebelumnya, kali ini, ia berhasil menembus dan keluar masuk di dalam sumur ladang Suzy. Saat itu juga, darah segar keluar dan mengalir perlahan ke seprei.


"Aah, ss sakkiittt sekali, tolong hentikan sekarangg,,,," pekik Suzy.


"Pejamkan matamu dan tenanglah, Suzy. Jangan tegang dan nikmati saja apa yang sedang aku lakukan,,," jawab Ken dengan suara parau.


Dorongan demi dorongan yang dilakukannya membuat wanita itu meremas kuat pinggangnya. Lenguhan panjang dari bibir Suzy membuat Ken lebih lembut dalam memperlakukannya.


Hingga akhirnya mereka berdua terkapar lemas bersisihan. Seraya menatap wajah cantik merah merona akibat org*sme, Ken membelai lembut rambut basah di kening Suzy.


Jakunnya terlihat naik turun saat memperhatikan seseorang yang istimewa di dalam hidup barunya tersebut.


"Apa kau senang?" tanya Suzy memecah keheningan.


"Hmmm," Ken mengangguk sambil tersenyum.


Diraihnya tangan kiri Suzy dan diletakkannya di atas tangan kirinya. Kemudian, sambil menepuk-nepuk punggung tangan tersebut dengan tangan kanannya, Ken berucap lembut.


"Terima kasih."


Suzy menoleh, "Untuk apa?"


"Untuk semuanya."


Suzy tersipu malu. Selama ini, ia begitu keras kepala menolak keintiman diantara mereka. Bahkan ia membiarkan Ken menunggu begitu lama untuk menuntaskan tugasnya sebagai seorang pria.


Dibanding beberapa pria di kotanya yang secara umum telah bercinta dengan banyak wanita, Ken masih cukup bersih untuk Suzy yang virgin meski Linzhilah yang pertama kali merenggut keperjakaannya.


••••••••


Esok hari di restoran,,,,


Suzy sedang mencuci tangan ketika Keiko datang dan mengambil beberapa masakan yang terakhir. Setelah restoran tutup, Suzy dan Ken mengajak anak-anak yang lain untuk makan malam bersama.


Di meja makan dapur itu, berkumpullah semua penghuni restoran. Mereka bersenda gurau dan bercerita macam-macam. Ketika Suzy pergi mengambil puding dingin di kulkas, tiba-tiba Suri membahas drama romantis yang sedang diikutinya dengan sedikit berbisik.


Rupanya yang lain juga tahu soal drama yang bercerita tentang anak muda tersebut kecuali Ken.


"Apa kau lihat adegan Fuji kemarin malam? Kyaaa! Aku benar-benar berhalusinasi dibuatnya!" seru Suri pada Keiko.


"Ya. Episode kemarin seru sekali! Entah mengapa, mereka yang melakukan malam pertama, tapi aku yang menjadi deg-degan dibuatnya!!" seru Keiko balik.


"Benar, kan?! Kau tahu, adegan malam pertama di kamar mandi itu membuatku panas dingin," Suri menambahi.


Mendengar pembicaraan yang cukup sensitif seperti itu, membuat Ken yang hendak menyeruput kopi tidak fokus pada temperatur kopinya. Apalagi cerita yang tidak sengaja ia dengar persis seperti yang dia alami kemarin bersama Suzy.


UHUK UHUK!


Ia tersedak kopi yang ternyata masih panas. Sebagian minuman itu pun tertumpah ke celananya.


"Ada apa senior? Apa kau tidak berhati-hati saat minum kopimu?" tanya Gorou.


"Ah, bukan begitu," jawab Ken cepat sambil meraih tissu dan mengusap celananya yang basah.


Keiko memperhatikan dengan seksama ekspresi dari seniornya tersebut. Wajah dengan rambut panjang seperti senior Ken, tampak menawan di pandangannya.


"Ada apa? Sepertinya seru sekali?" tanya Suzy saat datang kembali.


"Kau tahu drama Fuji kan, nona?"


"Ah, itu. Ya aku tahu, kenapa?" jawab Suzy sambil memotong puding dan membaginya.


"Episode kemarin malam seru sekali kan? Aku saja sampai dibuat susah tidur setelah menontonnya," kata Suri.


"Episode kemarin?" Suzy berpikir bahwa dirinya tidak menonton, karena malam itu ia dan Ken sedang sibuk bercinta.


"Iya. Mereka menghabiskan malam pertama di kamar mandi. Selesai di kamar mandi mereka juga melanjutkannya di ranjang. Waah.. pria itu benar-benar bernafsu besar.." sambung Daisuke.


UHUK UHUK!


Suzy yang sedang menyuapkan puding ke dalam mulutnya tersedak sampai puding tersebut sebagian keluar kembali dari mulutnya. Wajahnya menjadi merah akibat puding yang salah jalur.


Meski Ken sama-sama gugup dan salah tingkah akibat perkataan Daisuke barusan, namun ia tetap berdiri dan menepuk-nepuk punggung Suzy. Lalu mengambilkan minum untuknya.


"Kau tidak apa-apa? Ini minum dulu."


Semua mata kini memandangi Suzy dan Ken. Mereka berpikir ada sesuatu yang terjadi pada seniornya. Sebab, setiap membahas malam pertama di adegan drama yang mereka tonton, keduanya berekspresi sama.


Gugup dan salah tingkah!


Maka, Keiko mencoba menggali informasi. Selagi Ken membantu Suzy, Keiko terus menatap Ken dari kepala hingga bagian bawah pusar. Matanya selalu saja mencuri pandang ke pria yang lebih tua 15tahun darinya itu.


"Bagaimana kalau kita main game kejujuran?!" seru Keiko memulai taktiknya sambil tetap menatap Ken diam-diam.


"Sepertinya seru, ayo!" kata Gorou.


Keiko memutar botol kosong. Putaran pertama, ujung botol tersebut berhenti di depan Daisuke.


"Siapa yang akan memberi pertanyaan?" tanya Keiko.


"Aku yang akan bertanya pada Daisuke" Suri bersemangat.


"Ya. Silahkan."


"Daisuke, menurut pendapatmu pribadi, apa enaknya bercinta dengan seorang wanita?"


"Apa enaknya?" Daisuke berpikir. "Waaah.. pertanyaan ini harus di jawab, ya??"


"Harus dong...." jawab Suri ceria.


"Itu... Tentu saja itu tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ketika aku melakukannya, rasa itu hadir begitu saja," jawab Daisuke jujur.


"Waaahh.. kau berterus terang sekali,,," kata Gorou sambil menepuk punggung kawannya tersebut. Yang ditepuk pun menggaruk-garuk kepala.


Lalu, pada putaran ke dua, ujung botol mengarah pada Ken. Itulah bagian yang ditunggu-tunggu. Dengan bersemangat, Keiko mengajukan pertanyaannya.


Apakah itu?


Bersambung ke Episode 58 🤗