RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
MASAKAN YUNA



EPISODE 120


02.22


SHAAAAASSSSS!!


Air hujan yang turun semakin deras itu membuat Ken sadar dan membuka matanya. Darah yang mengalir dari kepalanya pun menggenang dan bercampur satu dengan air hujan.


Ia berusaha memiringkan badannya karena air hujan yang jatuh ke bawah dengan deras terasa menyakiti wajahnya. Matanya pun mengerjap beberapa kali ketika merasakan tenggorokannya yang kering.


"Apa ada orang di sana?" tanyanya amat lemah dan lirih.


Ken berusaha memanggil seseorang yang mungkin saja lewat di dekatnya. Namun sayang, karena tempat itu tidak ada seorang pun yang lewat, akhirnya ia hanya bisa terbaring lemah saat sakit di kepala sebelah kanannya semakin terasa tak tertahankan.


Dan ketika pagi menjelang serta hujan deras pun reda, Ken tampak tertidur dengan darah kering yang melekat pada rambutnya. Pada wajahnya pun terlihat sisa-sisa bulir bening air hujan.



Tepat pada pukul empat lima puluh, Ken bangun dari tidurnya dan berusaha sangat keras untuk duduk. Kemudian ia merangkak mendekati motornya yang tergeletak sama tak berdayanya dengannya di tepi lubang selokan.


Meski motor tersebut berat, namun entah bagaimana ceritanya ia mampu mengendarai motornya hingga sampai di rumah dengan selamat.


Setelah memarkirkan motornya di halaman samping, ia segera memasuki rumahnya dengan langkah pelan. Namun baru sampai di anak tangga ke dua, ia kembali jatuh pingsan dan tak sadarkan diri.


Tanpa ia sadari, ada tiga puluh panggilan dan lima belas pesan teks yang masuk. Semuanya itu dari Yuna. Karena khawatir saat panggilannya tidak diangkat, Yuna terus saja memanggilnya.


"Ada apa dengannya? Apakah dia benar-benar marah soal semalam? Kenapa panggilan atau pesanku tidak satupun ia balas?" Yuna sangat cemas.


TOK


TOK


TOK


Suara ketukan pintu kamarnya membuyarkan lamunannya.


"Apa kau di dalam, Yuna?"


"Iya ayah, masuklah."


Tuan Tanaka menemui putrinya untuk membahas rencana perjodohan dirinya dengan Kazuki.


"Yuna, nanti sore pulanglah lebih awal. Akan ada tamu istimewa yang datang kemari untuk menemuimu."


"Tamu istimewa? Siapa, ayah?"


"Kau bisa melihatnya nanti."


Yuna memperhatikan ayahnya yang begitu ceria. Ada apa? Siapa memangnya yang akan datang ke rumah?


"Baiklah, aku pergi dulu ya, ayah," kata Yuna sambil meraih handuk kecilnya.


"Mau ke mana kau sepagi ini?"


"Mau joging!" jawab Yuna sambil berlari keluar.


••••


Setelah berlari beberapa meter dengan sangat bersemangat, Yuna akhirnya melewati tikungan dimana Ken mengalami kecelakaan dan mendapat serangan dari Kazuki.


Ketika ia menemukan helm Ken tergeletak di aspal dengan berlumuran darah, Yuna jadi sangat syok. Lebih-lebih ada sisa genangan darah dan pecahan kaca spion serta beberapa bagian dari motor Ken di jalanan.


Ia langsung berpikir bahwa terjadi sesuatu pada Ken saat pria itu meninggalkan rumahnya semalam.


Tanpa berpikir dua kali, Yuna berlari menuju rumah Ken. Sambil menjinjing helm hitam milik Ken di tangan kiri, ia terus saja menyebut nama Ken.


GRUK


SRAK


Yuna buru-buru membuka gerbang dan merangsek masuk ke dalam rumah. Apa yang ia cemaskan rupanya benar terjadi. Di anak tangga ke dua itu, ia melihat Ken jatuh tengkurap dengan kepala yang berdarah.


"Ken!!" pekik Yuna.


Dihampirinya pria yang tidak sadarkan diri itu sambil meneriakkan namanya.


"Bangun, Ken! Apa yang terjadi?? huhu" Yuna mulai menangis khawatir.


Ditepuk-tepuknya wajah Ken yang pucat sambil diperiksanya hembusan nafas dari hidungnya. Hampir tidak ia rasakan!


"Ken!! Jangan pergi tinggalkan aku! huhu. Aku tidak tahu apa jadinya bila kau pergi meninggalkan aku seperti ini, huhu," Yuna mendekap tubuh Ken.


Karena tidak ada orang lain, Yuna berusaha menggendong Ken menuju kamarnya. Meski langkahnya terasa berat, ia terus berusaha sekuat tenaga. Hingga akhirnya sampailah mereka di kamar atas.


Untuk mengurangi darah yang keluar dari kepala Kenzhi, Yuna mencucinya dengan air hangat kemudian ia beri obat serta perban sisa pengobatan mata Ken kemarin.


Kemudian luka-luka kecil yang ada di tangan dan wajahnya juga ia olesi obat supaya tidak infeksi.


"Badanmu memar-memar begini, sebenarnya apa yang terjadi semalam?"


Tidak lupa, ia juga melepas semua pakaian yang basah dan menggantinya dengan yang kering.


"Syukurlah, kau masih hidup," ucap Yuna penuh rasa syukur begitu merasakan nafas dan detak jantung Ken.


Ia menyelimuti tubuh Ken dan pergi ke dapur untuk membuat bubur. Meski belum bangun, ia akan menyiapkan sarapan untuk Ken. Pasti semalaman ia tidak minum ataupun makan sesuatu. Pikirnya.


Setelah bubur buatannya matang, ia lekas membawanya pada Ken. Karena Ken masih belum siuman, ia sengaja membuat bubur yang encer.


Perlahan diangkatnya kepala Ken dan mengganjalnya dengan bantal yang agak tinggi. Lalu disuapkanya bubur encer itu perlahan ke mulut Ken. Untungnya respon tubuh Ken sangat baik sehingga saat Yuna menyuapinya, otot lehernya bergerak untuk menelan bubur yang masuk ke dalam salurannya.


Setelah dirasa cukup, Yuna juga menyuapkan paracetamol untuk mengurangi demam dan rasa sakit yang dirasakan Ken.


Karena semuanya sudah beres, Yuna naik ke atas tempat tidur dan menempatkan dirinya di sisi Ken. Ia masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh yang tak berdaya itu dengan hangat. Selagi menunggu Ken sadar, ia pun ikut tidur kembali.


••••••


Pukul 12.06


Ken membuka matanya perlahan. Ia meneguk ludah dan merasakan bahwa dirinya tidak terlalu haus seperti sebelumnya.


Tangannya reflek bergerak mengusap perban di kepala sambil mendengus pelan. Saat ia melihat Yuna tidur di sampingnya, ia segera tahu bahwa anak itulah yang merawat dirinya.


Untuk sesaat ia mengingat kembali apa yang terjadi semalam. Bagaimana Kazuki menerjang dirinya menggunakan mobil dengan sengaja, kemudian menendangi tubuhnya yang tengah tak berdaya serta bagaimana pula cara Kazuki memukulkan helm ke kepalanya dengan keras.


Ken mengingat itu semua. Dengan begitu ia tahu, bahwa pertarungan di antara mereka berdua baru saja dimulai.


"Kau sudah bangun?" tanya Yuna.


"Hmmm."


"Kau membuatku cemas. Apa yang terjadi semalam? Kenapa ada begitu banyak darah di tikungan jalan dekat rumahku?"


Ken diam.


"Kau tidak mau memberitahuku?"


Ken menggelengkan kepala, "Seseorang dengan sengaja menabrakku menggunakan mobil saat aku melintasi jalan itu."


"Seseorang? Apakah mungkin itu dia?" Yuna memikirkan satu nama yang sepertinya pantas dicurigai.


Ken mengangguk pelan.


"Brengsek! Beraninya dia! Lihat saja, akan ku balas kau Zuki!" Yuna menjadi geram dan mengumpat dalam hati.


"Kenapa kau masih di sini, Yuna? Apa tidak apa-apa membolos kerja? Sebaiknya kau pulang saja, mungkin ayahmu sedang mencarimu ke mana-mana," kata Ken.


"Tidak apa, Ken. Aku akan berada di sini sampai kau sehat betul. Soal ayahku, aku bisa mengurusnya nanti."


"Sungguh, aku tidak ingin membebanimu, Yuna. Kau bisa pulang sekarang. Aku akan mengurus diriku sendiri."


Ken berusaha bangun namun ia justru merasa kesakitan pada perutnya, "Aa'aaghh!"


"Lihat? Kau butuh teman untuk mengurusmu di sini. Jadi jangan menyuruhku pulang lagi. Oke?"


"Yaah."


Selama seharian penuh, Yuna menemani dan merawat Ken dengan baik. Sesekali ia memijat lembut tangan dan kaki Ken yang mungkin saja terkilir. Kemudian ia juga menyempatkan diri berbelanja di apotik beberapa keperluan pengobatan.


Hingga sore pun datang. Ada sebuah acara yang seharusnya Yuna hadiri, namun sepertinya Yuna tidak peduli. Ia tidak tahu bahwa ayahnya sudah menyiapkan pesta makan malam di rumah untuk menyambut keluarga Kazuki.


Namun waktu terus berjalan, ayahnya merasa cemas ketika Yuna belum juga menampakkan diri.


"Di mana dia sebenarnya!! Kenapa belum juga pulang!!" tuan Tanaka merasa sangat kesal.


Hingga akhirnya para tamu datang, Yuna bahkan tidak muncul di sana. Tentu saja tuan Tanaka meminta maaf atas kecerobohan putrinya tersebut. Untung saja, Kazuki dapat memaklumi apa yang terjadi dan mengatakan akan datang kembali lain waktu.


"Syukurlah. Calon menantuku begitu pengertian," ucap tuan Tanaka setelah para tamu pulang.


•••••


Sudah lima hari ini, Yuna tidur di rumah Ken untuk merawatnya. Karena perawatan yang dilakukannya benar, kesehatan Ken pun semakin membaik.


Ia sudah bisa berjalan dan menyantap makanannya sendiri. Makanan yang dimasak Yuna selama lima hari penuh.


Sebenarnya masakan yang dibuat Yuna terasa asin dan tidak enak. Namun Ken hanya tersenyum menikmati makanan tersebut seolah itu makanan yang lezat. Ia tidak ingin merusak keceriaan yang nampak pada wajah Yuna ketika menyiapkannya untuknya.


Dan sebenarnya lagi, Yuna tahu makanan yang ia rasakan tidak enak dan jauh sekali dengan rasa masakan yang Ken buat untuknya beberapa waktu lalu. Bahkan ia sengaja menunggu komentar dari bibir pria itu. Namun anehnya, tidak juga ada komentar.


"Kau itu robot, ya?" Yuna berdiri di sisi Ken.


"Apa?"


"Berkomentarlah sesuai apa yang kau rasakan. Aku ingin mendengar kritikan darimu mengenai makananku selama lima hari ini. Tapi kau malah makan semuanya tanpa mengeluh. Katakan saja yang sebenarnya. Aku tahu, sebenarnya kau kesulitan untuk menelannya, kan?" kata Yuna monyong-monyong sambil berkacak pinggang di hadapan Ken.


Ken menoleh dan tertawa geli saat melihat Yuna, "Apa terlihat jelas?"


"Tuh, kan?? Benar dugaanku, kau hanya berusaha menghargai masakanku," Yuna menunduk lesu dan duduk di pinggiran bangku yang ada di sebelah.


Dengan cepat, Ken menyentuh pundak Yuna, "Tidak begitu juga. Aku tahu, kau membuat makanan ini dengan penuh cinta. Apapun yang terjadi, aku akan menghabiskan semuanya tanpa mengeluh."


Mata Yuna berbinar. Ia terharu dengan kata-kata yang baru saja Ken ucapkan. Tanpa ragu, wanita itu memeluk Ken dengan erat.


"Ken...."


"Hmmm?"


"Aku mencintaimu," ucap Yuna seraya menatap wajah pria yang dicintainya tersebut.


Ken memperhatikan wajah Yuna yang tampak serius. Kemudian, sambil tersenyum Ken mengusap pipi Yuna.


"Aku juga."


.


.


.


BERSAMBUNG......