
EPISODE 129
Malam itu, Ken mengunjungi rumah Kenie bersama Yuna. Sebelum kunjungannya malam itu, Ken meminta Yuna untuk mengenakan pakaian feminim. Ia mengatakan bahwa malam itu mereka akan melakukan kencan istimewa.
Datang ke sebuah rumah mewah membuat Yuna bertanya-tanya. Rumah siapakah itu? Mengapa Ken mengajaknya ke sana?
Selain rumah Arai yang pernah ia kunjungi, rumah mewah itulah yang ke dua baginya.
Begitu orang di dalam membukakan pintu dan langsung memeluk sambil menyebut nama Ken, Yuna sedikit terkejut. Siapa gadis muda yang membukakan pintu untuk mereka itu? Apakah dia yang menelepon Ken pada malam sebelumnya?
Ah! Mantan pacar Ken!
Begitulah pikir Yuna.
"Kau datang bersama siapa?" tanya Ayumi saat melihat gadis seumuran dengannya berdiri di belakang Ken.
Ken tersenyum dan menepuk pundak Ayumi, "Apa ibu di rumah?"
"Ya. Dia baru saja pulang dari rumah sakit dan sedang di kamar," Ayumi terus memperhatikan Yuna.
"Katakan padanya aku datang."
"Hmm, baiklah. Kau mau minum kopi?"
"Aku akan membuatnya sendiri nanti," jawab Ken.
Selama percakapan itu, Yuna terus memperhatikan. Ken mencari ibu? Apakah itu artinya gadis muda itu adalah saudaranya?
Tiba-tiba Ken menggandeng tangannya dan mengajaknya masuk ke ruangan lain.
"Dia Ayumi, adik perempuanku," jelas Ken sambil berjalan.
"Dia adiknya? Benarkah? Syukurlah jika begitu..."
"Oh, hehe. Begitu, ya?"
"Hmm. Sekarang kita akan menemui ibuku. Beri dia salam yang baik."
"Apa? I iya baiklah," Yuna menjadi sedikit grogi.
Ia memperkenalkan pada ibu dan adiknya, bahwa wanita itu adalah pacar barunya.
Ketika Yuna sedang mengobrol dengan Ayumi, Kenie mengajak bicara berdua dengan Ken.
"Apa kau serius menjalin hubungan dengan gadis itu? Sepertinya dia seumuran dengan Ayumi. Tidakkah usia kalian terlalu,-"
"Jauh berbeda?"
"Hmm. Ken, Ibu lihat sepertinya kau sedikit terburu-buru mencari pengganti Suzy. Apa kau sudah melihat bagaimana kepribadiannya?"
"Maksud ibu?"
"Dia seumuran Ayumi, bukan? Dia pasti suka bersenang-senang dan tidak ingin terikat apapun. Artinya, dia masih mencintai kebebasan. Apa orang tuanya juga mengetahui hubungan kalian?"
"Dia...."
"Mungkinkah tidak ada restu? Memang benar, setiap orang tua pasti mempertimbangkan sesuatu."
Ken memperhatikan mimik muka ibunya. Jika dilihat, ibunya tidak terlalu suka pada Yuna.
"Apa ibu tidak menyukainya?"
"Ah, bukan begitu. Ibu hanya tidak nyaman pada tatapan matanya yang liar dan penuh perlawanan. Anak yang tumbuh seperti itu, biasanya dia tidak mengenal kasih sayang seorang ibu."
"Lalu menurut ibu, apa yang harus ku lakukan jika selama dua tahun ini, gadis itu sudah sangat menempel padaku?"
"Menempel? Haha," Kenie tertawa. "Apa mungkin dia tahu kau putra dari grup Monjin?"
Ken mendengus diam.
"Apa ibu melihat dia sebagai gadis materialistis? Jika ya, ibu salah. Selama ini, dia mengenalku sebagai pria miskin dan menyedihkan," jawab Ken cepat.
"Ken, hati seseorang siapa yang tahu. Sepertinya seorang gadis muda yang mau menerima pria dengan usia jauh berbeda, itu sedikit mengganggu pikiran ibu. Ibu juga merasa kalau dia tidak sekalem Suzy."
Karena ia yakin bahwa ibunya tidak menyukai Yuna, Ken diam merenung. Kemudian akhirnya ia mencoba memberikan pengertian.
"Aku mengerti jika ibu belum bisa menerima Yuna. Tapi entah mengapa, hatiku mengatakan bahwa Yuna adalah pengganti terbaik dari Suzy. Dia cukup banyak berkorban untukku. Sesuatu yang ibu tidak akan tahu bagaimana itu. Dan karena itulah, aku membuka hatiku untuknya."
Diraihnya kedua tangan ibunya, "Ibu tenang saja. Jika dia kurang dewasa, aku akan membimbingnya menjadi wanita sempurna di mata ibu. Hmm?"
Kenie menatap mata putranya. Mata itu begitu tulus dan serius mengungkapkan perasaannya. Jika dulu Suzy memenuhi hati Ken, mungkin ia bisa mencoba memberi kesempatan gadis itu untuk membahagiakan putranya.
"Baiklah, Ken. Lakukan apapun yang membuatmu nyaman. Ibu berharap, kali ini kau bahagia."
Setelah mengangguk, Ken melepaskan genggaman tangannya pada Kenie. Sambil menyeruput teh hijau yang dibuatkan ibunya, Ken tersenyum simpul.
"Lalu bagaimana Suya? Kau bilang akan menceritakan sesuatu yang terjadi? Apa itu?"
"Hmm. Benar, aku datang kemari untuk memberitahu ibu soal itu."
"Kalau begitu, ceritakan sekarang."
"Bulan lalu, Suya diculik. Saat aku datang untuk menolongnya, terjadi perkelahian yang sengit. Sayangnya, saat pelaku akan menembakku, Suya menghalangi peluru untukku. Sehingga..."
"S Suya tertembak? Bagaimana itu bisa terjadi? Oh tidak, cucuku..." Kenie sedih. "Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"
"Dia ada di rumah sakit dalam keadaan Koma."
"Rumah sakit? Apakah di rumah sakit OneJin? Mengapa ibu tidak tahu ada pasien korban penembakan?"
"Tidak, bukan di rumah sakit ibu. Melainkan di Han'ei."
"Kalau begitu ayo ke sana. Ibu ingin menjenguknya."
"Tapi ini sudah malam, bu. Kedatangan kita justru akan mengganggu orang-orang di sana. Bagaimana kalau besok pagi saja."
"Benar juga. Kalau begitu kau menginaplah di sini. Ayahmu juga sebentar lagi pulang. Kau bisa menyapanya."
"Iya, baiklah."
"Bibi Dam, tolong siapkan kamar Ken, ya. Malam ini dia akan menginap. Dan siapkan satu lagi untuk nona Yuna."
"Baik, nyonya."
Ken terhenyak. Ibunya menyiapkan dua kamar?
"Ada apa? Kenapa sepertinya kau tidak suka saat ibu bicara pada bibi?"
"Kenapa ibu repot-repot menyiapkan dua kamar?"
"Memangnya kenapa? Kalian belum menikah, bukan? Pria dewasa tidak boleh tidur sekamar dengan gadis muda tanpa ikatan pernikahan. Kau bisa kehilangan kendali nanti."
"Uhuk Uhuk!" Ken terbatuk karena merasa tertohok dengan perkataan ibunya.
"Apa itu, Ken? Kenapa reaksimu seperti itu?" Kenie bicara dengan nada khasnya yang lembut namun menohok.
Ia menatap tajam pada putranya, "Jangan bilang kau sudah melakukan itu padanya?"
"A apa? T tidak. Bukan begitu. Haisshh. Aku hanya tidak percaya ibu mengatakan hal seperti itu padaku."
"Benarkah itu?" Kenie mencurigai sesuatu.
"Hhaaahh! I ibu tahu sendiri aku seorang pria dewasa. Aku tidak akan seceroboh itu pada seorang gadis," Ken berdiri dengan muka merah padam sambil meletakkan kue yang sedang ia santap.
"Baiklah. Ibu percaya,-"
Tepat saat mereka selesai membicarakan hal itu, tuan Hide datang. Ia memanggil Ken dengan suka cita.
"Kenzhi! Apa kau sudah dari tadi di sini?" tanyanya.
Ken menoleh dan memberi salam hormat, "Selamat malam, ayah. Aku baru saja datang. Ayah sendiri, apakah banyak kerjaan di kantor?"
"Ya.. Akhir-akhir ini, perusahaan sangat sibuk. Ayah juga sedang membangun cabang Monjin di Shibuya."
"Benarkah? Semoga semuanya lancar."
"Hmm. Kapan kau akan bergabung dengan perusahaan? Ayah butuh seorang penerus untuk mengurus Monjin."
"Soal itu, aku minta maaf, ayah. Sepertinya Ayumi akan lebih baik menangani perusahaan."
"Untuk menghadapi ambisi dari pihak lain yang menginginkan kekuasaan, ia butuh seseorang yang kuat untuk mendampinginya di perusahaan. Jadi pikirkan kembali soal itu, Ken."
Ken berpikir sejenak, "Baiklah. Aku akan mempertimbangkannya nanti."
Tuan Hide tersenyum dan menepuk pundak putra Kenie. Ia memang menaruh harapan besar padanya sebab ia tidak memiliki seorang putra untuk menggantikannya di perusahaan.
Meskipun Ayumi juga bisa menjadi penerus, tapi gadis itu selalu mengatakan bahwa dirinya butuh waktu untuk melangkah menjadi seorang yang memiliki tanggung jawab besar.
••••••
Jarum jam pada dinding kamar Ken berdetak ke arah kanan. Sudah lebih dari dua jam sejak ia mengobrol bersama keluarganya di ruang bawah. Namun entah mengapa ia belum juga bisa tidur.
"Kira-kira, sedang apa anak itu sekarang. Apa dia sudah tidur nyenyak?" Ken membicarakan Yuna.
Sambil membaca buku visi dan misi perusahaan Monjin, Ken duduk bersandar pada sandaran ranjangnya.
"Aih, kenapa ibu membuat peraturan seperti ini? Apa dia mengetahui sesuatu?" Ken mengingat-ingat bagaimana Kenie menatap Yuna selama obrolan di ruang bawah sebelum tidur tadi.
Tatapan Kenie diartikan oleh Ken sebagai kamera pengawas. Ya. Ibunya itu melihat Yuna dari atas hingga bagian bawah. Kemudian cukup lama berhenti di bagian dara kembar.
"Uughh,, Mengapa malam ini panas sekali," Ken mengibas-ibaskan baju tidurnya di bagian dada.
Tangannya meraih gelas di atas nakas dan mencoba meminum isinya, "Ah, sudah habis?"
Ken tidak menyadari bahwa air minum yang ia bawa dalam gelas tadi sudah kosong. Maka dengan malas ia melangkah turun dari tempat tidurnya dan pergi keluar.
Baru saja ia menutup pintu kamarnya, ia dikagetkan dengan keberadaan seseorang yang menutupi kepalanya dengan sebuah kain tengah mengendap-endap di lantai dua.
Tanpa menunggu lama, ia pun meletakkan begitu saja gelas yang ia bawa itu ke lantai. Kemudian, dengan semangat ia menubruk dan mengunci leher orang itu dari belakang.
"Siapa kau? Apa kau datang untuk mencuri sesuatu? Cepat katakan!" Ken bicara dengan tegas.
"Uhuk! Uhuk! Aku datang untuk mencuri hatimu!! Sudah puas? Hiiih,, cepat singkirkan tanganmu.." kata Yuna seraya mengikut perut Ken lalu berbalik membuka kain penutup kepalanya.
"Auuurggg! Astaga! Kau membuatku kaget!!" Ken terkejut begitu Yuna menampakkan diri.
"Ngomong-ngomong, kamarmu di mana?" tanya Yuna cepat.
"Di sana. Ada apa?"
Yuna menyeret Ken dengan cepat memasuki kamar yang baru saja ditunjuk.
GREB
"Ada apa sih? Kenapa menyeretku seperti ini?" Ken heran.
"Aku tidak bisa tidur jika kau tidak disisihku. Jadi ijinkan aku tidur di sini, ya. Please!" rengeknya.
"Apa?"
Ternyata, Yuna yang terbiasa tidur bersama Ken itu sudah sangat menyukai aroma tubuh pria tersebut. Sehingga jika Ken tidak ada di sampingnya, maka ia tidak bisa tidur begitu saja.
"Boleh, ya?"
"Tapi...."
.
.
.
.
Bersambung.......