
EPISODE 24
GRETEK GRETEK
Suara angin yang meniup plafon ruang kamar yang digunakan Ken untuk tidur terdengar beberapa kali. Trek Trek,,,,,
Lagi-lagi, angin mempermainkan triplek bodol yang berjajar dengan plafon sehingga suaranya terdengar berkerengket. Ken, yang sudah termakan oleh cerita Suzy tentang hantu wanita penggoda pun menjadi kesulitan untuk tidur.
"S S Ssuara apa itu?" gumamnya gelisah dan ketakutan.
Ditariknya selimut yang ia pakai, lebih tinggi hingga menutupi sebagian wajahnya. Untuk beberapa saat, ia berusaha melupakan cerita Suzy dan kembali memejamkan matanya untuk tidur.
Tapi, ketika ia mendengar suara ketukan beberapa kali dengan irama yang sama, akhirnya ia menyerah. Dengan kewaspadaan penuh, Ken menarik selimutnya dan duduk bersandar di dinding. Selimut itu ia gunakan di sekeliling tubuhnya.
Tik Tik Tik...
Suara detak jarum jam terdengar lebih santai dan teratur dibanding suasana hatinya yang cukup kacau.
Ken benar-benar tidak bisa tidur. Ia terus saja terjaga agar tidak ada hantu manapun yang berani mengambil senjata istimewanya.
••••••••••••
Dan.....
Sampai pada jam enam pagi, Ken masih saja duduk berselimut dengan keadaan terjaga. Matanya sudah sangat lelah dengan kelopak mata yang ia ganjal dengan batang korek api. Korek yang ia temukan di atas meja kecil berlaci di kamar tersebut.
Saat Suzy masuk ke dalam kamar Ken untuk mengajaknya sarapan, gantian wanita itu yang terkejut. Sebab, mata Ken yang diganjal batang korek api itu terlihat aneh dan sangat mengerikan dengan hiasan hitam di sekitarnya.
"Owh ya Tuhan?!" suara saat Suzy terkejut. "Apa kau tidur?"
"Menurutmu bagaimana?" suara Ken terdengar berat dan lesu.
"Kau terjaga semalaman?"
"Hmmm..."
Semakin ia mengamati wajah Ken, Suzy justru semakin merasa geli. Dengan hobinya yang iseng dan suka mengerjai seseorang, Suzy mengambil ponselnya dan mengambil foto Ken yang nampak seperti hantu.
"Kau sedang apa?" tanya Ken lesu.
"Xixixi,, ini baru seru," gumam Suzy setelah berhasil mengambil beberapa gambar foto Ken.
Ken membuang batang korek, membuka selimut lalu kembali ke kasur lipatnya dan mulai merebahkan diri dengan posisi yang sempurna.
"Aaahh... Karena kau sudah di sini, tolong perhatikan keadaan sekitar untukku," kata Ken menghembuskan nafas lega.
"Apa??"
"Security."
"S S Security????"
"Ya."
Ken memejamkan matanya dan tidur dengan posisi badan miring menghadap ke arah Suzy dan kedua tangannya yang berada di tengah-tengah antara kedua kakinya.
GLEK
Suzy diam cukup lama. Kemudian ia memanggil nama Ken dan berusaha membangunkannya beberapa kali. Namun kemudian ia hentikan. Suzy menyadari bahwa Ken sudah tidur.
"Hah,,, dasar nakal. Meski dari dulu kau membuatku kesal, tapi kau selalu nampak manis di mataku."
Diperhatikannya wajah Ken yang tidur dengan nyenyak. Garis pada tulang wajahnya yang tegas, terlihat epik dan kontras dengan bentuk tulang hidungnya. Dihiasi bentuk bibir yang indah dengan bulu mata yang lentik, semakin terlihat sempurna ciptaan Tuhan tersebut.
Diam-diam, Suzy duduk dengan menelungkupkan tubuhnya menghadap ke arah Ken. Dengan posisi yang bertopang dagu, kepalanya lumayan dekat dengan wajah Ken. Kemudian, diulurkannya pula jari telunjuknya untuk menyentuh pipi Ken.
Gyuut....
Ia tersenyum.
••••••••
Ken bangun tergesa-gesa saat disadarinya bahwa waktu sudah menunjuk arah jam delapan pagi. Ia pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan disadarinya bahwa rumah sedang sepi.
"Ke mana mereka pergi? Mengapa sepi sekali?" tanyanya pada keheningan.
Rupanya bibi Tamako dan paman Akihiro sedang berduaan di teras depan rumah sambil menikmati teh hijau mereka. Ken mengenakan tas selempangnya dan berpamitan pulang pada mereka.
"Maaf paman, bibi. Aku jadi malu karena bangun terlalu siang," katanya begitu keluar menyapa kedua orang tua Suzy.
"Eh? Kau sudah bangun?" bibi Tamako berdiri dan mendekati Ken.
"Hmm. Apa Suzy sudah pergi ke restoran?"
"Ya. Dia berangkat lebih awal. Eh? Apa dia tidak memberitahumu?"
"Tidak. Em, baiklah. Tidak apa-apa, mungkin dia lupa membangunkanku. Kalau begitu, aku pamit pulang dulu, bibi, paman," kata Ken.
"Eh, tunggu dulu. Kau belum sarapan, kan? Bibi sudah menyimpan sarapan untukmu. Jadi, duduk dan nikmati sarapanmu terlebih dahulu," bibi Tamako menggiring Ken pergi ke ruang makan.
Di ruang makan,,,,
Ken menikmati masakan bibi Tamako dengan gugup. Sebab, wanita yang melahirkan Suzy itu terus saja menatapnya sambil tersenyum.
"Sepertinya, aku akan meleleh jika bibi terus menatapku seperti itu," kata Ken jujur.
"Ahahaha. Maaf, maaf. Bibi membuatmu tidak nyaman, ya??" bibi Tamako tertawa.
Ken meletakkan sumpitnya lalu menunduk dan meluruskan kedua tangannya ke arah lutut sambil mengusap-usapnya.
"Jadi, kalian hanya tarpaut satu tahun, kan?'
"Eh?"
"Umur kalian. Kau dan Suzy?"
"Ooh. Iya benar, bibi. Aku lebih tua satu tahun darinya," jawab Ken.
"Tawaran? Aahh,, itu,,," Ken ingat soal perjodohan.
"Ya. Yang itu. Bagaimana? Apa kau sudah memutuskannya??" bibi Tamako bersemangat.
"Sebenarnya, aku sangat malu karena paman dan bibi terlalu baik padaku. Bahkan berpikir untuk menjodohkanku dengan putri kalian. Tapi,,, Penjahat yang pernah melukai dan membunuh orang sepertiku, tidak pantas dicintai ataupun mencintai wanita seperti Suzy."
Ken menunduk menghormati bibi Tamako. Wanita itu sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri. Sebab selama di penjara, hanya bibi Tamako yang selalu memperhatikan soal makanannya.
Mendengar ucapan Ken, bibi Tamako mampu memaklumi perasaan Ken. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengulur waktu hingga Ken berubah pikiran nantinya. Kalau begitu, ia harus menciptakan peluang bagi Ken dan Suzy untuk terus bertemu.
"Baiklah, bibi mengerti perasaanmu. Tapi, jika kau berubah pikiran, segera katakan pada bibi. Ya?"
Ken mengangguk perlahan.
Beberapa menit kemudian, ia berpamitan pada kedua orang tua Suzy dan pergi mencari pekerjaan. Berada di jalanan dan sesekali melamar pekerjaan tanpa membawa surat lamaran membuatnya ditolak berkali-kali.
Seharian itu, Ken keluar masuk pertokoan, perbengkelan, restoran maupun proyek bangunan. Semuanya tidak ada yang mau menerimanya sebagai karyawan. Ketika sebuah tempat produksi kue mochi Frozen memberinya kesempatan interview langsung, kesempatan itu pun lenyap seketika saat mereka melakukan tes fisik dan melihat tato di punggung Ken.
Rupanya mereka pernah mempunyai pengalaman buruk dengan karyawan lamanya yang bertato. Dengan kasar, mereka mengusir Ken keluar dan menutup kesempatannya.
•••••••
Hufff....
Ken menjatuhkan dirinya ke kursi sofa begitu sampai di rumah Linzhi.
"Aiiih,, aku baru menyadari apa yang ayah katakan itu benar. Masa depanku benar-benar berantakan setelah mendekam di dalam penjara. Entah itu pekerjaan. Percintaan. Aah,,, semuanya tinggal angan-angan saja."
Ken duduk menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa yang ada di belakang tubuhnya. Tidak disangka-sangka, Linzhi berdiri tepat di belakangnya dan menatapnya dari sana.
"Aisshh!! Kau mengagetkanku saja," Ken melihat wajah yang berbalikan dengannya.
"Kau sudah pulang?" tanya Linzhi sambil memegangi kedua pipi Ken.
"Ya. Aku kira kau sudah berangkat bekerja?" Ken memperbaiki posisi duduknya.
"Aku sedang tidak enak badan," jawabnya sambil duduk dekat Ken.
"Apa perlu kubelikan obat?"
"Tidak perlu. Aku hanya butuh istirahat sebentar dan sedikit perhatian dari seseorang," Linzhi memancing kesempatan.
"Baiklah. Kalau begitu istirahatlah dulu di kamar. Akan kubuatkan minuman hangat untukmu," katanya.
"Hmm. Antarkan aku, ya?"
Ken menoleh dan melihat wajah pucat Linzhi. Akhirnya ia bersedia membantu wanita itu berjalan ke kamarnya.
"Aaah,, sepertinya kepalaku pusing," Linzhi bersikap manja dan berpura-pura mau pingsan agar Ken menangkapnya.
Ken yang tidak mengira itu hanya taktik dari Linzhi, mencoba memberi bantuan. Dan Linzhi yang mempunyai banyak trik pun meminta Ken menggendongnya.
SRET
Mereka berdua sampai di kamar Linzhi yang cukup luas. Kamar dengan cat berwarna putih dengan ornamen patung kucing dan kelinci yang diletakkan di beberapa rak kecil. Lalu hiasan dan lukisan Landscape tentang keindahan bunga nampak begitu indah dan sejuk dipandang.
Begitu Ken membantu Linzhi tidur di tempat tidurnya, wanita itu enggan melepaskan Ken. Tangannya tetap melingkar di leher Ken dengan erat.
"Apa kau akan meninggalkanku di sini sendirian?" tanyanya manja.
"Tidak. Aku akan menunggumu. Tapi lepaskan dulu tanganmu dari leherku," jawab Ken berusaha untuk memalingkan mukanya.
"Tidak mau. Aku mau kau menemaniku tidur sampai aku tidur."
"Tapi, aku belum mandi. Tidak bisakah aku pergi mandi terlebih dahulu?"
"Kau bisa mandi di kamar mandi kamarku," jawab Linzhi menunjuk sebuah kamar mandi kaca yang ada di kamar tersebut.
"Itu,,,," meski hanya melihatnya sepintas, Ken merasa risih karena tidak ada penutup gorden atau yang lainnya.
"Kenapa?"
"Tidak apa."
Ken terpaksa duduk di dekat Linzhi karena tangan wanita itu terus saja mengait lehernya.
"Ken...."
"Ya??"
"Maukah kau menjadi kekasihku??"
Ken tidak menoleh. Perasaannya menjadi tidak enak. Sama seperti saat masa SMA dulu ketika ia sedang bersama Linzhi dan jatuh cinta padanya.
"Perasaan apa ini? Jantungku berdebar-debar setiap berada di dekatnya. Apa aku masih memiliki perasaan untuknya?"
Linzhi mendekatkan wajahnya dan mulai menyesap perlahan bibir Ken. Entah apa yang ada di dalam pikiran Ken sehingga sulit untuk menolak perlakuan dari Linzhi.
Entah, apa pula itu namanya.
Perasaan cinta ataukah hanya sebuah nafsu sesaat???
.
.
.
.
.
Bersambung ke Episode 25