
EPISODE 102
DHAARRR
DHEERR
DHHOORR
Suara kembang api menyala di atas langit. Cahayanya yang memendar berwarna merah, kuning, hijau, biru dan ungu meledak di angkasa silih berganti.
Sesaat kemudian tampak beberapa perahu hias meluncur di atas sungai Sumida dengan lampu-lampu yang terang.
Rupanya malam itu adalah perayaan kembang api Sumidagawa. Festival kembang api yang jatuh pada bulan Juli di hari Sabtu minggu terakhir.
"Whoah,, menakjubkan," Ken menatap gemerlapan kembang api yang menyala di langit.
Yuna menengok ke sisi kanan tubuhnya. Tampak jelas di matanya bahwa Ken sedang menatap takjub kembang api yang menyala di langit itu.
"Benar. Sangat mengagumkan," jawabnya.
"Aahh, sayang sekali Suya tidak ada di sini. Seandainya dia melihat kembang api itu dari sini, pasti ia juga merasakan takjub," Ken bicara pada diri sendiri.
"Suya? Siapa dia?"
"Dia putraku."
"Aah. Benar sekali. Dia pasti sama takjubnya denganmu."
"Benar, kan?"
"Hmm," Yuna mengangguk. "Kenapa tidak kita ambil rekaman kembang apinya? Kau bisa menunjukkan padanya nanti, kan?"
"Apakah dia akan menyukainya?"
"Tentu saja," Yuna meraih ponsel dalam saku celana jins ketatnya dan mulai merekam.
SRET
"Hai Suya! Kenalkan, aku Yuna teman ayahmu. Lihat di belakangku,, kami,-"
Saat Yuna merekam, Ken menyela.
"Tunggu! Jangan sebut aku sebagai ayahnya. Selama ini dia memanggilku dengan sebutan paman Ken," sela Kenzhi.
"Paman? Iya baiklah aku mengerti."
Yuna menyiapkan ponselnya kembali dan segera merekam aktivitas mereka malam itu. Beberapa kali, sorotan kameranya sengaja ia arahkan kepada Ken.
"Hai Suya! Apa kau sedang menonton rekaman ini? Perkenalkan, aku Yuna. Teman paman Ken! Lihat, kami sedang di atas jembatan sungai Sumida dan menonton perayaan kembang api Sumidagawa!" dengan semangat, Yuna memperkenalkan diri dan seolah mengajak Suya bicara.
Ken yang disorot cukup lama itu juga menyapa Suya, "Suya! Kapan-kapan kita kemari bersama, ya!"
"Setujuu! hehe."
Yuna dan Ken melambaikan tangan bersama-sama dengan senyuman bahagia. Sesaat kemudian, Yuna mengarahkan kameranya ke penampakan kembang api yang berlombaan menampilkan warna terangnya.
Setelah dua puluh menit merekam, Yuna menghentikan rekamannya dan hendak menyimpan kembali ponselnya.
"Kirimkan itu padaku," Ken mencegah gerakan Yuna sambil menyodorkan ponselnya.
"Oh iya. Kelupaan," jawabnya meringis.
Diraihnya ponsel milik Kenzhi dan mengetik nomornya dengan cepat. Kemudian setelah ia memanggil nomor ponselnya sendiri, dikirimnyalah rekaman yang tadi ke nomor tersebut.
"Sudah."
"Terima kasih."
Ken memeriksa rekaman yang baru saja dikirim ke nomornya.
"Berapa usia Suya?"
"Tujuh tahun."
"Jadi, dia tinggal bersama kakek dan neneknya?"
"Ya. Mereka tinggal bersama. Kau sendiri bagaimana, kapan akan menemui ayahmu?" tanya Ken.
"Aku penasaran. Kenapa kau ngotot sekali, ingin agar aku menemui ayahku?"
Ken menoleh sebentar lalu menunduk, "Yuna, kau masih sangat muda."
Yuna mengangguk.
"Kau masih mempunyai banyak waktu untuk memperbaiki semuanya. Karena itu, gunakanlah sisa hidupmu dengan sebaik mungkin. Sebelum semuanya terlambat dan hanya bisa menyesali apa yang sudah terjadi sepertiku."
Yuna merenung cukup lama. Memang benar, selama ini ayahnya adalah seseorang yang menyebalkan. Namun begitu, ia tidak bisa memungkiri bahwa semua itu adalah pengorbanan sang ayah untuk kebaikan dirinya.
Sejak kecil, ayahnya begitu memanjakan dirinya. Meski hidup tanpa seorang ibu, ia selalu mendapat kasih sayang penuh dari sang ayah. Hingga ia beranjak remaja, kekhawatiran ayahnya yang berlebihan membuat keputusan yang sedikit melukai hatinya.
"Kalau kau, apa yang kau sesali?" tanyanya.
"Yang pasti, aku selalu menyesal karena hidup sebagai seorang bajingan," begitu selesai bicara, Ken menghampiri motornya.
"Eh? Tunggu aku!" Yuna berlari menghampiri.
Ken tidak merespon dan tetap mengenakan helmnya. Tapi satu detik kemudian, ia menoleh ke samping.
"Cepat naik! Atau ku tinggalkan di sini."
•••••••
Motor Ken berhenti di depan halaman rumah tuan Tanaka. Malam itu, rupanya Yuna bersedia pulang ke rumah lamanya. Sesuai ceritanya pada Ken beberapa waktu lalu, ia sedang berusaha menghindari Arai.
"Masuklah. Lampu rumahmu masih menyala terang."
"Aku sedikit gugup. Sudah cukup lama aku tidak pulang ke rumah. Bagaimana kalau ayah tidak menerima kehadiranku? Apalagi saat terakhir bertemu dengannya di bengkel, kami bertengkar."
"Aku rasa, itu tidak mungkin. Dia pria yang baik."
Yuna mengangguk dan merapikan pakaiannya, "Bagaimana, apa aku sudah terlihat rapi?"
Ken memperhatikan penampilan Yuna. Wanita itu sudah rapi. Hanya saja tindik di bibir mungkin akan memberikan kesan buruk di mata tuan Tanaka.
"Ini?"
"Ya. Jika ingin jadi anak baik, lepaskan itu," Ken memangku helmnya.
"Tapi ini,,,"
"Kenapa? Apa kau tidak ingin melepasnya?" tanya Ken.
"Sebenarnya, aku sangat menikmati keberadaannya. Berkat benda ini, seseorang lebih bernafsu menikmati bibirku. Kau sudah merasakannya, bukan?"
"Entahlah. Terserah kau saja kalau begitu. Aku pulang dulu, ya. Semoga berhasil!" Ken mengenakan helmnya kembali dan mengepalkan tangan kanannya memberi semangat untuk Yuna.
"Hmmm."
Yuna menatap kepergian Ken sampai sosok pria itu tidak terlihat lagi di jalan depan rumahnya.
Ia berbalik dan mengambil nafas dalam-dalam sebelum melangkah maju ke depan. Namun belum juga ia melangkah, ia teringat kembali ucapan Ken tadi.
Maka dengan perlahan dilepasnya tindik logam yang terpasang di bibir sebelah kirinya.
"Baiklah! Lihat Ken, aku menuruti perintahmu untuk melepas tindik ini. Kalau begitu, mari kita lihat bagaimana sikap ayahku.
TAP
TAP
TAP
Yuna melangkah dengan pasti menuju rumahnya. Meski harap-harap cemas, ia mencoba meyakinkan diri.
Begitu ia menekan bel, seseorang membukakan pintu dengan cepat.
"Yu yuna?"
Tuan Tanaka begitu terkejut melihat putrinya berdiri di depan rumah mereka. Sudah belasan tahun lamanya, putrinya tersebut tidak mau menginjakkan kakinya di tempat itu.
"Ayah......"
"Benarkah itu kau? Putriku?"
Yuna mengangguk. Tak menunggu lama lagi, tuan Tanaka segera memeluk putri semata wayangnya itu dengan hangat.
"Kenapa lama sekali, pulang? Setiap kau datang ke bengkel dan membuat masalah, ayah selalu berharap kau akan pulang dan menemui ayah."
Pria tua itu menangis bahagia, "Ibumu pasti senang melihatmu kembali."
"Maafkan aku ayah karena terlambat pulang. Selama ini aku hanya bisa membuatmu cemas," Yuna juga menangis.
Tuan Tanaka menepuk-nepuk punggung putrinya dengan lembut.
•••••
TRAK
Sebuah cangkir berisi kopi susu diletakkan di atas meja. Rupanya tuan Tanaka baru saja membuatkan minuman tersebut untuk Yuna.
Yuna meraih cangkir kopi yang dihidangkan kepadanya.
"Terima kasih, ayah,"
"Jadi, selama ini kau tinggal di mana?"
"Di rumah Arai."
"Arai sahabatmu itu?"
"Iya benar, ayah. Aku tinggal di rumahnya," jawab Yuna sambil menyeruput kopi susunya.
"Apa dia yang menyuruhmu pulang?"
"Emm, sebenarnya ada seseorang yang membuka pikiranku, ayah. Berkat dia, aku menyadari kekeliruanku selama ini."
Tuan Tanaka memperhatikan putrinya dengan seksama. Ia memang melihat sedikit perubahan padanya. Terakhir kali mereka bertengkar di bengkel, Yuna tampak masih sangat keras kepala.
"Bukan Arai? Lalu, apa dia seorang pria?"
Yuna mengangguk manis, "Yah. Dia seorang pria."
Melihat putrinya menyimpan senyuman disaat membicarakan pria yang merubah dirinya, tuan Tanaka merasa bahwa ada pengaruh baik dari pria tersebut terhadap perilaku Yuna.
Ia penasaran, kira-kira seperti apakah pria yang ada di dalam pikiran putrinya.
"Ayah yakin, kau tidak ingin membicarakan hal itu sekarang," tuan Tanaka memberi Yuna kelonggaran.
"Ayah akan segera bertemu dengannya. Lagipula, ayah juga sudah mengenal dia."
"Ayah mengenalnya?"
"Hmmm," Yuna tersenyum. "Dia juga yang mengantarku pulang kemari."
"Benarkah dia tadi ada di sini?"
"Hmmm..."
Tuan Tanaka tersenyum mendengar cerita putrinya. Sepertinya pria yang dimaksudkan berhasil menyentuh hati Yuna.
"Kalau begitu, sekarang pergilah tidur. Kita bisa mengobrol lagi besok," tuan Tanaka menyuruh putrinya istirahat.
"Iya baiklah. Selamat malam, ayah."
"Selamat malam."
Yuna pergi meninggalkan ayahnya menuju lantai atas dimana kamarnya berada. Selama bertahun-tahun kamar itu ia tinggalkan, rupanya ayahnya tetap membersihkan dan merawat kamarnya tersebut dengan baik.
Deretan bonekanya pun masih sama seperti dulu. Kemudian meja belajarnya dan lemari pakaian yang masih utuh menyimpan koleksi bajunya yang tertata rapi.
Semuanya yang ada di sana, tetap bersih dan tanpa debu.
"Oh, ayah. Kau merawat mereka dengan baik. Maaf jika selama ini aku tidak menyadari maksud baikmu," gumam Yuna.
BERSAMBUNG......