
EPISODE 65
Setelah restoran tutup, Ken dan Keiko tampak sedang beberes. Dalam kesempatan ini, Keiko benar-benar mengambil bagian selama suami istri itu sedang tidak akur. Meskipun begitu, Ken tidak menganggap lebih kedekatan antara dirinya dengan Keiko, selain karena pekerjaan.
Kenzhi sendiri membereskan peralatan seperti biasa. Entah itu ia lakukan sendiri ataupun mendapat bantuan dari asisten dapur tersebut.
Baginya tidak ada yang berubah. Bahkan dirinya tidak memperhatikan Keiko sama sekali. Ia hanya fokus pada pekerjaannya supaya cepat beres dan bisa pulang bersama Suzy.
Namun Suzy yang melihatnya semakin kesal. Ia melepas celemek dan melemparnya ke atas meja. Kemudian ia buru-buru pergi dari restoran.
Ketika tak berapa lama berselang Ken menyelesaikan pekerjaannya, ia pun mencari Suzy.
"Di mana Suzy? Apa kau melihatnya?" tanya Ken pada Keiko.
"Eh? Tidak. Memangnya di mana nona? Bukankah tadi dia ada di sini?" Keiko celingak celinguk.
Ken seperti disambar petir. Bagaimana bisa ia kehilangan istrinya saat sedang beberes?
Dengan cepat Ken melepas celemeknya dan pecicilan pergi meninggalkan restoran.
"Ini ambil kuncinya! Tolong tutup restoran untukku," kata Ken sambil melempar kunci pada Keiko.
"Baik," jawab Kaiko menangkap kunci yang dilempar padanya dan memandangi seniornya yang berlari keluar dengan cemas.
Sepi.
"Apa dia begitu istimewa untukmu, senior? Kau kelihatan sangat mengkhawatirkannya hingga tidak peduli dengan keberadaanku di sini," Keiko bicara pada dirinya sendiri.
BRUM
Ken menoleh ke sana kemari mencari sosok Suzy. Cukup lama baginya menemukan istrinya tersebut. Hingga sampailah ia di taman Ueno. Seseorang tampak sedang duduk di bangku sebuah taman dekat pohon besar. Tepat di lokasi kenangan mereka dulu. Dimana mereka bertemu sewaktu Ken sedang buang air kecil.
"Apa kau ingat itu?" tanya Ken mengejutkan.
"Eh?" Suzy menoleh kaget saat melihat suaminya sudah berdiri di samping kursi yang ia duduki sekarang. Ia menghela nafas lalu melamun.
"Itu, saat-saat terakhir kita bertemu," lanjut Suzy.
"Hmm. Di sinilah kita bertengkar untuk terakhir kalinya, bukan?"
Suzy mengangguk.
"Sejak kau ditangkap, aku sering datang kemari untuk mengenang pertengkaran kita," kata Suzy jujur.
Ken mendekati Suzy dengan pelan. Ia duduk di sampingnya dan menunggu wanita itu membuka diri kembali.
"Maafkan aku karena selalu membuatmu marah. Tapi percayalah, aku tidak bermaksud melakukan itu."
"Apa kau mengambil hati pada ucapanku kemarin?"
"Soal aku tidak boleh menyentuhmu?" Ken menatap Suzy lekat.
"Bukan itu."
"Bukan?" Ken heran. "Lalu soal apa?"
"Kemarin aku menyuruhmu mencari wanita lain untuk memuaskan nafsumu."
"Aah.. itu. Aku tidak berpikir akan menurutimu."
Suzy menoleh, "Tapi, sepertinya kau menikmati perhatian dari Keiko."
"Keiko? Apa kau berpikir aku ada sesuatu dengan gadis itu?"
"Kau diam saja saat dia mengusap keringat di dahi dan lehermu," Suzy membuang muka dan memperlihatkan kecemburuannya.
Saat itu juga Ken tertawa geli mendengar pengakuan istrinya, "Haha. Kenapa? Apa kau cemburu?"
"Hiiiihhh. Apanya yang lucu?"
"Kau. Kau lucu sekali," Ken tidak bisa berhenti tertawa.
"Berhentilah menertawakanku."
Mendengar Ken tidak bisa berhenti menertawakannya, Suzy pun geram.
"Baiklah! Tertawa saja sepuasmu! Aku pulang dulu," dengan kesal Suzy berdiri dan beranjak pergi.
Ken menyadari kesalahannya dan segera mengejar Suzy. Diraihnya tangan kanan istrinya itu sambil berlari.
"Tunggu sayang,, tunggu,,,"
"Kenapa kau menghentikanku?" Suzy berhenti melangkah, tetapi ia tidak mau menoleh dan tetap berdiri memunggungi Ken.
"Aku minta maaf jika tanpa aku sadari, aku telah menertawakan kecemasanmu. Tapi kau harus tahu. Kapanpun dan di mana pun, aku adalah milikmu," Ken memutar tubuh Suzy sehingga menghadap pada dirinya.
Suzy diam. Sesaat kemudian ia melirik pada kedua tangan Ken yang berada di lengannya. Baru semalam Suzy mengatakan pada suaminya untuk tidak menyentuhnya, namun rupanya Ken sudah lupa.
Melihat Suzy memindahkan tatapan tajamnya, Ken mengerti apa maksudnya.
"Oh, maaf. Aku lupa," Ken segera menyingkirkan tangannya.
Setelah tangan itu lepas darinya, Suzy kembali melangkah pergi.
"Sayang, pulanglah denganku. Satu jam lagi kita harus bersiap ke perjamuan rekan bisnis ayahku," Ken melangkah mendahului Suzy dan berjalan mundur.
"Pergilah sendiri."
"Tidak bisa, ayahku meminta kita untuk datang bersama."
"Aku tidak mau."
"Sayang?" Ken berusaha membujuk.
"Tidak."
Karena kehabisan cara, Ken menghadang langkah Suzy, "Kalau begitu, aku akan memaksamu ikut denganku."
"Benarkah? Kekanakan sekali."
"Tidak jika aku berhasil melakukannya," setelah mengatakannya, Ken menggendong Suzy tanpa meminta ijin.
Suzy terkejut dan berteriak minta diturunkan. Akan tetapi, diam-diam ia bersorak gembira di dalam hati. Jujur saja! Ia menyukainya. Ya. Apa yang dilakukan Ken membuatnya merasa amat dibutuhkan.
Maka, begitu Ken membuatnya duduk di atas motor, ia tidak mencoba turun.
"Baiklah, mari kita pulang," Ken memakaikan helm untuk Suzy.
Sepanjang perjalanan, Suzy menatap punggung Ken seraya tersenyum malu-malu. Lalu, Ken sendiri yang melihat tingkah Suzy dari kaca spion pun diam-diam ikut tersenyum.
"Aku tahu kau tidak benar-benar marah padaku..."
•••••••
Di perjamuan makan di rumah tuan Kido, keluarga Ken sedang menunggu kedatangannya.
"Maaf, sebenarnya aku sedang menunggu seseorang untuk datang," jawab tuan Hideaki.
"Seseorang?" tuan Kido heran.
"Benar. Putra kami akan bergabung di sini. Jadi, bisakah kita menunggunya?"
"Aah. Tentu. Tentu saja kita harus menunggunya datang," tuan Kido tersenyum.
"Terima kasih."
Di lain tempat, Ken sedang duduk melamun di atas ranjang. Sebenarnya, ia sudah siap sejak tadi. Namun karena pesan yang telah ia terima beberapa waktu lalu, sikapnya menjadi berubah.
Bagaimana tidak? Ibunya mengirim pesan berisi alamat yang harus ia tuju malam itu. Lalu? Apa hubungannya dengan perubahan sikapnya?
Jelas sekali. Ken menjadi tidak bersemangat begitu ia mengetahui bahwa alamat yang harus ia datangi adalah rumah ayahnya. Yaitu tuan Kido.
"Ada apa?" tanya Suzy. "Bukankah satu jam yang lalu kau sangat bersemangat? Lalu mengapa sekarang kau tampak lesu?" lanjutnya.
Ken mendengus, "Hmm."
"Kenapa? Apa ada sesuatu?"
"Jamuan makan malam yang harus kita datangi malam ini. Rupanya, itu rumah Yoshi," ucap Ken datar tanpa ekspresi.
"Apa?" Suzy juga terkejut. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak ketika melihat suaminya murung. "Lalu bagaimana? Apa kau akan tetap pergi?"
Ken berpikir keras. Ia benar-benar harus memutuskan sekarang juga. Meski ia tidak ingin bertemu keluarga itu lagi, tetapi di lain pihak ia tidak bisa mengecewakan ayah tirinya.
"Kita akan pergi," begitulah keputusannya.
"Apa kau yakin?" Suzy sedikit khawatir.
"Suamiku yang malang. Haruskah ia pergi bertemu dengan keluarga itu?"
Ia juga bicara dalam hati.
•••
BRUMM
Tiga puluh menit kemudian, sampailah Ken dan Suzy di rumah tuan Kido. Pembantu rumah tangga yang membukakan pintu mengantarnya ke dalam.
"Tuan, tamu yang ditunggu sudah datang," kata pembantu itu pada tuannya.
"Suruh dia masuk."
"Baik, tuan."
Menit berikutnya, Ken dan Suzy sudah berdiri di depan orang-orang yang menunggunya. Kehadirannya malam itu, membuat keluarga Kido terperanjat.
DEG!!
"Apa itu mereka?" tanya Yoshi begitu melihat saudara tiri yang ia benci.
"Benar. Dia putraku. Dan itu istrinya. Nah! Kemarilah Ken. Beri salam pada tuan rumah kita," kata tuan Hideaki memanggil Ken.
Setelah menyapa dan memberi salam, Ken memperkenalkan diri beserta istrinya. Ia sedikit canggung menghadapi keluarga ayahnya. Namun, makan malam pun dimulai tanpa ada gangguan.
Apalagi Linzie ada di sana juga dan menatapnya tajam. Beberapa kali Yoshi pun tampak melirik sengit kepadanya.
Di acara makan tersebut, Ken dapat mengambil kesimpulan bahwa ayah tirinya mempunyai posisi lebih tinggi dari ayah kandungnya. Dan di acara itu pula, ayah tirinya memperkenalkan dirinya sebagai ahli waris dalam memimpin perusahaan.
GLEK
Sebenarnya, Ken tidak setuju dengan keputusan tersebut. Akan tetapi ia tidak bisa mengatakan tidak ataupun menolak keinginan ayah tirinya tersebut di depan keluarga Kido.
Di acara berikutnya, mereka duduk bersama di ruang santai untuk minum anggur. Tuan Kido tanpa malu-malu memperkenalkan diri sebagai ayah kandung dari Kenzhi. Keluarga Kido juga menggiring percakapan yang seakan-akan mereka semua adalah keluarga dekat.
Namun baru beberapa menit, Yoshi meminta ijin agar diberi kesempatan untuk mengobrol bersama Ken dan istri di ruang lain.
Merasa bahwa anak-anak mereka mungkin saja ingin melepas rindu sebelum bekerja sama dalam urusan bisnis, orang tua pun mengizinkan.
SRET
Di ruangan lain,
Yoshi bertepuk tangan atas kemampuan Kenie dalam menggaet pria.
"Hahaha. Mengejutkan! Luar biasa sekali!" Yoshi menyeringai.
Ken diam sambil menatap saudara tirinya itu, "Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Entah bagaimana caranya. Kuakui, ibumu benar-benar pandai mengambil hati pria kaya," Yoshi duduk di sofa dan membentangkan kedua tangannya.
"Apa maksudmu?"
"Kau tidak lupa bukan, bagaimana caranya kau lahir?"
Ken mengerti arah pembicaraan Yoshi. Namun ia tetap berdiri dengan Suzy di sampingnya. Lalu Linzie juga di sana berdiri cukup jauh dari suaminya.
"Jika gundik yang tidak tahu malu itu tidak menempel terus pada ayahku, kemungkinan kau tidak akan lahir di dunia ini."
Ken mengencangkan rahangnya, "Siapa yang kau maksud?"
"Tentu saja Kenie, ibumu. Apa kau pura-pura lupa? Wanita murahan yang mencintai suami wanita lain," Yoshi menumpangkan kaki kanan di atas kaki kirinya.
Ken bergerak hendak mendekati Yoshi, namun Suzy meraih tangan kiri Ken dan mencegahnya melakukan sesuatu yang fatal. Spontan saja Ken menoleh pada istrinya.
Kenapa kau mencegahku? Seperti itulah arti tatapan mata Ken pada Suzy saat itu. Untuk menjaga emosi suaminya, Suzy menggeleng pelan.
Karena Ken tidak terpancing, Yoshi berdiri dan sengaja mengatakan sesuatu yang kasar secara gamblang.
"Sekarang, gundik itu menempel pada Presdir Hid untuk menumpang hidup dan mengambil alih kekayaannya. Apa itu keinginanmu? Kau ingin mengalahkanku dengan posisimu sebagai ahli warisnya?"
"Jangan bicara seenaknya tentang ibuku karena kau salah besar," Ken mencoba bersabar.
"Cih!! Dasar orang miskin yang tidak tahu malu!! Meskipun kalian berpakaian sutra, itu semua tidak sanggup menutupi bau busuk darah seorang gundik hina!!" Yoshi meludah di hadapan Ken.
"Apa katamu?" Ken semakin tersulut emosi jika menyangkut ibunya.
Disambarnya kerah baju Yoshi. Pria yang membuatnya merasa sangat kesal. Lalu dengan sekuat tenaga pula, ia mendorong kakak tirinya itu ke dinding.
"Sudah ku bilang! Jika ingin menghina, jangan pernah bawa nama ibuku. Aku tidak akan pernah memaafkanmu mengenai hal itu!!" Ken bicara di depan kepala Yoshi.
"Apa yang akan kau lakukan? Memukulku? Atau,, membunuhku? Silahkan saja. Aku percaya, seorang mantan pembunuh bisa melakukan semua hal seperti itu lagi, " Yoshi meledek dan menyeringai lebar.
"Sial!!" Ken marah dan meninju mulut Yoshi hingga keluar darah dari giginya.
Atas keributan itu, Suzy dan Linzie mencoba melerai keduanya. Namun sebenarnya, kedua wanita itu mengkhawatirkan pria yang sama. Yaitu Ryu Kenzhi.
Bersambung.......