RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
PERKARA BARU



EPISODE 142


Sejak terbongkarnya perbuatan Ayumi, Ken menjadi lebih berhati-hati dan selalu menjaga jarak dengan saudara seibunya itu. Di mana ada Ayumi maka Ken akan menyingkir.


Namun pagi itu, mau tidak mau ia harus bertemu dan bertatap muka dengannya di sebuah rapat perusahaan yang ia pimpin. Karena rapat itu menyangkut perkembangan rumah sakit di Shibuya yang dibuka beberapa waktu lalu, Ken diberi wewenang oleh tuan Hide untuk melakukan presentasinya.


"Dalam waktu lima tahun, kita akan membuatnya menjadi rumah sakit berprioritas tinggi di dalam negri."


"Segera setelah keputusan pengembangan dibuat, kita akan secara aktif bekerja sama dengan rumah sakit Amerika, Vietnam dan India untuk mempercepat bisnis bidang kesehatan kita."


"Di sini kita juga bisa melihat bahwa aset perusahaan kita saat ini 2, 097 miliar dolar. Dengan rasio sekitar 280 persen. Dengan kewajiban pembayaran untuk alat-alat sebanyak 920 juta dolar."


Ketika Ken sedang menjelaskan, Ayumi mengacungkan tangan untuk bertanya.


"Apakah mungkin mengembangkan kerja sama ke Rusia dan Philippines?"


Mendapat pertanyaan dari gadis itu, Ken menatapnya untuk sesaat kemudian mengalihkan pandangan ke arah meja di depannya. Wajahnya tampak malas dan menjadi enggan bicara. Namun karena tuntutan pekerjaan, ia pun memberi jawaban beberapa saat kemudian.


"Itu bisa kalian periksa. Jika ada kemungkinan kerja sama dengan negara tersebut, buat ringkasan seringkas mungkin lalu kirim laporannya ke ruanganku segera."


"Baik, pak."


"Baiklah. Cukup sampai di sini rapatnya," ucap Ken sambil bergegas keluar ruangan diikuti tuan Kogoro yang menjabat sebagai sekretaris langsungnya.


Di lain tempat, salon kecantikan Yuna sedang ramai dikunjungi pelanggan. Salah satunya Arai. Dengan pedenya, Arai masuk begitu saja ke dalam ruang pribadi Yuna.


"Sudah cukup lama, aku tidak melihatmu, Yuna. Kau semakin cantik saja," sapa Arai begitu Yuna muncul dari kamar mandi pribadi.


"Arai? S sedang apa kau di sini!????"


Orang yang disebut pun menatap Yuna lekat-lekat dari kepala sampai kaki. Sambil tersenyum ia berkata kembali, "Sepertinya, kau hidup bahagia bersamanya. Selain itu, kau tampak feminim sekali sekarang."


"Yaah. Aku hidup sebagai seorang istri wakil ketua Monjin sekarang. Bagaimanapun aku harus menjaga penampilanku."


"Hmm. Kalau begitu, selamat atas pernikahan kalian. Kenapa aku tidak diundang?"


"Maaf soal itu. Tapi pernikahan kami hanya disaksikan keluarga."


"Ayahmu pasti bangga melihatmu hidup sebagai nyonya besar yang serba berkecukupan seperti sekarang ini."


"Tidak. Ayahku..."


"Masih tidak mau memberi restu?"


"Hmm."


"Apa kau mau meminta bantuanku dalam meminta restu ayah? Bagaimanapun, dulu kita pernah menjalin hubungan dan dekat satu sama lain."


"Tidak. Tidak perlu. Aku dan Ken sudah beberapa kali datang menemuinya."


"Lalu? Masih belum ada respon?"


"Itu urusanku. Aku yakin, pikiran ayah akan terbuka suatu hari nanti."


Yuna diam sebentar. Kemudian ia berdiri untuk mengambil botol minuman di sebuah rak.


"Kau mau minum?"


"Boleh."


Pada saat Yuna tengah menuang minuman beralkohol ke sebuah gelas bertangkai, Arai mengamatinya dengan mata seakan ingin menelanjangi.


"Bagaimana dengan Ken? Apa dia memberimu kepuasan?"


Yuna tertegun sesaat, "Ya. Sudah pasti."


"Apa kau yakin dia bisa melakukan seperti yang aku lakukan padamu?"


"Tentu saja. Dia seratus kali lebih baik darimu."


"Sungguh? Aku tidak yakin dia bisa lebih baik memainkan bagian kewanitaanmu seperti aku."


"Sudah, cukup Arai. Apa kau kemari hanya untuk membahas sesuatu yang sudah berlalu?"


"Tapi menurutku, itu belum berakhir. Karena suamimu tidak ada di sini, bagaimana jika kita melakukannya sekarang tanpa sepengetahuan dia."


"Tidak, Arai. Aku bukan femmimu lagi. Lagi pula, aku sudah sangat puas dengan apapun yang diberikan Ken. Jadi aku tidak ingin kembali menjadi seperti dulu."


SRET


Arai melangkah maju mendekati Yuna. Ia mencoba melakukan sesuatu padanya seperti dulu.


Tanpa mereka tahu, seorang karyawan salon yang baru bekerja beberapa hari di sana sedang menguping pembicaraan pribadi mereka.


Jari jemarinya yang kurang kerjaan itu membagi rahasia yang ia dengar ke sosial media.


"Tidak ku sangka, pemilik salon tempatku bekerja seorang L!"


Begitu status yang ia buat di sebuah aplikasi sosial media. Tidak lupa ia menyertakan sebuah foto tempat ia berdiri sekarang. Maka, ramailah komentar yang menebak lokasi salon.


"Aku seperti mengenal tempat itu!"


"Wah! Salon mana itu?"


"Benarkah? Jika dia seorang L, maka di tempat itu sudah pasti tempat berkumpul mereka! Menjijikkan!"


"Apa salahnya, bukankah sesama jenis diperbolehkan di negara ini?" komentar seorang turis.


"Itu tidak bagus! Keluar saja dari pekerjaanmu! Kau bisa tertular penyakit menyimpang!"


"Wah! Sungguh? Ini berita besar!!!"


"Benar. Aku sepertinya juga setuju denganmu!"


"Coba ambil foto mereka! Kaum L dan sejenisnya membuatku muak! Kau harus memviralkannya!!!"


"Memalukan sekali! Jika aku ada di sana, akan ku ludahi pemilik salonmu!"


"Akakaka! Benar-benar berita besar! Aku tidak menyangka, wanita cantik itu menyia-nyiakan suaminya yang kaya!"


"Jika dia L, apakah dia dan suaminya pernah bercinta??? Jangan-jangan???"


"Berhati-hatilah! Kalian menggosipkan keluarga pengusaha!"


"Uuppss!!"


Beberapa komentar negatif terus berdatangan meski di negara mereka sudah ada ijin resmi bagi kaum menyimpang untuk melanjutkan hubungan mereka.


Bahkan secara garis besar, negara mereka menjadi tempat mayoritas kaum LGBT. Entah itu dari negaranya sendiri maupun dari turis manca negara yang sengaja datang untuk berlibur dan menetap di sana.


Meski begitu, pembenci tetaplah ada. Kelompok yang menentang peresmian undang-undang perizinan LGBT pun masih gencar melakukan penolakan keberadaan kaum tersebut.


Dengan beredarnya berita itu, salon B'Mission dengan spesaialis spa, kuku, bulu mata, pewarnaan rambut dan koordinator kecantikan itu pun ramai dibicarakan.


•••••••


Satu bulan kemudian, Yuna tampak sedang melamun di meja kerjanya. Sudah beberapa minggu ini, tempat usahanya dikunjungi para LGBT Mereka memberi dukungan untuk Yuna agar tidak peduli pada respon umum.


Namun di lain pihak, beberapa orang yang menolak keberadaan kaum menyimpang juga mengancam dengan segala cara.


Selama berhari-hari, Yuna mengalami tekanan dan menjadi stres. Sudah lama ia memutuskan diri dari kehidupan menyimpang. Tapi apa yang terjadi sekarang?


Berita tentang kehidupannya dulu bersama Arai terkuak di kalangan publik. Tentu saja masalah itu membuatnya tidak nyaman sebab sekarang ia sedang menjalani kehidupan yang tenang bersama dengan Ken.


Namun begitu, ia tidak menceritakan keadaan di salonnya pada Ken karena tidak ingin menambah beban pikiran suaminya tersebut. Ia tahu bahwa sekarang ini, Ken sedang manangani proyek rumah sakit di Shibuya.


Pada pagi yang cerah di hari minggu, tepatnya jam sembilanan, Yuna duduk merenung sambil sesekali membuang nafas. Di sisinya, tampak Ken masih tidur dengan nyenyak dan tenang.


"Kau sudah bangun?" tanya Ken saat melihat Yuna duduk di sisi ranjang.


"Heh.."


Ken mendekat dan memeluknya dari belakang, "Apa yang sedang kau pikirkan"


"Eh? Tidak ada," Yuna berbohong.


"Hmm... Benarkah?" Ken mengendus leher Yuna.


"He'em. Oh ya. Bukankah hari ini Suya akan datang?"


"Ya. Aku berjanji padanya untuk mengajarinya bermain gitar."


"Bermain gitar?"


"Ada pentas seni budaya yang ia ikuti. Dia dan temannya menampilkan sebuah lagu. Dan dia kebagian untuk memegang gitar."


"Baiklah, gunakan dengan baik waktu libur kalian. Aku senang, karena kini Suya benar-benar mengandalkanmu," Yuna mengusap kepala Ken yang bersandar di pundaknya itu dengan tangan kirinya.


TOK TOK TOK


Suara pintu kamar mereka diketuk seseorang. Panggilan dari bibi Kira terdengar dari luar.


"Tuan muda, Suya sudah datang."


"Ya baiklah. Aku segera turun," jawab Ken.


Ken dan Yuna menoleh bersamaan dan langsung merapikan diri. Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Ken turun menemui putranya yang sudah menunggu di bawah. Begitu pula Yuna.


TAP TAP TAP


Ken berjalan menuruni anak tangga diikuti oleh Yuna. Tangannya sibuk memasukkan dompet ke dalam saku celana.


"Kau sudah datang? Kenapa tidak menunggu dijemput saja?"


"Tidak apa, ayah. Aku bisa naik bus dari rumah," Suya begitu pengertian. "Eh? Apa ayah dan mama sedang beristirahat?" lanjutnya merasa tidak enak.


"Hmm. Tidak, kami sudah bangun. Ngomong-ngomong, kau sudah minta ijin pada nenek dan kakek?"


"Ya. Aku meminta ijin untuk menginap semalam."


"Baiklah. Pertama-tama, kita pergi ke toko alat musik dulu dan mencari gitar yang cocok untukmu."


"Apa harus membeli yang baru, ayah?"


"Hmm sebenarnya tidak. Tapi anggap saja, ayah membeli hadiah untukmu."


Yuna menepuk lengan Suya, "Tidak apa-apa. Pergilah."


Suya pun mengangguk dan mengikuti Ken yang melangkah keluar menuju garasi.


.


.


.


BERSAMBUNG...