RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
AKANKAH USAHA MEMBUAHKAN HASIL?



EPISODE 48


Dengan mata sipit nan sendu, bibir Ken yang seksi tersenyum menampakkan barisan gigi yang rapi.


"Kau sedang apa?" Suzy menolak pelukan Ken karena malu.


"Aku sedang memelukmu," jawab Ken masih tersenyum.


"Iya itu aku tahu. Maksudku, kenapa kau memelukku? Lepaskan sekarang!" kata Suzy jual mahal sambil meronta meminta dilepaskan.


"Apa kau masih belum siap menjadi lebih intim denganku?" tanya Ken tiba-tiba.


"Hah? Itu..." Suzy salah tingkah.


Ken tersenyum, "Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Tapi kali ini, biarkan aku memelukmu beberapa saat saja, ya?"


Suzy membuang muka dan sesekali melirik wajah Ken. Karena ia tidak bisa bergerak, akhirnya ia memberi ijin Ken untuk memeluknya beberapa saat.


Di dalam pelukan Ken, Suzy tidak henti-hentinya tersenyum. Sebenarnya ia masih bisa menoleransi untuk hal yang satu ini. Apalagi, bersama Ken adalah impiannya sejak lama.


Ken memeluk Suzy sambil memejamkan matanya. Ia mampu merasakan kehangatan tubuh Suzy dan detak jantungnya yang bertalu-talu.


"Baiklah. Sepertinya sudah cukup. Cepat lepaskan aku. Aku harus melihat kondisi restoran."


Setelah cukup memberikan pelukan, Suzy bergerak menjauh dan beranjak turun dari ranjang. Namun sepertinya Ken menginginkan hal lain hingga ia menarik Suzy ke dalam pelukannya kembali.


"Eh??"


Tentu saja Suzy memekik karena kaget. Ia tidak percaya bahwa Ken menginginkannya kembali. Bahkan sekarang meski tidak sengaja, muka mereka berdua berhadap-hadapan. Mata mereka pun bertatapan.


DEG!


Jantung Suzy benar-benar tidak bisa berdetak pelan lagi. Tatapan mata Ken yang teduh dan sendu membuat naluri wanitanya mengatakan bahwa sebentar lagi akan ada sesuatu yang terjadi.


Ketika Ken bergerak perlahan mendekatkan bibirnya, Suzy menelan ludah dan mulai memejamkan mata. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dirinya juga menginginkan hal itu.


Ya. Sebagai perawan tua, tentu saja ia seringkali memimpikan saat-saat yang mendebarkan dimana seorang pria datang untuk menciumnya.


Semasa remajanya dulu, tidak sekalipun ia dekat dengan seorang pria. Hanya karena ia menyimpan cintanya untuk Ken, pria yang mendekam di dalam penjara.


Tepat saat bibir Ken mulai menyentuh tipis-tipis bibir Suzy, tiba-tiba saja Suzy bersin dengan kerasnya.


Haaaatchhiih!


Otomatis, wajah Ken basah oleh percikan air liur Suzy. Dan karena rasa gugup yang tidak dapat disembunyikan, tangan Suzy justru mendorong muka Ken menjauh.


"Em, ma maaf itu tidak sengaja. A aku harus pergi sekarang juga," kata Suzy berusaha kabur dari hadapan Ken.


"Oohh.." Ken berkedip cepat karena masih tidak percaya bahwa wanita itu bersin di saat penting seperti itu.


Ken menatap Suzy yang menutupi rasa gugupnya dengan menyibukkan diri merapikan tempat tidur. Sambil mengusap wajahnya menggunakan kaos yang dikenakannya, ia pun turun dari ranjang.


Woah! Ken berpikir bahwa sulit sekali melakukan hal yang sedikit romantis bersama Suzy. Apa karena sejak awal mereka berjanji untuk tidak terburu-buru?


Namun, Ken merasa bahwa kebersamaannya dengan Suzy sudah cukup lama. Bahkan perasaannya pada wanita itu juga semakin berkembang.


Ketika Suzy berjalan keluar kamar, Ken memanggilnya.


"Tunggu. Aku ikut denganmu."


"Heh?"


"Kenapa? Apa tidak boleh?"


"Bo boleh kok," Suzy meraih tasnya.


•••••••


Tidak berapa lama kemudian, mereka berdua sampai di restoran. Tidak ada lagi coretan di dinding. Apakah panasnya hati warga sekitar sudah mendingin?


Ken meraih balok kayu yang tertinggal di depan teras. Kemudian meletakkannya di tong sampah. Ketika ia sedang melakukan itu, dua orang warga melewati restoran mereka. Namun keduanya biasa saja. Tanpa berteriak keras pada Ken seperti biasanya.


"Apa mereka sudah melupakan soal kebencian mereka padamu?" Suzy heran.


Ken hanya diam menoleh dan memperhatikan mereka yang berlalu pergi.


"Hari ini, mari kita masak porsi besar."


"Untuk apa?"


"Kita akan bagi-bagikan untuk warga sekitar. Sepertinya aku perlu mendatangi setiap rumah mereka dan meminta maaf secara pribadi," kata Ken.


"Aku yakin."


"Baiklah. Aku setuju. Meski kau tidak punya kesalahan pada mereka, tapi mungkin itu akan menyelesaikan masalah diantara kalian."


Maka, Suzy dan Ken pergi berbelanja apa saja yang dibutuhkan. Seperti ayam, daging dan beberapa jenis sayuran. Kemudian setelah selesai berbelanja, mereka pun melanjutkan kegiatan dengan memasak bersama di dapur restoran.


Kali ini, Ken sendiri yang menangani bumbu pada masakannya. Ia berharap, di setiap suapan yang warga dapat nantinya, mereka semua mampu merasakan ketulusan dalam dirinya.


Setelah mencuci bersih daging ayam dan daging sapi, Ken mengiris tipis daging sapi dan merendamnya dalam bumbu kecap, jahe serta bumbu lain untuk didiamkan selama satu jam.


Kemudian, ia pergi membaluri daging ayam dengan bumbu merah. Dan beberapa loyang yang penuh dengan daging ayam berbumbu merah itu ia masukkan ke dalam alat pemanggang.


Sambil menunggu panggangan selesai, Ken menyiapkan bumbu lain untuk membuat ayam bakar lebih lezat.


"Ken, sayuran sudah siap. Apa yang harus ku lakukan?" ucap Suzy yang baru selesai menyiapkan semua sayuran.


"Kau bisa membuat salad darinya," jawab Ken.


"Oke."


"Oh ya, apa kita masih memiliki kotak makan?" tanya Ken.


"Tenang, masih banyak. Apa lagi?"


"Hmm. Baiklah itu saja."


Ken pergi mencuci beras putih dan merah. Ia membuat onigiri dengan tiga jenis. Satu onigiri polos, Takikomi gohan' atau nasi putih yang dimasak dengan tambahan wortel, kacang polong dan ayam cincang. Kemudian yang satu lagi adalah onigiri dengan dua jenis nasi, merah dan putih yang dicampur jadi satu dan diberi wijen hitam.


TINGG!


Saat Ken dan Suzy sedang mengepal nasi, oven berbunyi menandakan menit memanggang tahap pertamanya sudah selesai. Maka Ken berhenti sebentar untuk mengoleskan bumbu kedua pada ayam, lalu memanggangnya kembali dalam oven.


Setelah tiga jenis onigirinya selesai dikepal dengan bentuk segitiga dengan nori di tengahnya, Ken mulai membakar daging ayam yang sudah ia oven terlebih dahulu.


Suzy sudah selesai membantu mengepal nasi dan segera menyiapkan kotak makan sebanyak 100 buah. Lalu dengan cepat dan rapi, ia meletakkan tiga buah nasi di setiap kotak makan.


Begitu urusan onigiri selesai, ia juga mengepak salad sayur pada mangkok-mangkok plastik kecil dan meletakkannya ke dalam kotak makan.


Ken menumis bawang putih cincang, bawang bombay, lalu serutan jahe dengan tambahan shoyu dan perasan jeruk lemon. Begitu bau harum dari bumbu keluar, ia memasukkan daging sapi yang sudah ia rendam dengan bumbu selama satu jam itu.


Ia juga menambahkan irisan paprika, apel dan pir serut ke dalam daging teriyaki yang sedang ia masak. Begitu dagingnya matang, ia menuangnya ke dalam wadah alumunium kotak. Urusan daging ia serahkan pada Suzy untuk menatanya.


"Apakah enak?" tanya Ken saat Suzy mencicipi daging teriyakinya.


"Hmm. Ini lezat," Suzy mengunyah daging dengan bersemangat.


"Syukurlah."


Karena ayam bakarnya juga sudah selesai, Ken dan Suzy mengemasnya ke dalam kotak makan. Tidak lupa mereka meletakkan sumpit ke dalam kotak tersebut.


"Fiuh, akhirnya selesai juga," Suzy menggeliat dan menggerakkan tangannya.


"Apa kau lelah?" tanya Ken sambil melepas sarung tangan karetnya.


"Ah, tidak. Tenagaku masih banyak," Suzy tersenyum.


Ken pun tersenyum. Dengan cepat ia meraih sapu tangan dari saku celananya dan mengusap dahi Suzy yang berkeringat dengan sapu tangan tersebut.


"Terima kasih. Kau pasti kelelahan setelah membantuku melakukan ini. Tanpamu, aku tidak akan sanggup melakukannya sendiri," ucap Ken.


"Eh? Tidak apa. Aku senang bisa melakukan sesuatu untukmu. Jika itu bisa membuatmu diterima dengan baik oleh warga sekitar, mengapa tidak? Lagi pula, aku tidak melakukan banyak hal tadi," jawab Suzy malu karena Ken begitu perhatian dengan mengusap keringatnya.


Ken mendekati Suzy dan memeluknya erat, "Apapun itu, terima kasih banyak."


Suzy mengangguk dan tersenyum senang. Ia benar-benar merasa terharu saat beberapa waktu tadi ia melihat Ken bekerja keras untuk mendapat pengakuan warga sekitar.


"Baiklah. Ayo kita bagikan makanan itu sekarang juga," kata Suzy.


Ken melepaskan pelukannya dan memegangi kedua bahu Suzy. Dengan senyuman penuh semangat, ia berkata pada Suzy.


"Hmm. Ayo kita lakukan sekarang. Semangat!!"


Kedua insan manusia itu mengangkat tangan kanan dan mengepalkan kelima jari mereka. Siang itu, tubuh mereka dipenuhi energi positif yang membuat hati amat besemangat. Senyuman lebar penuh percaya diri pun tersungging di bibir keduanya.


Akankah usaha Ken membuahkan hasil?


Mari lihat kelanjutannya,,,,, 🤗


Bersambung ke Episode 49