RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
HANTAMAN KERAS



EPISODE 119


Malam setelah ia pulang ke rumah, tiba-tiba saja Ken teringat pada Yuna. Kini, ia benar-benar memikirkannya.


Saat ia mengirimkan pesan, wanita itu mengatakan sedang bersiap pergi ke klub. Kazuki bahkan sudah datang ke rumahnya untuk menjemputnya.


"Dia tetap ikut?" gumamnya.


Ken tahu bahwa Kazuki belum lepas dari narkoba. Ia khawatir jika pria itu mengajak Yuna untuk memakainya kembali. Bahkan sikap Kazuki yang terus menempel pada Yuna membuatnya khawatir.


Kemudian, Ken mengirim pesan pada Ichigo dan bertanya siapa saja yang akan ikut ke klub. Rupanya Takeda dan Kurosaki akan ikut. Sedang Ichigo tidak.


Diliriknya jam pada ponselnya. Pukul sebelas lebih seperempat menit. Cukup lama Ken berpikir apakah dirinya akan menyusul Yuna atau tidak.


GREK


Terdengar suara bangku kayu yang tersingkir ketika Ken berdiri dan beranjak pergi. Sekali lagi, Ken tidak bisa diam saja saat Yuna dibawa pergi saingannya. Jika dulu Arai sebagai pengganggu, kini Kazuki lah yang menjadi saingan yang nyata.


Maka dipaculah sepeda motornya dengan kencang menuju klub milik keluarga Kazuki di Shibuya.


Begitu sampai di alamat klub yang diberikan Yuna, Ken segera memarkirkan sepeda motornya dan bergegas masuk ke dalam. Saat memasuki klub tersebut, Ken langsung menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan dengan lampu yang gemerlapan.


Ia cukup kesulitan mencari keberadaan Yuna, Takeda maupun Kurosaki. Ia malah bertubrukan dengan beberapa wanita seksi yang sedang berjoget.


"Maaf.." Ken berusaha pergi dari sisi wanita-wanita itu.


"Hai tampan, tunggu. Kau mau ke mana? Menarilah bersama kami," salah seorang dari mereka mencegat Ken.


"Yaahh..." Ken memaksakan senyumannya.


Kebetulan sekali, ia melihat Yuna dan Kazuki dari kejauhan. Mereka baru saja memasuki ruangan sambil mengobrol sehingga tidak melihat dirinya berdiri diantara para wanita.


Begitu Yuna duduk di salah satu kursi VVIP, Ken segera menyusulnya dan tetap menjaga jarak. Ia duduk di kursi tamu lainnya sambil memesan minuman untuk menyamarkan diri saat mengawasi Yuna.


Beberapa saat kemudian, Takeda dan Kurosaki datang dan bergabung. Kedua pria itu tampak berusaha keras menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya.


Beberapa botol bir tersedia di atas meja dengan asbak dan gelas-gelas yang terbuat dari beling berwarna hijau. Rupanya, Kazuki sudah menghabiskan hampir dua botol bir bersama Yuna. Hingga menjadi setengah mabuk.


Takeda dan Kurosaki pun menjadi amat risih ketika melihat Kazuki yang terus-menerus mencoba mencium bibir Yuna. Namun selalu ditolak oleh wanita tersebut.


"Hentikan, Kazuki! Kau membuatku takut."


"Dengar, Yuna. Malam ini, kau harus bercinta denganku. Ada banyak wanita yang mengantre di sana, jadi bersyukurlah karena aku memilihmu."


Kurosaki memberi isyarat pada Takeda dengan gerakan matanya. Ia memberitahu kawannya itu bahwa dirinya sedikit rikuh dengan kelakuan Kazuki.


"Apa tidak apa-apa membiarkan dia seperti itu?" bisiknya pada Takeda.


"Entahlah. Aku juga tidak tahu harus berbuat apa," jawab Takeda.


Dari meja lain, Ken tengah menggenggam erat gelas beling yang ada di tangannya. Sesekali ia menenggak minumannya dengan mata yang terus menatap ke arah Yuna.


"Sudah ku bilang, lepaskan!"


"Tidak sebelum kau melayaniku di sini," suara Kazuki terdengar memaksa.


Mendengar percakapan antara Yuna dan Kazuki, Ken terus menggenggam erat gelas tersebut hingga pecah melukai telapak tangannya. Menurutnya, perlakuan Kazuki itu semakin berani pada Yuna. Bahkan pria itu berniat memperkosa Yuna di depan banyak orang.


Walaupun di klub tersebut tempatnya para penari telanjang, namun perbuatan Kazuki pada Yuna tidak dapat Ken maklumi.


KRAK


Suara gelas yang pecah dalam genggaman Ken. Beberapa wanita setengah telanjang yang berjoget di dekatnya pun menoleh dan memperhatikan Ken sambil menutup mulutnya karena terkejut.


Sambil meraih sebuah gelas baru yang ada di mejanya, Ken berdiri dan berjalan pasti menghampiri Kazuki yang tengah menindih tubuh Yuna dan sedang mengendus leher wanita tersebut.


CRAK


CRAK


CRAK


Ken memukul kepala Kazuki menggunakan gelas yang ia genggam tadi hingga belingnya hancur berkeping-keping.


Takeda dan Kurosaki amat terkejut dengan kedatangan Ken yang secara tiba-tiba dan langsung menghajar Kazuki dengan berani.


"Aaarrrrhhh!! Sialan kau Ken!" seru Kazuki meneriaki Ken seraya memegangi kepalanya yang berdarah.


"Maaf. Mulai dari sini, aku akan mengambil alih Yuna," ucap Ken seraya meraih tangan Yuna dan menyeretnya pergi dengan paksa.


Takeda dan Kurosaki pun ikut meninggalkan lokasi sebab takut mendapat masalah bila terus berada di sana.


•••••••


Begitu turun dari motor, Ken meraih tangan Yuna dan menyeretnya beberapa meter dari motornya. Kemudian ia melepas genggaman tangannya itu begitu saja.


"Jadi, apa itu yang kau inginkan?"


Yuna menundukkan kepala karena merasa bersalah tidak mendengarkan Ken.


"Jika kau ingin bersama Kazuki, maka sebaiknya kita sudahi saja hubungan yang coba kita jalani ini."


Yuna langsung meminta maaf pada Ken soal perkara tadi.


"Tidak. Jangan sudahi hubungan kita, Ken," jawab Yuna buru-buru seraya berusaha memeluk pria yang sedang kesal itu.


"Aku sudah berjanji untuk tidak menggunakan kekerasan lagi saat keluar dari penjara. Namun berkat kau, lagi-lagi aku melakukannya tanpa berpikir panjang terlebih dahulu."


"Maaf, Ken. Aku membuatmu memukul Kazuki. Aku berjanji tidak akan membuatmu khawatir lagi. Sungguh, aku tidak ingin kau marah padaku," kata Yuna bersandar pada lengan Ken.


Ken diam memikirkan hari esok yang bisa saja kacau. Apalagi, tindakan yang ia lakukan pada Kazuki tadi bisa saja memperburuk hubungan di antara mereka.


"Ayo pulang. Aku akan mengantarmu ke rumah," ucap Ken dingin.


Yuna menarik jaket bagian belakang Ken untuk menghentikannya.


"Aku tidak ingin pulang ke rumah. Bawa saja aku ke rumahmu, ya?"


"Tidak."


"Ken...."


"Aku bilang tidak. Setelah kejadian di klub, aku yakin Kazuki akan menghubungi ayahmu dan menceritakan hal yang sebaliknya. Aku tidak ingin ayahmu semakin salah faham terhadapku. Jadi, pulanglah ke rumah sebelum ayahmu mencarimu," jelas Ken.


"Tapi..."


Benar saja. Begitu Ken membawa Yuna pergi dari klub, Kazuki memikirkan sebuah cara untuk membuat Yuna tidak bersama Ken.


Ia menelepon tuan Tanaka dan mengatakan padanya bahwa Ken membawa lari putrinya untuk berbuat tidak senonoh kepadanya. Bahkan dirinya yang hendak menyelamatkan Yuna justru terkena hajar oleh Ken.


Mendengar semua perkataan Kazuki, ayah Yuna benar-benar terpengaruh. Sejak awal, ia menganggap Ken sebagai pria buruk yang hanya kebetulan ia kasihani saat meminta pekerjaan darinya.


Tidak disangka, pria tersebut mempengaruhi putrinya dengan hal yang negatif sehingga putrinya terbutakan oleh cinta. Untuk memisahkan keduanya, ia harus menyusun rencana pernikahan secepatnya.


Putrinya harus menikah tahun ini juga bagaimanapun caranya. Dan seseorang yang tepat untuk menikahi Yuna adalah Kazuki, putra teman baiknya. Begitu pikiran yang melintas di dalam benak tuan Tanaka.


•••••


Meski malam itu Yuna tidak ingin pulang ke rumahnya, Ken tetap membawanya pulang. Ia tidak ingin mendapat kesan buruk di mata ayah Yuna.


"Masuklah. Aku akan pergi setelah kau masuk ke dalam," ucap Ken.


"Tidak. Aku akan menunggumu pergi."


"Baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu. Kau istirahat dan tidurlah dengan nyenyak. Besok, mungkin akan ada keributan kecil akibat perbuatanku tadi. Jadi, persiapkan dirimu," Ken menuturkan apa yang menjadi perkiraannya.


"Baiklah. Kau juga, ya."


"Hmm."


Ken segera memacu sepeda motornya pergi dari depan rumah Yuna. Sebenarnya ia khawatir jika perasaannya pada Yuna hanya sebuah pelampiasan karena hidup sendiri tanpa Suzy.


Namun, ia menyadari satu hal pasti bahwa dibanding dengan Linzhi, ia lebih nyaman bila bersama anak itu.


Ketika sedang berpikir seperti itu, sebuah mobil menghantamnya dari arah samping.


GUBRAAAKKK!!


Ken terlempar dan jatuh terguling beberapa meter dari motornya. Karena benturan yang sangat hebat baru saja ia terima, maka Ken terlentang di tengah jalan seraya menarik nafas sesak. Dari mulutnya keluar darah segar berwarna merah tua.


Ketika pintu mobil yang menabraknya itu terbuka, keluarlah seorang laki-laki yang ternyata adalah Kazuki.


Rupanya, sudah dua jam lamanya ia menunggu Ken di tikungan tersebut. Mendapati Ken tengah terkapar di aspal jalanan yang sepi, Kazuki mendekatinya sambil tertawa.


"Ck Ck Ck,, Sayang sekali. Aku rasa persahabatan di antara kita menjadi sangat buruk, Ken. Mulai sekarang, aku tidak akan lagi menganggapmu teman karena kau menghalangi rencanaku untuk memiliki Yuna."


Kazuki meludahi Ken dan bicara kasar kembali, "Kau pikir, kau hebat karena mendapatkan Yuna lebih dulu dariku? Tidak. Kau tidak tahu siapa Yuna sebenarnya. Dari dulu, dia selalu cinta mati kepadaku. Jadi jangan berharap lebih darinya."


Ken yang lemah hanya bisa menatap Kazuki yang terus bicara padanya tanpa mampu berkata-kata.


"Jangan mencoba menghalangiku lagi. Apalagi melakukan hal seperti tadi!! Dasar bodoh!" Kazuki menginjak dada Ken.


"Aaggh!"


"Dasar sialan kau!! Brengsek!!"


"Aagghh!"


"Berani-beraninya kau macam-macam denganku!!" sambil mengumpat seperti itu, Kazuki terus menginjak dan menendangi tubuh Ken.


"Uhuk Uhuk!" Ken terbatuk-batuk.


Karena Ken tidak juga bicara, Kazuki melepaskan helm yang dipakai Ken.


"Apa kau mau mengatakan sesuatu?" ejek Kazuki seraya menyeringai di depan wajah Ken.


"Aah, aku rasa kau tidak akan hidup lagi setelah ini. Jadi mati saja kau!" teriak Kazuki penuh emosi.


Ia memukulkan helm yang ada di tangannya itu ke kepala Ken hingga terdengar suara benturan yang keras.


Begitu melihat darah mengalir dari kepala Kenzhi, Kazuki tertawa menyeringai dan merasa puas akan aksinya. Tanpa mempedulikannya lagi, ia membanting helm yang ada di tangannya lalu pergi meninggalkan pria yang terluka parah dan tergeletak di jalanan begitu saja.


.


.


.


BERSAMBUNG.....