
EPISODE 70
Dengan kaki gemetaran, Ken berlari menuju pintu paling luar dari rumah Keiko. Ia merasa amat menyesal karena harus meninggalkan mayat gadis itu begitu saja.
Ken juga merasa sedih mendapati situasi yang buruk telah terjadi pada juniornya. Selangkah demi selangkah, ia menguatkan diri untuk pergi. Sebab bagaimanapun ia takut seandainya tertangkap basah oleh seseorang dan dituduh sebagai pelaku pembunuhan tersebut.
Namun ternyata hati nuraninya berkata lain. Dengan perasaan kalut, Ken kembali ke dalam. Langkahnya terasa berat dengan degupan jantung yang amat kencang.
"A apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa berdiam diri saja di sini," suaranya gugup.
Ken bingung harus bagaimana. Ia bersimpuh di lantai dan memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Matanya pun terus bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri.
Setelah beberapa saat menyalahkan diri karena tidak waspada, Ken memperhatikan tubuh yang tergeletak di atas ranjang.
Merasa kasihan melihat mayat Keiko yang bertelanjang bulat, Ken cepat-cepat meraih selimut yang jatuh di lantai dan menyelimutkannya pada tubuh gadis itu.
"Maafkan aku. Seandainya aku lebih waspada, mungkin ini tidak akan terjadi padamu," Ken bicara pada mayat Keiko.
Tangannya gemetar dengan keringat bercucuran di dahinya.
"Entah apa yang terjadi nanti, aku harus tetap melaporkan kejadian ini pada polisi," gumamnya.
Ya. Benar. Bagaimanapun gadis itu adalah seorang karyawannya. Terlebih lagi, Keiko baru saja mengungkapkan perasaan kepadanya. Dan ia pun sempat terhanyut bersamanya. Ia tidak bisa meninggalkannya begitu saja.
SIINGG!
Maka, setelah meyakinkan diri bahwa ia akan pergi melapor, akhirnya Ken pun tiba di depan kantor polisi.
Ia berdiri mematung beberapa saat untuk mengumpulkan keberaniannya. Dengan kedua tangan yang mengepal, ia pun melangkah ke depan.
Begitu ia melaporkan kasus pembunuhan Keiko, polisi menginterogasinya sebagai saksi mata. Ada beberapa pertanyaan yang harus ia jawab. Beberapa saat kemudian, polisi membentuk tim dan mulai bergerak menuju lokasi pembunuhan.
Untuk saat ini, Ken diperbolehkan pulang dan dipersilahkan menunggu kabar pada esok harinya.
Sementara itu, sebelum polisi sampai ke TKP, seseorang tengah mengembalikan disk rekaman CCTV pada kamar Keiko yang sudah diedit sedemikian rupa.
••••••
GRUK
GRUDUK
Suara pintu gerbang digeser dan ditutup perlahan. Malam itu hari menunjukkan pukul satu malam lewat lima menit. Ken pulang ke rumah dengan membawa perasaan cemas.
Ia merasa bersalah pada Suzy karena pulang terlambat tanpa mengirim satupun pesan. Selain itu, ia juga merasa telah mengkhianati pernikahannya dengan wanita pendamping hidupnya itu dengan sengaja.
Bagaimana bisa? Yah.. Tentu saja bisa. Beberapa waktu yang lalu, dengan akal yang masih sehat, dirinya terpancing untuk menerima ciuman dari Keiko yang notabene adalah asisten dapur Suzy. Karyawan dekat istrinya.
Ken masuk ke dalam rumah sambil mengendap-endap seperti maling. Sepi, tidak ada orang. Tapi sebenarnya, keluarga mereka baru saja tidur beberapa menit yang lalu sebab menunggu kepulangan dirinya.
Sampai di kamarnya, Ken melihat Suzy yang terlelap manis di ranjang. Ia menyesal karena tidak menepati janjinya untuk mengajak jalan-jalan wanita tersebut.
Ketika tangan kanannya bergerak hendak menyentuh pipi Suzy, Ken segera mengurungkan niatnya. Ia melihat noda darah dari tubuh Keiko menempel di sana. Cepat-cepat ia menarik kembali tangannya dan segera pergi ke kamar mandi.
SRET
Berdirilah ia di depan cermin seraya mengamati wajahnya yang menjadi kaku sebab otot-ototnya menegang.
Kemudian ia menyalakan shower dan duduk di atas kloset. Sambil menggigiti kukunya, ia kembali memikirkan pembunuhan itu. Benar ia sudah melaporkan pembunuhan Keiko pada polisi dan menjadi saksi.
Tapi, bagaimana jika situasi berbalik menyudutkannya? Bisa-bisa ia terseret ke dalam kasus tersebut dan justru dianggap sebagai pelaku?
Aih, Ken menjadi gugup. Setengah jam lebih ia menyembunyikan diri di kamar mandi. Setelah hatinya cukup tenang, ia berjalan keluar dan menghampiri Suzy. Diamatinya wajah sang istri beberapa saat. Lalu diusapnya dengan lembut pipi Suzy.
Ken tersenyum kecut.
Puas memandangi istrinya, Ken berbalik mengambil pakaian dari lemari. Pada saat ia tengah menarik resleting celananya, sebuah pelukan dari belakang membuatnya terkejut.
"Dari mana saja kau? Apa ada yang terjadi? Kenapa tidak menghubungiku jika ada sesuatu? Apa kau tahu? Aku mencemaskanmu," Suzy menyenderkan kepalanya pada punggung Ken yang telanjang.
GLEK!
Ken berdiri kaku. Bibirnya bergerak-gerak menahan ketakutan dalam diri. Perlahan, ia mengangkat tangan kanannya lalu mengusap lembut tangan Suzy. Namun ia tak mampu berkata-kata.
Cukup lama mereka berpelukan dalam posisi seperti itu. Hingga Suzy membalikkan tubuh Ken menghadap dirinya.
"Ada apa? Apa kau sakit? Kau belum makan malam, ya? Apa mau ku siapkan makanan?" Suzy melihat wajah Ken yang pucat.
Ken memegangi kedua lengan Suzy sambil memaksakan senyumannya, "Aku baik-baik saja."
"Benarkah? Lalu, kenapa masih di sini? Ayo tidur," ajak Suzy sambil menarik tangan Ken.
Belum sempat Suzy melangkah pergi, Ken menariknya cepat dan memeluknya erat. Ia membutuhkan seseorang untuk membuatnya tenang. Bagi Ken, pelukan Suzy mempunyai kekuatan tersendiri.
Suzy tidak mengerti. Apa yang terjadi pada suaminya. Ia hanya melihat sikap janggal pada pria yang kini sedang mendekapnya. Namun begitu, ia mengesampingkan kecurigaannya dan menikmati kedekatan antara mereka berdua.
"Jika kasus ini menyeretku ke penjara, aku takut ini akan menjadi malam terakhirku bersama orang yang ku cintai."
Ken semakin erat memeluk Suzy. Tapi Suzy mengatakan bahwa ia tidak bisa bernafas karena pelukannya, maka ia lepaskan pelukannya dengan perlahan.
"Maafkan aku, aku terlalu bersemangat," ucap Ken.
Suzy memperhatikan wajah suaminya. Diraihnya wajah yang lesu itu dengan cepat. Kemudian diciumnya bibir Ken yang terasa dingin itu. Pelan-pelan pula dilumatnya bibir sang suami seraya memejamkan mata.
Ken merasa amat nyaman. Sentuhan Suzy yang tenang, mengingatkannya pada sentuhan Keiko yang terasa amat berbeda.
Apa yang membuatnya berbeda?
Tentu saja. CINTA.
Ya. Apa lagi?
Dua orang yang saling mencintai mempunyai sentuhan yang lembut dan tulus untuk pasangannya. Mereka berusaha saling melengkapi dan mengutarakan perasaan lewat setiap sentuhan.
Berbeda dengan situasi yang hanya menginginkan kenikmatan. Yang ada hanya rasa haus akan kepuasan.
Ken menyadari betul kesilapannya beberapa jam yang lalu. Perlahan ia membuka bibirnya dan membalas ciuman Suzy dengan sesapan yang hangat.
Ketika ciuman mereka semakin panas, Ken duduk di atas meja rias dan menarik tubuh Suzy ke dalam celah kakinya. Merengkuh kehangatan sang istri dengan sepenuhnya.
Kedua tangan Suzy yang semula hanya mengusap dada dan perut Ken pun turun ke bawah menuju celana Ken. Diusapnya perlahan benda menonjol yang terkurung di dalam sana.
Hanya butuh waktu singkat, Ken dapat merasakan tongkatnya memberontak dan minta untuk dilepaskan.
Suzy menarik turun resleting celana Ken dan membebaskan benda yang sedari tadi berkedut-kedut di dalam perangkap. Kemudian perlahan dilepaskannya pagutan antar bibir mereka.
Ken bertanya-tanya. Kenapa berhenti?
Begitu Suzy memerosotkan tubuhnya ke bawah dan mendapatkan tongkat miliknya menggunakan bibirnya, Ken melenguh nikmat.
"Aaarrhh, sayang,," Ken mendongakkan kepala seraya meremas rambut Suzy.
Setelah cukup lama Suzy melakukan stimulasi pada tongkatnya, Ken meraih tubuh sang istri dan mengangkatnya duduk di atas meja rias.
Disesapnya kembali bibir kecil bulat milik sang istri. Kemudian tangannya bergerak begitu cepat menarik lepas semua pakaiannya.
Pukul 2 dini hari itu, mereka berdua justru bergumul dengan hasrat yang menggebu. Saling memberi dengan sepenuh hati. Seakan tidak ingin berhenti dan melakukannya lagi dan lagi.
•••••••
Esok pagi ketika suara kokokan ayam tetangga terdengar, Suzy terlebih dahulu membuka mata. Ia menoleh pada suaminya yang masih terlelap dalam selimut yang sama dengan dirinya.
Suzy menggeser posisinya semakin mendekat pada Ken. Disembunyikannya kepalanya ke dalam dada sang suami yang masih telanjang itu dengan pelan. Ia begitu menikmati aroma nafas tubuh pria yang semalam menikmati malam indah bersamanya.
Entah mengapa, semakin ia memiliki Ken, semakin ia tidak ingin kehilangannya.
Bahkan saat mimpinya semalam memperlihatkan situasi dimana ia kehilangan Ken dari hadapannya, Suzy benar-benar khawatir. Apakah mimpi itu berarti?
Ketika Suzy memeluk tubuhnya erat, Ken membuka mata karena merasa geli di bagian dadanya.
"Kau sudah bangun?" tanyanya sambil menggeliat.
Suzy menengadahkan kepalanya menatap sang suami lalu mengangguk pelan.
"Apa tidurmu nyenyak?" Suzy balik bertanya.
"Hmm. Sangat, sangat nyenyak," jawab Ken sambil memainkan poni Suzy.
Kemudian, Ken juga menyentuh perut Suzy dan menyapa bayinya.
"Selamat pagi, sayang. Apa kau sedang tidur? Maaf, ya. Semalam, ayah dan ibu mengganggu tidurmu," Ken mengusap-usap perut Suzy yang sudah mulai membuncit.
Kemudian Ken terdiam dan membatin.
"Ayah berharap, ayah bisa melihat saat kau dilahirkan nanti."
Melihat suaminya melamun, Suzy bertanya, "Ada apa, Ken? Apa kau sedang memiliki masalah?"
"Apa? Aaah,, tidak. Jam berapa ini? Ayo bersiap ke restoran," Ken mencoba mengalihkan pembicaraan dan bergerak turun dari ranjang.
Namun saat Ken duduk dan bergegas memakai sendalnya, Suzy bangkit langsung memeluknya dari belakang.
"Jangan pergi," rengeknya.
Ken menoleh kaget, "Ada apa, sayang?"
"Biarkan aku memelukmu sebentar. Ya??"
Lagi-lagi Suzy menunjukkan sikap ingin bermanja-manjaan dan tidak ingin jauh dari suaminya. Entah itu bawaan dari bayi ataukah alam bawah sadarnya dapat merasakan bahwa waktunya bersama Ken hanya tinggal beberapa saat lagi.
Bersambung......