
EPISODE 49
Ken dan Suzy sedang sibuk membagikan makanan untuk warga sekitar rumah dan restoran mereka. Di setiap rumah yang mereka datangi, orang-orang memberikan tanggapan yang berbagai macam.
Ada dari mereka yang tetap menolak keberadaan Ken dan banyak pula yang telah melembutkan hati mereka sejak melihat dan mendengar pengorbanan Ken yang menyelamatkan dua orang anak tetangga mereka.
"Selamat menikmatinya, bibi. Makanan ini khusus kami buat sebagai tanda permohonan maaf dariku karena membuatmu tidak nyaman dengan latar belakangku beberapa waktu lalu. Semoga kau menyukainya," kata Ken sopan.
"Baiklah. Aku akan menikmatinya dengan baik bersama cucuku," jawab wanita tua yang duduk bersama cucunya.
"Terima kasih, paman. Aku sudah dengar cerita tentangmu yang menyelamatkan Narui. Menurutku, itu sangat keren," kata anak laki-laki cucu wanita tua itu.
"Benarkah? Ah. Syukurlah. Aku senang sekali mendengarnya," Ken tersenyum.
•••••
Selanjutnya, mereka berdua ke rumah tetangga yang lain. Di rumah itu sedang berkumpul beberapa anggota keluarganya.
"Terima kasih. Sebenarnya, kau tidak perlu bersusah payah melakukan ini. Sejak aksimu beberapa waktu lalu yang menyelamatkan anak-anak, semua orang mencoba membuka pikiran mereka," kata seorang pria.
"Ah.. benarkah? Aku sungguh berterima kasih," Ken terharu.
Pria itu menepuk-nepuk pundak Ken sambil tersenyum,
"Kami semua berpikir. Masa lalumu memang buruk. Tapi kami melihat dengan mata kepala kami sendiri bagaimana hatimu yang sebenarnya. Dan di sana benar-benar ada ketulusan."
Ken menatap mata pria itu. Kemudian tersenyum sambil menganggukkan kepala. Kini, Ken sedikit lebih tenang. Apalagi, semua anggota keluarga pria itu juga sangat ramah kepadanya.
"Nah, kemarilah dan minum sebentar," ajak istri pria tersebut.
"Benar. Ayo minum bersama kami," kata putra pria itu, seorang pemuda yang delapan tahun lebih muda dari Ken.
CHEEERRRSSS!
•••••••
Di rumah terakhir yang mereka datangi, penerimaan lebih mengejutkan. Sebab, seorang wanita paruh baya masih sangat membencinya.
Wanita itu mengatakan bahwa Ken hanya berakting menjadi orang baik dan berusaha mencari muka pada warga sekitar.
"Pergi kau! Aku tidak butuh makananmu! Dasar pembunuh. Mau berakting bagaimanapun juga, kau tetap pembunuh!" teriak wanita itu sambil melempar kotak makan yang baru saja diterimanya ke wajah Ken hingga isinya jatuh dan berhamburan ke tanah.
"Nyonya, kau terlalu kas,-" Suzy hendak maju namun dicegat tangan kanan Ken.
Suzy menoleh pada Ken yang menahannya. Dalam hati ia bertanya-tanya. Kenapa?
"Maafkan aku, nyonya. Tapi, aku datang bukan untuk berakting. Melainkan, untuk menyampaikan permintaan maafku padamu yang sebesar-besarnya."
"Dan makanan ini adalah ungkapan rasa terima kasihku karena kau bersedia membukakan pintu rumah untukku. Jadi terimalah. Semoga kau menyukainya," Ken meletakkan sebuah kotak makan baru di atas meja dan membungkuk sopan sebelum pergi.
Ketika akhirnya mereka menyisakan 30 kotak makan, Ken mempunyai inisiatif untuk membagikannya di taman kota terdekat. Banyak orang yang berjalan-jalan di sana dan sangat senang saat mendapat kotak makan siang yang ia bagikan.
"Masih tersisa lima kotak. Apa yang akan kita lakukan dengan mereka?" tanya Suzy.
"Entahlah. Kita pikirkan itu nanti, ya. Mari istirahat lebih dulu," Ken mengajak Suzy duduk beristirahat di sebuah bangku taman.
Dengan perlahan, Ken meletakkan lima kotak makan yang tersisa ke atas bangku dan menyuruh Suzy duduk beristirahat.
"Apa kau haus? Aku pergi sebentar, ya. Kau tuggu di sini."
Suzy memperhatikan Ken yang berlari menjauh menuju mesin penjual minuman yang ada di dekat taman. Tidak lama kemudian Ken pun datang membawa minuman isotonik dengan rasa air kelapa yang segar dan dingin.
Suzy memperhatikan Ken yang duduk di sampingnya sambil membukakan tutup botol minuman untuknya.
"Ini. Minumlah."
"Terima kasih," Suzy segera menerima botol minuman yang diulurkan Ken seraya tersenyum simpul.
GLEK
GLEK
GLEK
Ketika mereka akhirnya duduk beristirahat sambil menikmati minuman dingin, seseorang memanggil Ken.
"Mr. K!"
Mendengar seruan itu, Ken yang sedang menenggak minuman dari botol mineral pun menoleh dengan heran. Menurutnya, tidak ada siapapun yang memanggilnya dengan sebutan itu kecuali Ayumi, saudara tirinya.
"Ayumi??"
Gadis yang dipanggil Ayumi itu berlari mendekat dan langsung memeluk Ken.
"Lama tidak bertemu denganmu. Kapan kau akan main ke rumah?" tanya Ayumi tanpa menyadari sosok Suzy.
"Aah,, itu,,,"
Begitu Ayumi melihat Suzy yang tampak sedikit cemburu, ia pun menyapa dengan ramah.
"Em, sepertinya kau sedang bersama seorang teman?" tanya Ayumi sambil memperhatikan Suzy.
"Ya. Dia Suzy."
"Hai nona Suzy. Senang bertemu denganmu," Ayumi menyalami Suzy.
"Ah, iya. Aku juga senang," Suzy tersenyum kecut.
Ada sedikit kecanggungan dalam hati Suzy. Ia merasa gadis muda itu sangat cantik dan begitu energik. Yang bisa kapan saja membuat Ken jatuh cinta. Begitu pikirnya.
"Kau sendiri? Dengan siapa kemari?' Ken bertanya dengan jelas.
"Ah benar. Aku datang bersama teman juga," Ayumi melambai pada teman-teman perempuannya yang sedang membeli minuman.
Ken memerhatikan dan tersenyum. Ketika Suzy hendak mengajak bicara Ken, Ayumi menyela dengan cepat.
"Siapa di,-"
"Oh ya Mr.K. Kau lihat bukan, aku paling cantik dari kedua temanku. Apa kau yakin tidak ingin berpacaran denganku?" Ayumi menggoda Ken.
Mendengar godaan dari mulut gadis muda itu pada Ken, Suzy merasa cemburu. Ia terus saja meneguk minumannya sambil membuang muka dengan kesal.
Dan siapa sangka, mata jeli Ayumi pun menangkap aroma cemburu dari mata Suzy. Ia yakin bahwa saudaranya, memiliki hubungan khusus dengan wanita yang sedang duduk bersamanya.
"Ibu ingin bertemu denganmu," kata Ayumi sambil melirik Suzy.
"Hihihi, iya. Aku sudah tahu semuanya," Ayumi tersenyum.
"Kau sudah tahu?"
"Hmm. Aku sudah tahu. Jadi, sesekali mampirlah ke rumah untuk melihat ibu" jawab Ayumi cepat. "Kalau begitu aku pergi dulu, ya. Dadaahh!" lanjutnya.
"Tunggu! Ambil ini untukmu," seru Ken.
Datanglah ke restoran ayam Suzy bersama kawan-kawanmu untuk menikmatinya kembali. Oke?"
"Baiklah. Kapan-kapan aku mampir. Aku pergi, ya!" Ayumi pun pergi membawa tiga kotak makan.
Setelah kepergian Ayumi, Suzy jadi merasa canggung. Ia ingin bertanya soal apa yang baru saja ia dengar. Tapi, ia juga merasa tidak enak jika menanyakan hal itu pada Ken.
"Dia putri ibuku," Ken berusaha menjelaskan karena Suzy terlihat sedikit kesal.
"Eh?"
"Setelah bertemu kembali dengan ibuku, aku menyadari bahwa dia sudah memiliki keluarga baru. Bahkan ada gadis kecil di antara mereka."
"Jadi, dia benar adikmu?"
"Hmm. Seperti itulah."
"Kalau dilihat-lihat, wajah kalian memang sedikit mempunyai kemiripan. Tapi, aku tidak menyadarinya," kata Suzy.
"Kau pasti merasa cemburu padanya," kata Ken percaya diri.
"Apa? Cemburu? Tidak sama sekali," jawab Suzy cepat.
"Benarkah?" Ken mendekatkan wajahnya.
"I iya. Tentu saja tidak."
"Tapi sepertinya kau sedang cemburu," Ken mengernyitkan dahinya menatap Suzy tajam.
"Tidak!" Suzy berseru kesal.
"Aku tidak percaya," Ken membuang muka dan hendak berdiri.
"Hey! Kenapa tidak percaya. Lihat mataku, apa aku tampak sedang berbohong?" Suzy menarik kaos Ken karena merasa diremehkan.
Mendengar ucapan Suzy, Ken duduk kembali dan memperhatikan kedua mata wanita itu. Mata itu bergerak ke kanan dan ke kiri bergantian. Oleh karena itu, Ken meminta Suzy untuk diam menatapnya. Saat itu, dengan cepat ia mencuri kesempatan untuk mengecup bibir Suzy.
CUP!
Begitu memberi kecupan, Ken kabur dan berlari menghindari amukan Suzy.
"Hey!! Apa yang kau lakukan barusan?!!" Suzy berseru kesal sambil mendekap dua kotak makan yang tersisa.
Berlarian di taman, membuat keduanya menjadi tontonan orang-orang yang kebetulan ada di sana. Suzy mengejar Ken dengan penuh semangat sambil terus meneriakkan namanya. Meski kesal, tetap saja dalam hatinya ia merasa berbunga-bunga.
Kecupan itu, walau tidak ada lima menit berjalan, namun getarannya membekas di dalam hati Suzy.
"Haaii! Berhenti di sana jika kau masih ingin hidup!" seru Suzy.
"Tidak mau! Kau menakutiku!" jawab Ken sambil tetap berlari.
Ken tertawa dan tidak mau mengalah ataupun berhenti. Sesekali ia beristirahat dan berjalan mundur menghadap Suzy. Kadang, ia sengaja menggoda agar Suzy menangkapnya. Tapi, begitu tangan wanita itu hampir meraihnya, ia kembali berlari menghindar.
Tanpa terasa, Ken berlari kembali menuju ke restoran. Begitu sampai di sana, ia dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang berdiri di depan restoran menunggunya sejak tadi.
"Kau?"
Ken berhenti berlari dengan sendirinya. Ia berdiri menghadap orang tersebut dengan ragu.
"Bagaimana kabarmu?"
Ken diam dan menunduk. Bibirnya bergerak-gerak berusaha memberi jawaban. Namun ia merasa kesulitan sebab teringat kembali rasa sakit yang diciptakan wanita itu untuknya.
"Ada urusan apa kau kemari?" tanya Ken akhirnya.
Orang itu, yang ternyata adalah Linzhi, diam dan justru mengomentari penampilan Ken.
"Kau terlihat sedang bahagia sekarang. Apa aku salah?" tanya Linzhi ingin tahu.
Ken membuang muka karena pertanyaan tidak berguna yang diajukan padanya.
"Tidak perlu basa basi, cepat katakan saja apa yang ingin kau katakan," Ken menunjukkan bahwa dirinya sedikit tidak nyaman.
Linzhi mendekati Ken yang berdiri mematung. Tanpa malu-malu, wanita itu memeluk mantan kekasihnya itu.
"Aku merindukan aroma tubuhmu yang terasa hangat dan menenangkan jiwaku," ucap Linzhi di dekat telinga Ken.
Pada detik itu, Suzy melihat keduanya dari jauh. Hatinya terasa panas ketika menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana cara wanita itu memeluk suaminya.
"Dasar rubah betina! Kenapa dia datang kembali menemui Ken??"
Untungnya, Ken tidak berlama-lama menerima pelukan tersebut. Ia menyingkirkan tangan Linzhi dengan cepat sambil berkata,
"Sayangnya, aku tidak merindukanmu."
Linzhi tersenyum kecut mendengar ucapan Ken, "Apa kau yakin?"
"Hmm. Aku sangat yakin."
"Baiklah. Lagipula, aku datang untuk memberimu ini," Linzhi memberikan sebuah undangan untuk Ken.
Sebuah undangan pernikahan!
Rupanya Linzhi akan menikah dengan Yoshi akhir pekan nanti. Dan undangan itu sengaja diberikan untuk Ken karena mengingat bahwa ia juga putra tuan Kido.
"Datanglah. Ayah mertua menginginkanmu datang di acara itu," kata Linzhi.
Ken hanya diam sambil memejamkan matanya beberapa detik. Wajahnya yang gemetaran menahan emosi dalam diri terlihat dengan jelas. Dan setelah yakin akan keputusannya, ia pun mengatakan akan datang dan mempersilahkan Linzhi pergi.
.
.
.
Bersambung ke Episode 50