
EPISODE 132
Tepat saat Ken berlutut di hadapan nenek Tama, dokter yang menangani Suya dan dirinya waktu dirawat beberapa minggu lalu datang untuk memeriksa.
Dokter itu menyapa Kenie sebagai sesama dokter, "Eh, dokter senior Kenie? Apa kau sedang ada pertemuan di sini?"
"Tidak, dokter Sunemi. Aku datang untuk menjenguk cucuku."
"Cucu?"
"Yah."
"Tidak ku sangka, dokter Kenie sudah mempunyai cucu saja. Perasaan anda masih sangat muda," kata dokter Sunemi memuji.
"Ah, dokter Sunemi," Kenie tertawa bersama dokter muda yang menangani Suya itu.
Pada saat itu, dokter Sunemi melihat Ken dan menanyakan keadaannya.
"Saudara Kenzhi? Apa kabar? Bagaimana perkembangan kesehatanmu? Apa kakimu sudah sembuh betul?"
"Aah,, ya. Itu.. emm, sudah baikan, dokter," Ken menoleh seraya melirik pada Kenie dan Ayumi.
"Memangnya kenapa kakinya?"
"Beberapa Minggu yang lalu, dia dirawat bersamaan dengan Suya. Ia datang dengan luka parah pada tubuhnya. Selain itu, kaki kirinya terluka akibat sabetan kapak."
Kenie terkejut dan meraih lengan Ken sambil diusap-usapnya.
"Benarkah itu, Ken? Kenapa kau tidak menceritakan semua itu pada ibu. Di mana itu? Bolehkah ibu melihatnya?" Kenie meraih kaki kiri Ken dan mencoba melihat luka yang ada di sana.
"Eh? Ibu? Apakah dia?"
"Ya, benar dokter. Dia ayahnya Suya," kata Kenie.
Karena ibunya terus menarik kakinya dan berusaha mengangkat bagian bawah celananya, akhirnya Ken menggulung pelan celana panjang lebarnya. Ayumi yang penasaran juga ikut mendekat.
Ketika Ken mengangkat perlahan celananya, tampaklah bekas luka dengan delapan belas jahitan di kaki kiri bagian tulang keringnya.
"Ya Tuhan, Ken. Ini pasti sakit sekali," Ayumi menyentuh bekas jahitan itu pelan.
"Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Kenie.
Setelah cukup berdiam diri, Ken pun menjelaskan dari mana ia mendapat luka itu.
"Apa ibu ingat saat aku mengatakan bahwa Suya diculik? Aku datang untuk menyelamatkannya dan terjadi perkelahian. Namun aku mendapat beberapa luka sabetan benda tajam sedangkan Suya mendapat sebuah tembakan."
Kenie segera bangkit dan mendekati cucunya. Ia amat menyayangkan kejadian itu dan mengusap kepala Suya dengan penuh kasih sayang.
"Karena itulah aku semakin membencimu. Karena kau tidak becus menjaga cucuku meski kau sudah berjanji akan membawanya pulang dengan selamat!" nenek Tama menangis.
"Maafkan aku.."
Diturunkannya kembali gulungan celananya lalu berdiri menghadap pada dokter Sunemi.
"Dokter, apakah ada cara untuk mendonorkan jantungku? Tolong dokter, ambil jantungku sekarang juga dan berikan pada Suya! Aku tidak bisa melihatnya koma terlalu lama!" karena pikirannya amat tertekan, Ken sampai bicara seperti itu.
Dokter Sunemi terkejut, "A apa maksudmu mengambil jantung?"
"Di rumah sakit ini, kau bilang bisa bukan menggunakan jantung untuk menyelamatkan pasien lain?" Ken terus mendesak.
"B benar. Tapi bukan pada orang hidup seperti anda. Kami melakukannya karena tidak punya pilihan. Kami mengambil jantung milik orang yang sejatinya sudah meninggal karena mengalami henti jantung. Pasien dengan situasi itu, baru bisa diambil jantungnya untuk didonorkan pada pasien yang sangat membutuhkannya. Itupun harus mendapat persetujuan resmi dari keluarganya."
"Kalau begitu buat aku koma dokter. Tolong lakukan apapun yang bisa kau lakukan!" Ken bicara dengan putus asa.
PLAK!
Yuna menampar pipi Ken. Entah mengapa, pria yang ia kenal tidak seperti biasanya.
"Jangan gila, Ken! Yakinlah bahwa Suya akan sadar kembali tanpa perlu kau mendonorkan jantung untuknya!!"
Ken bicara sambil menahan air matanya, "Lalu apa yang harus ku lakukan untuk membuatnya sadar kembali? Aku tidak bisa hidup sendiri sedangkan putraku belum juga siuman."
Dalam keadaan rapuh seperti itu, Yuna memeluk kekasihnya dengan cepat. Ia tidak ingin Ken terus menyalahkan diri sendiri akibat penculikan Suya waktu itu.
Kenie yang melihat keputusasaan Ken itu segera mengajak dokter Sunemi keluar untuk bicara empat mata. Sedangkan nenek Tama masih duduk di lantai dengan beberapa pikiran yang memenuhi kepalanya.
Di depan matanya, ia melihat kesungguhan sang menantu untuk menghidupkan kembali cucunya. Namun apa yang akan ia lakukan karena itu?
Tiba-tiba saja, Tuhan memberikan keajaiban. Baru saja Ken meminta dokter mengambil jantungnya, Suya bergerak dan perlahan membuka mata.
"Suya?!" seru Ayumi begitu melihat keponakannya itu siuman.
Ken yang tanggap itu pun segera menoleh dan melihat putranya membuka mata.
"Suya! Syukurlah kau siuman," pekik Ken seraya memeluk putranya dengan penuh kerinduan.
Suya menatap Ken dan tersenyum, "Ayah. Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?"
"Seperti yang kau lihat. Ayah baik-baik saja. Kau sendiri, mengapa tidur terlalu lama? Tidakkah kau tahu, nenek dan kakekmu begitu cemas menunggu?"
"Anak pintar, ayah sangat khawatir.." suasana penuh keharuan itu sangat terlihat saat Ken memeluk Suya yang bangun dan mencoba untuk duduk.
Melihat dan mendengar tangisan penuh rasa syukur dari mulut Ken, Nenek Tama, Ayumi, serta Yuna pun ikut mendekati anak yang sudah satu bulan tidak sadarkan diri itu.
Dokter Sunemi yang diberitahu bahwa Suya siuman itu pun langsung datang menghampiri dan memeriksa keadaannya. Karena tanda vitalnya secara ajaib kembali normal, dokter mengijinkan Suya untuk mengobrol dalam beberapa menit.
Yuna merasa amat bersyukur. Dengan bangunnya Suya, maka Ken tidak perlu melakukan hal-hal gila semacam mendonorkan jantungnya.
Karena dirinya sudah puas memeluk Suya, Ken menyingkir dan memberi kesempatan pada mertuanya untuk menyalurkan kerinduannya.
"Suya....."
"Nenek..."
Cucu dan nenek itu berpelukan tak kalah mengharukannya, "Syukurlah, kau bangun kembali."
•••••
Karena semua orang merasa bersyukur bahwa Suya telah kembali sadar, Kenie membayar semua biaya pengobatan Suya. Ia juga memberi pesan pada pihak rumah sakit untuk menagih sisanya kepadanya. Sebab, Suya masih harus menginap beberapa hari lagi.
Tidak terasa, hari sudah mulai larut malam. Kenie dan Ayumi berpamitan pulang terlebih dahulu. Ken dan Yuna akan menyusul beberapa saat lagi.
Selama Ken menunggui Suya, nenek Tama hanya diam dan masih enggan bicara. Meski begitu, mertua Ken itu sedikit melembutkan sikapnya.
Sebenarnya, malam sebelum Ken dan Kenie datang hari itu, nenek Tama bermimpi tentang Suzy. Putrinya itu meminta dirinya agar melepaskan kebenciannya terhadap Ken, orang yang ia cintai.
Dalam mimpi itu, Suzy juga meminta agar ibunya memberi kesempatan untuk Ken menyalurkan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah.
Nenek Tama berpikir dan berpikir. Mungkin saja, ia bisa membuang kebenciannya seiring berjalannya waktu. Lagi pula, sekarang Suya sudah tahu bahwa Ken adalah ayahnya. Apa yang bisa ia lakukan lagi?
Sambil menunggu suaminya datang, nenek Tama memperhatikan Ken yang tengah menyuapi makanan untuk Suya. Sambil bercerita macam-macam, menantunya itu tampak tidak berubah sedikitpun.
Diingatnya kembali bagaimana dulu Ken merawat Suzy saat sedang sakit di awal kehamilannya. Menantunya itu begitu sabar dan penuh kasih sayang dalam merawat putrinya.
Aih. Apa sekarang ia merasa bersalah telah membenci Ken sebegitunya?
"Sudah kenyang, ayah."
"Benarkah? Baiklah, apa kau mau tidur sekarang?"
"Hmm. Tapi aku belum mengantuk. Bisakah ayah membawaku jalan-jalan keluar?" pintanya.
"Jalan-jalan? Emm, sebentar ayah akan tanyakan pada dokter Sunemi lebih dulu," Ken hendak pergi tapi Yuna mengatakan bahwa ia yang akan pergi menanyakannya langsung.
SRET
Beberapa menit kemudian, karena dokter yang menangani Suya memberi ijin, Ken membawa putranya itu berkeliling rumah sakit menggunakan kursi roda.
"Waah.. sudah lama aku tidak menghirup udara segar seperti ini."
"Apa kau senang?"
"Tentu saja."
Ken yang tahu bahwa operasi pengangkatan peluru saat itu berhasil merasa bersyukur. Terlebih lagi karena Suya sudah bangun dari tidur lamanya.
"Bagaimana jantungmu? Apa kau merasa detaknya terlalu cepat?"
Suya merasakan degup jantungnya yang biasa-biasa saja. Tidak lambat juga tidak terlalu cepat.
"Tidak. Sepertinya tidak ada masalah."
"Suya! Ken! Ayo lihat kemari!" seru Yuna dari arah depan. Wanita itu bersiap mengambil gambar keduanya.
"Waah, kau mengambil gambar kami?"
"Hihihi,, lihat. Bagus, bukan?" Yuna menghampiri Ken dan menunjukkan hasil fotonya.
"Coba lihat," Suya juga penasaran.
"Nah,, sekarang biar aku yang mengambil gambar kalian berdua. Bersiaplah," Ken berlari kecil ke arah depan untuk mengambil gambar Yuna bersama putranya.
Yuna pun bersemangat mengajak Suya bergaya. Mereka tampak sangat akrab dan menyayangi Suya seperti saudaranya. Bahkan mungkin saja ia akan menjadi ibu baru bagi Suya.
Dari kejauhan, nenek Tama memperhatikan keakraban mereka bertiga. Gadis itu, memang masih muda. Mungkin lebih muda dari putrinya. Namun, keceriaannya tidak jauh berbeda dengan Suzy dulu. Bahkan ia mudah akrab dengan cucunya.
Lihat saja! Suya sampai tertawa-tawa bermain bersamanya. Aih.. Mungkinkah ia bisa lebih tenang dan menerima gadis itu sebagai ibu sambung cucunya?
.
.
.
.
BERSAMBUNG......