RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
DUA PILIHAN



EPISODE 121


Pada hari ke lima hilangnya Yuna, tuan Tanaka semakin yakin bahwa putrinya menginap di rumah Ken. Sebab, selama lima hari itu pula keduanya tidak menampakkan diri di bengkel.


"Apa kalian tahu alamat rumah Ken?" tanya tuan Tanaka pada Ichigo dan kawan-kawan.


Karena merasa bahwa itu masalah genting, Ichigo dan yang lainnya berbohong soal ketidaktahuan mereka mengenai alamat rumah Ken.


"Benarkah kalian tidak tahu? Atau jangan-jangan kalian hanya menutupinya dari kami?" timpal Kazuki.


"Kami tidak tahu."


"Yakin?"


Karena Kurosaki dan Takeda memang tidak tahu persis alamat rumah Ken, mereka pun menggelengkan kepala.


"Baiklah. Aku akan mencarinya sendiri, paman. Kali ini aku pasti akan membawa pulang Yuna," kata Kazuki meyakinkan ayah Yuna.


"Baiklah. Paman percaya padamu."


Begitu Kazuki pergi dari bengkel, Ichigo dan yang lainnya berunding.


"Apa kita perlu memberitahu Ken soal ini?" tanya Takeda.


"Sepertinya begitu. Baiklah aku akan memberitahunya."


Ichigo dengan cepat mengirim pesan untuk Ken. Ia memberitahu soal pergerakan Kazuki dan tuan Tanaka.


Ichigo : "Kazuki dan bos sedang mencari Yuna. Berhati-hatilah. Mungkin tidak lama lagi mereka akan mendatangi rumahmu."


Ken yang sedang membetulkan motornya segera berhenti saat itu juga dan langsung menyusul Yuna yang sedang pergi ke toko tanpa membersihkan terlebih dahulu pakaiannya yang kotor karena oli.


Ditengoknya ke kanan dan kiri jalanan sekitar untuk mencari keberadaan Yuna. Karena belum juga menemukan wanita itu, Ken mulai cemas.


"Yuna!" panggilnya.


Setelah langkahnya berjarak lima meter, ia kembali meneriakkan nama Yuna.


"Yuna! Di mana kau??"


Beberapa orang yang lalu lalang pun menoleh heran pada Ken. Kebanyakan dari mereka mengira, Ken sedang mencari anak kecil. Ketika akhirnya Ken berpapasan dengan Yuna, nafasnya yang tersengal menjadi sedikit lega.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ken cemas.


"Ya. Ada apa? Kau meninggalkan rumah dengan baju seperti itu? Apakah kau sedang terburu-buru menemui seseorang?" jawab Yuna enteng.


"Tidak. Aku hanya ingin menjemputmu saja. Ayo pulang sekarang," Ken mengambil alih plastik yang dicangking Yuna dan melangkah di sisinya.


Begitu sampai di rumah, Ken segera mengunci pintu gerbang, menyembunyikan motornya lalu membawa Yuna masuk ke dalam rumah.


Kemudian ia keluar lagi membawa rantai dan sebuah gembok. Tanpa menunggu Yuna bertanya, ia berlari menuju tembok samping seakan mau menubruknya. Kemudian ia melompat dan memanjatnya dengan cepat.


"Apa sih yang dia lakukan??" gumam Yuna.


Ternyata, Ken mengunci pintu gerbang rumahnya dari luar dengan gembok dan rantai untuk menyamarkan keberadaan dirinya.


Begitu ia kembali memanjat tembok untuk masuk ke rumah, Yuna sudah berdiri menghadangnya dengan tangan menyilang di depan dada.


"Ada apa? Apa akan ada orang yang datang?" Yuna heran.


SRUK!


Ken turun dari atas tembok dengan cara melompat. Sambil berjalan memasuki rumahnya, ia menjelaskan pada Yuna.


"Sebenarnya, Kazuki dan ayahmu sedang mencarimu ke mana-mana. Aku tidak ingin mereka membuat berantakan rumah ini saat mereka mencarimu. Jadi untuk sementara, kita berdiam diri saja di dalam untuk menghindari pertikaian."


Yuna mengangguk sambil meng*lum bibirnya. Ia memperhatikan sikap Ken yang gelisah dan jadi tidak tenang.


Di ruang makan itu, Ken duduk sambil menikmati bir kalengnya. Dengan mata yang sudah ke berapa kalinya ia pejamkan, kemudian buka lagi. Ia juga mendengus pelan untuk kesekian kalinya.


"Apa kau sedang gelisah?"


"Ya."


"Kenapa? Bukankah bisa berkelahi menghadapi Kazuki?"


"Jika dia datang bersama ayahmu, maka aku tidak bisa melakukan apa-apa. Sebab, bagaimana pun aku tidak akan melawan orang tua dari wanitaku."


Yuna meraih tangan Ken, "Tenanglah. Seandainya mereka datang, kita diam saja di sini. Tidak perlu menghiraukan keberadaan mereka."


"Bisakah seperti itu?"


"Tentu saja," Yuna mengusap-usap tangan Kiri Ken.


Begitu hari beranjak sore, ada suara ribut-ribut di depan gerbang. Rupanya Kazuki dan ayah Yuna datang juga mencari mereka. Namun, baik Ken maupun Yuna tetap diam di dalam rumah tanpa bersuara. Bahkan mereka tidak menyalakan lampu agar Kazuki tidak menaruh curiga.


"Sepertinya mereka tidak di rumah," kata Kazuki sambil menyentuh kunci gembok di pintu gerbang tersebut.


"Kau benar, bos. Jadi, apakah mereka menginap di hotel?" kata anak buah Kazuki.


"Tidak mungkin. Aku menabraknya beberapa hari yang lalu. Pasti dia sedang berada di salah satu rumah sakit di kota ini untuk mendapatkan perawatan. Menyebarlah! Kalian harus menemukan mereka bagaimanapun caranya."


"Baik, bos!!"


•••••••


Yuna menepuk-nepuk pelan bahu Ken. Pria itu tengah tertidur dengan kepala yang berada di pangkuannya.


"Apa kau benar-benar tidak menyesali keputusanmu karena telah memilihku?" tanya Ken tiba-tiba.


"Apa?"


"Menyesalkah kau?"


"Tidak."


"Mengapa?"


"Aku bahagia. Seperti saat dengan Arai, aku menemukan kenyamanan saat bersama denganmu."


"Tapi sepertinya, ayahmu tidak akan merestui hubungan kita. Dengan begitu, apa semua ini mungkin untuk dilanjutkan?"


"Whoaaahh! Kenapa membandingkanmu dengan tuan Tanaka? Tentu saja aku akan memilih hidup denganmu. Tapi,,, bukankah kau dan ayahmu mempunyai hubungan keluarga? Jadi, bagaimana aku harus menjawab?"


BLETAK!


Yuna menjitak kepala Ken dengan keras, "Kau ini! Bukankah sudah jelas? Jika kau sudah tahu bahwa akulah yang akan hidup denganmu, maka jangan resah. Pilihan itu ada di tanganku. Bukan ayahku."


"Yaah. Itu pemikiranmu. Tapi nyatanya, ayahmu berencana menikahkanmu dengan Kazuki. Bukankah dia putra sahabat baiknya? Apakah kau masih bisa memilih jika sainganku datang dari orang berstatus tinggi sepertinya?"


"Ken!"


"Sejujurnya, aku takut, Yuna."


Yuna diam dan mencoba mendengarkan.


"Sepertinya sekali lagi aku akan membuat kericuhan dan menyeret seorang wanita ke dalam permasalahan ini. Antara aku dan Kazuki, kami sempat berkawan saat di dalam penjara. Namun pada akhirnya, kami menginginkan satu wanita yang sama."


"Itu...."


"Itu artinya, kami harus bertarung. Siapa yang menang akan mendapatkan hati wanita tersebut."


"Tenanglah. Hatiku sudah terpaut padamu, Ken."


Ken menggeleng pelan, "Aku masih harus memastikannya. Bahkan aku tidak bisa terlalu percaya diri dengan semua ini."


Tiba-tiba, ponsel Yuna berdering. Sebuah panggilan lagi dari Kazuki.


"Apa kau tidak akan keluar?" suara Kazuki begitu Yuna mengangkat telepon darinya.


"Apa?"


"Coba kau loudspeaker telepon dariku."


Yuna meloudspeaker panggilan tersebut dengan bingung.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Yuna.


"Aku tahu kalian di dalam rumah itu. Teknik gembok luarmu lumayan juga dalam mengelabui musuh. Aku sengaja diam karena tidak ingin membuat keributan di muka umum. Terlebih lagi di rumah mantan istrimu. Tapi, seperti yang kau duga. Aku akan memberimu dua buah pilihan," Kazuki rupanya mengajak bicara Ken.


Ken diam dan berpikir masak-masak terlebih dahulu sebelum ikut bicara.


"Apa saja pilihan itu?" akhirnya Ken angkat bicara juga.


"Yuna dan Suya. Manakah yang paling berharga bagimu?"


"Apa? Beraninya kau membandingkan mereka!"


"Tentu saja. Harus ada sebuah pengorbanan untuk sebuah pilihan hidup."


"Apa yang kau lakukan pada anak itu?" tanya Ken kalut.


"Aku belum melakukan apa-apa. Dia hanya duduk dan makan es krim bersamaku. Apa kau mau mendengar suaranya?"


Kazuki meminta Suya untuk menyapa Ken, "Halo paman Ken! Apa paman ini benar sahabatmu? Dia membelikanku es krim dan mengajakku menonton bola."


Dirasa cukup kegiatan sapa-menyapanya, Kazuki kembali bicara pada Ken.


"Jadi, semua tergantung pada pilihanmu, Ken. Yang manakah yang akan kau korbankan. Jika kau memilih Yuna, maka kau tidak akan lagi bertemu dengan anak ini untuk selamanya. Dan jika kau memilih anak ini, maka serahkan Yuna padaku. Kembalikan dia ke rumahnya, besok."


GLEK


Ken berdiri mematung dengan tangan yang gemetaran dan sambil mengepal erat. Kedua matanya bertatapan dengan mata Yuna. Berusaha memutuskan pilihannya dengan akal sehat.


Namun, itu pilihan yang sulit!


Disaat ia menemukan wanita yang membuatnya nyaman, ia harus bertaruh dengan nyawa putranya sendiri.


"Maafkan aku, Yuna. Aku tidak bisa membiarkan putraku pergi untuk selamanya," ucap Ken sedih.


"Tapi, Ken....." Yuna meraih tangan Ken.


Ken menghela nafas pelan, "Seperti harapanmu. Aku akan menyelamatkan putraku."


"Hahahha! Itu pilihan yang bijak, Ken," suara Kazuki terdengar amat senang.


"Tidak! Kemarin, kau bahkan mengatakan padaku bahwa kau juga mencintaiku? Mengapa kau tidak bisa mempertahankanku untuk itu? Aku yakin, ini hanya pancingan untukmu, Ken. Jangan terpancing!!" Yuna menggoyang-goyangkan tubuh Ken.


"Lalu apa kau ingin aku mempertaruhkan nyawa putraku?"


"Tidak. Bukan seperti itu. Aku yakin, ada jalan lain yang bisa kita pilih."


Ken menunduk.


"Aku tidak ingin kembali ke rumah ataupun menikah denganmu!! Aku akan berada di sini selamanya di dekat pria yang ku cintai!! Jadi jangan berusaha membuat perasaan Ken bingung!!" Yuna berteriak marah pada Kazuki.


Bahkan Yuna dengan kesalnya melempar ponsel miliknya hingga membentur dinding dan pecah berkeping-keping.


"Kau akan melepaskanku?"


"Aku minta maaf."


"Apa itu artinya cintamu hanya sebuah dusta?"


"Tidak. Perasaanku padamu nyata adanya."


"Tapi mengapa?"


"Aku tidak bisa kehilangan putraku, Yuna. Aku mohon mengertilah. Untuk saat ini, inilah pilihan yang harus aku ambil. Begitu putraku selamat, aku akan mencari cara untuk mendapatkanmu kembali."


"Jika itu yang kau pikirkan. Maka itu sudah terlambat," jawab Yuna meninggalkan Ken begitu saja dengan ketus.


.


.


.


BERSAMBUNG......