
EPISODE 61
Suzy keluar dari kamar dengan ragu. Ia melangkah mendekati Ken dengan tes pack di genggamannya. Ia tidak mampu berkata-kata ketika melihat garis merah yang berjejeran di alat tes tersebut.
Ken menyerbu Suzy dengan keingintahuan yang besar. Ia menanyakan bagaimana hasilnya dengan penasaran.
"Apa hasilnya? Hmm? Apa kau hamil?"
Suzy diam.
"Kenapa?" Ken heran. "Apa itu garis dua ataukah satu?"
Dengan pelan Suzy menyerahkan alat tersebut pada suaminya. Ia harap-harap cemas dengan reaksi Ken nantinya.
SRET
Begitu menerima dan melihat garis dua di tes pack yang diserahkan Suzy, Ken mengerjapkan mata dan diam sejenak.
"K kau benar-benar hamil?"
"Aku rasa begitu...." jawab Suzy ragu.
Ken terus menatap dua garis merah di alat tersebut, "Lalu, apa kau senang?"
"Kau sendiri bagaimana?" Suzy balik bertanya dengan lesu dan kepala menunduk.
Melihat Suzy seakan tidak senang karena dirinya, Ken segera mengubah sikapnya yang semula ragu-ragu. Ia meraih dan mendekap tubuh Suzy dengan penuh cinta.
"Hey? Apa kau bercanda, sayang? Tentu saja aku senang mengetahui kau hamil!" Ken memeluk Suzy sambil berputar.
"Benarkah?"
"Tentu saja. Jadi, berapa minggukah?"
"Entahlah, bulan kemarin aku tidak mendapat haid. Jadi itu mungkin tiga atau empat Minggu."
"Apa kau yakin?"
"Tidak terlalu."
Ken berhenti berputar dan meraih kepala Suzy, "Kalau begitu, mari pergi ke dokter untuk melihatnya."
Suzy mengangguk.
•••••••
Dan ketika akhirnya mereka pergi ke dokter, mereka pun mendapatkan kepastian bahwa Suzy sedang mengandung lima minggu.
Kebahagiaan pun menyirami rumah kediaman mereka. Ayah dan ibu Suzy amat bahagia mendengar berita tersebut. Itu artinya, mimpi-mimpi bibi Tamako benar adanya.
"Selamat ya, kalian berhasil melakukannya," ucap Akiyama saat berada di meja makan menikmati makan malam bersama.
"Terima kasih," jawab Suzy malu-malu.
"Apa kau masih mual saat Ken berada di dekatmu?"
"Mual?"
Suzy menyadari bahwa sepertinya hal itu sudah berakhir. Sebab, saat Ken memeluknya kemarin, tidak terjadi apa-apa dengannya.
"Aku tidak yakin..." jawab Suzy sambil menoleh pada suaminya yang sedang makan.
Merasa diperhatikan, Ken menelan makanan yang ada di dalam mulutnya dan meraih gelas susu di depannya. Begitu ia minum hampir setengah gelas, tiba-tiba ia merasakan mual yang amat sangat.
Maka ia pun pergi dengan buru-buru ke kamar mandi. Entah apa yang terjadi. Mengapa sekarang ia yang justru merasakan mual.
"Apa yang terjadi?" tanya ayah Suzy.
"Bukan apa-apa, ayah," jawab Ken sambil duduk kembali dan meraih tissu untuk menyeka mulutnya.
"Sepertinya ini pengaruh kehamilan Suzy,," kata bibi Tamako.
"Pengaruh?" paman Akihiro berhenti menyeruput kopinya.
"Gejala umum yang dialami suami saat istrinya hamil."
"Iya benar, temanku juga bercerita saat dia hamil pertama kali. Dia bilang suaminya yang justru mual dan muntah-muntah," sambung Nonaka.
"Hmm.. Benar sekali."
"Benarkah ada yang seperti itu? Kalau begitu, kenapa tidak Ken sekalian saja yang mengandung bayi?"
"Huustt!! Kau ini nakal!" bibi Tamako memukul lengan Suzy.
"Ibuuu,, Kenapa ibu memukulku?" Suzy merajuk.
Ken menoleh.
"Kau tidak boleh mengatakan itu di depan bayimu. Dia akan merasa jika ibunya tidak menginginkan dirinya," kata bibi Tamako.
"Iya iya. Lagipula aku hanya bercanda."
"Meski itu bercanda, kau tidak boleh melakukannya. Ingat?"
"Iya iyaaa."
Tiba-tiba Hari turun dari kamarnya karena haus.
"Ada apa? Sepertinya ada yang ku lewatkan?" tanyanya sambil menguap.
"Bibimu sedang mengandung," jawab Nonaka.
"Bibi? Benarkah itu?" dua bola mata Hari membulat saat itu juga.
"He-em. Kau akan mempunyai adik sepupu."
"Wah? Selamat ya bibi. Kira-kira adik sepupuku nanti perempuan atau laki-laki, ya?" Hari membayangkan.
"Apa kau sedang berimajinasi?" tanya Akiyama.
"Hmm. Aku kira, aku lebih suka adik perempuan, ayah. Jadi aku bisa mengajaknya belajar bersama," katanya bersemangat.
"Benarkah? Bukankah jika adikmu laki-laki bisa menjagamu nanti?" kata Ken.
"Paman benar juga. Aku jadi bingung," Hari jadi lesu.
"Tidak perlu dipusingkan, Hari. Kita tunggu saja bibi akan melahirkan bayi perempuan atau laki-laki nantinya," Ken tersenyum memberi pengertian.
Suzy menggaruk belakang telinganya dan berdiri, "Emm, aku pergi ke kamar lebih dulu."
"Eh? Kalau begitu aku juga pergi, ayah, ibu," Ken pamit pergi.
"Oh ya, Hari. Kenapa kau tidak meminta adik perempuan pada ayah dan ibumu saja?" tiba-tiba saja Suzy berbalik dan menggoda keponakannya tersebut.
Mendengar ucapan bibinya, Hari jadi berpikir dan bingung. Akiyama dan Nonaka pun jadi salah tingkah dibuatnya. Suzy sendiri berlalu dengan kedua tangan ia silangkan dibelakang tubuhnya dan tertawa menang.
TRINGGG
•••••••
Esok hari ketika pasangan suami istri itu berada di restoran, mulut keduanya tertutup rapat dan berusaha untuk tidak membongkar rahasia di antara mereka berdua.
Sebab, Suzy meminta pada Ken untuk menyembunyikan kabar kehamilannya dari anak-anak restoran. Meskipun pada mulanya Ken tidak setuju, tetapi akhirnya ia pun menuruti keinginan wanita yang tengah mengandung bayinya tersebut.
"E e eh! Letakkan itu. Kau tidak boleh melakukannya sendiri!" seru Ken saat melihat Suzy mengangkat panci rebusan ayam.
"Sudah jangan berlebihan ah.. Aku hanya akan memindahkannya ke sana," Suzy berbisik lirih.
"Tidak.. tidak.. Biar aku saja yang melakukannya."
Ken menyingkirkan Suzy dari panci besar yang hendak diangkatnya.
Pada saat Ken mengerjakan hal tersebut, Suzy mencari pekerjaan lain yang tak kalah mengkhawatirkan. Apa itu?
Wanita itu dengan perkasanya mengangkat boks pendingin yang berisi udang dan ikan. Tentu saja hal itu juga membuat Ken terkejut setengah mati ketika tidak sengaja melihatnya.
"Astagaaa.. Apa lagi yang kau lakukan?" Ken buru-buru menghampiri Suzy dan mengambil alih kotak pendingin.
Tiba-tiba Suzy merebut kembali kotak tersebut dari tangan Ken, "Tidak apa-apa, biar aku yang memindahkannya."
"Ohho? Jangan pernah berpikir untuk itu. Jangan lupa, kau sedang ham-."
"Hentikan. Apa kau mau membocorkan semuanya?" Suzy menyela lirih.
"Ahh,, maaf."
Siapa sangka, saat Ken mencoba menarik kotak itu kembali, Suzy memeganginya dengan erat sehingga terjadilah tarik menarik di antara keduanya.
"Sayang? Lepaskan kotaknya."
"Tidak mau."
"Sungguh? Kalau tidak kau lepas sekarang, aku akan menciummu di depan anak-anak."
"Coba saja kalau berani," Suzy menantang.
Ken tersenyum. Ia merasa bahwa Suzy sedang ingin bermain dengannya. Maka ia pun mendekatkan bibirnya dengan cepat. Suzy yang tidak menyangka bahwa Ken benar-benar akan melakukannya pun melepaskan kotak secara mendadak.
BYUURR!!
Seketika tubuh Ken basah kuyup. Dari rambut sampai celemek masaknya pun tidak luput dari siraman air.
"Hppphh.." Suzy menahan tawanya melihat suami tercintanya itu basah kuyup.
Tanpa rasa bersalah, dipungutnya seekor ikan yang ukurannya lumayan besar. Lalu sambil mengejek, Suzy menggoyang-goyangkan ikan tersebut di depan mata kepala Ken.
"Kau mau ciuman? Ini silahkan,,, ciuman paaaaaaling romantis bisa kau dapatkan."
Ditempelkannya mulut ikan tersebut ke bibir Ken seakan-akan itu ciuman darinya.
"Cupp...hahaha," Suzy tertawa.
Ken mendelik saat merasakan kecupan mesra dari ikan dori yang dimainkan Suzy. Saat itu juga ia benar-benar merasa dikerjai. Maka ia pun mencoba meraih tubuh Suzy. Namun Suzy berhasil menghindar dan berlari menjauhinya.
"Kemari kau!"
"Ahaha. Tidak mau!" keduanya tergelak bersama.
Daann....
Tanpa sengaja, Suzy terpeleset air yang tumpah di lantai. Hampir saja ia jatuh jika Ken tidak cepat-cepat menangkapnya.
DEG!
Suzy merasa takut. Ia takut jika terjadi sesuatu pada kandungannya jika Ken tidak segera menangkap dirinya.
Dengan lembut, ia menatap wajah Ken yang khawatir. Ia bersyukur, suaminya tersebut cukup sigap menangkap tubuhnya.
"Maaf...."
"Huufh. Kau mengejutkanku. Lain kali berhati-hatilah. Dan jangan ulangi itu lagi," kata Ken bersyukur.
"He em.." Suzy pun mengangguk.
Tanpa sengaja Gorou melihat seniornya basah kuyup dan berantakan. Ia pun segera menghampiri kedua bosnya, "Aduh maaf senior, b biar aku saja yang membereskan semua ini."
"Hmm. Ambil yang lainnya. Sepertinya aku harus berganti pakaian," Ken membiarkan Suzy berdiri. Dilepasnya celemek, kemudian pergi menuju kamar mandi.
Beberapa jam kemudian, Suzy dan Ken mulai sibuk memasak pesanan. Anak-anak yang lain juga sangat sibuk dengan makanan yang harus diantar ke meja-meja pelanggan.
Di tengah kesibukan, tampak Suzy duduk kelelahan sambil menyeka keringatnya. Dari jauh, Ken yang sedang membuat adonan udon segera mengelap kedua tangannya dan menghentikan pekerjaannya.
Ia meraih cangkir dan menuangkan air hangat untuk Suzy.
"Minumlah."
"Eh? Terima kasih," Suzy menerima cangkir putih berisi air hangat yang diberikan suaminya.
"Kau baik-baik saja?"
"Hmm. Aku hanya merasa lelah dan sedikit pusing," jawab Suzy.
"Kalau begitu istirahatlah. Biar aku yang menyelesaikan pesanannya."
"Tapi restoran sedang ramai,,,,"
"Hussst.. ikuti saja perintahku," Ken menutup bibir Suzy dengan jari telunjuknya. Tanpa basa basi lagi, ia meraih tubuh Suzy dan membopongnya menuju ruang istirahat.
Daisuke dan Suri yang kebetulan melihat itu pun bersorak lirih dan saling menepuk.
"Lihat, romantisnya mereka,," mata Suri berseri-seri.
"Iyaaa,,, aku tahu itu,,"
Kebetulan, Keiko juga ada di sana saat itu. Namun pandangan mata gadis itu tidak terlalu senang.
Pada saat itu, Gorou masuk ke dapur dan memberitahu Ken bahwa ada seseorang yang mencarinya.
"S senior, ada seseorang yang mencarimu," katanya dengan gugup.
"Siapa?"
"Entahlah. Tapi sepertinya dia wanita itu,," Gorou ragu-ragu mengatakannya karena ada Suzy di dekat seniornya.
Ken menoleh pada Suzy dan berkata sebentar, "Sayang, aku keluar dulu untuk melihat siapa yang datang. Kau istirahatlah lebih dulu."
"Hmm. Baiklah."
Setelah mengatakan itu, Ken pergi bersama Gorou menemui seseorang yang ingin bertemu dengannya.
Jika dilihat dari jauh, tampaklah seorang wanita berambut panjang tengah duduk membelakangi Ken dan menunggu di meja 9. Karena tidak ada pikiran tentang siapa wanita itu, Ken menghampirinya dengan santai.
"Maaf. Apa kau ingin menemuiku, nona?" tanyanya sopan.
Wanita itu pun menoleh, tersenyum dan perlahan berdiri, "Hay. Apa kabar?"
DEG
Ken terkejut dan menelan ludahnya. Wanita itu adalah Linzhie!
"Apa kita bisa bicara sebentar?"
Setelah membuang nafas, Ken bicara pada Gorou, "Emm, kami akan bicara sebentar. Tolong bawakan minuman untuknya."
"Baik bos," Gorou pergi.
Dari dapur, tampaklah Daisuke, Suri dan Keiko mengintip karena penasaran.
SRET
Ken menarik kursi untuk dirinya. Kemudian ia duduk di seberang Linzhie tanpa melihat padanya. Pandangan matanya ia buang ke arah lain dengan kedua tangan dan jari yang saling terkait di atas meja. Ia sengaja menunggu wanita itu membuka obrolan lebih dulu.
"Kau pasti tidak ingin melihatku di sini. Apa aku pergi saja?" kata Linzhie.
Ken menoleh pada Linzhie sebentar lalu membuang muka kembali.
"Apa yang ingin kau katakan?"
Linzhie tidak menjawab dan justru tersenyum menatap Ken.
"Aku sibuk. Jadi katakan dengan cepat," Ken tetap tidak mau melihat Linzhie.
GYUTT
Linzhie meraih tangan Ken dan mengusapnya dengan ibu jari. Namun Ken segera menepisnya.
"Kau terlihat gugup. Apa kau masih menyimpan perasaan padaku?" Linzhie tersenyum lagi.
Ken diam lalu tersenyum miring.
"Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya tidak ingin berlama-lama di dekatmu. Itu saja."
Linzhie diam karena merasa tertohok.
"Baiklah. Apa sudah selesai? Kalau begitu aku pergi dulu," lanjut Ken seraya berlalu pergi.
Namun Linzhie mencekal tangan kiri Ken dan menahannya, "Kembalilah padaku."
Ucapan mengejutkan itu menghentikan langkah Gorou yang datang membawa minuman untuk Linzhie. Untuk sesaat matanya bertemu mata Ken dan saling bertatapan.
"Kau sudah menikah dengan Yoshi. Jadi hiduplah bahagia bersamanya."
"Aku tahu. Pada mulanya aku berfikir begitu. Namun nyatanya, aku tidak bisa bahagia bersamanya."
"Kenapa? Apa kau menyesalinya? Bukankah kau begitu yakin saat memutuskan hubungan denganku kala itu? Jadi sekarang, jangan mengeluh padaku. Jangan pernah pula berfikir untuk kembali bersamaku. Karena sekarang, aku memiliki seorang wanita yang sangat berarti di hidupku."
Disingkirkannya tangan Linzhie dengan pelan. Meski ia pernah terluka, tetapi Ken tidak ingin melukai hati seorang wanita yang pernah melukainya itu.
Ketika Ken berjalan meninggalkannya, Linzhie berteriak.
"Siapa? Bukankah hanya aku yang istimewa di hidupmu? Kita bahkan pernah tidur bersama dan berjanji hidup berdua selamanya?!"
Spontan saja, semua pengunjung menoleh pada mereka berdua. Hal itu pun membuat Ken merasa malu dan terpojok. Dengan cepat ia duduk kembali dan meminta Linzhie pergi dari restorannya.
"Apa kau ingin menghancurkan hidupku? Ha? Pergilah. Aku tidak ingin bicara lagi denganmu," Ken mengusap mukanya kasar.
"Tidak! Sebelum kau menerimaku kembali."
"Haiss!!"
Karena kesal, Ken menyeret Linzhie keluar dari restoran. Tangan kanannya mencengkeram erat pergelangan tangan wanita berambut panjang tersebut.
"Aku mohon. Jangan ganggu kehidupanku lagi. Ketika kau memilih hidup bersama Yoshi, saat itulah aku benar-benar melepaskanmu."
"Tapi Ken,,,"
"Cukup. Hentikan semuanya. Hubungan diantara kita berdua hanya sebatas masa lalu. Sekarang ini, kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Kau sudah menikah, begitupun denganku. Jadi, sadarlah."
Tanpa menunggu ucapan lain dari bibir Linzhie, Ken pergi meninggalkannya begitu saja.
Bersambung.......