Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 99 - Girlfriends




[ Tuan muda Keenan lagi mantau Ayang! Othor cemburu pengen ngarungin Keenan! ]


\======================================================


"FARAAAAH!"


Keenan terbangun dari tidur lelapnya dengan perasaan ketakutan luar biasa. Nafasnya masih tersenggal, dia sedikit meringis luka di punggungnya masih belum sepenuhnya kering dan sembuh.


Keenan terduduk, membetulkan posisi tidurnya yang tengkurap. Dia pikir bahwa anak buahnya yang merawatnya  saat dia pingsan.


"Sudah 2 minggu aku selalu bermimpi bocah itu!"


"Semoga ini bukan firasat buruk..."


"Atau... Aku tidak mungkin merindukannya bukan?"


Keenan mengusap wajahnya kasar, semenjak dia memiliki hubungan gelap dengan Farah dia selalu di buat frustasi oleh perasaannya sendiri. Dia sendiri kebingungan tentang perasaannya pada Farah, dia pikir semua akan berlalu  dan kembali normal seiring berjalannya waktu. Namun ternyata dia salah, setelah dia bercinta dengan Farah  beberapa kali perasaannya pada gadis itu tidak normal! Dia selalu di hantui perasaan bersalah dan menginginkannya lagi dalam waktu yang bersamaan.


"Aarh Karen!!"


Keenan teringat akan adiknya yang berada di rumah sakit. Dia bergegas membersihkan diri dan bersiap mengunjungi adik kesayangannya. Setelah siap dia justru menuju ruang kerjanya terlebih dahulu. Dia mengaktifkan  kamera satelit dan mengarahkan kesebuah tempat. Dia mengembangkan senyumnya, menatap lekat keceriaan wanita yang tengah menjajakan bunga yang akan menjadi moodbooster terbaiknya hari ini.


Keenan meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Kamu sudah di Negara B?"


"Sudah tuan muda."


"Bagus, sekarang cepat kamu ke kota KL dan pergi ke Florists Daisy!!"


"Beli lah satu buket mawar merah terbaik disana, dan berikan pada penjaga yang paling cantik disana!"


Anak buahnya terdiam sejenak, dia tidak pernah di beri tugas yang membingungkan seperti ini.


"Kamu kerjakan saja apa yang aku suruh dan tutup mulut mu jika mau keluarga mu aman!!!"


"B-Baaik tuan..."


Keenan segera memutus sambungannya sepihak, dia tertawa lirih kali ini dia benar-benar sudah gila!


***


Setelah kedatangannya di KL, Farah mencari tempat pekerjaan yang mau menerimanya dalam keadaan hamil. Walau finansialnya di jamin oleh keluarga Kaviandra namun saat ini dia tidak mungkin berdiam diri. Gadis itu belum juga mau berbicara pada ibunya pasal kehamilannya. Riwayat kesehatan ibunya juga tidak begitu bagus dia belum siap jika dia menyebabkan ibunya syok dan masuk ke rumah sakit.


"Bu, aku pulang!!"


"Loh, ko kamu pulang?!"


"Bukannya kamu kerja sama non Karen?"


"Aku..."


"Aku ingin disini lebih dulu lagian Karen sedang..."


Farah kesulitan mengungkapkan alasannya, padahal sebelumnya dia sudah mempersiapkan jawabannya.


"Kamu tidak mengecewakan mereka kan nak?!"


"Kita berhutang banyak pada keluarga Kaviandra, terlebih nona Karen!"


"Ibu sendiri tidak bisa memberikan balas budi pada mereka."


"Hanya kamu harapan keluarga Lee untuk berbakti pada keluarga Kaviandra yang tidak pernah perhitungan dalam membantu kita sayang..."


Farah menganggukan kepalanya dengan menitikan air mata yang sudah tidak bisa di tahannya. Farah memeluk tubuh ringkih ibunya. Ibunya itu semakin terlihat kelelahan, karena sepanjang waktu menjaga anak bungsu mereka yang masih terbaring lemah dan perlu perawatan.


Trriiing!


Bunyi suara pintu toko terbuka menghentikan aktifitas Farah, gadis itu tersenyum senang dia kembali mendapat customer.


"Selamat siang tuan..."


"Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Apa tuan sedang mencari bunga untuk di berikan pada seseorang atau?"


Farah mendekat dan memberikan pelayanan yang ramah.


Si pria tengah menyelidik area toko, dan melirik kiri kanan.


"Apa anda bekeja sendiri disini?" Tukas si Pria memastikan dia memberikan bunga pada orang yang tepat.


"Eh... Iya saya sendiri..."


Kini giliran Farah yang mengerutkan kening menyelidik curiga pada si pria yang penampilannya sangat tidak asing di ingatan Farah.


Gaya berpakaian pria ini mengingatkanku pada pekerjaan kak Keenan, tapi aku yakin Kak Keenan tidak mungkin menjangkau ku hingga kemari bukan?


"Kalau begitu tolong berikan pada saya satu buket mawar merah terbaik disini dan yang termahal!"


Tiba-tiba mata Farah berbinar dengan kalimat Termahal!


"Tentu saja tuan..."


Dengan riang gembira Farah menuju bilik khusus di gunakan olehnya merangkai bunga yang akan di jadikan buket khusus sebagai persembahan.


"Sudah siap tuan, ini adalah mawar terbaik dan baru kami petik dari kebun!"


Dengan senyum ramahnya Farah menyerahkan satu buket mawar besar pada customernya.


"Kami menyediakan kartu ucapan free..."


"Jika anda ingin mengucapkan sesuatu bisa saya buatkan."


Farah terus memberikan pelayanan terbaiknya, si pria hanya mengerutkan keningnya kebingungan.


Bagaimana aku tahu, tuan tidak ada memberi tahukan sebelumnya!


Haish membeli bunga saja taruhanya bisa nyawa bagaimana ini?


Saat yang bersamaan ponsel si pria berdering, dengan wajah berbinar si pria ijin menjawab keluar toko.


"Baik tuan saya akan melakukannya!"


Sambungan terputus Aku tidak menyangka tuan masih memperhatkan ku disini! Sepertinya tuan sedang merencanakan sesuatu tapi misi yang mana semua persiapan ini?


Si pria kembali memasuki toko bunga dan memberikan instruksi pada Farah dan membayar billnya. Farah membungkuk berterima kasih pada customr royalnya yang bahkan memberikannya tips yang besar.


"Wow, hari ini aku sedang beruntung!"


"Nak, ini akan ibu gunakan membeli kebutuhanmu nanti!"


"Doakan ibu terus ya... Kita akan berjuang sama-sama!"


Farah mengusap perlahan perutnya yang masih rata. Bahkan saat ini bobot tubuh Farah justru tambah berkurang seiring berjalannya waktu, Farah selalu memuntahkan makanan yang dia makan bahkan tak jarang dia kehilangan selera makannya.


Trriiing!


Farah kembali mendongak dan dengan riang menuju kedepan.


"Saya pengantar paket nonaa..."


"Hah?"


Farah menatap pria yang berseragam kurir di salah satu ekspedisi yang dia kenal disini.


"Untuk siapa ya?" Tanya Farah mendekat.


"Di dalam tulisan untuk nona Farah Lee."


"Iya benar saya..." Lirih Farah menerima satu buket mawar yang dia kenali.


"Tanda tangani ini nona."


Dengan perasaan campur aduk dan wajah merah tersipu Farah melakukan yang di minta si kurir kemudian si pria meninggalkan tokonya.


Farah mengatupkan bibirnya, mencium buket mawar merah yang dia rangkai sendiri dengan mawar terbaik. Dia menatap pada selembar kertas yang terselip disana.


"Sepertinya tadi aku tidak memberikannya kartu ucapan."


Farah membukanya perlahan, matanya terbelalak degub jantungnya seolah berhenti sejenak namun kemudian berdetak dengan kencangnya, tubuhnya bergetar namun dia tersadar. Farah berlari keluar toko dia mencari seseorang yang mungkin memberikannya bunga mawar yang ada ditangannya saat ini. Farah terus menyelidik dari satu tempat dengan melirik kiri dan kanan sampai batas jalan menuju jalan besar dia menghentikan pencariannya.


Kedua netranya telah basah, kemudian dia tersenyum bahagia dan mengusap wajahnya yang telah basah oleh air matanya. Dia kembali menuju tokonya, setelah sampai dia kembali mencium buket mawar miliknya sendiri. Dia juga kembali membuka selembar kertas yang membuat hatinya tidak karuan mendeskripsikan perasaannya saat ini.


Aku merindukanmu sayang!


Kalimat itu terus di baca ulang oleh Farah, dia begitu bahagia hingga tidak bisa menghentikan lajunya air matanya. Tubuhnya juga seolah akan meledak saat ini saking bahagianya.


"Kau bajingan Keenan!!" Lirihnya merasakan haru luar biasa.


Di saat aku bersusah payah untuk melupakan segalanya, dia kembali datang bagai jelangkung yang datang tak di undang dan pergi tanpa pamit! Dakjal emang!!


Farah kembali membenamkan wajahnya dalam buket mawar merah favoritnya.


Di sebuah ruangan kerja Keenan memperhatikan wanita yang akan menjadi wanita kesayangan terbarunya bersanding dengan adik dan ibunya.


***


"Kau apakan dia?"


"Datang-datang di cecar pertanyaan unfaedah gitu buat apa?"


Nina mendengus kasar, "Kak, walau bagaimanapun dia wanita."


"Apa kamu tidak memberikan keringanan?"


"Terlebih kita belum jelas pasti apa yang terjadi di belakangnya."


"Semua sudah jelas, dia mata-mata yang di tempatkan Wijaya untuk mu!!"


"Dia adalah orang yang menguntilimu di hotel saat kalian melakukan resepsi pernikahan!"


Nina membulatkan matanya tidak percaya apa yang di katakan kakaknya.


"Dia sudah mengincarmu lama, dan di beri jalan saat kamu menerimanya menjadi sekertarismu."


"Apa yang terjadi jika kamu lengah HAH?!"


Keenan menatap tajam adiknya, Nina menelan salivanya bahkan saat serius di hadapan adiknya sendiri wajah Keenan begitu menakutkan yang melihatnya.


"Sepertinya Wijaya sudah memperhitungkan kegagalan wanita itu."


"Dia mati begitu saja sebelum aku melakukan apapun!"


Nina menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua tangannya. Apa yang di bicarakan Keenan membuat perasaan Nina bergejolak hebat dia langsung muntah hebat saat ini. Mata Keenan terbelalak tidak percaya pada perubahan emosi adiknya hanya karena mengatakan bahwa Yvone tengah mati. Dia segera menghubungi team medis.


✲✲✲✲✲✲