
Pagi harinya Nina meminta cuti selama tiga hari pada Hanssel lewat aplikasi chatnya. Dia akan mengurusi pasal tempat penitipan anak untuk Jimmy saat dia bekerja nantinya. Dia juga telah menyebar selebaran via media sosial bahwa dia tengah mencari seorang Nanny untuk putranya.Di bantu oleh Rangga mereka mencari tempat yang terbaik untuk menitipkan Jimmy sementara waktu sampai dia mendapatkan Nanny yang cocok.
Tring!
[ Ada hal apa sampai kamu perlu cuti 3 hari? Bukankah jadwal pekerjaan kita tengah padat!! ]
Protes bosnya saat Nina meminta cuti namun tidak di berikan oleh Hanssel. Nina menggerutu kasar membuat Rangga menyadarinya.
"Kamu kenapa?"
"Bos sedeng gue ga ngasih ijin cuti!"
"Salah dia juga ngapain di arrange schedule seenak jidat semuanya di minggu ini!!"
Rangga terkekeh dia membawakan solusi untuk wanitanya.
"Ya udah selama ini aku yang akan menjaga Jimmy. Aku memiliki kantorku sendiri. Aku bisa membawanya..."
"Nanti aku di bantu sekertarisku mengurusi yang lainnya jika aku tengah ada klien."
"Eh.. Tidak... Kenapa jadi ngerepotin kamu sih!"
"MAU IBU... Aku mau sama om Rangga aja ya..."
"Biar ibu bekerja dengan tenang..."
Keduanya menatam Jimmy berbarengan sekarang.
"Siapa yang mengajarimu berbicara layaknya orang dewasa seperti itu?!" Ujar Nina tidak percaya apa yang barusan dia dengar dari putranya yang masih berusia 3 tahun lebih itu.
Jimmy menundukan wajahnya, dengan cepat Nina menghampiri tempat duduknya dan bersimpuh di bawah Jimmy.
"Maafkan ibu, ibu membuatmu sedih ya..."
"Kalau itu mau Jimmy ibu justru lebih tenang menitipkanmu pada om Rangga."
Keduanya berpelukan dan Nina kembali ketempatnya untuk membalas pesan bos angkuhnya.
"Om boleh ga aku panggil papa?"
"Benarkah?!!"
"OM MAU BANGET!!!"
Nina menghentikan mengetik pesan dan menatap ke arah dua orang yang terlibat perbincangan serius di depannya.
Kamu bilang seperti itu aku rasa kamu jauh lebih tepat menjadi kakaknya Jimmy. Rangga!!!
"Iya papa Rangga... Aku tidak suka papa Erick!"
"Dia jahat... Dia mengusir ibu!"
Bergetar tubuh Nina mendengar pengakuan bocah polos itu.
"Kau benar, dia tidak pantas menjadi papamu."
"Kamu tenang saja Papa Rangga bakalan buat kamu bahagia!"
"Bolehkan.. Ijinin papa Rangga benar-benar menjadi papa Jimmy dan hidup bersama dengan ibumu?"
"Ranggaaa...."
Nina menghentikan perbincangan yang sudah melewati batasan itu.
"Huh!!"
"Anakmu aja restuin loh!!"
"Jimmy kamu boleh memanggilnya papa Rangga, namun dia belum boleh tinggal bersama okay?"
"Okay ibu!!!"
"Baik-baik sama papa Rangga ya... Ibu berangkat bekerja dulu."
"Hati-hati ibu...."
Jimmy mencium tangan ibunya, dan berpelukan perpisahan.
"Sepertinya kamu membutuhkan mobil bukan?" Tanya Rangga kemudian.
"Hmm... Iya mungkin nanti sepulang bekerja aku akan membelinya."
"Maaf ya Rangga aku merepotkanmu..." Nina menepuk bahu Rangga.
"Aku meminta bayaranku seperti semalam." Bisik pria itu.
Buuug!!
Keduanya terkekeh dan Nina segera keluar karena taksi online nya telah menunggunya di pelataran apartemennya.
***
Di Adamson Group,
Hanssel tengah mondar-mandir sangat gelisah kali ini. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan kearoganan sekertarisnya dalam memutuskan segala hal.
"Jangan-jangan dia masih di Bali sekarang lagi senang-senang!!"
"Hebat ya diaa!!!"
Nina menuju kantornya melewati lobby yang kini sebagian orang yang melihat kedatangannya memberikan tatapan keheranan. Mereka semua tengah menerka siapa sosok wanita cantik yang kini berada di kantor mereka. Dengan pakaian modis dan bermerk serta high heels dan rambut gelombangnya. Namun dia masih mengenakan kacamatanya. Bukan kacamata noraknya melainkan kacamata yang sesuai dengan tampilannya saat ini.
"HEI!!" Pekik Jessica menghentikan langkah Nina dengan memblokir jalan bersama kedua sahabatnya yang lain.
"Ck..." Decit suara bibir Nina merasa kesal setiap kali Ratu Bullying di kantor itu tak habis akal mengerjainya. Dan lagi Jessica tidak pernah kapok walau sering kena semprot atau serangan balik dari Nina.
"Kamu siapa? Karyawan baru?" Tanya Jessica sinis.
"Hah?" Nina mengangkat sudut bibirnya.
Sebegitu tidak memperhatikan dirinya selama ini, berubah sedikit saja tampilannya semua orang tidak mengenali dirinya lagi. Nina memang tidak pernah memasang tanda pengenal atau ID Card perusahaan di lehernya. Semua tentu saja agar tidak ada yang tahu dimana dia berada. Wajar juga saat ini dia menjadi sasaran empuk si Jessica yang memang sangat membenci Nina.
Bukan tanpa alasan Jessica membenci Nina. Wanita norak itu justru di rumorkan menjadi sekertaris kesayangan tuan Hanssel. Bahkan selama 2 tahun berturut-turut Nina mendapat gelar karyawan terbaiknya langsung di berikan oleh tuan Hanssel. Siapa yang tidak iri dengan Nina, padahal paras dan tampilannya kuno tapi masih bisa di pertahankan di sisi tuan Hanssel selama dua tahun lamanya. Jessica sendiri bahkan diam-diam menyukai tuan Hanssel yang muda dan berbakat itu. Lengkap sudah kebencian Jessica pada Nina saat kemarin dia mendengar rumor bahwa Nina hampir kedapatan bermesaraan dengan bosnya.
"Aku tidak punya waktu meladeni omong kosong kalian..." Ujar Nina dingin melewati sekumpulan wanita bodoh itu dengan mendorong tubuh mereka memberinya akses untuk berjalan kembali.
"HAH?!!"
"BERANINYA KAU!!"
Jessica sangat tersinggung dengan sikap kurang ajar Nina barusan. Dia bersiap memukul Nina namun ternyata gerakan tangannya terhenti oleh seseorang.
"T-Tuan Ha nssel..." Lirihnya.
Hanssel melepaskan tangan Jessica dari genggamannya. Nina berhenti dari langkahnya dan berbalik badan. Dia menggeleng kepalanya dengan senyum mengejeknya melihat ketiga wanita yang sok menindasnya barusan tengah menunduk dengan ketakutan.
"Apa ini cara kalian selama ini?"
"Apa kalian masih mau bekerja di kantorku?!"
Ucapan dingin Hanssel membuat ketiganya auto bersimpuh dan memohon ampun pada tuannya.
"Maaf tuan saya benar-benar tidak sengaja."
"Saya hanya bertanya pada Nona ini dia ingin bertemu siapa. Namun dia menerobos begitu saja tanpa melaporkan dirinya di depan." Ujar Jessica beralasan.
"Benar tuan..." Kedua temannya kompak membenarkan.
"Apa?" Hanssel menatap Nina yang kini telah berubah sangat menakjubkan dimatanya.
Namun tidak mengejutkan Hanssel dia tertawa lirih. "Kalian tidak tahu siapa dia? Jadi selama ini kalian tidak tahu siapa tangan kiriku di perusahaan?!"
"Dia KARENNINA KAVIANDRA, SEKERTARIS TERBAIK DAN KAKI TANGANKU SELAMA 2 TAHUN INI!"
"Untuk apa dia melapor kalau dia memang bekerja disini?"
"AAPAAA??" Jessica tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Ti-tidak mungkin..."
"Minta maaf padanya!!"
"T-Tapi tuan.."
"MINTA MAAF SEKARANG JUGA!!!"
"Mm-Maafkan kami Karennina..." Ketiganya membungkuk meminta maaf kemudian mencoba berlalu dari tempat yang membuat mereka malu karena jadi bahan tontonan satu perusahaan.
"Kenapa kalian pergi begitu saja?"
"Aku belum ada bilang memaafkan kalian!!"
Si J*lang sialan ini dia benar-benar sengaja membuat harga diriku jatuh!!!
Jessica mengepalkan kedua tangannya, dia menggenggam erat ujung dress mininya.
"Dengar ya, kau sudah sangat sering menindas ku berulang kali!!"
"Aku minta tuan Hanssel, apa kamu menyetujui jika mereka di beri pelajaran tata krama dengan membersihkan seluruh toilet di kantor ini?!"
Hanssel tertawa lirih melihat Ratu Antagonis kembali dengan aksinya. "Tentu saja!!"
"Ini juga jadi pelajaran bagi kalian semua yang ada disini sekarang!!"
"Aku tidak ingin kembali mendengar kasus penindasan pada karyawan seperti ini!!!"
"Farell..."
"Iya tuan..."
"Bawa mereka keruang cleaning service dan kerjakan pekerjaan kalian sampai beres. Hitung hari ini mereka absen. Mereka mendapatkan denda absensi dan denda moral lapor pada team Human Capital sekarang juga!!!"
"Baik Tuan..."
Farell segera mengikuti seluruh instruksi tuannya.
"TIDAAAKK... J-Jangan tuan aku mohon ampuni kami!!!" Pekik ketiganya setelah di seret oleh security perusahaan.
"Semuanya bubar!! Kembali bekerja..." Titah Hanssel kejam.
Kerumunan orang yang menyaksikan kehebohan pagi hari mereka masih menyisakan bisikan desas desus di belakang mereka.
Nina menghirup dan membuang nafas perlahan kemudian berbalik kembali menuju lift dan akan segera mengerjakan tugasnya.
"HEY KAMU!!!"
"Udah di bantuin nyelonong pergi gitu aja!!!"
Hanssel mendekati Nina dan mencengkram lengan Nina erat.
"Aaw... KAMU KENAPA?!!"
"Tanpa kamu bantu aku sudah terbiasa menyelesaikan mereka!!"
Hanssel semakin emosi dengan penuturan angkuh sekertarisnya. Dia menarik paksa Nina mengikutinya keluar perusahaan dan menuju mobilnya.
"HANSSEL MAU KAMU BAWA AKU KEMANA!!!"
Bug!!
Hanssel mendorong tubuh Nina dengan kasar, dan menutup kembali pintunya. kemudian dia segera menuju kemudi dan menjalankan mobilnya menjauh dari perusahaan.
✲✲✲✲✲✲