Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 42 - Let's not Fall in Love



Nina membatu saat ini, yang dia khawatirkan telah terjadi saat ini juga. Dia tidak menyangka secepat ini semua terungkap. Nina berkeyakinan dirinya sudah menutup rapat semuanya agar tidak di ketahui baik dari pihak Rangga maupun Hanssel.


"Kamu jahat padaku Karennina!!"


Rangga menenggak gelas wine dan dia isi kembali, menenggaknya kembali dan dia isi kembali terus berulang sampai Nina menghentikan tindakan bodoh pria di depannya.


"Maafkan aku..."


"Sejujurnya aku tidak berniat menyembunyikannya dari mu."


"Aku benar bekerja di Adamson, tidak ada perusahaan lain yang memberikan aku upah yang tinggi seperti mereka."


"Dengan keuanganku yang baik aku bisa membawa Jimmy kembali dan tentu saja...."


"Aku hanya memanfaatkan Hanssel untuk mencapai tujuan utama ku membalas dendam pada keluarga Shin."


"Mengambil alih perusahaan ku kembali!"


Nina berusaha menjelaskan, tidak ada yang salah dari penuturannya. Hanya saja dalam kenyataannya dia jatuh cinta pada bosnya dan membuat rencananya sedikit berubah alur.


"Kau mencintainya?"


"Apa?"


Nina pura-pura tidak mendengar, sungguh dia tidak ingin menyakiti perasaan pria yang sudah dia anggap adiknya sendiri itu.


"Apa kamu mencintai Hanssel, Karen?!"


"Sepertinya kamu sendiri sudah tahu bukan hubungan ku dengan nya seperti apa?"


"HAHAHA!!"


Rangga bertingkah menakutkan kali ini, Nina berusaha menenangkannya. Rangga kembali menenggak gelas wine yang sudah terisi penuh.


"STOP!!"


Nina menghentikan lengan Rangga yang tengah menenggak gelas anggurnya. Namun segera di hardik oleh Rangga, pria itu tengah patah hati.


"Hari itu aku ingin sekali mengajak mu dan Jimmy keluar."


"Sekarang aku tahu alasannya mengapa kamu bersikeras untuk tidak pergi dengan ku!"


"Aku melihat kamu dan Hanssel bahkan Jimmy tengah memasuki Villa di Puncak!!"


"KAU TAHU BAGAIMANA PERASAANKU KARENNINA?!"


Kini semua pengunjung yang berada disana memperhatikan keduanya. Nina tengah menggelengkan kepalanya tidak menyangka bahwa rekreasi keluarganya tempo hari yang akhirnya membuat semuanya terungkap.


"Kita bahas di rumah okay..."


"Ayok kita pulang!"


Nina mencoba memapah Rangga namun rangkulan tangan Nina di hardik keras oleh pria itu. Rangga sudah dalam pengaruh alkohol. Dirinya tidak bisa lagi mengontrol emosi dan gerakan tubuhnya. Aksi mereka semakin mengundang banyak pasang mata untuk menyaksikannya. Beberapa desas desus terdengar di telinga Nina. Nina tertegun menyaksikan Rangga serapuh ini.


"Harusnya kamu tahu bukan..."


"Hanssel pria seperti apa??"


"Kamu harusnya tahu sudah berapa puluh wanita yang sudah dia mainkan?"


"Dia bahkan meniduri mereka tanpa dosa dan mencampakannya!"


"APA KAMU MENGINGINKAN SEPERTI ITU KARENNINA?!!"


"HAH?!"


"KAU SUNGGUH BODOH!!"


"AKU PIKIR KAMU BISA BELAJAR DARI GAGALNYA PERNIKAHANMU DENGAN ERICK!!"


"Kenapa Nina...."


"Kenapaaa..."


Brug!


Rangga terjatuh di lantai cafe, Nina sudah membanjiri wajahnya dengan air mata. Dia membasuh dengan tangannya perlahan. Beranjak mendekati Rangga dan mengangkat tubuh pria yang sudah mulai hilang kesadaran itu.


"Karen..."


"Mengapa kamu selalu memilih untuk tersakiti!"


DEG!


Rangga mengucapkan perkataan terakhir sebelum akhirnya pingsan dan Nina membawanya menuju parkiran. Dia mengabaikan semua pasang mata dan cibiran yang mengarah pada mereka.


"Maafkan aku Rangga..."


Nina menutup pintu apartemen milik Rangga, dia bergegas pulang kerumahnya.


***


"Dari mana?"


Nina membulatkan matanya, Nina tidak menyangka Hanssel sudah berada di rumahnya saat ini. Hanssel tengah bersedekap tangan, menyenderkan badannya di pilar dan menatap nyalang pada istrinya. Terlihat jelas amarah di dalam bola matanya.


Berani sekali istriku tidak meminta ijin keluar padaku lebih dulu!!!


"Ehm... Aku bertemu temanku..."


"Lantas?!"


Hanssel masih berlaku dingin, Nina belum meminta maaf padanya dia masih akan mempermasalahkannya!


"Huh..."


"Aku minta maaf, tadi tidak di sengaja aku harus keluar karena mendesak."


"Hal mendesak apa yang bahkan membuatmu mengabaikanku?"


"Aku lihat kamu pergi dari rumah pukul 3 sore dan ini sudah pukul 7 malam!!"


"Selama itu kamu tidak ada waktu untuk mengabariku?!"


"Hah?"


Nina tengah menunjukan mimik tidak percaya atas sisi posesif pasangannya.


Aku bahkan tidak peduli dia mennggalkanku begitu saja tanpa berkata dia mau kemana! Padahal kita tengah bercumbu sebelumnya!!!


Si babi ini sungguh egois!!


"Aku minta maaf ya..."


"Aku sungguh lelah..."


Nina mendekat kearah Hanssel dan merangkulnya.


"Sudah tahu gampang lelah sekarang, masih keluyuran sampai malam!!!" Hanssel menghukum Nina dengan menggigit bibir bawah istrinya yang menggoda.


"Iya iya..." Nina terkekeh berlalu ingin membersihkan dirinya.


"Kapan kamu akan periksa?" Hanssel mengusap lembut perut rata dan mulus istrinya.


"Hanss... Aku ga hamil!!"


"Aku sudah belikan kamu testpack!"


"Besok pagi kamu pake ya sayaaang.."


Hanssel menciumi tubuh istrinya bertubi-tubi.


"Geliii tauu!!" Pekik Nina dengan kekehan.


"Hans..."


"Hmmm..."


Hanssel masih menciumi tubuh belakang Nina.


"Apa teman kencanmu yang lain ada yang sampai hamil?"


Hanssel menghentikan sentuhannya dia membalikan tubuh Nina menangkup wajah Nina dengan kedua tangannya.


"TIDAK ADA!!"


"Aku melakukannya dengan pengaman..."


"Aku sudah bilang hanya kamu pengecualian!"


"Aku juga bermain karena mereka yang meminta, jika mereka sudah puas maka aku selesai."


"Aku tidak pernah menyelesaikan bagianku!"


"Kenapa?"


Nina menatap serius suaminya yang tengah tersenyum tampan ke arahnya. "Aku tidak mencintai mereka tentu saja. "


"Jadi kamu tahu bukan perbedaannya?"


"Aku bahkan masih bertahan dengan mu walau sudah lebih dari satu bulan."


"Aku mencintaimu nenek lampir!!"


"BACOT!!"


Nina menekan wajah Hanssel sampai bibirnya membentuk huruf O, kemudian dia lepaskan dengan tawanya. Hanssel ikut tertawa kemudian terdiam, kembali menatap serius istrinya. Hanssel membelai pipi Nina dia menelan salivanya.


"Kamu bilang padaku agar kita tidak saling jatuh cinta..."


"Sebenarnya aku takut mengutarakannya sedari awal..."


"Aku minta maaf..."


"Tapi aku bersungguh-sungguh saat mengatakannya."


"Aku menyukaimu..." Hanssel menyentuh rambut Nina lembut.


"Aku mencintaimu..." Turun menyentuh wajah Nina.


"Aku menginginkanmu..." Mengusap bibir Nina dengan ibu jarinya mesra.


"Jangan tanyakan padaku apapun itu.."


"Aku sendiri tidak bisa memberikan jawabannya!"


Hanssel meletakan tangan Nina di dadanya "Apa kamu dengar, jantungku berdetak untuk mu..."


"Untuk mencintaimu..."


"Jangan tanyakan padaku..."


"Aku benar-benar bersungguh-sungguh mencintaimu dan anakmu Jimmy walau bukan darah dagingku."


"You feel it?"


"Debaran jantungku yang mengukuhkan bahwa benar aku mencintaimu!!"


"AKU MENCINTAIMU KARENNINA KAVIANDRA"


Nina tidak bisa lagi berkata, dia bahkan tengah menangis tanpa suara. Semua perkataan dan rayuan Hanssel membuatnya seakan lupa caranya bernafas. Dia justru merasa debaran jantungnya seiraman dengan detak jantung Hanssel yang tengah dia raba saat ini.


"Apa semua ini belum cukup meyakinkanmu sayang?"


Nina belum mampu berucap, rasanya dia tengah bermimpi saat ini. Tidak pernah terpikirkan dalam hidupnya bahwa seorang pria casanova seperti suaminya ini bisa benar-benar mencintainya.


"Jika kamu ingin aku menyakiti diriku saat ini maka aku akan lakukan sayang!"


"Jaangan..." Nina berujar lirih menahan lengan suaminya.


Nina melengkungkan senyumnya, senyum terbaiknya, senyum kebahagiannya. Dia merangkul tubuh suaminya erat.


"Terima kasih Hanssel..."


"That's it?"


Nina tersenyum dan memeluk tubuh Hanssel semakin erat, begitu pula sebaliknya.


Hanssel...


Tidak di pungkiri kita sangat bahagia seperti sekarang ini..


Tapi jangan mencoba untuk memiliki ku...


Aku pun tidak berharap demikian...


Mari kita tetap seperti ini...


Kau hanya akan membuatnya lebih menyakitkan...


Mengapa?


Apa karena setelah ini kamu akan meninggalkan ku...


Aku tidak dapat menemukan tujuan di dalam perasaan bodoh ini...


Mengucapkan selamat tinggal setelah kita sering bertemu dan pada akhirnya mengulagi lagi patah hati...


Sebuah kesalahan dengan memakai topeng cinta ini...


Semua perasaan itu sama saja sekarang...


Marilah kita berjanji untuk tidak saling jatuh cinta, untuk tidak saling membuat janji.


Tapi saat aku mengatakan aku mencintai mu...


Itu adalah kesungguhanku!


✲✲✲✲✲✲