Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 88 - Seperti yang Kau minta.



"Pindah ke depan!"


"Nyuruh ko pake urat!"


"CEPAT!"


"Iyaaaaaa!"


Dengan cemberut Farah hendak menuju kursi depan tanpa keluar mobil langsung melewati di bagian tengah.


"WOY!!"


Keenan menghentikan aksi bar-bar Farah yang memang tidak segan.


"Tinggal kesitu doang ampun!!"


Braak!


Farah menutup pintu belakang dengan kencang, kemudian Keenan melajukan mobilnya tanpa menunggu Farah masuk kedalamnya. Farah membulatkan matanya tidak percaya.


Di dalam mobil Keenan terbahak puas mengerjai gadis kecilnya. Keenan kembali memundurkan mobilnya dan menurunkan kaca jendela.


"Kau lambat sekali!!"


"Bangsaaat!!"


"Haha!"


Braaak!


"Kau sungguh tidak sopan pada yang lebih tua, apa kamu membolos saat pelajaran tata krama?!"


"Bukankah Nina juga demikian?!"


"Kenapa hanya aku yang di omeli!!"


"Huh!"


Keenan melengkungkan senyumnya dan kembali fokus ke jalan. Farah pura-pura tertidur seperti yang di lakukan Nina. Namun Keenan tidak melakukan apapun tidak seperti saat bersama Nina sebelumnya.


Anjeng banget nih laki gue!!!


Kalo gue merried ama dia banyak makan ati sumpah!! Adeknya mulu yang di perhatiin!!


Keenan telah sampai di depan pelataran kantor Suho, dia menatap Farah yang tertidur. Kemudian terkekeh lirih, dia tahu bahwa Farah hanya sedang berakting. Sama seperti biasanya .


"CEPAT BANGUN!!"


Farah terkejut, dia melonjak oleh teriakan Keenan. Keenan tertawa puas melihat tingkah menggemaskan gadisnya.


"KAKAK JAHAT BANGET SAMA AKU!!"


Farah melayangkan protes dengan kesalnya, Keenan tersenyum melihat emosi Farah, dia menarik lengan gadis itu dan menarik tengkuk lehernya. Mereka bertautan saat ini juga, kedua bola mata Farah membulat sempurna.


"Bibir manis ini tidak pantas berkata kasar..." Lirih Keenan mengusap bibir Farah yang telah basah oleh ulahnya dengan jemarinya.


"Kak..."


Giliran Farah menarik leher prianya dengan kedua tangannya dan kembali menyesap bibir prianya. Keenan terkejut dengan sikap arogan gadisnya.


"Aahh..." Rintih Farah saat Keenan menggigit bibir bawahnya.


"Turun sekarang, nanti ada orang yang akan curiga!!"


Farah terdiam dengan ucapan kekhawatiran kakak sepupunya. Tanpa banyak bicara lagi Farah keluar dari mobil dan berlalu kembali menuju kantor tanpa pamit pada prianya. Dia sungguh sangat kecewa atas sikap acuhnya.


"Huh!"


"Aku sudah mengira berhubungan dengan seorang wanita akan sangat merepotkan!!!"


Keenan tidak ingin lagi mempermasalahkan kekesalan gadisnya dia segera memacu kembali kendaraannya.


***


Sore harinya Keenan kembali menemui adik kesayangannya.


"Kamu benar-benar menjadi lemah seperti ini?!"


"Keputusanku menggantikan kamu dengan Hanssel sudah sepatutnya!"


"Kakak bawel banget sumpah!!"


"Aku pusing!!"


"Aku pengen martabaaaak!!"


"Apa?!"


"Ini namanya ngidam!"


"Beliin martabak!!"


"Aku sudah bilang anaknya butuh bapaknya!"


"Dia akan minta ini dan itu..."


Keenan terpaku, melihat Nina kini terisak hanya karena moodnya sedang jelek.


"Kakak belikan sekarang..."


"Ga usah nangis..."


Keenan mengusap lembut kedua netra adiknya.


"Huuaa..."


Nina memeluk erat kakaknya. "Entaah mengapa aku sangat sangat sediih!!"


Keenan mengusap punggung adiknya lembut. Kelemahan terbesarnya adalah melihat kedua wanita terpenting dalam hidupnya menangis di depan matanya.


"Sam akan membelikan sekarang juga."


"Kamu ga perlu nangis ya!"


"Aku sudah tidak ingin..."


"Aku minta tolong ambilkan susu, yang beku!"


"Aku sudah mempersiapkannya di freezer."


"Ga tau kenapa hamil yang ini pengen bgt ngemil susu uht beku!"


Keenan membulat tidak percaya akan permintaan aneh adiknya. Dia tersenyum dan mengacak rambut adiknya seraya beranjak mengambilkan apa yang diinginkan adiknya.


Setelah kepergian Keenan Nina menyunggingkan senyumnya, tanpa Keenan sadari Nina telah mencuri fingerprint milik kakaknya.


Nina membuka akses EYES milik Keenan.


"Hans sayang, aku sungguh frustasi memikirkanmu!!"


Nina memperbesar resolusi kamera pengawas, dia memperhatikan seseorang tengah menonton sebuah video dalam ponselnya sedang terbaring beristirahat.


Dia juga bisa mendengar dengan jelas apa yang di ucapkan orang tersebut.


"Sayaaang, Jimmy, dan calon adek bayi papa sungguh rindu kalian!!"


"Pulanglah segera sayaaang."


Nina mencium layar iPad miliknya dan bergegas log out sebelum kakaknya mengetahuinya. Setidaknya rindunya sudah terobati dengan melihat keadaan Hanssel yang baik-baik saja.


Di ruang makan Keenan berpapasan dengan Jimmy.


"Jimmy, what are you doing?"


"Hai big uncle!"


"Jimmy rindu papa Hanssel!!"


Keenan bersimpuh di hadapan pangeran kecilnya. Menatap kedua netra mungil keponakannya.


"Apa kamu tidak bisa tidur?!"


"Ehmmm!" Bocah itu mengangguk.


"Biasanya papa Hanssel akan bermain super Hero dengan ku, abis itu dia akan membacakan cerita Avenger!"


Keenan tertawa dengan penuturan polos bocah kecilnya. "Bagaimana jika uncle yang lakukan sekarang?!"


"Benarkaaah?!"


"Sure, sebelum itu ibumu meminta susu beku ini dulu."


"Setelah itu kita lakukan semuanya!"


"Asiiik!"


Jimmy berlarian kesana kemari senang akhirnya ada pria lain yang bisa menemaninya bermain.


Keenan membuka pintu hati-hati dia menatap adiknya yang sudah terlelap.


"Secepat itu kamu tidur?!"


Cup ~


Keenan menaikan selimut dan mencium kening adiknya, mengganti lampu dan keluar kamar. Dia bersiap memainkan permainan yang diinginkan keponakan kesayangannya.


"Tamaat!"


"Eh kamu sudah tidur?!"


Keenan membetulkan posisi Jimmy, dia seperti flash back saat Nina merengek untuk selalu tidur disampingnya.


Keenan segera beranjak dari kamar Jimmy dan pulang menuju suatu tempat.


Ding... Dong...


Farah membuka pintu dengan gontai, dia tidak merasa memiliki tamu yang akan mengunjunginya terlebih ini sudah pukul 11 malam.


"Kak Keenan?!" Mata Farah terbuka lebar.


Keenan terpaku dengan tampilan gadisnya. Farah tengah mengenakan pakaian tidur yang imut motif kelinci dengan bandana kucing yang dia gunakan saat akan mengoleskan skincare nya. Wajah Keenan memerah dan tenggorokannya terasa kering saat ini. Dengan penampilan yang menggemaskan itu ingin rasanya Keenan menyelesaikan Farah saat ini juga.


"Eehmmm..." Keenan mulai gelisah.


"Ngapain kakak kesini?!"


"Menjenguk adik ku?!"


"Nina tidak disini!"


"Apa kakak pura-pura amnesia?!"


Tanpa menghiraukan ucapan Farah Keenan telah masuk lebih dulu menuju dapur.


"Ish belum di ijinin juga sama yang punya rumah!!"


"Emang ini rumah mu?!"


"Bukankah ini rumah Nina?!"


"Ya dia memberikannya padaku untuk aku gunakan!"


"Lagian dia sudah menikah tidak mungkin tinggal di tempat sempit ini lagi!"


"Murah hati sekali adik ku!"


"Ya di banding kakak!"


Keenan terkekeh dan menenggak soft drink hingga tandas. Dia melihat di lemari ada sebotol wine dia mengerutkan keningnya.


"Kamu yang membeli ini?!"


Keenan bertanya pada Farah yang telah duduk di sofa melanjutkan menonton filmnya. Farah menoleh ke arahnya dan mengangkat bahunya.


"Aku tidak punya uang untuk membeli itu!"


"Lalu?!"


"Adikmu lah siapa lagi!!!"


Farah semakin emosi di buatnya, Keenan mendekat dan duduk di sebelah Farah.


"Untuk apa kakak kemari?!"


"Aku salah alamat!"


"Cih!"


"Ya udah sana pergi!"


"Kamu mengusir ku?!"


"Tidak!"


"Hahaha!"


Keenan menarik gadis imutnya, wajah mereka berhadap-hadapan sekarang.


"Aku merindukanmu sayang!" Goda Keenan sukses membuat wajah Farah merona.


Gadis itu mengatupkan bibirnya erat membuat Keenan semakin gelisah dan mendekatinya.


"Kamu sangat senang menggoda imanku ya?!" Bisik Keenan lirih di hadapan bibir Farah.


"Tidak... Mmmmm!"


Keenan mendorong tubuh Farah hingga ke ujung sofa. Keduanya terus melanjutkan aksi bertautannya dan melepas kerinduan mereka yang sejujurnya baru terpisah beberapa jam saja.


"Kak, kita ke kamar ya..." Tubuh Farah telah meremang oleh sentuhan prianya saat ini.


Keenan melengkungkan senyumnya "Seperti yang kamu minta!"


Dengan cepat Farah berdiri dari tempatnya.


"Gendong aku!!"


"Kamu minta gendong kayak gitu udah ga pengen jadinya!" Keluh Keenan dengan tingkah ke kanak-kanakan Farah yang meminta gendong dari belakang namun tetap dia lakukan juga membuat Farah tertawa senang.


✲✲✲✲✲✲