Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 112 - At my Worst



Entah mengapa Hanssel Tiba-tiba mendapati mobil Rangga terparkir di jajaran depan Hotel Emperor. Dia yang sudah sangat hapal dengan nopol dan jenis mobil Rangga sangat yakin itu dia.


Dia melipirkan mobilnya dan berencana mengeluh pada sahabatnya agar bisa membantu masalahnya dengan Nina. Hanssel menggunakan nomor ponsel Rangga melacak keberadaannya. Dan benar saja Rangga berada di dalam Restoran.


"Halo..."


"Elu di Emperor ya?!"


"Lu mata-matain gue?!"


"KESAL!!"


Rangga memutus sambungan, Nina terpaku dia menyadari bahwa Hanssel akan mendapati dirinya disini. Jika dia menghindar Rangga akan tau masalahnya.


Braak!!


Hanssel terdiam saat mengetahui istrinya ada disana.


"PAPA HANSSEEELL!!" Pekik Jimmy dan menghambur ke dalam pelukan papanya.


"Jimmy..." Hanssel memeluk putranya mengusap lembut kepala dan mengecupnya.


"Sayaaang..."


"Ko kamu ada disini?!"


Nina menghambur mendekati suaminya dan mengecup pipinya.


Hanssel hanya terdiam dengan reaksi Nina, dia tidak tahu harus senang atau sedih atas sikap Nina saat ini.


Rangga tengah mengerucutkan bibirnya, dia juga mendengus kasar.


Hanssel mencium bibir Nina dihadapan semua orang. Nina membiarkannya namun tidak merespon.


"Hans, kita ga mungkin ngasih siaran langsung depan orang-orang?!"


Nina mendorong perlahan tubuh suaminya, dan kembali kekursinya. Kepura-puraan ini membuat hatinya kembali nyeri.


"Aku menelpon mu berkali-kali." Tanya Hanssel dengan wajah serius.


Rangga merasakan bahwa atmosfer keduanya memang ada yang tidak beres.


"Oh ya?!"


Nina merogoh tas Tory Burch miliknya, "Astagaa... Maaf sayang ternyata aku belum mengganti mode suara."


"Tadi siang aku ada temu klient jadi aku silent."


Hanssel menatap lekat dengan tingkah Nina.


Mengapa kamu berbohong Nina!! Apa yang sedang kamu mainkan...


"Ehmmm!!" Rangga membuyarkan keduanya.


Kemudian mereka kembali menyantap hidangan sesekali membahas hal random.


Aku tidak mungkin bertanya pasal Yvone disaat Hanssel disini. Mungkin besok aku bisa mengorek informasi dari Karen.


"Kalo gitu sampai ketemu next time!" Rangga berencana keluar lebih dulu, melihat kedua pasangan di depannya cukup menyayat hatinya saat ini.


"Papaa Rangga katanya janji temenin Jimmy?!"


"Aih!!" Rangga menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan kekehan canggungnya.


"Papa?!" Tanya Hanssel tidak menyukai Jimmy memanggil papa pada Rangga begitu mesra.


"Dih sebelum dia ketemu elu dia dulan yang manggil gue papa!"


Hanssel terdiam, hari ini pikirannya begitu berkecamuk hebat.


Rangga tidak peduli dengan keadaan Hanssel.


"Maaf papa, Jimmy bakalan panggil om aja." Jimmy menundukkan wajahnya di depan Hanssel.


"Maafin papa Jimmy, tapi jika orang yang tidak tahu bakalan mikir kalo mama mu punya dua suami!!"


Dih cemburu ko kelewatan!!! Ga nyadar kelakuan dia di belakang gue kek mana!!


Nina bersedekap tangan dia membuang muka dia juga tidak ingin menanggapi semua persoalan mereka. Dia sungguh lelah hari ini!


"Gue dah janji barusan jadi lu ijinin ga gue bawa Jimmy beli mainan?!" Ijin Rangga.


Keadaan mereka menjadi sangat canggung.


"Oke, jangan pulang larut ya..." Hanssel mengusap lembut kepala Jimmy. Jimmy memeluk bahagia papanya dan kini beranjak memegang tangan Rangga.


Keduanya berpamitan, Nany yang biasa menemani tuan mudanya di bebas tugaskan menemani tuan mudanya.


"Bik, nanti ikut pulang aja sama saya."


"Baik non."


Hanssel merogoh saku dan menghubungi anak buahnya.


"Pantau jangan terlalu dekat agar tidak membuat curiga."


"Pastikan anakku selalu dalam pengawasan kalian!!"


Nina masih bisa merasakan keharuan melihat sikap Hanssel menjaga putra sambungnya. Walau sejujurnya tanpa Hanssel beri penjagaan keluarga Kaviandra tentu saja saat ini sudah mengelilingi Jimmy dan Rangga.


***


Di dalam kamar Hanssel merangkul istrinya, namun Nina mendorong tubuh Hanssel.


"Aku mandi dulu ya.." Bisik Nina.


Pertanyaan Hanssel sontak membuat dia ingin terbahak. Suamiku tengah melucu!!


"Kamu ini kenapa?!" Tanya Nina balik.


Hanssel hanya terdiam, kemudian Nina tidak ingin berlama-lama berkomunikasi dengan suaminya.


"Haish!"


Hanssel mengacak rambutnya frustasi. Kini dia merebahkan dirinya di ranjang besarnya.


"Tiba-tiba aku di selimuti perasaan tidak nyaman."


"Padahal aku sangat merindukannya!"


Hanssel menutup matanya perlahan, dia juga sama lelahnya dengan Nina. Hingga akhirnya dia ketiduran.


Nina telah selesai dengan membersihkan diri. Dia melihat Hanssel yang tengah terlentang tertidur di tengah ranjang mereka.


"Dih, dia ni ga sadar body! Gue tidur dimanan ini?!" Gumam Nina lirih.


Nina memutuskan keluar kamar dan mencari minuman serta cemilan di dapur sekalian menuunggu Jimmy pulang. Nina menghidupkan TV besar di ruang tengah. Semua asisten rumah tangga telah memasuki kamar mereka.


Hanssel terbangun, dia bangkit dari tidurnya.


"Kok Nina mandinya lama bener!!"


"Sayaang..."


Hanssel mengetuk pintu kamar mandi namun tidak ada respon dari istrinya, dengan segera dia membuka knop pintu dan melihat ruangan itu telah kosong.


"Huh!"


Hanssel tahu Nina sedang menghindarinya, dia memberi waktu bagi istrinya untuk tenang. Hanssel segera membersihkan dirinya. Tanpa berlama-lama dia segera mencari istrinya di ruang tengah.


"Sayang..."


Hanssel menciumi leher Nina, biasanya istrinya akan menyambutnya dengan hangat yang di pastikan akan berakhir dengan adegan yang semakin memanas.


Nina kembali menghindar.


"Kenapa?!" Tanya Hanssel kesal.


"Kamu tidak mau aku sentuh lagi?!"


Nina tengah berpikir alasan yang tepat.


"Ibuuuu aku pulaaang!!"


Nina melengkungkan senyuman, "Sstt Jimmy udah pulang!"


Nina meninggalkan Hanssel yang masih terpaku setiap kali dia akan melakukan sesuatu pada istrinya pasti ada aja yang membuat istrinya terlepas darinya.


Setelah mereka menidurkan Jimmy Hanssel sudah tidak sabar dia menggendong tubuh istrinya menuju kamar mereka.


"HAANSS!!" Pekik Nina tidak terima.


"Aku sangat menginginkan mu sayang!!"


"Sudah sepekan aku tidak menjamahmu!!"


Hanssel menurunkan tubuh Nina perlahan di ranjang mereka. Dengan segera melucuti pakaian tidur, namun reaksi Nina sungguh membuat Hanssel semakin naik darah.


"Aku tahu kamu melihatku di resto itu kan?!"


Deg!


Nina menutup kembali kimono yang sempat tersibak oleh tarikan paksa suaminya. Hanssel terduduk di ranjang.


"Kamu bilang apa sih hans."


"Aku sungguh lelah hari ini, jadwalku sungguh padat."


"Kita tidur sekarang ya..."


Nina tidak berencana untuk menyelesaikan masalahnya. Dia lebih suka memendamnya dan melupakannya.


"KARENNINA!!"


"Sampai kapan kamu akan menghindariku?!"


"Aku tidak melakukan apapun sayang, wanita itu adalah mata-mata yang di taruh Wijaya di sampingku."


Nina tersenyum yang di paksakan "I know... So bisa kita tidur sekarang?"


"Kamu juga lelah kan?!"


Hanssel mendengus kasar, sepertinya dia berpikir bahwa Nina tidak akan mau membahasnya kali ini.


"Sayang..."


Hanssel kembali menarik tali kimono istrinya dan kembali menggoda gairah istrinya agar malam ini mereka melabuhkan rasa cinta keduanya.


"Hans, jika kamu mencoba batas kesabaranku aku pastikan kamu tidak akan pernah aku ijinkan tidur di kamarku!"


"Sekarang tidurlah..."


"Kalau berisik dan mengganggu tidurku pergi saja keluar!!!"


Nina segera memposisikan dirinya, membelakangi suaminya dan menutup matanya.


Hanssel terpaku dengan bentakan Nina yang kembali seperti saat dia mengejar Nina dulu. Nina kembali menjadi wanita yang dingin.


✲✲✲✲✲✲