
[ Adult Content! ]
Nina terbangun dari tidur lelapnya, semalam tanpa di ketahui Hanssel dia meminum obat penenang. Setelah kejadian Yvone yang membuatnya trauma dia selalu saja gelisah. Untungnya dokter meresepkan obat agar dia bisa tidur dengan lelap sehingga tidak berdampak buruk pada janinnya dengan begitu dia juga tidak terus bed rest dalam jangka waktu yang lama.
Nina bergegas turun dari ranjangnya. Hanssel terbangun oleh tarikan selimut yang di hasilkan pergerakan istrinya.
Melihat istrinya tidak memberikan kecupan selamat pagi seperti biasanya memancing emosi Hanssel di pagi hari.
"Sayaang!" Hanssel menghentikan langkah Nina.
Nina sedikit terlonjak dan menatap Hanssel nyalang.
"Hans!"
"Kamu pengen aku mati jantungan hah!!"
Fix mereka akan baku hantam sebentar lagi.
"Kenapa kamu yang emosi?!"
"Kamu lupa mengucapkan selamat pagi padaku!"
"Padahal kamu bangun lebih dulu!!"
"Hah?!"
"Ayo lah Hanssel!"
"Kamu bukan bocah!!"
"Jimmy saja tidak pernah meminta hal yang aneh seperti kamu ini!!"
"ANEEH?!"
Sudah cukup Nina membuat emosi Hanssel memuncak saat ini juga. Hanssel menarik tubuh Nina kembali di atas ranjang.
Bruuk!
"HANS...... mmm!"
Hanssel menutup mulut Nina yang tengah berteriak kencang, dia juga mengunci kedua tangan Nina di samping kepala wanitanya, tubuhnya dia posisikan sedikit terangkat, walau dia sangat emosi dia masih waras kalau istrinya tengah berbadan dua.
"Kamu bilang permintaanku aneh?!" Hanssel melepas tautan paksaannya.
Nina hanya terdiam dengan perlakuan arogan suaminya.
"Aku sudah menahan untuk tidak bertengkar denganmu semalam!"
"Pagi ini kamu masih melanjutkannya hah?!"
"Aku tidak bodoh!"
"Aku merasakan perubahan padamu terlalu besar!!"
"Aku tahu kamu menghindariku sedari di kantor!!"
"Aku mengetahui diam-diam kamu memakai jalan pintas keluar dari ruanganmu!"
"Aku masih melihat mobilmu masih terparkir di area depan kantor."
"Kamu juga pura-pura kita baik-baik saja di hadapan Rangga padahal kamu sedang menghindariku!"
"Jika aku tidak menyadari keberadaan mobil Rangga di depan hotel mungkin saat ini aku masih gila mencarimu ke seluruh pelosok ibu kota!"
"Aku tidak bisa mengerahkan anak buahku karena kamu memiliki keahlian bersembunyi dan melarikan diri!!!"
"Apa kamu senang selalu menghindari masalah mu hah?!"
Semua bentakan kasar suaminya sukses membuat Nina membanjiri wajahnya dengan air mata. Nina masih bungkam menutup rapat mulutnya.
"Aku sudah bilang aku tidak ada apa-apa dengan wanita itu."
"Wanita itu sengaja menabraku dan pura-pura mendekati ku."
"Aku mendapati dia ternyata bawahan tuan Wijaya."
"Aku pura-pura terjerat dengannya."
"Aku ingin mengetahui informasi tentang putra Wijaya!"
"Percayalah padaku sayaang..."
"Hanya kamu wanitaku sayaang..."
"Bukankah kamu tahu sendiri aku sangat mencintaimu sayang, aku tidak akan mengingkari janji ku!"
Hanssel kembali mendekatkan wajahnya dengan istrinya, dia masih menggenggam erat kedua pergelangan tangan istrinya. Hasrat Hanssel sudah bangkit. Dia menyesap bibir Nina perlahan lembut dan semakin menuntut. Istrinya tidak ingin merespon, pikirannya tengah berkecamuk hebat.
Mengapa aku benar-benar tidak bergairah dengannya saat ini?!
Hanssel semakin gencar melancarkan serangan fajarnya. Dia sungguh di buat kesal dengan keras kepala istrinya. Setelah puas dengan bibir istrinya yang sudah mulai membengkak, kini turun menuju lehernya yang putih bersih dan menggoda.
Sekuat tenaga Nina mengatupkan bibirnya agar tidak mengeluarkan suara yang tidak ingin dia dengar. Matanya dia tutup erat, hatinya menolak pergumulan ini.
Apa ini juga bisa aku kategorikan keinginan adek bayi?! Hamil kali ini mood ku turun naik bagai roller coaster!!
"KAU MENOLAKKU?!"
Hanssel semakin hilang kendali, dia menarik paksa baju tidur Nina dan segera melampiaskan hasratnya yang sudah memuncak tanpa foreplay. Nina menggigit bibirnya hingga berdarah, dia kembali merasakan perih batin dan raganya di waktu yang bersamaan.
Helaan nafas terengah Hanssel di depan wajah Nina yang tengah bergairah membuat Nina kini memiliki perasaan membenci pria di depannya.
Sayaang ku adek bayi apa kamu meminta agar rupamu seperti papamu hah?! Ibu di haruskan membenci dia kah?!!!
"Aarrgh!!"
Nina kesal suara lenguhan panjang itu keluar bersamaan dengan pelepasan pertamanya, Hanssel menyunggingkan senyuman sinis.
"Kamu jangan harap bisa turun dari ranjang hari ini nona!!!"
Hanssel menarik kedua tangan Nina, tubuh istrinya yang masih terkulai di paksa mengganti gaya percintaan mereka dengan Nina menghadap ke belakang. Hanssel kembali menerobos sangkar emas burung miliknya yang beruntungnya saat ini hanya akan bereaksi jika di samping istrinya saja.
Hanssel terus mempercepat tempo permainanya, kali ini dia bergerilya dengan area bukit kembar istrinya yang sudah memproduksi cairan putih manis yang membuatnya terkejut namun seketika sangat bahagia dengan ide lanjutannya.
Hanssel bajingan mesum!!
Arrrgghh, lama-lama gue beneran minta terus kalo di pancing kek gini!!!
Nina merasakan kenikmatan pada permainannya kali ini. Hanssel belum juga mendapatkan puncak kenikmatannya. Dia masih ingin terus main dengan tubuh candu istrinya.
Dia kembali membalikan tubuh Nina dan mendudukannya di atas pangkuan Hanssel yang sudah memposisikannya duduk di tepi ranjang.
"Aaargh!"
Nina menjerit saat suaminya memaksa kedua bukitnya dihimpit bersamaan dan dimasukan sekaligus dalam mulut prianya.
HANSSELL BABI LIAR!!!!
Tubuh Nina menggelinjang hebat, dia terengah rasanya tenggorokannya kering terlalu lama membuka mulutnya.
"Hansss.... Ahhh... Sakiit!!"
Nina merasakan perih di area puncak bukit miliknya yang terus di mainkan oleh gigi rapi suaminya dan merasakan Hanssel menyesapnya kuat seperti sedang mengASihi Jimmy tempo dulu.
"Terus teriakan namaku sayaang.."
"Aku sangat menyukainya!"
"Aku sangat mencintaimu Karennina..."
Hanssel kembali membaringkan tubuh Nina di ranjang dan kembali menerobosnya, dia merasa akan berada dalam kli*maks. Hanssel melenguh panjang dalam kenikmatannya. Selama kurang lebih satu jam non stop dia menggauli istrinya yang semakin menolak semakin membuatnya tergoda.
Hanssel terjatuh di sebelah istrinya, dia sungguh sangat lelah dan tanpa ada hitungan detik pria itu tertidur.
Nina merasakan tubuhnya sungguh seperti baru saja terjatuh dari atas ranjang. Ngilu yang amat sangat, membuat dia terpejam sesaat namun segera dia tepis. Dia lebih memilih membersihkan dirinya, dengan tertatih Nina berjalan menuju kamar mandinya dan memilih berendam beberapa saat.
"Dasar laki-laki bajingan!"
"Dia menganggap permasalahan rumah tangga akan sirna dengan aksi di ranjang!!"
"SEBAAAL!!"
Nina terus merutuki suaminya yang tidak punya ahlaq!
Nina telah selesai, dengan membersihkan diri dia melihat bahwa suaminya tengah terlelap dengan dengkuran halus dari mulutnya dengan tubuh yang masih polos tanpa balutan benang apapun Nina bergidig melihatnya. Dia menarik selimut dan menutupi tubuh suaminya.
Tring!
Nina mendengar notifikasi pesan masuk dari ponsel suaminya. Nina mengambilnya dan memeriksa.
Dengan mudah Nina membuka sandi ponsel suaminya. Hanssel sendiri memang membiarkan Nina bisa memeriksa apapun kepunyaannya.
[Hans sayang, aku sungguh kesepian di rumah. Kamu mau kan temenin aku malam nanti seperti biasa!]
Nina menatap pesan menjijikan dari wanita yang dia prediksi wanita yang menggelayut manja saat dia lihat kemarin.
Nina mengcopy nomor wanita itu dan segera melacak keberadaannya. Nina meletakan kembali ponsel Hanssel di atas nakas. Dia keluar kamar dan mencari sarapan paginya.
✲✲✲✲✲✲