
Nina mendengus kesal, dia merasakan bahwa hidupnya tidak sedamai dulu.
"Haish apa ini namanya merindu!!"
"Huhuuu..."
Nina menaruh kepalanya di meja kerjanya, dia sungguh tidak bersemangat saat ini. Sudah sepekan lebih tidak ada kabar dari suaminya. Bahkan kakaknya yang biasa menghantuinya atau Rangga kini ikut lenyap di telan bumi sepertinya.
"I'm so bored!!"
"Huh!"
Nina beranjak dari kursi kebesarannya, dan akan pergi kesuatu tempat.
"Perutku sudah mulai menonjol, beruntung tubuhku tidak semelar dahulu."
"Jika tidak aku jamin Hanssel tidak akan berselera menatapku!!"
Karennina ijin pada sekertaris barunya, dia pergi berjalan-jalan sendiri di sebuah mall di pusat ibu kota.
"Farah sialan, dia juga tidak lagi mengabariku!!"
"Habis manis sepah dibuang hah!!"
Selama perjalanan Nina terus merutuki kesepian yang menderanya. Walau di rumah dia masih mendapat hiburan dari putra sulungnya. Tetapi tidak serta merta menghilangkan rasa jenuhnya.
Nina memasuki salah satu resto kenamaan dan memesan menu makan siangnya. Saat tengah gabut dengan berselancar menggunakan ponsel pintarnya, tiba-tiba dia menangkap siluet seorang pria yang sangat dia hafal. Nina memicingkan kedua netranya, dia mencoba menelaah pandangan matanya pada sosok pria yang tak jauh dari tempatnya duduk.
"Hanssel sialan!!" Rutuk Nina merasa jantungnya di remas kencang.
Dia mendapati suaminya makan siang bersama dengan wanita lain, namun saat ini Nina sedang mencoba berpikir rasional. Mungkin saja ini adalah penyamarannya.
Nina mencoba menghubungi nomor ponsel suaminya. Tersambung namun di depan kedua matanya Nina melihat bahwa suaminya mereject panggilan darinya.
"Hah?!" Nina sulit percaya apa yang terjadi padanya saat ini.
Tidak lama kemudian Nina melihat anggota lainnya yang baru sampai di meja mereka. Sepasang pria dan wanita yang mendadak tidak asing di ingatan Nina.
"Apa itu sekertaris Hanssel?"
"Mengapa harus semesra itu sih!!"
"Dulu gue juga sekertarisnya ga sampe menggelayut manja kek ja*lang minta di jambak!!"
Nina mengepalkan kedua tangannya geram, tapi di banding itu dia justru penasaran dengan pasangan di depan suaminya yang kini menemaninya makan siang.
"Aku pikir Hanssel kembali ke Negara S."
"Kenapa dia tidak mengabari bahkan tidak menemuiku saat disini?"
Perasaan tidak nyaman menjalar di hatinya kembali, Nina ingin mengalihkan kegelisahannya dengan mencoba rasional, mengingat pekerjaan suaminya saat ini bukan lagi hanya sekedar pebisnis. Namun melihat kebersaam wanita lain dan Hanssel menoreh sedikit luka di hatinya. Mereka terlalu dekat dan akrab, sampai-sampai jika memang mereka hanya beradu peran. Mereka sungguh telah memenangkan piala oscar!
Nina mengeluarkan robot lebahnya, dia ingin mengetahui apa yang mereka bahas. Terlebih disana ada suaminya.
"Saya berharap kerja sama bisnis kita berjalan lancar kedepannya."
Si pria asing tengah mengakhiri percakapan mereka karena makan siang tengah di sajikan pramusaji di atas meja mereka.
"Ngomong-ngomong apa ini kekasih anda?" Tanya si pria pada Hanssel.
Hanssel terdiam sejenak, namun saat akan di jawab si wanita telah menjawab lebih dulu. "Ah, kami hanya tidak sengaja kenal baru beberapa bulan ini."
"Nona Luna, aku ingat dulu sekertaris ku mengajukan tender kerja sama dengan Lunarian pembangunan suatu hotel berbintang di Kota B!"
"Oh itu..."
"Benar, tender di mulai bulan depan karena satu dua hal pelaksanaannya kami undur."
"Saya tidak menyangka bisa mendapat kerja sama double dengan Lunarian dan Renald Group juga."
Semuanya akhirnya memutuskan segera menyantap hidangan makan siang mereka.
Nina mendengarkan percakapan mereka menggunakan handsfree, dia menelan salivanya. Dia akhirnya mengingat tentang CEO Lunarian, namun wanita di sampingnya yang mengatakan mereka baru dekat beberapa bulan ini.
"Apa dia kembali kejalan kesesatannya?"
"Aku rasa semua ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan XK!"
"Ah sudah lah, semua ini membuat aku tidak berselera makan!"
***
Rangga terbangun dari tidurnya, dia mendapati tubuhnya hangat. Saat dia bangkit dari posisinya yang menelungkup di pinggir ranjang untuk menemani Yvone dia mendapati selimut berada di atas tubuhnya. Dia juga melihat bahwa Yvone sudah tidak ada disana.
Rangga perlahan keluar kamar yang di gunakan Yvone, dia berfikir Yvone telah jauh membaik saat ini.
Saat pintu terbuka aroma manis menguar di indra penciumannya. Sepertinya Yvone tengah memasak.
"Kau sudah sehat?"
"Mengapa kamu tidak membangunkan ku?"
Rangga menghampiri keberadaan Yvone yang sedang berada di depan kompor area dapur.
"Aku sudah sehat ko kak..."
"Kakak sudah aku bangunkan, tapi sepertinya kakak sangat kelelahan."
Yvone menaruh wajan dan mematikan kompor induksinya.
Dia membalikan wajahnya menatap Rangga dengan senyuman manisnya. Rangga yang baru saja menyambut harinya di beri senyuman semanis gula itu membuat wajahnya memerah seketika.
"Apa kamu tidak istirahat saja?"
"Aku sudah sehat ko."
"Makasih ya kakak..."
"Ini dia aku membuat pancake khusus untuk sarapan kakak, sebagai rasa terima kasihku karena semalaman kakak menjagaku."
Rangga sungguh tersentuh dengan apa yang dilakukan Yvone saat ini.
"Aku mandi dulu ya..."
Rangga menunduk tersipu kemudian berjalan menuju kamarnya dan membersihkan diri.
"Astagaa!!"
"Mengapa jantungku berdetak tidak karuaaan!!" Gumam Yvone lirih setelah melihat sikap pria baik hati yang selalu menolongnya.
Setelah selang 20 menit Rangga menghampiri Yvone. Mereka melakukan sarapan pagi mereka dengan suka cita. Kemudian Rangga mengatakan bahwa dia akan kembali ke Jakarta seperti yang sudah dia bilang sebelumnya. Yvone hanya mengangguk pasrah dengan perkataan Rangga.
"Kamu tenang saja, aku akan menaruh asistenku untuk menemani dan membantumu jika kamu perlu sesuatu."
"Ini kamu pakai..."
"Jika kamu bosan kamu bisa jalan-jalan keluar."
"Tapi ingat kamu harus memberitahukan keberadaan mu pada asistenku dan aku tentu saja."
Rangga menyerahkan black card miliknya, mata Yvone terbelalak dengan lagi-lagi kebaikan pria di hadapannya. Bahkan sampai saat ini Rangga tidak ada melakukan hal yang diluar batasan saat mereka berdua.
Apa aku bertanya sekarang tentang statusnya?
Aih buat apa!!!
"Kak..."
"Hm?"
"Apa kakak sudah punya pacar atau mungkin istri?"
Rangga terkekeh dengan pertanyaan konyol Yvone. "Aku tidak punya keduanya..."
"Statusku adalah Sad Boy!"
"Aku selalu di tinggalkan oleh orang yang aku cintai..."
Rangga menatap kopi di cangkirnya, dia masih bisa membayangkan pantulan wajah Nina di kopi pekat miliknya. Dia kembali merasa hatinya seolah terhimpit.
Pria setampan dan sebaik ini di kecewakan?! Sungguh wanita itu pasti berasal dari pluto!!
"Aku yakin, kelak kakak akan mendapat wanita yang jauh lebih baik dari yang selalu menyakiti perasaan kakak."
Yvone memberikan semangat pada Rangga. Pria itu mengulumkan senyumnya, dan pamit untuk pergi karena jadwal pesawat yang sebentar lagi akan melakukan take off.
✲✲✲✲✲✲