
Setelah selesai berbincang dengan adiknya Keenan keluar dari ruangan Nina melewati Farah begitu saja. Farah yang sempat mendapati prianya keluar dari ruangan terheran dengan kembalinya di kulkas dua pintu yang tidak menganggap dirinya ada.
"Kak!!"
Farah beranjak dari kursinya dan mendekati Keenan. Keenan menghentikan langkahnya tanpa berbalik badan.
"Apa kakak mau makan siang dengan ku?"
Dengan masih di posisinya Keenan mengerutkan keningnya, dan mendengus perlahan. Tiba-tiba Nina keluar dari ruangannya.
"Kuy!"
"Dah lama kan kita ga makan bareng lagi?!"
Dengan sumringah Nina mengapit lengan kiri kanannya dengan lengan Farah dan Keenan.
Glek!
Keduanya tiba-tiba terpaku sulit berucap.
Mengapa mereka bertingkah mencurigakan?
Nina merasakan atmosfer di sekelilingnya mendadak berubah, namun dia tepis mungkin pengaruh kehamilannya yang membuat dia sangat moody akhir-akhir ini. Keenan yang tidak bisa menolak ajakan adiknya dengan sangat terpaksa menurutinya. Sedangkan Farah, antara senang dan tidak karena Karennina akan membuat suasana menjadi sangat canggung nantinya.
Nina menyuruh Farah melakukan reservasi di salah satu restoran yang sudah Nina tentukan. Nina berada di kursi depan dan Farah di belakang. Mereka menggunakan mobil kakaknya dan melaju cepat menuju restaurant. Sepanjang perjalanan hanya ada alunan music jazz yang Nina nyalakan sedari mereka meninggalkan kantor. Leher Farah seakan di cekik hari ini, jika bukan karena hubungan dia dan kakak sepupunya yang sudah sangat intim satu dengan lain mungkin dia akan bertingkah seperti dulu selalu mencairkan suasana. Mengingat keduanya satu spesies yang berasal dari lemari pendinging dengan merk yang sama, mereka adalah es balok yang jika tidak ada keperluan dan pembahasan berarti akan mengheningkan cipta sepanjang masa.
"Tumben lu sekarang banyak diemnya?"
Keenan masih tetap sama tidak banyak bicara, acuh dan dingin. Farah menatapnya sekilas kemudian memalingkan muka dengan mimik mengejek.
Coba kalo di ranjang gue yakin dia bakal bilang "Oh Farah sayaang once more!!"
Bangsaaat memang!!
Farah merutuki kakak sepupunya di dalam hatinya dan membuang mukanya sebal menatap keluar jendela. Tanpa Farah dan Nina sadari Keenan menatap Farah sekilas dari kaca tengah, dan melengkungkan senyumnya tipis.
Dia sungguh menggemaskan... Jika bukan karena ingin melihatnya sejenak aku tidak mungkin mengunjungi Nina.
Keenan kembali fokus pada jalanan yang mulai padat karena sudah jam makan siang. Tiga puluh menit kemudian mereka telah sampai di tempat yang dimaksud. Nina dan Farah bergandengan tangan masuk lebih dulu, Keenan sudah terbiasa menjaga keduanya sedari sekolah menengah.
Mereka telah di tuntun menuju meja makan yang sudah di siapkan terlebih dahulu. Nina duduk di sebelah Keenan dan Farah di hadapan mereka bedua.
"Lu makan apa?"
"Di teraktir kan?"
Farah membulatkan matanya meyakinkan keduanya. Keenan menahan tawanya dengan pura-pura batuk.
"Iya, kita akan memeras pundi Mr. K!!"
Farah menyeringai dia memesan apa yang dia inginkan."
"Lu makan kek babi!"
"Mo hibernasi lu?"
Ejek Nina saat Farah memilih beberapa makanan lebih dari tiga menu.
"Ini namanya perbaikan gizi!"
"Lah selama ini gaji lu kurang?"
"Gue nabung lah biar kebeli berlian!"
"Emangnya kalian yang kaya dari lahir..."
"Gue kalo ga usaha ya babak belur juga!"
"Mana Channel ngeluarin tas baru pula!"
Nina mengusap wajahnya kasar dengan jawaban konyol sepupunya.
"Emang kakak udah ga kasih uang saku buat Farah?"
"Selama ini siapa yang kelola buat kebutuhan keluarga Lee?"
Selidik Nina, dia memang sangat mendetail, terlebih dia merasa mengapa Farah begitu memerlukan usaha keras sedangkan selama ini keluarga Kaviandra telah menjamin finansialnya.
"Aku tidak tahu, orangku yang urus."
"Jika semua hal kecil seperti itu aku urus sendiri aku akan mati kelelahan!"
"Ckck..."
Farah mengejek Keenan dengan muka sebalnya, Keenan terkekeh lirih dengan tingkahnya.
"Jadi kau?" Nina menatap tajam ke arah Farah.
"Aku di beri uang saku tapi aku transfer semua untuk ibu dan Daniel."
"Selama aku bisa usaha sendiri, lagi pula aku sudah bekerja di Suho jadi aku punya penghasilan sendiri."
"Aku tidak ingin selalu tergantung pada keluarga Kaviandra."
"Kalian sudah membantu biaya pengobatan Daniel aku sangat beruntung dan bersyukur!"
Farah tiba-tiba sendu membuat Nina tidak enak hati.
"Maafkan aku, aku hanya ingin memastikan bahwa kamu tidak kesulitan."
"Keluarga kami berjanji akan terus mensupport mu."
"Kamu sudah kami anggap sebagai saudara, bagian dari Kaviandra!"
Deg!
Perasaan kedua insan di samping Nina mendadak tidak nyaman. Keduanya mengeluarkan gelagat yang membuat Nina curiga saat ini. Nina tahu bahwa Farah sangat menyukai kakak sepupunya namun dia pikir itu hanya rasa kagum yang wajar dari seorang adik untuk kakaknya. Nina tidak tahu bahwa sejujurnya kedua insan itu sedang merasakan jatuh cinta bukan perasaan sekedar saudara.
Setelah selesai memesan tidak lama kemudian menu makan mereka sudah di sajikan. Mereka bersiap menyantap makan siangnya.
"Kamu seorang ibu hamil tidak baik jika terlalu pedas!"
Keenan menukar menu steak miliknya dengan adiknya hanya karena Nina menambahkan saos yang banyak, dia juga telah memotongkan dagingnya Nina hanya tinggal melahapnya.
"Bawel!"
Protes Nina dengan menyuap steak yang di suguhkan Keenan, Farah menatap dengan cemburu melihat keduanya begitu mesra seperti sepasang kekasih. Selembut dan sebaik apapun Keenan pada Farah dia tidak akan mengalahkan kelembutan dan kebaikan pria itu terhadap adik dan ibunya.
"Kau tidak apa-apa?"
"Apa mau pulang?"
"Mukamu pucat juga!"
Keenan semakin mendekatkan dirinya dengan adiknya, dia memijit lembut pundak dan punggung adiknya dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Tidak perlu, aku hanya mual."
"Aku ke toilet bentar!"
Nina bergegas beranjak dari mejanya menuju area washroom. Keenan yang tidak pernah tahu menahu akan gejala ibu hamil sungguh mengkhawatirkan adiknya. Dia malah berpikir bahwa dalam makanan Nina terkandung zat berbahaya.
Keenan beranjak mengikuti adiknya, Farah menatapnya pilu.
"Apakah wajar sikapnya terhadap Nina seperti adik dan kakak?"
"Mengapa aku merasa mereka seperti sepasang kekasih?!"
"Oh come on Farah! Ini bukan sekali dua kali kamu melihat kedekatan mereka."
Benar, Farah sudah terbiasa dengan kelakuan Keenan yang berlebihan dalam memanjakan Nina. Dia bahkan sudah hapal bagaimana pria itu mencium pipi Nina erat, terkadang dia memeluk dan menggendongnya. Beda usia Nina dan Keenan memang terpaut cukup jauh sekitar 5 tahun. Keenan sendiri memang menyayangi Nina sedari dia berada di perut ibunya. Ibunya selalu mengajarkan Keenan untuk memberikan kasih sayang pada keluarganya. Namun tidak pada Farah bagi Keenan Farah bukan bagian dari keluarga inti Kaviandra. Farah hadir saat dia sudah masuk universitas. Farah sendiri sangat ingin di perlakukan seperti Keenan memperlakukan Nina sedari dulu.
Hoek... Hoek... Hoek...
Nina memuntahkan seluruh makan siangnya, Keenan sungguh gelisah saat ini.
"Kau sudah selesai?"
Nina terkejut dengan suara kakaknya di balik pintu toilet yang dia gunakan.
"Kakak?"
Nina membuka pintu dengan wajah pucat.
"Kita ke rumah sakit?"
"Hahaha, ini hal wajar bagi seorang ibu hamil!"
"Apa perut mu sakit?"
Keenan menyentuh perut Nina, Nina terpaku dan melepaskan tangan Keenan disana. Walau dia tahu kakaknya seperti apa, setelah bersuami rasanya dia akan merasa aneh dengan tingkah berlebihan kakaknya.
"Aku mau pulang..."
"Kepalaku juga berputar!!"
"Oke..." Keenan memapah adiknya, Nina menggelayut manja di lengan kakaknya.
Mereka berdua menemui Farah lebih dahulu.
"Kau sudah selesai?" Tanya Nina pada Farah yang menghabiskan minumannya. Dia mendadak tidak nafsu makan.
"Kau pesan semua ini tapi tidak kamu habiskan?" Protes Nina.
"Sudah lah, kita pulang sekarang!"
Keenan masih menunjukan raut muka khawatir dan menyuruh Farah bergegas. Farah menunjukan muka kesalnya tanpa berkata apa-apa menuruti keduanya.
"Kakak antar aku pulang dulu ya, baru antar Farah ke kantor."
"Aku titip kantor padamu ya..."
"Siap bos!"
Nina menyenderkan kepalanya di jendela, Keenan memperhatikannya dan menarik lengan adiknya agar kepalanya menyandar di bahunya. Keenan juga mengusap kepala adiknya.
Gue adalah obat nyamuk bakar tahan lama!
Kecemburuan Farah membuatnya frustasi saat ini, dia merogoh ponsel dan berselancar di jagat maya. Dia sudah muak melihat pemandangan di hadapannya. Nina tertidur selama di perjalanan, entah mengapa dia sangat mudah lelah dan inginnya hanya berbaring dan tidur. Keenan mengecup lembut kening adiknya, Nina terbangun dengan gerakan kakaknya.
"Bawa Hanssel ku pulang!!"
"Aku sungguh merindukannya!!"
Tiba-tiba Nina merengek pada kakaknya, Keenan terpaku dengan sikap adiknya saat ini. Terlebih Farah, dia menghentikan aktifitasnya menatap adegan sinetron di depan matanya.
"Heh... Kamu seperti ini karena Hanssel?"
"Tidak!"
"Anaknya yang berulah!" Nina memperlihatkan perutnya Keenan tertawa melihatnya.
"Ayolah kaaaak, ini sudah hampir satu bulan!!!"
"Baru satu bulan, di perjanjiannya satu tahun!"
"Kau tega!"
"Bagaimana jika aku yang menggantikannya?"
Keenan menatap pada adiknya penuh harap.
"TIYDAAAK!"
"Kamu ini cari lah wanita lain!"
"Pacaran kek kayak pria normal!"
"Ganteng sama tajir doang cewek ga punya."
"Malu-maluin!!"
Braak!
Nina keluar mobil kakaknya.
"BUAHAHAHAHAHAHAHAHAHHA!"
Pecah tawa Farah mendengar ocehan Karennina pada kakaknya.
"Puas kamu?" Keenan menatap Farah dengan wajah kesal, seketika Farah menutup mulutnya dan menggeleng kepalanya.
✲✲✲✲✲✲