Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 143 - Loving you is a losing game!



"Menarik!"


"Sepertinya kamu tidak tahu wanita mu tengah mengandung bukan?!"


"HAHAHAHA!"


Bertambahlah kesenangan Wijaya melihat ekspresi Keenan.


"Apa yang kamu inginkan?" Keenan menarik kembali senjata dari hadapannya.


Kamera pengawas yang memperlihatkan keadaan Nina tidak berjalan mulus. Hanssel terkepung dengan semakin banyaknya anak buah Wijaya yang memblokir jalan mereka menuju rumah sakit. Nina sudah tidak sadarkan diri, dia kehilangan banyak darah saat ini.


Farah terbangun, ruang kaca tertutup itu kini terbuka. Secepatnya Farah membanjiri wajahnya dengan air matanya dengan terus menggelengkan kepalanya. Seperti dugaannya Keenan akan menolongnya namun dia justru berharap Keenan tidak kemari. Sebelum dia menerima injeksi virus, Wijaya telah memberitahunya jika Keenan menolongnya maka tempat ini akan menjadi kuburannya.


Keenan melengkungkan senyumnya, bisa melihat Farah terbangun memberinya sedikit kekuatan.


"Adik mu tengah sekarat, tanpa perintahku seluruh rumah sakit Negara S tidak akan ada yang membukakan pintunya!"


"Dengan demikian bisa dikatakan hidup dan mati adik mu ada ditangan ku!"


"Daaan....."


Tik!


Anak buah Wijaya yang telah melakukan persiapan kini menghampiri Farah, memakaikan rompi yang terdapat peledak seperti TNT dengan daya ledakan yang cukup menghancurkan bangunan dan sekitarannya.


Keenan semakin kesulitan bernafas, untuk pertama kalinya dia di hadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit. Farah terus menangis dan menggelengkan wajahnya. Dia sangat putus asa, dia tidak pernah mengira semenjak pertemuannya tak terduga di kamar mandi kamar Keenan mengantarkannya hingga seperti saat ini.


Tuhan, jika saat itu aku tidak melakukan hal bodoh dengan bersembunyi di kamar mandinya? Apa mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi? Aku tidak pernah ingin menjadi bebannya, bahkan harus bertaruh dengan nyawa Karen juga.


Farah menatap nanar Keenan dengan air mata yang terus jatuh dari tempatnya. Dia menggelengkan kepalanya perlahan mengucapkan "No..." Berharap Keenan tidak memilihnya karena bagi Farah Karennina juga segalanya.


"Aku bersumpah aku akan menyeretmu ke dasar neraka terbawah Wijaya Saputra!!"


"Hahaha, it's okay..."


"Jadi apa pilihan mu?"


Jeritan Hanssel untuk membangunkan Nina yang tidak sadarkan diri dengan terus meletuskan senapannya. Bahkan kini mereka tengah kehabisan peluru.


"Shiiit!"


"Sayaang, maafkan aku..."


"Tidak masalah yang penting kita mati bersama..."


Terlihat Hanssel memeluk Nina erat, mereka belum juga mendapat jalan keluar untuk menuju rumah sakit. Wajah Nina sudah memutih dengan tubuh yang mulai dingin. Keenan menutup matanya, saat membuka mata air matanya menetes begitu saja.


"Aku memilih Farah!" Tukas Keenan pasti tanpa keraguan.


"TIDAAAAAAAAAAAK!!"


"TIDAAK KAK!"


"SELAMATKAN KAREN AKU MOHON!!"


"UMURKU HANYA SAMPAI DISINI!!"


"Akuu mohooonn...."


Farah sungguh sesak, ingin rasanya dia bunuh diri saja saat ini. Agar Keenan tidak perlu repot menyelamatkannya. Seperti diketahui dia telah di injeksi virus. Persentasi kehidupannya hanya 30% saja akan menjadi sia-sia jika Keenan memilihnya. Belum lagi kemungkinan yang lainnya.


"HAHAHAHAHAHAHAHAHA!"


"Aku sungguh terharu dengan cinta kalian, bahkan kamu merelakan adik mu demi wanita yang belum tentu bisa bertahan hingga esok hari!"


Keenan tetap pada pendiriannya, dia tidak bergeming sama sekali. Beruntung salah satu anak buah Wijaya menghampiri tuannya dan membisikan sesuatu! Keenan mengambil kesempatan itu untuk memberi pesan singkat pada Sam untuk melakukan sesuatu pada Nina. Dia mengirim rekaman yang barusan dia buat di jam tangannya dan mengirim langsung pada milik Sam.


"SIALAAAAAN!"


PRAAAAAANG!!


"WANITA JAAA*LAAANG!!!"


"AZLAN HABISI KEENAN SAAT INI JUGA!"


"AKTIFKAN BOM ITU SEKARANG JUGA!!!"


"TIDAK ADA SATUPUN DARI KALIAN YANG AKAN LOLOS DARI KEMATIAN HARI INI!!"


"AZLAN PASTIKAN MEREKA MATI ATAU KAMU YANG AKAN MENGGANTIKAN POSISINYA!!"


Bola mata Farah membulat saat detektor peledak menyala dan menghitung waktu mundur. Begitu pula Keenan dia segera menarik senjata dan membidik Wijaya yang akan keluar dari bangunan itu.


DOOORRRR!


DOOORRRR!


PRRRAAAANG!


Azlan sungguh menanti waktu ini, menghabisi nyawa Keenan saat ini juga akan menjad sebuah prestasi di kancah jaringan hitam. Kaca jendela Farah kembali tertutup, para anak buah keluar dari ruangan meninggalkan Farah sendiri dalam ruang tertutup dan membantu Azlan menghabisi Keenan.


"BAJINGAN!!!" Umpat Keenan kembali membidik beberapa anak buah yang melindungi tuan Wijaya.


DOR!


DOR!


DOR!


Bug!!


Azlan mendekati Keenan dan melayangkan pukulan, Keenan beringsut dan menghindar, dengan cepat dia kembali dalam posisi membidik Azlan. Tapi pria itu justru menyeringai, dengan menggunakan dorongan kaki kanannya senjata Keenan terhempas.


Brraak!


Azlan kembali melemaskan otot lehernya, bersiap melakukan jiu jitsu dengan melayangkan pukulan pada kakinya. Keenan bisa membaca gerakan lawan, dia tak kalah ikut menyerang. Beberapa teknik bela diri sudah Keenan pelajari. Dia sangat yakin bisa menang, hanya saja prioritasnya adalah Farah!


Perhatian Keenan terbagi dua, terlebih beberapa anak buah Azlan masih melayangkan tembakan padanya. Dengan bantuan EYES dia sudah membidik keseluruhan musuh yang akan dia tembak dalam satu kali itu. Dia mengeluarkan senjata lainnya di dalam jasnya.


Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!


Dengan terus menghindari serangan Azlan, pria itu menghabisi anak buahnya lebih dahulu.


Buuug!!


Traaak!


Keenan terhempas, dia menyeka sudut bibirnya yang terkena pukulan kaki Azlan.


"Aku pikir kamu sekuat apa?"


"Ternyata hanya segini sajaaa!"


"Hiyyyyaa!"


Azlan melakukan ancang-ancak untuk kembali menjatuhkan tubuh Keenan. Beruntung Keenan melihat samurai di dinding bangunan.


"Aargh!"


Azlan menerima satu sabetan pasti dari pedang panjang itu di lengan kirinya yang membuatnya terluka dan memercikan darahnya.


"Cih!"


Dengan cepat Azlan juga menarik samurai di sisi dinding lainnya. Kini keduanya duel menggunakan pedang.


Traang!


Traang!


Traang!


"KAU SUNGGUH MEMBUANG WAKTU KU!!" Umpat Keenan.


SLEEEB!


Satu tusukan pasti Keenan layangkan pada perut bagian bawah Azlan. Azlan sendiri kerepotan jika harus menggunakan pedang. Karena salah satu tangannya di potong paksa oleh Wijaya saat tidak sengaja Azlan menembak putranya di insiden tahun lalu.


"ENOUGH!" Makian Azlan tak kalah lantang di hadapan Keenan. Luka di perutnya yang mulai mengeluarkan darah di gubris oleh pria tinggi tegap itu.


Traang!


Traang!


Traang!


TIK... TIK... TIK


Penghitung waktu mundur terus terdengar membuat Farah frustasi, jiwanya semakin tertekan sudah tidak bisa di jelaskan lagi bagaimana debaran jantungnya saat ini. Dia kembali menjerit histeris saat dia merasakan suatu benda cair mengalir di area bawah miliknya.


"Tidaaaaak!"


Maafkan ibu nak... Jika ada kehidupan lain doa ibu hanya meminta dipertemukan dengan mu sayang dan menebus segala kesalahan ibu selama ini!


Karennina... Kak Keenan... Ibu... Daniel... Bibi... Paman... Jimmy... Maafkan aku yang sanagt lemah!


Saat tengah bertarung Keenan selalu memperhatikan gerakan Farah. Dia tidak punya waktu banyak lagi.


SLEEEB!!


"AARRGHHH!" Azlan memuntahkan cairan amis darah dari mulutnya.


Keenan tengah menusukan samurai tepat di jantung pria itu.


"Kau sungguh berani menyentuh wanita ku!"


"Ini adalah balasannya!"


"Sampaikan salam ku pada Raja Neraka!"


"AARRKKK!!"


Keenan semakin menusuk dalam samurainya hingga tembus di bagian belakang badan musuhnya.


BRUUKK!


Keenan bergegas menuju depan ruang kaca dia tidak mempunyai waktu untuk memutar. Dia membidik kaca besar di depannya dengan jam tangannya.


Praaaaang!


Farah menutup matanya erat dengan masih menundukan wajahnya.


"Cutie..."


"Maafkan aku!"


Farah mendongak, dia kini menatap Keenan yang sudah berada di tempatnya. Wajah Farah tengah sembab oleh tangisnya. Keenan mencium kening Farah erat menghapus bulir air mata yang terus mengalir. Dengan pisau tajam miliknya Keenan melepas tali yang mengikat tangan dan kaki Farah. Betapa terkejutnya Keenan saat darah menetes dari tempat duduk Farah.


Keenan mengepalkan tangannya erat, dengan cepat dia mengaktifkan kembali EYES dan memecah kode pada bom di depannya. Sejujurnya dia bisa lari tapi resiko saat kemungkinan dia tidak berada dalam radius jarak aman ledakan tidak menguntungkan mereka. Masih tersisa satu menit lagi dia terus menunggu EYES mengeluarkan kodenya dia mengeratkan pandangannya menyalurkan energinya pada sistem. Air matanya telah jatuh, kedua jemari tangan Farah membelai wajah Keenan.


Kini pandangan Keenan mengarah pada wajah manis kekasihnya.


"Tinggalkan aku disini..." Lirih Farah putus asa.


"NO!"


"AKU BELUM MENGHUKUM MU!!"


"KAMU BERANI MENIPU KU FARAH LEE!"


Keenan kembali mengarahkan pandangannya pada bom waktu, tersisa 50 detik lagi.


TIK... TIK... TIK


"Kak..."


Keringat dingin Keenan terus mengalir di keningnya. "COME ON!!!!"


TIK... TIK... TIK


"KAK!!"


"KAKAK MASIH SEMPAT UNTUK PERGI!!"


"SHUT UP!!!"


TIK... TIK... TIK


Tersisa 20 detik lagi, tubuh Farah sudah sangat lemas mendengar bunyi waktu yang terus berlalu.


TIK... TIK... TIK


"Jika pun aku tidak berhasil, aku sungguh terhormat bisa mati bersama mu Farah Lee!!"


Farah menggelengkan kepalanya berulang kali.


TIK... TIK... TIK


"Jika ada kehidupan lain, aku bersumpah aku tidak akan terjun di dunia hitam ini."


"Aku..."


"Aku akan langsung menikahi mu, menjadi pebisnis yang kaya dengan satu atau dua anak yang menggemaskan!"


"Aku mencintaimu Farah Lee..."


"Maafkan aku..."


TIK... TIK... TIK


Lima... Empat... Tiga... Dua... Satu...


✲✲✲✲✲✲