Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 136 - Battle (2)



"Aku tidak menyangka selera humor tuan Don begitu mencengangkan!" Ejek Keenan dingin.


"Terima kasih pujian anda!" Ucap Don tak kalah dingin.


Kraaak!


Keduanya sudah sama-sama saling menunjukan senjata mereka masing-masing dihadapan keduanya.


"Apa anda ingin bertaruh peluru mana yang lebih dulu bercokol di kepala?!" Ujar Keenan tanpa ragu.


"Haha, gaya dingin ini memang Mr. K sekali.."


"Aku masih ingat......"


DOR!


Tanpa basa-basi Keenan menarik pelatuknya dan ternyata keahlian menghindar tuan Don masih tetap unggul buktinya dia bisa menghindari peluruh timah panas yang hampir mengenai bahunya.


"Kamu sungguh memuakan!"


"Bagaimana jika aku menyuruh anak buahku di KL menembak Farah Lee di tempat!!" Umpat Don kesal.


DEG!


Untuk urusan ketenangan Keenan memang sangat profesional. Dia menyunggingkan senyumnya. Dia sudah tahu pada akhirnya Farah dan Karen tentu akan mereka gunakan untuk menyerang mentalnya.


"Do it!"


"Tapi sebelum itu aku pastikan mereka tidak akan sempat menarik pematik ke arah wanita ku!"


"Mereka lebih dulu berjumpa dengan Raja Neraka!"


"HAHAHAHHA!!"


"Jadi manusia jangan terlalu sombong!"


"Takutnya menahan malu teramat sangat saat semua gertakan itu hanya bualan saja!!"


Gertakan Don berhasil membuat Keenan emosi dan kembali menarik pelatuknya menembakan ke arah Don langsung!


DORR!!!


Keenan dan anak buahnya berpencar dan mereka tidak akan berhenti melakukan baku tembakan sampai ada yang bertahan maka dia pemenangnya.


***


Hanssel telah membawa nona Luna yang tengah pingsan dengan menggunakan EYES dia menghindari orang yang masih di tugaskan Don mengikuti mereka.


Dor!


Chang tengah melayangkan tembakan pada ban mobil musuhnya hingga mereka terhindar dari kejaran musuh.


Karennina aku bersumpah jika sesuatu terjadi padamu dan anak kita aku akan melenyapkan siapapun yang berani melakukannya!!


Pikiran Hanssel terus menerus mengkhawatirkan istrinya. Dia ingin segera menyelesaikan tugasnya membawa nona ketiga ke bandara.


"Chang, setelah ini aku akan serahkan urusan di Bandara padamu dan Jia!!"


"Baik tuan serahkan pada kami..."


"Oh iya tuan, Aku mendapatkan informasi dari tuan Sam bahwa nona Karen telah selamat menuju kediaman tuan Keenan."


Tanpa disadarinya dia menangis tenang. "Benarkah?!"


"Benar tuan, tuan Sam sendiri yang mengkonfirmasinya."


"Bagus...."


"Baguss sekali...."


Hanssel mempercepat laju kendaraannya dan semakin dekat dengan Bandara dimana titik terakhir tugas mereka. Dengan akses khusus pihak bandara membuka kan pintu area VVIP.


Kini mereka berada di depan Jet Pribadi tuan Wira. Disana telah berjejer beberapa pengawal pribadi yang langsung di bawahi oleh tuan besarnya sendiri.


"Siang tuan!"


Kim Jia membuka pintu dimana nona ketiga mereka terbaring.


"Apa yang terjadi?!"


Disaat bersamaan sebuah Limousin mewah menghampiri mobil mereka.


Hanssel dan beberapa pengawal lainnya membungkukan badan mereka. Tuan Wira dan Istrinya tengah berada di tengah-tengah mereka. Sang Nyonya besar menghampiri tempat dimana Hanssel membawa putri mereka.


"Saya tidak tahu pasti nyonya, namun saat baku tembakan terjadi Nona sudah pingsan."


"Paah!!" Seru nyonya besar pada suaminya.


Secepatnya tuan besar menggendong putrinya, alih-alih menggunakan Jet pribadi menuju Aussie nyatanya tuan besar membawa nona ketiga memasuki Limousin.


"Terima kasih sudah membawa Luna aman sampai disini."


"Mulai dari sini kalian fokus mencari markas mereka dan habisi seluruh anak buah Wijaya!"


"Jangan biarkan mereka hidup satu orang pun!!"


Titah tuan besar sebelum akhirnya mereka meninggalkan bandara tanpa mereka tahu kemana tujuan akhir mereka.


Hanssel kembali memasuki mobil beserta Chang dan Kim Jia. Tujuan mereka adalah kediaman Keenan.


Di negara B kota KL.


Trrriiingg!


"Selamat siang tuan..." Sapa ramah Farah.


"Hormat kami nona..."


"Ada apa ini?!" Tanya Farah kebingungan.


"Kami adalah utusan tuan Keenan."


"Beliau meminta kami menjaga nona, saat ini kondisi tidak menguntungkan."


"Beberapa orang musuh kami tengah mengincar anda."


"Mari ikut kami, tuan meminta anda menuju Villa agar lebih aman."


Deg!!


Mendadak perasaan Farah tidak nyaman, jantungnya berdebar dengan cepatnya. Dia beringsut mundur.


"Nyonya ini identitas kami, dan ini pesan dari tuan Keenan."


Dengan tangan bergetar Farah memastikan kebenaran yang di ucapkan pria asing di hadapannya. Farah menelan ludahnya, dia mengatupkan bibirnya.


"Saya harus gimana?!"


Farah akhirnya mengikuti kedua pria itu dan membawanya pergi dari tokonya.


Di satu sisi lainnya di Negara S.


Dor!!


"Kak!!" Pekik Yvone ketakutan.


Rangga terus fokus mengendarai mobilnya menuju lokasi yang telah di siapkan Karenina sebelumnya.


Ngiuuuung... Ngiuuuung... Ngiuuuung...


Sirine mobil pihak kepolisian setempat menggaung di indra pendengaran mereka silih berganti. Kini mereka tengah kacau dengan serangan brutal yang di lakukan terang-terangan pihak Wijaya.


DOOOOR!!


Kembali mobil mereka di serang oleh tembakan musuh yang menginginkan mereka menepi. Terlihat dari kaca tengah, pengawal yang di berikan Nina tengah membantu mereka menghardik serangan. Namun mereka sungguh terdesak. Mereka kalah jumlah!!


Buuum!!


Betapa terkejutnya Rangga saat mobil pengawal mereka meledak di belakang mobilnya. Secepatnya dia menekan pedal gas, Yvone tengah histeris melihat apa yang tengah terjadi saat ini.


Cekiiiiiit!!!


Rangga menghentikan mobilnya mendadak.


Bruuk!!


Badan keduanya terlontar membentur dashboard dan kemudi. Rangga menelan salivanya. Mobilnya telah di hentikan sempurna oleh pihak musuh yang telah lebih dulu memblokir jalan keduanya dengan beberapa mobil mereka yang sudah menutupi akses jalan.


"KALIAN CEPAT KELUAR SEKARANG!!" Seru pria yang memiliki perawakan tinggi tegap dan menyeramkan dengan warna kulit yang lebih gelap. Diikuti beberapa orang yang dalam waktu bersamaan kelaur dari mobil mereka dan mengepung Rangga.


"YVONE CAROLINE!!"


"KELUAR KAMU SEKARANG JUGA JIKA INGIN KEKASIH MU ITU SELAMAT!!"


DEG!!


Yvone tersentak, mereka benar-benar menginginkan dirinya. Rangga menggenggam tanganny erat.


"Kamu ingat kan di mansion kamu harus seperti apa?!"


"Setelah ini aku akan alihkan perhatian mereka."


"Saat itu kamu pergi dengan mobil ini meneruskan menuju tempat yang sudah Karen siapkan!!"


"Tapi kak!!" Yvone ingin menolak, dia masih tidak memiliki keberanian saat ini. Jika dia bisa memilih tentu saja dia memilih menyerahkan diri pada mereka membuat prianya selamat namun ucapan Nina terus menggema di pikirannya.


"Musuh kita tidak pernah memiliki nurani."


"Bagi mereka kesempatan kedua itu tidak ada!"


Bisa jadi memang begitu adanya, walaupun menyerahkan diri saat ini bisa jadi prianya masih tetap diburu.


"Aku yakin kamu pasti bisa Yvone..."


"Ingat, Karen mempertaruhkan segalanya untuk mu!!"


"Begitu pula aku!"


"Aku akan bertaruh agar kamu pergi dengan selamat!!"


Yvone sudah tidak bisa lagi membendung air matanya yang mengalir semakin deras.


"Kenapa kak..."


"Kenapa kalian sangat baik padaku!!"


Rangga terdiam sejenak, mengukir kan senyum manisnya mengangkat wajah Yvone dengan tangannya perlahan.


"Karena kami manusia yang memiliki hati nurani."


"Sesama manusia pasti akan saling membantu."


"Memanusiakan manusia hanya orang terpilih yang bisa melakukannya."


"Salah satunya Karennina."


"Aku belajar banyak hal darinya!"


DOR!!!


Seruan musuh di hadapan mereka kembali menggema dengan tembakan peringatan. Rangga bisa mengambil kesimpulan Yvone tidak boleh terluka. Buktinya mereka bisa saja mengarahkan tembakan langsung mengarah padanya namun mereka tidak melakukannya.


✲✲✲✲✲✲