Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 109 - Mimpi Buruk!



Tiiiit... Tiiiit... Tiiiit...


Alarm keamanan ruang penyimpanan barang pelelangan berdering dengan sangat nyaring. Yvone bergegas melakukan tugasnya. Dia tengah mencuri batu giok yang akan di lelang di pasar gelap nanti malam. Pelelangan itu di adakan khusus diperuntukan bagi kalangan tertentu dengan undangan yang terbatas dan tahap seleksi yang ketat.


"Sial!!"


"Aku tidak menyangka bahwa tempat ini memiliki keamanan berlapis!!"


Yvone segera melakukan pelariannya, dia menaruh giok itu di tempat aman di tas selempang kecil miliknya. Dia berlari dengan kecepatan super flash. Dia memanfaatkan sumber daya yang baru saja dia terima dari sekelompok orang yang tengah menyandera keluarga besarnya.


Hah! Hah!


Yvone terengah, dia berjongkok mengusap peluh yang menetes dari dahi hingga dagunya.


"Aku tidak menyangka anak buah tuan Gilbert memiliki kekuatan yang mumpuni mengejarku yang sudah segesit ini!!"


"BERHENTI DISANA!!"


DOOORR!!


Yvone menghindar dengan cepat, dia menggunakan perisai yang telah di sediakan sistem pembantunya.


Traaang!


Peluru itu memantul mengenai perisai.


Doorrr!!


Yvone menarik pematik senapan yang dia keluarkan saat ini, menembak ke arah drum yang menumpuk di sisi jalan membuatnya berserak. Dia akan mengulur waktu para penjaga dengan menghalangi jalan mereka.


Bruuuuggg.... Bruuuuggg....


"SIALAAAN!"


Huuhh!


Yvone kembali berlari dan memasuki sebuah kendaraan mini van yang telah sengaja menunggunya. Setelah dia memasuki mobil dengan cepat sang supir melajukan mobilnya dan meninggalkan tempat perkara. Sirine kecemasan menggaung membuat Yvone kembali membalikkan dirinya ke belakang. Anak buah Gilbert berhamburan mencari pelaku tindak pencurian barang pelelangan.


"Good girl!" Ujar tuan Don menatap nyalang Yvone.


"Berikan!"


"TIDAK!!"


Tuan Don kembali menatap nyalang.


Kraaaak! anak buah sisi kiri kanannya kini menodongkan senjata kearah Yvone.


"Aku ingin melihat keluargaku terlebih dahulu!"


"Hahahaha!!"


"Kau sudah berani bermain-main dengan kami hah!!!"


Yvon menunduk takut, dia memeluk erat tas kecil miliknya. Terdengar suara tawa mereka pecah saat melihat respon Yvone saat ini. Kedua anak buah Don memasukan kembali senjata mereka dan mobil melaju dengan kencang meninggalkan area perkotaan Negara S memasuki distrik terpencil. Dengan tampilan yang mengecoh masyarakat awam yang melihatnya area itu hanya ada danau yang tenang tanpa ada bangunan apapun. Namun saat Don mengeluarkan ID Access miliknya sebuah pintu masuk terbuka membawa mereka kedasar danau yang merupakan tempat mereka bekerja.


Sebuah laboratorium bawah tanah yang di bangun untuk menciptakan senjata biologis bagi umat manusia. Mereka memperjual belikan obat ilegal itu di dalam jaringan hitam. Pelanggan mereka bukan sembarang pelanggan, obat ini tidak diperjual belikan bebas walau orang mampu membelinya. Kriteria khusus si founder Huateng Group memperketat siapa yang boleh membelinya.


Yvone baru pertama kali dibawa ketempat ini. Tubuhnya sedikit bergetar ketakutan, ada beberapa jeritan yang terdengar di indra pendengarannya. Dia berharap salah satu jeritan itu bukan berasal dari keluarganya.


Setelah kasus papanya yang mempertahankan perusahaannya yang akan di ambil alih paksa oleh saudaranya selesai. Masalah yang lebih besar muncul saat tuan Albert menjadi salah satu pemasok senjata special bagi para anak buah tuan Wijaya. Tuan Albert tidak sengaja menemukan sumber daya itu di dalam museum penyimpanan barang antik miliknya. Tuan Wijaya tertarik dengan senjata tua yang bisa dia modifikasi menjadi senjata paling berbahaya dengan menggunakan beberapa unsur giok tua yang berada di pelelangan tuan Gilbert.


"Papaaaa!!"


Hati Yvone merasa sesak, melihat pria yang tengah merakit beberpa persenjataan di sebuah ruangan kaca yang tidak bisa dia temui saat ini.


"Dimana ibu dan adik ku?!!"


Tuan Don menyunggingkan senyum sinisnya, dia membawa kembali Yvone ke salah satu bilik dimana merupakan sebuah dapur perusahaan. Ibu dan adiknya di paksa bekerja menjadi koki dan pelayan yang akan menyediakan makanan para karyawan tanpa di bantu oleh siapapun selain keduanya. Yvone menumpahkan air matanya, keluarganya yang harmonis dan ceria kini tengah dalam keterpurukan. Dia melihat wajah ibu dan adiknya yang tengah kelelahan. Jika mereka mencuri waktu untuk beristirahat maka algojo di samping akan melayangkan peringatan keras bagi mereka dengan memecut cambuk di depan mereka.


Ibu.. Yovanka... Aku bersumpah aku akan membebaskan kalian cepat atau lambat.


Yvone sendiri justru di angkat menjadi mata-mata karena sumber daya yang dimiliki Yvone di atas rata-rata. Dengan hobinya membaca mengenai informasi apapun di perpustakaan mengantarkannya mendapat posisi lebih baik di banding keluarga yang lain. Wijaya memanfaatkan gadis ini untuk di tempatkan di salah satu anak buah XK yang sudah membuat mereka geram atas penangkapan tuan Lim.


"Apa kamu sudah mendapatkan apa yang aku inginkan?"


Tuan Wijaya saat ini tengah berkunjung ke laboratorium miliknya, semua yang mendengar suara tuannya tengah menundukan tubuhnya. Menghormati satu-satunya pria yang mereka junjung tinggi bahkan sangat mereka takuti di dunia ini.


Yvone tertegun, dia menelan salivanya penuh ketakutan luar biasa. Tubuhnya bergetar mencoba beringsut mundur.


Belum sempat mundur tangan Wijaya tengah mencekik leher Yvone. "Bawakan adiknya kemari!!"


"Baik Tuan!"


"Aarr!!"


Yvone mulai kesulitan bernafas, dia kekurangan suplai oksigen kedalam tubuhnya.


Bruug!


Tubuh ringkih Yovanka di banting kehadapan tuan besar mereka.


"Arrgh..." Rintih Yovanka.


"KAKAAAAAK!" Pekik Yovanka saat dia mendongakan wajahnya melihat kakaknya tengah tersiksa dengan cekikan dari tangan dingin tuan besar.


Brruukk!!


Tubuh Yvone terhempas di lantai, Yovanka ingin segera berlari memeluk kakak tercintanya namun di cegah oleh salah satu anak buah tuan Don.


"Kaakaaaak!!" Jerit ketakutan Yovanka membuat jantung Yvone seolah lepas dari tempatnya.


Kraaak!


Pria itu juga menodongkan senjata tajam tepat di atas kepala Yovanka.


Wijaya bersimpuh dengan tatapan tajam, dingin dan tenang di depan wajah Yvone.


"Berikan padaku dan lakukan tugasmu berikutnya."


"Jika tidak nyawa adik kesayanganmu hari ini sebagai gantinya!"


Tubuh Yvone lemas seketika...


"AAAAAARRRGHHH!!"


Yvone menjerit terbangun dari mimpi buruknya.


Braaak!


"Feliii!"


"Apa yang terjadi?!"


Rangga yang memang sudah bangun lebih dulu mendengar jeritan kencang Yvone membuatnya bergegas memastikan keadaan gadis itu di kamar.


Dengan nafas yang tersenggal, mata merah dan berkaca yang kini air matanya telah tumpah ruah, tubuhnya bergetar hebat. Secepatnya Rangga mencoba menenangkan Yvone, namun gadis itu pingsan. Rangga terkejut dengan yang hal yang tiba-tiba ini. Dia menidurkan Yvone kembali, bergegas mencari ponselnya dan menelpon dokter pribadinya.


Setelah menunggu kurang lebih 15 menit dokter telah tiba di kediamannya.


"Dia sepertinya ada aktifitas abnormal pada gelombang saraf di kepalanya."


"Seperti yang anda ketahui juga, nona dalam pengobatan gangguan kejiwaan yang cukup riskan."


"Saya sudah menyuntikan obat penenang, saat ini biarkan nyonya beristirahat."


"Saya sarankan agar nona tidak memiliki aktifitas yang berat yang akan mempengaruhi hormon dalam tubuhnya."


"Dia bahkan bisa bereaksi hanya karena terlalu senang atau terlalu bersedih."


Rangga terpaku mendengar dengan seksama, dan mengantarkan dokter menuju pintu keluar. Rangga kembali menuju kamar Yvone, mengusap peluh yang keluar di kening Yvone dengan handuk kecil secara lembut.


"Kamu tenanglah..."


"Aku akan selalu berada di sampingmu."


"Jika ada seseorang yang menyakiti mu."


"Beritahu aku..."


"Aku akan menyelesaikan mereka."


Cup ~


Rangga mencium kening Yvone lembut. Menaikan selimut di tubuh Yvone dan meninggalkannya untuk beristirahat.


✲✲✲✲✲✲