
Rangga tercekat, ini memang kesepakatan terakhir tanpa sepengetahuan Yvone, mereka juga menggunakan Yvone menjadi alat untuk menemukan markas mereka.
Dengan berpura-pura seperti tengah menghindar mereka justru akan menuntun ke tempat dimana Yvone berada. Nina telah menempelkan robot pengintainya yang tidak terlihat di tubuh Yvone. Berharap tidak ada yang menyadarinya dan berhasil sampai, apa yang mereka inginkan tercapai.
"Maafkan aku, aku hanya khawatir tentang kondisi mu!"
"As you can see me now..." Nina melengkungkan senyum manis diwajahnya yang kini kembali hangat seperti yang Rangga kenal selama ini.
Bukan wanita kejam barusan yang dengan tangan sendiri membunuh pria dewasa kuat hanya menggunakan tangan kosong.
"Be carefull!"
"You too!"
Nina menggerakan tangannya membagi pasukannya sebagian untuk Rangga dan sebagian lagi mengikutinya.
Yvone telah sampai di tempat yang telah di tentukan, sebuah Villa besar milik Keenan yang lain di bagian ujung timur Negara S. Dengan pemandangan langsung pantai yang memisahkan Negara S dengan Indo.
Yvone membuka pintu dan perlahan berjalan, beberapa pengurus Villa tengah menyambutnya. Seperti yang sudah di persiapkan sebelumnya Nina memang telah mengkoordinasikan segala sesuatunya.
"Anda pasti nona Yvone?!" Sapa ramah wanita paruh baya yang menyambutnya di ambang gerbang masuk.
"B-benaar..."
"Mari masuk nona..."
"Di luar tidak aman!"
Yvone bergegas mengikuti langkah sang perempuan. Yvone kini tengah berada di halaman belakang, setelah membersihkan diri dan para pelayan telah menyiapkan kudapan untuk dia makan.
"Siapa keluarga nona Karen sebenarnya?!"
"Mereka begitu misterius dan begitu peduli!!"
"Dengan segala kemewahan dan kecanggihan serta senjata yang tak biasa."
"Sepertinya mereka seorang mafia."
Yvone membenamkan wajahnya di kedua lutut yang tengah dia apit dan dirangkulnya erat. Yvone terisak, dia begitu mengkhawatirkan keadaan Rangga. Perasaan tidak nyaman terus bercokol di hatinya.
"I'd rather be beside you in a bad day, than safe and warm by myself!" Gumam Yvone lirih merindukan pria yang selalu ada di samping untuk melindungi dan menolongnya.
Dor!!
"YVONE CAROLINE!!"
Debar jantung Yvone berdebar kencang. Mengapa ada yang bisa menemukannya?
"KELUAR SEKARANG ATAU AKU LEDAKAN KEPALA PEMBANTU WANITA INI!!"
Dengan cepat Yvone berlari menuju asal suara.
"JANGAAAAN!!"
"Apa yang kalian inginkan?!"
"Hahhaha!"
"Bukankah sudah jelas kami ingin membawamu!!"
"Tenang saja kami tidak akan bertindak kasar padamu!!"
"Ikut dengan kami dan mereka yang ada di sini aman!"
"J jang ann non... Ja ngan pe duli kan kami!" Ujar perempuan yang begitu ramah padanya.
"La ri no naa!!"
BRUUG!!
Yvone menutup mulutnya saat melihat wanita yang mencoba menyelamatkannya itu pingsan akibat pukulan di tengkuk lehernya yang di lakukan salah satu anak buah tuan Don.
"Aku akan ikut dengan kalian!!"
"Lepaskan merekaaa!!"
Senyum para penjahat itu mengembang, mereka tidak perlu membuang energi kali ini.
Maafkan aku kak Rangga, nona Karen... Aku sendiri tidak tahu harus seperti apa saat ini... Mereka akan terus memburuku! Lebih baik aku tidak menyusahkan kalian lagi...
Yvone beranjak dari Villa dan mengikuti salah satu pria muda yang kini menuntun Yvone ke mobil mereka dengan senapan laras panjangnya.
Setelah kepergian Yvone para pengawal itu menghubungi tuannya.
"Nona, Yvone sudah mereka bawa!"
***
"Apa benar ini Villa kakak Keenan?!" Tanya Farah.
"Benar nona..."
"Silahkan anda beristirahat sejenak."
"Tapi aku tidak bisa terus bersembunyi disini terus bukan?"
"Ibu dan adik ku bagaimana?!"
"Hmm...." Ken tengah berpikir keras, seketika bunyi dering ponselnya memecah lamunannya.
"Iya tuan, nona sudah di rumah!"
"Tambah keamanan!!!"
"Aku sudah mengirim beberapa pasukan kesana."
"Ingat jaga nyawanya dengan baik!!!"
"Aku mengandalkan mu!!"
DOOORRR!!!
"TUAAN!!"
Ken terkejut saat suara tembakan menggaung di ujung sambungan yang kini terputus.
"Adaa apa?!"
Farah yang tak sengaja atau lebih tepatnya menguping mendengar suara tembakan dan dia yakin yang menghubungi orang asing itu adalah Keenan. Debar jantungnya tidak menentu, dia sangat takut sungguh takut. Tidak pernah dia pikirkan sebelumnya bahwa akan berada di kondisi seperti ini dalam keadaan dia tengah mengandung besar.
Aku pikir aku akan baik-baik saja, tujuanku pindah ke KL untuk menghindarinya. Tapi nyatanya aku tetap terseret masuk kedalamnya. Aku juga yakin saat ini aku menjadi bebannya!!
Farah menekan dadanya mengatur pernafasannya.
"Nona muda tenang saja, di lapangan Tuan Keenan tidak pernah gagal dalam menjalankan misi."
"Bahkan musuhnya tidak akan pernah luput dari pandangan tuan muda."
"Dia terkenal dengan kekejamannya."
"Lebih baik menghindar di banding melawan karena sudah di pastikan akan kegagalan."
Ken membesarkan hati Farah, Farah melengkungkan senyum pahitnya, hatinya masih berkecamuk hebat.
"Nona, jangan pernah jauh dari pengawasan kami!"
"Walaupun berada di rumah ini."
"Kami hanya berlima saat ini, tapi nona tenang tuan Keenan sudah....."
Dor!! Dor!! Dor!!
Farah menutup mulut dengan kedua tangannya, keringat dingin sebesar biji jagung kini menghiasi wajahnya.
"SHHIIIITT!!" Ken mengambil pistol dan melindungi nyonyanya.
"BEN?!" Ken menyerukan nama temannya.
Dor!! Dor!! Dor!!
Ken menarik tangan Farah membawanya ke ruangan kamera pengawas, Ken butuh melihat situasi di luar. Tentu saja menyembunyikan nyonyanya.
Betapa terkejutnya Ken saat Beni temannya telah bersimbah darah. Jumlah musuh sangat berlebihan bahkan yang berada disini adalah....
"Keluarlah Ken!"
"Kau sudah terkepung, serahkan kekasih tuan mu!"
Farah terus menahan isak tangisnya agar tidak bersuara. Ken mengepalkan tangannya, dia tidak punya pilihan selain mati terhormat.
"Nona, dibalik pintu ini adalah jalan rahasia menuju garasi!"
"Saya akan mengalihkan perhatian mereka."
"Nona secepatnya keluar dari sini, pakai Maybach hitam paling ujung. Mobil itu sudah di lapisi anti peluru dan lari lah sejauh mungkin!"
Tut!
Ken mengaktifkan SOS yang berada di jam tangan Farah yang langsung akan memberikan info bahaya pada tuan besar dan asistennya.
"Sebentar lagi akan ada yang menolong nona!"
Farah menggeleng kepalanya, dia tidak rela jika pria yang di depannya mempertaruhkan nyawanya demi melindunginya.
"Senang bisa melayani anda nona!!"
"Walau cuma sebentar!!"
"Yakinlah tuan Keenan akan segera datang!"
Dor!! Dor!! Dor!!
"Sekarang pergi lah mengendap, di garasi ada beberapa orang yang berjaga. Aku akan menuntun mereka menjauhi area itu!"
"Hati-hati nona..."
"Anda tengah mengandung bukan?!"
"Tuan pasti sangat bahagia saat ini!!"
DEEGGG!!!
Farah sudah tidak bisa lagi berkata-kata, perasaannya gamang dan ketakutan luar biasa!
"KENNI KELUAR KAU SEKARANG ATAU AKU LEDAKAN TEMPAT INI SEKARANG JUGA!!!"
Kreeek!
Ken keluar dari ruang pengawas, dia tidak percaya bisa melihat Azlan yang merupakan tangan kiri tuan Wijaya dalam menghabisi nyawa musuh mereka. Sejajar dengan asisten Lee. Hanya saja Asisten Lee tidak pernah mengotori tangannya dengan kekerasaan maka itu Azlan yang bertugas melindungi tuannya. Biasanya Azlan tidak pernah jauh dari tuannya. Dia berada disinu berarti masalah sudah sangat besar.
"Aku sungguh terharu bisa sampai membuat tuan Azlan sendiri turun gunung dan menyambut ku!!"
"Cih!" Azlan yang berperangai buruk meludah dengan wajah yang tidak bersahabat.
Kraak!
Azlan menodongkan pistol ke depan Ken. "Aku ingin tahu bagaimana reaksi Keenan saat mengetahui semua pengawal terbaiknya mati saat ini?!"
"Kau sudah mengikutinya berapa lama?!"
"5 tahun... 7 tahun?"
"Oh iya 10 tahun!!"
"Sangat disayangkan!!"
"Say something untuk tuan mu sebelum aku lenyapkan nyawamu!"
"Mungkin dia akan mengenang dan mendoakanmu!"
DOOR!!!!
Faraah yang tengah berjalan melalui lorong rahasia menutup telinganya menutup matanya erat, dengan berderai air mata terus menerus kemudian melanjutkan langkahnya.
Dor!! Dor!! Dor!!
✲✲✲✲✲✲