
Hanssel telah berada di apartemennya, dia dan Rangga berpisah setelah sampai di Airport. Niat awal pergi minum di Bar namun Hanssel membatalkannya dengan alasan lelah. Alasan utamanya adalah sekertarisnya telah benar-benar memporak-porandakan perasaannya saat ini.
"SIAAALAN!!"
PRAAANG!
Hanssel masih sangat emosi dia bahkan tengah melempar gelas winenya. Dia kembali menyuruh Farell merapikan rumahnya. Dia bergegas menuju suatu tempat.
***
Apartemen Piony, 9 PM.
"Sayang kamu sudah bersih..." Dengan perasaan yang masih tidak percaya dia akhirnya bersama dengan putranya kembali. Dia mengenakan piyama tidur untuk putranya. Sekembalinya ke ibu kota Nina langsung mengajak putranya berbelanja semua keperluan pribadi putranya, di mulai dari pakaian, sepatu, tas, topi dan aksesoris lainnya.
"Kamu tunggu nonton tv dulu ya... Sekarang giliran ibu mandi."
"Baik ibu..." Dengan patuh dan manis Jimmy mendengarkan ibunya.
Nina tak henti mengecup kedua pipi Jimmy bahagia.
Ting... Tong...
Terdengar suara bel pintu depan, membuat Jimmy menolehkan kepala mungilnya.
"Ibuu ada tamu... Apa perlu aku buka?"
"Buka aja sayang paling itu om Rangga..." Jawab Nina dari dalam kamar mandi.
"Baik ibu..." Jimmy bergegas membuka pintu rumahnya.
"Halo..."
"WOOAAAH.. Mr Teddy Big Bear!!!" Pekik Jimmy takjub.
Rangga menembunyikan dirinya di balik boneka besar yang dia siapkan untuk hadiah pertemuannya bersama pangeran kecil.
"Kau suka?" Kini wajah rangga keluar dari bilik kepala besar Teddy Bear.
"SUKAAA!!" Jimmy memeluk erat boneka yang 2 kali lebih besar dari dirinya.
Dia sangat bahagia, pasalnya ayah kandungnya sendiri jarang memanjakannya. Bahkan dia selalu tertekan berada di keluarga Shin. Jika bukan di perlakukan baik oleh pengasuhnya selebihnya dia hanya akan mendapat caci dan makian saja.
"Boleh om masuk?" Tanya Rangga yang belum di persilahkan masuk oleh Jimmy.
"Oh iya om maaf Jimmy keasikan meluk Teddy!!"
"It's okay... Kau bisa menggendongnya.."
"I can't!!" Tangan mungilnya tidak bisa sepenuhnya merangkul tubuh besar boneka itu membuat Rangga terkekeh.
"Kamu bisa menyeretnya jika kamu mau... Atau Om bantu membawanya ke dalam?"
"Okaaaaay...."
Keduanya masuk kedalam rumah kemudian terdengar bunyi pintu kamar mandi terbuka. Rangga tertegun tidak berkedip melihat Nina yang hanya berbalutkan handuk kimono dengan handuk lainnya yang terbelit menutup kepalanya. Rangga menelan salivanya.
"Ibu lihat apa yang aku dapatkan... Om Rangga sungguh baik!!!"
"Beuuhh..." Ujar Nina takjub dengan boneka raksasa itu.
"Sampai jam berapa? Udah makan?" Ajak Nina tidak memperhatikan bahwa Rangga sedang dalam mode freeze.
"Ehm.. Baru sampai 30 menit yang lalu..." Ujarnya kemudian duduk di sofa tanpa merasa canggung.
"Sudah bilang terima kasih belum?" Tanya Nina pada putranya.
"Oh iya..." Jimmy kembali menghambur pria yang disukainya saat ini.
"Thank You so much uncle!!!"
"You're my favorite person after my mom!!"
Ocehnya menggemaskan membuat haru kedua orang dewasa di dalam rumah itu. Keduanya berpelukan mesra dan saling melempar candaan. Nina memasuki kamarnya mengenakan pakaian tidurnya kemudian bergabung di ruang tengah.
"Kamu mau minum apa?" Tanya Nina beranjak menuju dapur.
"Apapun..." Ujarnya kembali menceritakan sebuah cerita untuk Jimmy yang tengah memeluk bonekanya.
Nina mengulumkan senyumnya dan segera menyiapkan tamunya minuman beserta kudapan malam. Dia juga merasa sangat lapar. Dua puluh menit berlalu dan Nina telah selesai mempersiapkan makan malam yang kemalaman itu.
"Tidur ya..." Tanya Nina setengah berbisik.
"Ssttt..." Ujar Rangga mengangguk khawatir membangunkannya.
"Aku bawa ke kamar ya..." Tanyanya kemudian.
"Maaf aku cuma sempat masak ini..." Ujar Nina menghidangkan mangkuk nasi dan mendorong beef teriyaki yang dia buat.
"Aku sangat menyukainya justru...." Ujarnya kemudian berdoa dan memulai makan malamnya.
"Terima kasih..." Rangga telah selesai dengan makan malamnya dia menyeruput air mineralnya hingga tandas.
"Perfekto as always!!!"
"Di Inggris aku benar-benar merindukan masakanmu..." Ujarnya kemudian.
"Suruh siapa lanjut S2 kesana..." Gurau Nina yang kini menenggak gelas minumnya.
"Ya namanya galau di tinggal merried ama orang yang di sayang yang ga pernah sayang balik!" Ujarnya sarkas.
Nina tertawa geli, "Rangga... Maaf, aku tidak tahu mengapa aku lebih nyaman kamu..."
"Ya... Ya... Ya... Terjebak Friend Zone!!" Rangga kembali kesal.
"Marathon drakor?"
"Kamu mau menginap disini?"
"Boleh emang?"
"Idih kayak baru pertama aja bro!!!" Ujar Nina merapikan bekas makan mereka.
Rangga mengulumkan senyumnya dan membantu Nina. Memang semasa kuliah di US Rangga selalu mengunjungi kakak kelasnya itu. Dengan alasan meminta makanan gratis, dia sangat menyukai masakan Nina. Awal mula dia sangat menyukai Nina, selain cantik dan pintar. Kakak seniornya itu sangat pandai memasak. Tempat mereka tinggal kebetulan bersebelahan makanya Rangga bisa berkenalan dengan Nina bahkan memendam perasaan bertahun-tahun lamanya.
Keduanya kini tengah duduk bersama dan memutar salah satu film pendek. Rangga duduk mendekati Nina, Nina merasa biasa saja jika dengan bocah itu entah mengapa. Tampilannya yang terlalu imut untuk seorang pria tampan. Bahkan Nina tidak segan selalu mencubit kedua pipi Rangga jika sudah terlalu gemas!
"Huh!" Rangga membuang nafasnya dengan kasar.
Membuat Nina tersadar dan menatapnya. "Kenapa bro?"
"Kamu bisa pake kamar di depan sini, tidur duluan?"
"Bagaimana kalau kita tidur bersama?!" Goda Rangga.
Nina membuang muka dengan ekspresi mengejek. Entah mengapa Nina kurang menanggapi serius setiap hal berbau mesum jika yang melakukannya Rangga. Seolah merasa Rangga tidak mungkin mampu melakukan hal hina itu di depannya. Dia terlalu tahu sifat Rangga yang baik hati dan gentlemen.
"Kak..." Goda Rangga mendekati Nina.
Nina menatap dengan tatapan menggelikan "Apaan sih!!" Nina memukul wajah Rangga dengan bantal sofa kecil persegi itu. Namun dengan cepat Rangga menangkap lengan Nina. Nina terpaku beberapa saat, di jatuhkannya tubuh Nina di sofa. Nina masih belum bereaksi apa-apa, dia justru tengah berpikir mungkin jika dia melakukan hal mesum dengannya chemistry keduanya bisa dibangun. Nina merasa terbebani dengan semua pengorbanan Rangga selama ini namun dia masih belum bisa menerima cinta bahkan dia belum bisa membalas cinta Rangga.
Rangga semakin mendekatkan wajahnya, nafas keduanya memburu. Dengan gemetar Rangga mengusap lembut rambut dan wajah cantik Nina. Dia menelan salivanya, dia semakin mendekatkan dirinya. Satu tangannya menahan bobot tubuhnya di dinding agar tidak menyakiti wanitanya. Nina menutup matanya dengan perasaan yang mendebarkan. Ini kali pertama dia kembali melakukan hal ini setelah perceraiannya dengan Erick terlebih dengan sahabatnya sendiri saat ini.
Jarak wajah mereka hanya tinggal satu helaan nafas saja, dengan lembut Rangga menyentuh bibir Nina dan mencoba menyesapnya perlahan. Awalnya dia ragu namun ternyata mendapat respon dari Nina dan disambut baik olehnya. Nina yang sudah sangat ahli tengah membuka bibir pria di depannya dan bermain dengan lidah di dalam rongga mulut pria polosnya.
Sial, ada yang sudah berdiri tegak namun bukan keadilan!!!
Rangga menarik tubuh Nina dalam satu tarikan menghadap dirinya. Nina tersentak dan tidak hanya berhenti disitu Rangga mendudukan Nina dalam pangkuanya. Kemudian kembali mendorong wajah Nina mengarah padanya dan menyesap kembali sesuatu yang lembut dan manis seperti pie lembut yang menjadi favoritnya saat ini. Nina yang sama tengah tersulut hasrat yang telah lama dia pendam menjadi lebih agresif kali ini dia membuat gerakan maju dan mundur pada tubuhnya sontak membuat Rangga berhenti dan tidak meneruskannya.
"CUKUP!"
"Aku akan menikahimu lebih dulu!!!" Rangga mendorong tubuh Nina dari tubuhnya. Kemudian dengan wajah yang hampir seperti kepiting rebus dengan sesuatu yang sudah menonjol di bawah sana membuat Nina refleks terbahak. Si pria tengah sangat malu dengan hasratnya yang sudah di ujung tanduk dia bergegas menuju kamar mandi.
"HAHAHA!!"
"Terima kasih Rangga..." Lirihnya.
Rangga membalikan badannya "Jangan harap aku akan melepaskanmu Karennina!"
Nina masih melanjutkan tawa kerasnya.
BRAAAAAK!!
Rangga membanting pintu kamar mandi keras. Nina beranjak dari kursinya, dia mengambilkan pria itu handuk bersih dan baru.
Tok... Tok... Tok...
"Rangga, ini handuknya..."
Rangga membuka pintu dia menyembunyikan badannya dan menerima handuk dari Nina. Nina dengan sengaja menggenggam tangannya.
"Terima kasih, kamu tidak menyapu bersih harga diriku..." Bisik Nina sendu.
Rangga semakin mengeratkan pegangan tangannya. "Aku di didik menjadi pria baik-baik, aku sangat mencintaimu Nina... Aku tidak akan merusakmu sebelum waktunya."
Entah mengapa bulir bening itu menerobos tumpah dari tempatnya.
"Terima kasih..." Tidak ada yang bisa Nina ucapkan selain kata ini.
✲✲✲✲✲✲