
Keenan melepas tautan dari bibir candu kekasih kecilnya. Keduanya telah berada kembali di pelataran rumah keluarga Lee.
"Besok aku pulang ke Negara S, Karen di sana."
"Apa kamu tidak ingin ikut?"
Deg!
Aku sungguh merindukan Karen, tapi dia akan menyadari perut ku!
"Maaf kak..."
"Aku tidak bisa meninggalkan ibu dan Daniel..."
Keenan menatap lekat tambatan hatinya, seolah ada sesuatu yang di sembunyikan dari setiap gerak geriknya.
"Apa kamu sedang tidak enak badan?"
"Eh?!" Farah mengerutkan keningnya.
"Kau pakai sweater longgar gitu..."
"Tapi kamu ga demam..."
Keenan menaruh telapak tangannya di dahi wanitanya.
Bagaimana jika aku mengakui kehamilan ku?! Apa dia akan menyuruhku aborsi?!
"Iya..."
"Aku demam karena menahan rinduu!!"
Farah mengalihkan kecurigaan prianya, jika dia menyibak bajunya niscaya dia tidak bisa mengendalikan apa yang akan terjadi berikutnya.
Keenan mengulum senyumnya dan kembali mencium Farah. Dia sungguh enggan berpisah dengan wanitanya.
"Tunggu aku ya sayang, secepatnya aku akan meminang mu..."
Keenan merogoh saku jas nya membuka kotak kecil yang sudah bertahtakan cincin indah disana. Farah menutup mulutnya tidak percaya, seketika air matanya tumpah ruah. Dia menggeleng kan kepalanya tidak percaya.
"Wanna be my lady cutie?!" Ujar Keenan lembut penuh cinta.
Farah semakin tercekat, entah mengapa semua udara tertahan di tenggorokannya, dia kesulitan mengatakan sepatah kata sekalipun bahkan rasanya dia gagal bernafas.
Walau ini kurang romantis tapi aku tetap syok dan ini tetap unbelievable banget buat aku!! Terima kasih tuhaaan...
Farah menganggukan kepalanya perlahan dengan terus berlinang air mata. Dengan perlahan Keenan menarik tangan kanan Farah mulai memasukan cincin permata di jari manis calon istrinya.
Farah semakin dibuat terharu cincin itu pas sekali di jarinya. Dengan design simple yang sangat dia sukai dia begitu bahagia, saking bahagianya dia tidak bisa lagi mengungkapkannya dengan kata-kata.
"Jaga baik-baik dirimu..."
"Aku sangat mencintaimu dan akan sangat merindukan mu..."
Tak henti-hentinya kedua orang itu kembali mempertontonkan ciuman pada pembaca.
"Aku akan selalu setia menunggu mu disini."
"Aku juga sangat mencintaimu Mr. Keenan."
"Aku akan berusaha menjaga diriku sebaik mungkin, begitu pula hatiku."
Ingin rasanya aku selalu membawa dia kemanapun aku pergi. Walau aku yakini dia akan menjadi beban pekerjaan ku karena musuh ku akan mengetahui kelemahan ku.
Farah melambaikan tangannya dengan perasaan bahagia yang membuncah hatinya. Dia kembali memasuki rumah setelah Keenan memberikannya isyarat untuk memasuki rumah lebih dulu.
Farah membuka pintu, saat dia berjalan ke ruang tengah betapa terkejutnya dia ibunya berada disana masih menunggunya.
"Ibu belum tidur?!" Sapa Farah lirih.
Farah semakin gelisah saat tatapan nyalang ibunya di lemparkan padanya saat ini juga.
"Jujur pada ibu Farah."
"Apa ayah dari bayi mu tuan Keenan?!"
DEEEGG!!!!
Air matanya tidak bisa di ajak kompromi sedari tadi juga ikut terus keluar tanpa bisa dia kendalikan tubuhnya membatu saat ini.
"Ibuu..."
Farah ingin mengelak, namun dia begitu lelah dengan hidupnya saat ini. Dia lelah terus membohongi orang-orang. Hanya karena tidak ingin membebani orang-orang yang dia sayang dia lebih memilih dirinya sendiri yang menanggungnya.
"Bagaimana bisa Faraah?!" Ibunya kini terisak dan terjatuh di lantai.
"IBUUUU!!!"
Secepatnya Farah memeluk tubuh ringkih ibunya. Keduanya sama-sama terisak.
"Ibu tidak sengaja melihat kalian bermesraan di dalam mobil!"
"Apa tuan Keenan mempermainkan mu?!"
Farah menggeleng dengan senyuman menenangkan ibunya. "Dia berjanji akan menikahi ku bu..."
"Hanya saja dia mencari waktu yang pas karena kesibukan pekerjaannya."
"Faraah..."
"Ibu hanya ingin mengingatkan kita ini siapa dan mereka itu siapa?!"
Farah terpaku, apa mungkin ibunya tidak akan merestui dirinya.
"Bagi tuan Keenan mendapat wanita yang seperti apa dari kalangan atas tentu saja sangat mudah!"
"Ibu hanya ingin melindungi mu..."
"Kita tidak sebanding dengan mereka!!"
"Terlebih kamu sudah di angkat menjadi bagian dari keluarga mereka!!"
"Apa tuan besar Kaviandra dan nona Karen merestui kalian?!"
Deg!
Farah hanya terpaku tidak menjawab, baginya semua perlakuan prianya sudah menunjukkan pria itu serius dan bertanggung jawab terhadapnya.
Setiap perkataan cinta Keenan membekas di hati Farah, wanita itu begitu yakin prianya menempatkan dirinya di dalam lubuk hatinya. Buktinya sampai saat ini Keenan selalu menemuinya bahkan selalu memberikannya kejutan-kejutan yang tidak pernah dia duga sebelumnya.
"Ibu tidak perlu khawatir ya!"
"Jika mereka tidak merestui ku, aku sudah pasti tahu diri."
"Hanya saja aku sangat mencintainya bu..."
"Sedari dulu, saat dia mengulurkan tangannya membantu keluarga kita, sampai saat dia terjebak dengan pengaruh racun atau saat dia mencoba menghindari takdir kami."
"Aku sudah terlanjur mencintainya..."
"Aku juga percaya, pada akhirnya dia mengakui perasaannya."
"Dia meminang ku bu!"
Farah memperlihatkan cincin yang bertengger indah di jari manisnya. Nyonya Lee hanya tersenyum dalam balutan air mata. Bagi keluarga kecil seperti mereka pilihan terbaik mereka hanya mengikuti kemana arah takdir menuntun kehidupan mereka selanjutnya tidak bisa menuntut lebih.
"Ibu hanya mampu mendoakan kebahagiaan mu Farah."
"Maafkan ibu..."
Keduanya berpelukan bersama "Apa dia sudah tahu kehamilan mu ini?!"
Ibunya membelai perut Farah yang beliau tahu tengah dia sembunyikan sampai menggunakan pakaian begitu longgar.
"Aku belum siap bu."
"Terlebih semua ini akan membebani sebagian pekerjaannya."
"Aku tidak ingin menjadi bebannya..."
Ibunya tersenyum bahagia, karena pada dasarnya mereka memang berhutang budi yang begitu banyak pada keluarga Kaviandra terlebih semua keuangan mereka memang di sokong atas perintah tuan muda Keenan.
***
Nina masih berada di Negara S untuk memantau Yvone, dia meremote kerjaan Suho dari sana, Jimmy Nina titipkan pada kedua kakek neneknya beralasan bahwa putranya merindukan keduanya.
Beruntungnya mereka tidak mencurigai sesuatu. Hanssel juga kini telah berada di Negara S. Dia kembali menugaskan pekerjaan Adamson pada Farell.
"Tuan apa anda tidak akan memberikan aku cuti sebagai belas kasih kah?!"
"Cuti?!"
"Lalu siapa yang akan berada disini?!"
"Kalau begitu apa anda tidak ingin menaikan gajiku beserta bonusnya?!"
"Aku yakin sebentar lagi aku akan mengidap Andropous dini terus kerja rodi beginii!!"
Farell tengah mengeluh saat tuannya akhirnya kembali ke Adamson Group.
"Makanya cari cewe!"
"Kerja mulu!!"
"Lahhh yak memperkerjakan aku tanpa belas kasih siapaaa?!!"
Ingin rasanya Farell mengutuk tuannya namun apa daya.
"Baiklah, saat putra ku lahir dengan selamat aku akan memberikan mu gaji sebesar gaji CEO!"
"Benaarkaaah??!!" Wajah Farell kini berbinar.
"Tapi kenapa harus tunggu nona muda melahirkan?!"
"......."
Hanssel sejujurnya asal bicara namun entah mengapa perasaannya begitu tidak enak.
"Farell siapkan aku penerbangan ke Negara S siang ini."
"Sudah dua hari aku tidak menyentuh istriku!"
"Baru dua hari!!!" Rutuk Farell tidak percaya.
"Gimana rasanya jadi aku yang seumur hidup ini belum pernah merasakan menyentuh wanita?!!"
"Salah mu sendiri kenapa salahin aku?!!" Sungut Hanssel akhirnya kesal, sedari dia datang Farell terus mengomel sama saat Nina menjabat sekertarisnya, jika ada yang tidak dia sukai akan mengoceh sepanjang waktu.
ð– ‡ F A R E L L ð– ‡
✲✲✲✲✲✲