
Nina menenggak seluruh air yang berada di gelasnya. Begitu pula Rangga.
"Karen, aku juga pasti ada di pihak mu..."
"Aku hanya ingin tahu alur cerita yang terjadi dengan kalian."
"Aku juga belum sempat menyelidi lebih jauh." Ujar Nina membuka akses komputernya.
"Kakak ku memblok aktifitas ku."
"Dia tidak ingin aku kembali terlibat."
"Makanya saat ini Hanssel yang menggantikan tugas ku."
"Aku pun sedang hamil, memasuki trimester kedua ini mood ku hancur total."
"Bahkan aku juga merasakan staminaku merosot tajam."
"Aku tidak sekuat dulu..."
"Jadi Hanssel mengikuti mu?"
"Iya..."
"Jika tidak dia tidak di restui oleh kakak ku untuk mempersuntingku."
"......."
Aku mengerti, jika aku yang menjadi pria Karen, aku juga akan terjerumus dengan sendirinya.
"Rangga..."
Nina mengibaskan tangan di depan wajah Rangga.
"Iya..."
"Apa kamu menguburkan Yvone dengan layak?!"
"Eh..."
Kini debaran jantung Rangga berpacu dengan cepatnya, dia menelan salivanya.
Apa aku perlu jujur atau merahasiakannya. Dunia tahunya Yvone sudah mati di tangan Keenan. Aku juga sudah mengganti wajah dan identitas Yvone. Sepertinya tidak mengapa membohongi Karen kali ini...
Maafkan aku Karen, benar seperti kakak mu bilang. Kamu tidak perlu lagi terlibat.
"Iya, tapi sebelumnya aku mengautopsi jenazahnya."
"Kamu memang benar di dalam tubuh Yvone banyak sekali jenis racun."
Nina menerawang, dia juga ingin sekali membantu kakaknya. "Aku ingin tahu apa saja itu?"
"Di pelelangan pasar gelap beredar obat yang sedang melejit saat ini."
"Namun lagi-lagi Keenan memblokir akses ku!!"
"Aku ingat, Yvone meracik kopi dengan memasukan senyawa halusinogen berbahan dasar LSD."
"Yvone sungguh sangat polos dan bodoh."
"Dia melakukan hal itu di sarang penyamun."
"Kantor ku ini terpasang ribuan CCTV tak kasat mata yang tersambung langsung dengan gadget kakak ku."
"Mereka bahkan bisa melacak dengan mudah hanya karena hawa seseorang yang melonjak dan mencurigakan dengan bantuan inframerah."
"Rangga, aku pikir Yvone memiliki motif khusus menjadi mata-mata di pihak musuh ku."
"Bisa kah kita bekerja sama?"
"Eh?!" Rangga terpaku dengan ucapan Nina.
"Karen, aku lebih setuju dengan kakak mu agar kamu tidak lagi mengurusi hal membahayakan ini."
"Aku tidak bisa!"
"Aku dan kakak ku terikat."
"Aku juga harus punya sesuatu kunci yang akan menolongku di saat terdesak kelak."
"Tta ta pi..."
"Please...."
"Hanssel sudah berada langsung di bawah Keenan, di tubuhnya bahkan di tancap alat penyadap tanpa sepengetahuannya."
"W h a t ?"
"Jika aku bekerja sama dengan Hanssel, kakak ku akan menyadarinya."
"Keenan sungguh gila jika sudah bekerja."
"Dia tidak akan melewatkan sesuatu dan tidak akan melakukan kecerobohan sekecil apapun."
"Dia manusia setengah robot yang sudah di cuci otak nya!"
"Tangannya begitu haus darah, dia tidak akan berpikir dua kali dia juga tidak akan mengendalikan tubuhnya hanya sebuah perasaan."
Rangga membuka mata dan mulutnya lebar.
"Aku juga menjadi tertarik mendalami kasus ini, selain ini berkenaan dengan dirimu dan keluarga besar mu. Ini juga sebuah kejahatan skala internasional."
"Orang tua ku tidak mengetahui kesesatan kami."
"Mereka berada di kawasan jalur tidak tersentuh."
Rangga mendengus kasar. "Keluarga Albert merupakan pemasok persenjataan pada suatu oknum."
"Tapi sepertinya itu tidak di sengaja dan ada unsur paksaan."
"Karena mereka baru melakukannya beberapa bulan terakhir."
"Aku ingat, aku yang membantu beliau memenangkan kasus sabotase kepemilikan perusahaan miliknya."
"Perusahaan itu nyatanya memang sudah di salah gunakan oleh adiknya."
"Orang yang menguntit Yvone, bukan lah orang tuan Albert."
"Saat aku curiga aku bergegas mengunjungi kediaman besar mereka."
"Hasilnya nihil."
"Keluarga besarnya tidak ada dirumah."
"Bahkan aku yang penasaran mendobrak paksa untuk masuk kedalamnya."
"Betapa terkejutnya aku saat kondisi kediamannya seperti baru saja dimasuki maling."
"Semua berantakan, CCTV mereka terhapus sempurna."
"Aku juga sama yakinnya, Yvone hanya pion yang di gunakan pihak musuh mu."
"Di dalam tubuhnya, selain zat LSD ada senyawa yang jauh lebih berbahaya."
"Yaitu Dopamin, di ekstrak dengan beberapa senyawa lainnya jika di gabungkan menghasilkan gangguan pada kejiwaan seseorang."
"Kau benar, ini adalah senjata biologis yang mumpuni untuk melenyapkan nyawa seseorang tanpa meninggalkan jejak."
"Obat ini seharusnya tidak serta merta membuat pasiennya terbunuh seketika."
"Namun kasus Yvone aku yakin si tuan besar ingin mencuci tangan mereka dengan meninggalkan jejak keterlibatan mereka pada kematian Yvone."
"Setelah di telaah, obat ini bertujuan agar si penderita memilih mati di banding hidup."
"Karena semasa hidupnya mereka akan sangat menderita."
"Jelas mereka akan memilih untuk mengakhiri hidup mereka dan terbebas dari kesakitan yang semakin mendera."
"Manusia itu makhluk paling serakah bukan?" Nina menyeringai, dia tidak mengerti mengapa ada saja sekelompok orang yang berusaha merusak tatanan kehidupan manusia. Hanya karena sebuah ambisi melayangkan nyawa seseorang tidak menjadi persoalan selama hajatnya terpenuhi.
***
"Hans sayaaang akhirnya kamu mendatangi ku!"
"Kau sungguh lama..."
Sambut Sarah di depan pintu apartemen miliknya.
"Maafkan aku,"
"Aku sedikit sibuk dengan pekerjaan ku."
Hanssel memberikan senyuman nakal dengan perasaan jijik. Jika bukan karena pekerjaan dia tentu tidak mau melakukan hal ini. Apalagi saat ini Nina mulai tidak mempercayainya.
"Ayo masuuuk!"
"Aku sungguh merindukan mu..."
"Aku sudah menyiapkan wine terbaik."
"Bukan kah ini masih siang?"
Hanssel mencoba menjaga jarak, rubah betina di depannya memang sanagt agresip. Hampir saja dia diperkosa oleh wanita liar di depannya.
"Haans, kau sungguh tidak mencerminkan pria nakal!"
"Aku semakin sukaaaa..."
"Kamu polos dan....."
Kerlingan mata sarah di depan wajah Hanssel membuat pria itu menelan salivanya. Hanssel sudah berkeringat dingin, dia sedang berusaha mengalihkan pembicaraan dengan wanita liar di depannya. Dia juga sedang berpikir untuk kembali memasukan obat tidur di gelas minumnya seperti yang sudah-sudah.
"Dan apa?" Tanya Hanssel sedikit menggoda agar dia mudah mengelabui.
Sarah menyeringai, dia membelai wajah mulus Hanssel. Sarah aku dia sangat tergoda dengan paras tampan Hanssel. Apalagi Hanssel tidak aktif menyerangnya, dia lah yang selalu memberikan sentuhan sensualitas pada dirinya.
Sarah mendaratkan bibirnya di bibir Hanssel, degub jantung Hanssel berpacu dengan cepatnya. Hanssel sdah tidak sabar dengan aksi arogan wanita di depannya dia mengangkat tangannya dan bersiap menembakan peluru bius pada wanita yang mulai membuka mulut Hanssel dengan mulutnya.
"Dan pandai menipuku!"
Hanssel tersentak saat tangannya di kunci oleh tangan Sarah. Aksinya terbongkar saat ini!
Sarah melepas kasar cengkraman tangannya. Dia berdiri dan beranjak menuju area bar. Dia tengah menyiapkan wine terbaiknya.
Tik!
Sarah menjentikan jemarinya, sebuah layar proyektor di tengah rumah memperlihatkan sebuah rekaman seorang wanita yang membuat debar jantung Hanssel semakin tidak karuan.
Nina!
"Istrimu sangat cantik, aku dengar dia sedang mengandung anak mu?"
"Benar demikian?"
Hanssel merasakan esofagusnya di jejal bola api yang menyala membuat dia tidak bisa mengucapkan sepatah kata.
"Haha, kamu salah sayaaaang..."
"Dia bukan siapa-siapa ku!"
"Kamu mendapat informasi sampah seperti itu dari mana, hahaha!"
"Kamu tahu sendiri hubungan kita sudah lebih dari sekedar teman biasa."
"Bukan kah demikian?!"
Tanpa keraguan Hanssel mencoba menyelamatkan Nina.
"Oh ya, jika begitu sniper ku tidak masalah bukan menembaknya."
"Walau dari jarak yang lumayan tapi peluru itu akan tepat menembus kepala wanita di hadapannya."
DEEG!!!!
Hanssel membulatkan matanya, ingin rasanya dia menembak mati wanita itu saat ini juga.
"Kamu cemas?" Sarah mendekat dengan menggoda Hanssel membuka tali kimononya.
Glek!
Apa yang akan di lakukan rubah betina ini?
"Kamu tidak perlu berpura-pura Hans!"
"Aku tahu segalanya..."
"Kau lihat gelas di depan istri mu itu?"
"Kamu tidak tahu bukan jika aku sudah menyuruh anak buahku menaruh racun di dalam air itu."
"Tenang saja, racun itu tidak berbau, tidak berwarna dan tidak juga berasa."
"Namun efeknya akan langsung terlihat saat satu tegukan mengalir di tenggorokannya."
"Dia dan bayinya akan mati saat itu juga!"
Sarah membisikan semua kata tepat di belakang telinga Hanssel. Hanssel sungguh buntu saat ini. Walau dia tahu keahlian Nina, tapi siapa yang bisa menebak apa yang sudah di siapkan anak buah Wijaya di luar pengawasannya.
Aku sudah mengerahkan semua anak buahku untuk melindungi Nina dan Jimmy. Mereka tidak mengatakan hal yang berbahaya, bahkan saat ini mereka juga belum melapor dengan keberadaan sniper di gedung sebelah Suho!
"Apa yang kamu inginkan?" Gumam Hanssel lirih.
"Sederhana saja sayang..."
"Puaskan aku maka aku akan memberitahu anak buahku untuk menyingkirkan gelas itu!"
"Bagaimana?"
✲✲✲✲✲✲