Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 73 - Happy but not Ending



Rangga memasuki boutique dan memilih beberapa pakaian yang akan di kenakannya serta memilih beberapa lagi pakaian yang sama untuk teman Hanssel lainnya yang masih berada di ibu kota.


Nina tengah mencoba gaun pengantin dengan gaya Empire Style. Karena dia tengah hamil maka dari itu dia memilih gaun yang sesuai dengan kondisi tubuhnya saat ini. Dia juga tidak ingin membuat perutnya tersiksa karena lingkar atau garis potongan gaun yang seharusnya di pinggang, dengan model gaun ini dipindahkan ke bagian tepat di bawah dada.


Dia juga memilih warna putih classic yang tidak terlalu banyak corak yang to much. Namun masih terkesan mewah. Hanssel selalu menatap Nina penuh kebahagian. Tidak pernah terbayangkan dia akhirnya memutuskan mengakhiri masa bermainnya dan bertaut hanya pada satu wanita.


"You look beautifull!"


"Thank you..."


Nina memutar badannya memperlihatkan pada Hanssel dan yang lainnya. Mereka semua takjub, bahkan kedua orang tuanya sangat terharu saat ini mereka benar-benar merestui pernikahan putri kesayangan mereka.


"Bukankah kamu harus memberiku kompensasi karena melangkahi lebih dulu!"


"Mulai nih kang rusak suasana!"


"Keenaaaan..."


"Yes mam..."


"Hahaha!"


Semuanya kembali tertawa melihat dark joke dari seorang yang tidak pernah menunjukan senyum tulusnya di hadapan orang luar selama ini hanya untuk menjaga image nya.


Karennina, aku doakan yang terbaik untuk mu. Aku mencoba ikhlas melepas mu bersama Hanssel. Dia memang sangat cocok dengan mu!


Rangga melengkungkan senyum pedihnya, walau mencoba menerima namun tidak di pungkiri hati kecilnya tetap merasa perih.


Farah menggenggam erat Jimmy, dia telah mencoba bagiannya. Namun karena ulahnya kemarin biasanya dia akan seenaknya berbaur kini dia jauh lebih pendiam. Apalagi Keenan selalu mengawasinya dengan tatapan yang dingin. Farah seperti tengah di buntuti malaikat pencabut nyawa.


Sampai kapan kak Keenan masih memperhitungkan ketidaksengajaan ku?! Lama-lama gue pindah planet kek gini mulu!!


Sekuat tenaga Keenan mempertahankan raut wajah dinginnya. Padahal sesungguhnya dia ingin sekali tertawa melihat sikap berlebihan Farah. Biasanya Keenan tidak begitu memperhatikan gadis itu, hanya karena sangat dekat dengan Nina, sesekali Farah menyapanya dan dia hanya akan menjawab seperlunya.


Di lihat-lihat Farah sangat manis apalagi saat dia mengenakan gaunnya barusan.


Eh tunggu!


Kenapa harus memperhatikan bocah tengik itu?!!


Keenan telah selesai dengan bagiannya. Farah menatapnya tanpa berkedip, dia terbawa kembali saat dia melihat kakak sepupunya dalam keadaan topless. Farah menunduk dan tersipu malu.


Astaga otak gue mulai nista!!!


Bagi kak Keenan aku hanya serpihan gula sachet kurang dari satu dollar. So Farah jangan berkhayal menjadi Cinderella!!


Semuanya telah selesai, keluarga Kaviandra kembali ke kediaman mereka dan mempersiapkan keberangkatan menuju Jakarta esok hari.


***


Nina sangat gelisah, raut wajahnya sedikit pucat. Dia terus berdoa agar hari ini semuanya berjalan lancar. Para perias telah selesai membuat pengantin mereka terlihat cantik bak putri saat ini. Namun perasaan Nina sungguh gelisah.


Dia kembali flashback pada ingatan masa lalunya, dimana saat dia melangsungkan pernikahannya yang pertama dengan Erick Shin tidak sesuai yang dia harapkan. Tidak ada satupun dari keluarganya menghadiri pernikahannya. Dia memilih meninggalkan keluarga yang membesarkannya hanya demi hidup bersama pria yang membuatnya berujung dalam penderitaan.


"Kau sudah siap?!"


Tuan Kaviandra telah mendatangi tempat Nina dan acara sebentar lagi dimulai.


"Putri papa sungguh sangat cantik!!"


Tuan Kaviandra tengah berkaca, perasaan bersalahnya saat dulu dia tidak merestui pilihan putrinya kembali menguar. Tapi dia beruntung masih di beri umur untuk melihat pernikahan putri kesayangannya saat ini.


"Thank you pap!"


"Hoho! Hanssel akan menjadi pria paling beruntung mendapatkanmu!!" Tuan Kaviandra melihat kegelisahan putrinya dia membuat candaan agar putrinya jauh lebih rileks.


Teruslah tersenyum Karennina, kamu adalah bunga tercantik milik Kaviandra.


Tuan Kaviandra merentangkan tangannya, Nina menyambutnya merangkulkan lengannya di lengan cinta pertamanya.


"Terima kasih pa...."


"Ayo, jangan biarkan suami mu menunggu lama."


Nina menganggukan kepalanya dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya yang sangat cantik bagai bunga yang sedang merekah.


Hanssel sudah berada di hadapan altar pernikahan mereka yang sebentar lagi menjadi tempat dia mengikrarkan janji suci pada istrinya.


Hanssel hanya mengundang beberapa orang penting dan sahabat terdekatnya. Di tambah dengan beberapa rekan dan kerabat dari keluarga Kaviandra tentu saja. Penyatuan dua keluarga besar ini tentu saja menjadi sorotan publik yang mengetahui informasinya. Sehingga beberapa media yang mengetaui hal ini bergegas menuju tkp dan beberapa wartawan tengah meliput acara sakral itu.


Braaak!


Pintu ruangan terbuka lebar, menandakan pengantin wanita akan diserahkan oleh wali mempelai yang tak lain adalah ayahnya. Keduanya tengah berjalan menghampiri mempelai pria.


Hanssel tidak bisa lagi menahan rasa haru dan bahagianya dia dengan cepat mengusap pelupuk matanya. Senyum Nina terus mengembang, melihat itu tubuh Hanssel kembali bergetar. Dia menundukan wajahnya dan kembali menatap sang pujaannya. Hanssel mengatupkan bibirnya. Dia sungguh grogi, Rangga menyadarinya dia menyenggol bahu temannya itu.


"Gue baru lihat pria casanova dan seorang presidir perusahaan terbesar segrogi ini!"


"Jika tidak sanggup dan mau tukar posisi aku dengan senang hati menggantikan mu!"


"B a n g s a t!"


"Hihi!"


Nyonya Rossie menitikan air mata kebahagiannya. Dia merangkul erat lengan suaminya. Begitu juga Nyonya Lyn dia menggenggam erat Jimmy, dia sangat bahagia bisa melihat prosesi pernikahan putrinya. Tuan Adamson merasa bangga dengan apa yang sudah di lakukan putranya tanpa bantuan darinya.


"Hanssel, aku percayakan putriku padamu."


"Aku bersumpah, aku berjanji akan menjaga dan membahagiakannya."


Tuan Kaviandra menyerahkan putrinya, Hanssel dengan tersenyum menggapainya.


"How lucky I'm to having you my queen." Sebelum dimulai Hanssel berbisik lirih di telinga istrinya.


Nina tersenyum bahagia.


Setelah sambutan dan arahan pendeta di berikan Hanssel dan Nina mengikrarkan janji suci mereka.


"Karennina Kaviandra, aku mengambil engkau menjadi seorang istriku, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang sangat tulus."


"Aku bersumpah atas nyawaku hanya akan mencintai dan setia pada satu wanita."


"Karennina Kaviandra."


Bergetar tubuh Nina mendengarnya, dia menjatuhkan air mata yang tak bisa lagi dia bendung. Semuanya tersentuh dengan ucapan Hanssel yang begitu lantang, tegas dan tanpa jeda itu.


Pandangan mata Hanssel yang tak pernah lepas dari menatap wanitanya dengan penuh ketulusan dan cinta yang jelas terbaca di kedua netranya.


"Hanssel Adamson, aku mengambil engkau menjadi seorang suamiku..."


"Untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang."


Nina berhenti dia menatap Hanssel dan masih dengan tubuh bergetar. Dia kembali melanjutkan janjinya.


"Pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit."


"Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita."


Tidak seperti Hanssel yang mantap melafalkan tanpa jeda, Nina justru sangat sensitif terbawa suasana membuatnya berbicara terbata.


"Aku bersumpah hanya bisa mencintai satu pria di bumi ini and it's you! Sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang sangat tulus."


Nina tertawa lirih dan menangis bersamaan. Hanssel segera mendekatinya dan mencium istrinya. Riuh dari para tamu undangan merasakan atmosfer kebahagian yang terpancar dari keduanya.


Rangga menundukan wajahnya, entah mengapa dia merasa sangat emosional dia mengusap pelupuk matanya cepat. Seluruh keluarga kedua belah pihak tentu saja merasakan kebahagiannya.


Farah yang tadinya begitu waspada kini ikut larut dalam suasana kebahagian sepupunya. Dia sangat terharu dan ikut menitikan air matanya. Dia ikut berbahagia. Sampai dia lupa dia memegang erat tangan Keenan yang kebetulan berada di sampingnya.


Keenan membulatkan matanya dan menatap Farah. Tiba-tiba Farah tersadar.


"Upss..."


"S o r r y kak!"


Wajah Farah meringis dan menunduk kembali merasakan kesialannya yang entah mengapa akhir-akhir ini selalu mendekatinya.


"Haissh!!"


Keenan mendengus kasar.


✲✲✲✲✲✲


Selamat Sore reader tersayang aku gak?


Terima kasih banyak banyak yang masih support sampai bab ini masih berlanjut!


Permintaan maaf lebih dulu jika ada yang tidak berkenan mengenai janji suci yang di tampilkan Author. Lebih kurangnya mohon di maafkan jika ada yang tidak sesuai.


Jangan bosan-bosan terus support author kasih banyak LIKE, COMMENT, FAV, VOTE AND GIFT.


Send virtual huh for all of you!


Have a good day everyone.


Bonus lagiii ah.....


♥︎ Happy wedding ya babang Hanssel dan si cantik Karennina. Ngamplop berapa ya Author?! ♥︎



Adek Jimmy duh, othor onty online yang siap jadi nanny dadakan deh! Bayarannya kira2 bisa beli isi satu emol gak?!



Tapi kenapa Author terjatuh dalam hati abang Keenan!!


Ya lord karung mana karuuuung!!



Btw sorry ya adek Rangga, kadang cinta tak selamanya indah adeeek. Kalo mau athor siap loh di nikahin sekarang!!



Kembang gula next si cerita othor nih Farah Lee. Udah tahu dong banyak cluenya di bab2 sekarang kita akan moving kemana for next .... (≡^∇^≡)



SARANGHAEYO READER KU TERSAYANG AKU GAK ♡♡♡


All Pic from Pinterest!


✲✲✲✲✲✲