
Keenan sedang memantau dan bekerja di ruangan kerja miliknya di kediaman. Dengan empat layar terpisah dan satu laptop dia terus mengotak-atik kursor dan keyboardnya. Sesekali dia melengkungkan senyumnya di salah satu layar yang menampilkan seorang wanita yang tengah melayani pelanggannya dengan senyum yang selalu terukir di wajah cantiknya.
"Senyum mu mengalihkan segala resahnya diriku cutie..." Gumam Keean lirih.
Keenan menyambar ponselnya "Ken, kamu masih di kota KL kan?"
"Bawa dua sampai tiga anak buah mu, tugas mu memberikan keamanan bagi nyonya di Daisy Florists."
"Kalian tidak perlu kembali kemari."
"Iya tuan saya sedang meng-uninstall beberapa perangkat di Villa."
"Maaf tuan nyonya siapa tuan?"
"Nyonya Karen kah?"
Keenan menelan salivanya untuk pertama kalinya dia mengakui hubungannya dengan seorang lawan jenis.
"Nyonya Keenan tentu saja!!"
"Dia calon istriku!!"
"Jika terjadi sesuatu padanya aku tidak akan segan mencabut nyawa kalian sebagai kompensasi!!"
DEG!
"B-Baaik tuan..."
Ken mendadak merinding saat mendengar Calon Istri, akan sangat mengerikan jika dia melakukan kesalahan sedikit saja.
"Ben!"
"Oi..."
"Tuan kita udah punya calon bini!!"
"Serius lu?!"
"Iya, tugas kita jadi pengawal pribadi nyonya Keenan."
"Ahhh ingaat!"
"Kemaren aku disuruh beliin bunga di Daisy Florists!!"
"Jangan-jangan dia?!"
"NAH ITU BENER!!"
"Berarti dia ga homo!"
"Ssut!"
"Lu kalo ngomong pake filter coeg!"
"Tapi seperti ini bukannya semakin jelas kalo tuan punya kelemahan lain selain nona Karen?"
Benni menutup mulutnya kemudian bergegas membereskan urusan mereka dan melanjutkan tugas utama.
Masih di ruang kerja Keenan pria itu merasa lain melihat calon istrinya, "Mengapa dia terlihat seperti...."
Deg!
"No way!!!"
Farah membalikan badannya menatap ponselnya yang berdering di atas meja kasir miliknya. Farah mengembangkan senyumnya.
"Morning my husband!!" Goda Farah manja.
Wajah Keenan memerah seketika dengan rayuan wanita pujaannya di sebrang sana. "What are you doing?"
"Rebahan!!" Jawab Farah asal.
"LIAR!" Umpat Keenan kesal.
"Ya kerja dong sayaang!"
"Bukan kah aku sudah memberikan mu kartu?"
"Aku sangat mampu menghidupi mu, bahkan keluarga Lee sekalipun."
"Kamu tidak perlu kerja keras!"
"Cukup mempercantik diri dan membuat ku puas di ranjang!"
"CABUUUUL!!!!"
"Sepagi ini bikin rusuh aku tutup aja telpon yang tidak berfaedah ini!!" Farah tidak habis pikir saat ini prianya benar-benar berubah menjadi pria cabul dari yang dulunya pria es batu.
"Hahaha..."
"I'm sorry, just kidding babe..."
"But, kamu gendutan ya?!" Dengan perlahan Keenan ingin memastikan keraguannya.
DEEG!!
Wajah Farah pucat pasi, dia menyadari satu hal saat ini Kak Keenan memiliki sesuatu yang bisa memperhatikan ku tentu saja. Aku sungguh lupa dengan baju longgar ku hari ini!!
"KALO IYA KENAPA?!"
"Kakak ga suka cari sana cewek seksi yang lain!!"
Tuutt!!
Farah sengaja menutup sambungan sepihak dia sudah tidak bisa banyak bicara dia bahkan mematikan ponselnya.
"Astaga Farah marah!" Pekik Keenan tidak percaya sekarang dia bahkan tidak bisa menelpon istrinya.
Saat akan menghubungi anak buahnya Ken satu panggilan telpon menghentikannya.
"Iya Karen..."
"GUE NUNGGUIN LAMA!!!"
Keenan memutar bola matanya, "Iya bawel, kakak carikan..."
"Who she?"
"Pacar Rangga!"
"Kenapa mereka bersama mu?"
"Dia teman ku tidak sengaja berkunjung."
"Singkirkan mereka lebih dulu!!"
"Berikan aku akses EYES lebih dulu."
"Untuk apa?"
"Siapapun yang keluar dari mansion ini tentu akan menjadi sasaran empuk sebagai sandera!!"
Keenan terdiam sejenak "Kamu tidak perlu menipu ku!"
"Keluarkan mereka sekarang juga aku tidak peduli mereka mati sekalipun bukan urusan ku!!"
"Urusan ku cukup kamu!"
Tuut!!
"AAAHH SH*IIT!"
"Why he so ridiculous!!"
"Maksud mu?"
Rangga mendekati Nina yang tengah mengumpat kesal.
"Ah tidak..."
"Gimana Yvone?"
"You ready?!"
"Yeaah!!"
Rangga masih sedikit ragu, bukan karena dia tidak mampu tapi dia meyakini kini mereka tengah bertaruh nyawa saat ini.
"Aku akan mengacau mereka sebentar lagi."
"Setelah itu keluar dari sini!"
"Ikuti mapping yang sudah aku pasang di GPS mobil mu."
Yvone kini mendekati mereka dengan perasaan berdebar. Entah apa yang ada di hati dan pikiranya saat ini semua bercampur aduk! Nina memperhatikan kedatangannya.
"Kamu akan baik-baik saja."
"Dokter bilang kondisi kesehatan mu sudah mulai stabil!" Nina mendekat dan merangkul tubuh Yvone yang dilanda kecemasan.
"Darah mu memiliki antibody baru setelah satu bulan melewati masa inkubasi virus."
"Sekarang kamu jadi incaran mereka."
"I believe on you!" Dengan tatapan lembut dan tidak ada keraguan sedikitpun dari Nina dia benar-benar tidak pernah setengah-setengah dalam menjalankan misi.
Perkataan Nina menghujam perasaan Yvone, ia menyadari bahwa sungguh sulit untuk membenci wanita yang memang dia akui menjadi penyelamatnya saat ini. Walau dia sangat ingin, karena Nina membuat pria yang di cintainya merasakan cinta pertamanya kembali. Jika bukan pengobatan yang di lakukan Nina mungkin sampai saat ini dirinya akan terus di landa kecemasan berlebih. Bahkan dia sekarang mulai sedikit-sedikit bisa mengingat masa lalunya. Lalu pantaskah aku mengkhianatinya? Setelah apa yang dia lakukan padaku selama ini?
Nina mengeluarkan sesuatu dari laci mini barnya. Sebuah senjata api berjenis pistol Glock 17 dia ambil dan menaruhnya di telapak tangan Rangga. Yvone sedikit tersentak, dia tidak menyangka perempuan yang terlihat keibuan itu menyimpan berbagai misteri. Rangga sendiri terpaku, dan masih berdiam diri.
"Aku yakin aku tidak perlu memberitahukan lebih rinci bagaimana cara menggunakannya kan?"
"Gunakan saat terdesak."
"Aku sudah mengisi penuh 17 peluru di dalamnya."
"Gunakan sebaik mungkin!"
"Aku hanya akan memberikan mu 5 pengawal yang akan menjaga kalian dari belakang."
"Kareen..." Lirih Rangga masih tidak mengijinkan wanita di depannya melakukan aksi berat seperti ini dalam keadaan mengandung di usia yang terbilang mendekati trimester tiga.
"Rangga..."
"Kita sudah sepakat, aku dalam penjagaan kakak ku."
"Justru jika ada kalian aku tidak bisa fokus."
"Jangan kotori tangan ini Karen."
Nina terdiam, "Haha, aku sudah kotor Rangga..."
"Bau amis ini tidak akan hilang walau aku menggosoknya bahkan memotong tangan ku sendiri!"
DEGG!!!
"Kamu tahu, saat kita sudah masuk di jalan hitam ini, kamu tidak bisa kembali bersih seperti sebelumnya."
"Ahh Come On!!"
"Everything will be okay..."
"I'm not loser, I'm a queen!!"
Sungguh motivasi baru bagi Yvone mendengar kata-kata penutup wanita yang menjadi inspirasi hidup barunya.
"Berjanjilah padaku kamu akan baik-baik saja!"
"Yups!" Nina menganggukan wajahnya dengan senyuman manisnya.
Rangga memeluk erat tubuh Nina, hati Yvone seakan diremas kencang dia mencoba menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa. Ini bukan waktunya untuk cemburu!!
Nina menarik tubuh Yvone dan memeluknya erat dengan membisikan sesuatu di telinganya, "Jangan terpengaruh oleh perasaan yang akan meruntuhkan segala keyakinan mu. Karena apa yang kamu lihat saat ini mungkin hanya fatamorgana saja!"
Yvone membenci di hadapan Nina dia tidak bisa membohonginya sama sekali!
✲✲✲✲✲✲