
Nina kembali membaringkan dirinya di dalam bak mandinya dan kembali menutup matanya. Dia tidak menyadari bahwa Hanssel telah memasuki kamar mandi.
"Pantas hening dan lama!!" Sungut Hanssel sedikit kesal namun dia memiliki ide gila.
Nina terbangun saat mengetahui ada seseorang saat ini dalam kamar mandinya.
"HANSSEL..." Nina bangkit beringsut mundur menutup tubuh bagian depannya.
"Buat apa di tutupi?!"
"Bagian tubuh kamu yang mana yang belum aku lihat dan belum aku sentuh sayang?" Hanssel mendekat dan mengecup bibir manis wanitanya.
"Ahh Hans..." Lenguh Nina saat tangan Hanssel mengusap seluruh tubuh Nina.
"Mau aku gosok punggungmu?" Tawar Hanssel dengan nafas yang berat.
Nina mengangguk malu, memang benar selama ini Hanssel sudah tahu dengan jelas tubuh polosnya. Hanya saja dia beruntung Hanssel tidak pernah menyelesaikan dan menghargai keputusannya.
Hanssel tengah menggosok punggung mulus wanitanya, sedari tadi dia menelan salivanya menikmati mengusap lembut dan licin permukaan kulit putih wanitanya. Dia tersenyum tidak percaya dia dan sekertarisnya sudah sejauh ini.
"Aku sungguh tergoda..." Gumamnya.
Nina membalikan tubuhnya dan merangkul prianya berinisitif menciumnya lebih dulu. Hanssel menarik benda yang akan membuang air mandi mereka. Keduanya berciuman dengan liarnya.
"Sayaaang bolehkan aku?" Ujar Hanssel masih tetap meminta ijin dan menghargai wanitanya.
Nina tidak menjawab hanya kembali mencium bibir Hanssel yang membuatnya kecanduan. Hanssel tersenyum gembira, Nina mengerjapkan matanya menikmati semua sentuhan sensualitas yang diberikan prianya.
"Sayang gapapa kita lakuin disini? Atau mau di ranjang?"
Di tengah gemuruh hasrat keduanya, Hanssel benar-benar memastikan wanitanya nyaman. Ini kali pertama baginya melakukan hubungan badan dengan wanita yang benar-benar dia sukai dan tanpa pengaman. Dia benar-benar berniat dengan sekertarisnya dia tidak akan menggunakan pengaman agar terasa lebih ekstra pikirnya terlebih dia menyukainya.
"Do it babe!!" Rengek Nina dengan suara seksinya. Dia sendiri kini bersiap berada di atas Hanssel.
Ini bukan yang pertama kali untuknya. Dia bahkan telah melahirkan anak. Sejujurnya ada rasa takut hinggap di hatinya, bagaimana jika Hanssel kecewa padanya. Mengingat dia bukan seorang gadis lagi.
Teriakan Nina menggema di kamar mandi ini. Hanssel membulatkan matanya dia benar-benar tidak percaya akan mendapatkan Nina seutuhnya.
"Saakiiiit...." Rintih Nina kemudian.
Hanssel tengah menggerakan badannya membantu Nina menurunkan tubuh wanita itu sepenuhnya hingga batas nol seorang pria dan wanita. Di tidak percaya wanita yang sudah melahirkan anak itu ternyata jauh lebih baik dari para gadis yang sudah dia tiduri sebelumnya.
Jleb!
Mata Nina terbelalak dengan hembusan nafas berat dan mulutnya terbuka membuat Hanssel tidak tahan untuk meraupnya. Dia mencium wanita itu dengan rakusnya. Nina mulai menggerakan tubuhnya perlahan.
Aarghh sial Nina sangat tahu jelas apa yang dia lakukan sangat nikmat!!
"Faster babe!!!" Racau Hanssel dengan menepuk paha sintal Nina.
Plaaak!
Nina terus menggerakannya, sepertinya miliknya sudah terbiasa dengan hadirnya adik junior Hanssel. Satu lenguhan panjang Nina menggema di telinga Hanssel. Menandakan dia sudah mencapai puncaknya. Hanssel mengikat rambut tergerai Nina dengan tangannya kini giliran dirinya. Dia mengeluarkan segera dan membalikan tubuh Nina dan kembali menyerangnya.
"Astaga! Tau susah tadi ga usah keluar!!" Rutuk Hanssel tidak sabar menembus kembali milik wanitanya.
Nina menggigit bibirnya dan kembali melenguh dengan kerasnya saat Hanssel berhasil dengan aksinya. Hanssel terus membuat wanitanya merintih seksi di telinga Hanssel.
"Aku mencintaimu Karennina Aaarrrgh!!"
Hanssel telah melakukan pelepasan pertamanya. Dia membenamkan lebih dalam dan mengeluarkannya di dalam tentu saja. Dia tidak menyadari bahwa wanitanya tengah pingsan saat ini dan tidak mendengar apa yang di ucapkan Hanssel barusan.
"Astagaa!!" Pekik Hanssel panik segera menyudahi dan membersihkan tubuh Nina.
Dengan teliti Hanssel mengusap seluruh tubuh Nina dengan handuk dan menidurkannya di atas ranjang tanpa sehelai benang hanya menutupinya dengan selimut tebal.
"Terima kasih sayang..." Hanssel mengecup kening Nina.
"Apa mungkin kamu kembali menjadi seorang gadis? Aku melihat bercak darah di sekitar bak mandi..." Gumamnya heran.
Hanssel tertidur memeluk wanitanya. "Kau benar-benar canduku!"
***
"Hm..." Nina mengerjapkan matanya beberapa kali, tubuhnya merasa sakit.
"Astaga!"
Nina baru menyadari semalam dia dan Hanssel...
Dia melihat pria itu masih tertidur di samping dirinya, Nina menatap sendu.
Nina bersiap membersihkan dirinya, rapat akan di adakan 2 jam lagi.
"Aaw..." Nina merasa perih di area bawah miliknya.
"Sayaaang..." Hanssel terbangun dan menarik tangan sebelah Nina kemudian mengecupnya.
"Apa masih sakit?"
"Apa kamu memang seperti itu?"
"Apa nya?" Nina mengerutkan keningnya.
"Kamu pingsan di tengah permainan kita..."
"Owh... Aku tidak ingat..." Jawab Nina polos dan datar.
Baginya lebih bagus jika Hanssel kecewa akan performanya dengan begitu mungkin bosnya tidak akan lagi meminta hak mesumnya.
"Benarkah? Mau aku ingatkan kembali?" Hanssel beranjak mendekati Nina dan bersiap mencumbu nya kembali, namun segera Nina tepis. Dia dorong tubuh prianya.
"Kita bisa telat Hanss..."
"Aku mandi duluan ya, aku harus pastikan Jimmy bangun tidak mencariku dan aku harus siapkan sarapan paginya."
"Oh iya sayang... Maaf!" Hanssel kembali memeluk erat Nina.
Nina terpaku, dengan mudah Hanssel menurutinya. Dia tidak searogan seperti biasanya.
"Terima kasih semalam sayang aku sungguh puas dan aku akan memintanya kembali!!"
"APA?!"
"Bukankah lebih baik kamu menyewa para gadis belia saja ya."
"Sssttt!"
"Aku tidak ingin kamu terus mengulang kalimat yang sama yang tidak ada artinya!!"
"Mulai saat ini aku hanya menginginkan kamu!!"
"HANYA KAMU!!"
"Deg!!"
Nina menempelkan telapak tangan di dahi Hanssel. Hanssel menatap bingung.
"Apa kamu sakit? Apa kepalamu terbentur?" Ucap Nina tidak percaya atas pernyataan bosnya barusan.
"Hahaha!"
"Karennina..."
Hanssel menggantung kalimatnya, dia teringat kesepakatan mereka yang mengatakan jangan saling mencintai. Nyatanya dia sudah mencintai Nina jauh lebih awal saat mereka baru saja memulai hubungannya.
Nina masih menunggu Hanssel menyelesaikan kalimatnya.
"Cepatlah mandi nanti kita sarapan bareng dengan Jimmy..." Hanssel beranjak mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
Nina membuka mulutnya takjub.
Aku yakin beberapa hari ini dia memang kerasukan hantu baik budi!!
Nina bergegas menuju kamar mandi dengan tertatih, Hanssel tak sengaja melihatnya dan melengkungkan senyumnya.
Jangan harap ada laki-laki lain yang mencobamu Nina! Wanita bekas Hanssel meskipun sudah menjadi mantan jangan harap bisa memiliki mu selain aku. Itu hanya berlaku untukmu Karennina Kaviandra.
***
Nina dan Hanssel telah selesai merapikan diri, Nina membantu Hanssel memasangkan dasinya. Sesekali Hanssel menciumi wanitanya bertubi-tubi. Mereka segera beranjak mengajak Jimmy makan di restoran bawah beserta Nanny dan Farrel tentu saja.
Ini terlihat seperti vacation satu keluarga...
Untuk kesekian kalinya hubungan Hanssel dengan Nina lebih dari sekedar kesepakatan satu bulan. Dia justru merasa seperti memiliki tujuan. Hanssel seperti menemukan rumahnya.
Kau, Nenek lampir si buruk rupa yang telah menjadi angsa putih mempesona... Kamu rumahku mulai saat ini!!
✲✲✲✲✲