
"Kamu apa-apan Hanssel!"
"Kamu tidak berhak mengatur hidupku!"
"Lagian hubungan kita hanya sebulan ini bukan?"
"KARENNINA!!"
Hanssel sangat kesal dia segera mendorong wajah wanitanya dan menyesapnya. Tak lupa menggigitnya sebagai rasa kecewa karena Nina masih saja membantahnya.
"AARGGHH!!"
"KAU..."
"Ibu..."
Jimmy mendengar kegaduhan di luar dia memastikan ibunya dalam keadaan baik-baik saja. Kemudian seperti seorang suami istri yang tengah bertengkar mendengar suara putranya keduanya otomatis melunak dan menganggap semuanya tidak pernah terjadi.
"Jimmy... Apa kamu sudah selesai dengan membuka hadiah dari Om Hanssel?" Tanya Nina gelisah mendekati Jimmy.
"Apa bibir ibu terluka?" Jimmy mengusap bibir ibunya yang sedikit terluka karena gigitan Hanssel barusan.
Hanssel menunduk merasa bersalah dia tidak tahu harus berkata apa.
"Oh ini, tadi ibu tidak sengaja kegigit pas ngobrol ama om."
"Benarkah?" Jimmy kembali memastikan.
Nina mengangguk segera berulang kali, kemudian menyuruh Jimmy menyikat giginya dan beranjak tidur.
"Aku minta maaf..." Hanssel menarik tubuh Nina dan mendudukan di pangkuannya.
Jarinya menyentuh luka Nina lembut. "Aku sangat cemburu..." Lirihnya.
APAAAA???!
Nina masih terpaku dengan perlakuan berbeda Hanssel saat ini. Nina baru kembali dari menidurkan Jimmy, Hanssel kembali meminta asupan vitamin C nya. Hanssel begitu lembut mencium bibir wanitanya, terlebih dia tahu wanita itu tengah terluka olehnya. Tangannya terus bergrilya, melepaskan tali kimononya dan menarik satu tali tipis baju tidur Nina.
Nina semakin larut dalam permainan dan buaian sentuhan prianya. sampai dia tidak menyadari bahwa kini pakaiannya telah merosot ke bawah menampilkan bagian depan tubuhnya yang polos.
"Sayaang kita kekamarmu boleh?" Pinta Hanssel dengan suara beratnya yang tengah sangat bergairah.
Tanpa melepas ciuman dan gerakan tangannya pada bukit indah Nina pria itu meminta haknya saat ini juga.
"Aargghh, Hanss... Besok kita harus berangkat pagi sayaang..." Nina masih terus menolak.
"Sayaang sebentar saja... Aku janji hanya sebentar saja!!"
Hanssel telah melempar g-string milik Nina ke sembarang arah, tangannya tengah mengusap lembut area bawah milik Nina.
"Kamu juga udah basah banget yang..." Hanssel bahkan kini mencoba menerobos milik Nina dengan jarinya.
"JANGAAAAN!!"
"Aku mohooon... Please... No Hanssel..." Rengekan Nina dan gerakan tangannya yang memblokir tangan Hanssel di area bawah membuat pria itu tengah menunjukan ekspresi kecewa.
"Aku janji setelah urusan pekerjaan kita selesai aku akan memberikan tubuhku seutuhnya untukmu.." Nina membelai lembut pipi Hanssel.
"Sedikit saja sayaaang... Aku udah ga kuat!!" Rengekan Hanssel tak mau kalah.
"NO!"
"Disini juga ga ada k*ndom apa kamu tidak takut?" Ujar Nina khawatir.
"Kamu tenang saja aku pastikan diriku bersih... Aku selalu memakai pengaman dengan wanita mana pun!"
"Lagian kau tahu sendiri wanita mana yang pantas aku kencani dan tiduri."
Nina merasa mual dengan pernyataan pria tak tahu diri di depannya saat ini.
"Lantas sekarang?" Tanya Nina heran.
"Y-Yaaa... Kamu pengecualian..." Lirihnya memerah.
"Apa kau tidak takut dengan ku?" Goda Nina.
"Tidak! Aku juga tidak masalah jika kamu hamil dari benihku!!"
"Aku akan bertanggung jawab..."
APAAA?
"BACOOOT!!" Umpat Nina dengan kekehan dan mendorong dada bidang prianya kebelakang.
"HAIIISSHH!! Runtuh sudah hasratku!!!" Sungut Hanssel kesal.
"No welcome!!" Umpat Hanssel masih merasa kesal dia menenggak root beernya.
"Kamu mau tidur disini?"
"Tentu saja!!"
Hanssel menjatuhkan kepalanya di pangkuan Nina. Nina membelai lembut rambut Hanssel, pria itu kini menatapnya dari bawah.
"Aku tahu kita tidak boleh saling jatuh cinta... Tapi, bukankah kita sangat bahagia dengan keadaan kita sekarang ini?"
Ucapan Hanssel membuncah perasaan Nina, dia tidak berkata apapun dia hanya memainkan jemari lentiknya di wajah pria itu. Hanssel tersenyum sangat manis dan tampan dia kembali mendorong wajah Nina dan menyesap bibir kesukaannya.
Aku menyukaimu Karennina... Sangat sangat menyukaimu...
***
Bandara internasional SH.
Hanssel menggenggam erat jemari mungil Jimmy agar tidak terlepas dari sisinya. Nina tengah melakukan boarding pass. Dia memperhatikan keduanya, entah mengapa sudut matanya berembun dia segera menyekanya dan membaur dengan mereka.
"Sini om gendong aja ya..."
"Tidak perlu Hans, dia sudah bisa berjalan sendiri..."
"Aku m a u..."
Tanpa menghiraukan perkataan Nina, Hanssel bergegas menggendong pria mungil kesayanganya saat ini.
"Papa Hanssel!"
"APAA?"
Hanssel terdiam menatap wajah teduh Jimmy, "Jimmy bilang apa tadi?"
"M-Maaf omm... Jimmy cuma bilang papa Hanssel kalo om ga suka Jimmy ga gitu lagi."
Untuk pertama kalinya Hanssel terharu luar biasa "Om sangat menyukainya.. Boleh kamu panggil om sekali lagi dengan sebutan papa..."
"Papa Hanssel..." Jimmy mengusap lembut pelupuk mata Hanssel. Pria itu memeluk Jimmy erat.
Aku tidak akan melepaskan kalian!!!
Nina terpaku sulit berkata, ingin rasanya menyudahi keduanya. Namun pemandangan ini lain dari saat Jimmy memanggil Rangga dengan sebutan papa. Ada seberkas harapan hinggap di hati Nina, menginginkan pria itu benar-benar menjadi papa sambung Jimmy.
Aih sial kenapa aku punya pikiran kayak gitu!! Siapa aku? Hanssel hanya sedang bermain-main saja... Mana mungkin ada pria yang mencintai anak yang bukan dari darah dagingnya sendiri.
Tidak lama ketiganya memasuki pesawat yang mereka tumpangi menuju HK. Nina membawa serta Nanny begitu pula masih ada Farell yang ikut bersama dengan penerbangan mereka.
Mereka telah sampai di Negara HK setelah menempuh waktu 5 jam lebih. Nina telah mengkoordinir semuanya, transportasi dan juga hotel tempat mereka menginap tidak jauh dari lokasi convention hall yang di usung pihak JK. Hanssel tengah menaruh tubuh Jimmy dengan hati-hati dikamar Nina. Tak lupa dia juga mendaratkan ciuman di kening bocah yang sudah mengambil hatinya.
"Terima kasih..." Nina tersenyum kearah Hanssel.
"Aku tidak butuh ucapan..." Bisik Hanssel kemudian menggigit telinga pacarnya.
Bug!
Nina memukul bahu Hanssel dengan tas kecilnya. Hanssel terkekeh "Jalan-jalan yuk?" Ajaknya kemudian.
"Aku mandi dulu ya gerah..." Ujar Nina berlalu menuju kopernya.
Hanssel merangkul dari belakang "Mandi di kamarku ya..."
Tanpa Nina menyetujuinya terlebih dulu Hanssel telah mendorong koper wanitanya menuju keluar. Di depan Nina berpesan pada Nanny untuk menjaga Jimmy selagi dia keluar dan menyuruhnya tidur bersama Jimmy saja.
Di dalam kamar bosnya Nina segera memasuki kamar mandi dan berencana berendam. Rasanya tubuhnya sangat lelah, semenjak Hanssel resmi menjadi pacarnya tubuhnya akan di penuhi tanda cinta yang di lakukan oleh prianya.
"Aaahh..." Nina merasa berada di dalam surga. Dia tidak peduli dengan ocehan Hanssel nantinya mengetahui dia mandi sangat lama.
Dia memasang earphone bluetooth dan memutar musik favoritnya. Di luar kamar mandi Hanssel tengah mempersiapkan dua gelas wine. Niat berjalan-jalan sirna dia menginginkan Nina saat ini juga!!
Di dalam bak mandi Nina memejamkan matanya, berbagai slide memory kisah hidupnya berterbangan kesana kemari dalam kepalanya. Hingga dia menitikan air matanya.
"Terima kasih diriku... Kamu sudah sangat kuat sejauh ini... Kita sudah melewati berbagai masa sulit! "
"Mari kita terus berjuang!! Kedepannya akan sangat sulit karena aku mulai merasa jatuh hati pada si babi Hanssel!!"
Nina membuka matanya dan duduk tegak memandang ke arah jendela yang memperlihatkan gedung pencakar langit yang indah dengan gemerlap lampu kota. Nina terisak pilu kali ini, dia sudah mencoba untuk membohongi dirinya sendiri. Dia tidak akan jatuh hati dengan pria casanova itu. Namun perlakuan Hanssel saat ini sudah membuatnya terjatuh dalam kesalahan yang sama seperti yang sudah-sudah.
"Aku berharap aku tidak mencintai orang yang salah..."
✲✲✲✲✲