
"Kamu kenapa?" Rangga mengusap lembut kepala Nina.
Wajahnya menangkup pada tangannya yang dia taruh di atas meja bar. Nina telah mabuk, dia tidak berbicara sepatah kata apapun. Dia hanya menangis dan terus menangis membuat Rangga sangat khawatir dengan keadaannya.
"Sudah ya, kamu tidak boleh lagi minum!"
"Sudah tahu toleransi alkohol kamu itu buruk masih saja!!"
"Apa semua masih tentang Erick?"
Rangga terus mengajak Nina berbincang walau sesungguhnya dia tengah bermonolog karena Nina sudah tidak sadarkan diri.
"Huh!"
Rangga merasakan pedih di dalam hatinya. Dia segera memapah tubuh Nina, kemudian membawanya ke apartemen miliknya.
"Huh... Untung Jimmy sangat pengertian..."
"Kau beruntung Nina..."
Setelah sampai di apartemennya, Rangga menghubungi pengasuh Jimny dia berbicara pada bocah kesayangannya bahwa ibunya sedang lembur bekerja.
"Kapan kamu bisa membukakan pintu hatimu Nina!"
Rangga menaikan selimut menutupi tubuh Nina dan meninggalkannya untuk beristirahat. Di ruang tengah rumahnya Rangga menenggak birnya sampai panggilan seseorang membuyarkan kesedihannya.
"Ok gue kesana sekarang!"
Rangga membersihkan diri sebentar kemudian mengganti pakaiannya dengan pakaian rapi lainnya dia akan menemui teman lama dalam jamuan makan malam menyambut kedatangannya.
"Aku pergi sebentar ya..."
Rangga menutup pintu dan melesat menuju tempat yang sudah diberitahukan.
***
Di kediaman besar keluarga Adamson.
"Kamu makin cantik aja Rin!" Puji Rossie pada Catherina.
"Tante bisa aja..."
"Harusnya Hanssel tuh beruntung banget bisa dapetin kamu..."
"Hanss sudah cukup kamu bermain-main diluar sana."
"Sudah waktunya kamu serius untuk keberlangsungan keluarga besar kita." Ucap nyonya besar lugas pada putranya.
"Ma... Aku masih muda."
"Menikah bukan prioritas ku!"
"Aku juga sangat sibuk dengan beberapa proyek yang baru Adamson dapatkan."
"Oh iya kamu bisa masukan Catherina di dalam perusahan kita!"
"Untuk apa ma? Dia itu kan hanya menggeluti modeling. Sedangkan perusahaan kita bergerak dalam bidang apa?!" Hardik Hanssel ketus.
Sedari tadi Catherina menahan amarahnya, untuk pertama kalinya Hanssel mengacuhkan dirinya bahkan sekarang terkesan tidak menyukainya.
Aku semakin curiga jangan-jangan dia telah jatuh cinta dengan wanita lain!!
"Hanssel selain dunia modeling aku juga seorang designer." Timpal Catherina lemah lembut membuat yang mendengarkannya seolah tersihir akan keramahannya.
Hanssel mendengus kesal "Aku lihat dulu apa ada lowongan yang cocok buatmu!!"
"Makasii Hanss..." Catherina merangkul Hanssel mesra di hadapan beberapa teman sosialita ibunya nyonya Rossie.
Rangga telah datang dalam pesta penjamuan itu. Dia segera merangkul Catherina dan mereka berbincang bersama di taman belakang.
"Gue denger lu langsung megang beberapa kasus dan menang terus!!" Catherina mengawali pembicaraanm
"Biasa lah!! Gue kan merendah buat meroket!" Canda Rangga menanggapi pertanyaan Catherina.
Catherina tertawa mendengar beberapa cerita dari beberapa teman Hanssel. Rangga memperhatikan sahabatnya yang justru tidak bersemangat sama sekali.
Hanssel memainkan ponselnya dia mengirim pesan pada istrinya sebagai permintaan maaf. Saat ini dia tidak bisa menghubunginya bahkan menemuinya. Hanssel sungguh frustasi dengan keadaannya.
Padahal aku dan Nina sedang menikmati kebahagian dan kebersamaan kami dalam sebuah keluarga yang hangat. Nina aku sungguh merindukanmu. Apa kamu sudah tidur bersama Jimmy? Apa kamu merindukan aku juga?
"Bro!"
Rangga mengejutkan temannya itu.
"Sialan kaget gue!!"
"Yang kagetan biasanya mendem rahasia!!" Goda Rangga.
"Catherina dah balik ko lu B aja?"
Hanssel memainkan ponselnya dan memasukannya dalam saku.
"Gue bingung apa sebenarnya perasaan gue sama Catrin sekarang."
"Ya gue paham sih... Lu di tinggal ama dia, dia lebih memilih dunianya di banding keseriusan lo saat itu!"
"Tapi takdir lo kayak udah keiket gitu ama dia tuh!!"
"Eh tapi btw kemaren lu bilang lu dah married ama sekretaris lu?"
"Seriusan?!" Rangga berbisik lirih agar tidak ada yang akan menguping pembicaraan mereka.
"Iya!"
"Eh buset... Buruan putusin bisa berabe kalo nyokap lu turun tangan!!"
Rangga terdiam, dia sangat hafal dengan sifat temannya. Walaupun dia pria nakal tetapi soal perasaan dia tidak pernah sembarangan dan main-main.
"Dia hamil?"
"Belum!"
"Ba*ngke!!"
"Lu ko bisa tidur ama siapa aja apa ga takut penyakitan lu!!"
"Gue pemilih juga gilak!!"
"Itulah gunanya K*NDOM DI JAJARAN DEPAN ALPHAMARET!!"
Hanssel merutuki temannya yang ingin ikut mengurusi persoalan ranjangnya.
"NGEGAS!!" Balas Rangga.
"Tapi sama doi gue ga pernah make pengaman. Tubuh dia candu banget!!"
"Busyeet!"
"Gue mau lihat sih mana cewek yang bisa bikin sohib gue terpikat kek gini!!"
Hanssel tersipu malu mendengar godaan temannya itu, dia merogoh saku celananya saat akan menunjukan galery foto wanitanya tiba-tiba....
"Rangga, Hanssel, kuy ikutan games truth and dare!!" Pekik salah satu teman mereka membuyarkan transaksi ilegal mereka saat ini.
"Oke..." Rangga telah lebih dulu beranjak dari tempat duduknya dan mendekati kearah mereka. Sedangkan Hanssel kembali memasukan ponselnya dalam saku celananya.
***
Pagi harinya Nina buru-buru ijin pulang pada Rangga dia harus segera ke kantornya.
"Lu ga nanya lu di apain kagak semalam?" Goda Rangga.
"KAGAK PERLU!!" Nina menyambar kunci mobil Rangga.
"Woy!!"
"Gue ga sempet bawa mobil gue nih tukeran!!"
Nina melempar kunci mobil miliknya dia berlari menuju luar.
"DASAR!!" Umpat Rangga dengan senyuman.
Nina telah sampai di kantornya dia sengaja parkir lebih jauh agar tidak membuat kecurigaan. Dia bergegas lari karena 10 menit lagi pukul 8 teng. Bisa rugi dia kehilangan prestasi absensi.
Tidak lama kemudian mobil Hanssel memasuki pelataran parkir kantornya.
"Rangga?"
"Ini plat mobil Rangga... Dia ngapain ke Adamson?!"
Hanssel segera parkir dan menuju ruangannya.
"Huh!!"
"Hampir saja 7.55 rekor tersiang gue!!"
"Si kamfret Rangga males banget bangunin gue!!"
Nina masih terengah saat dia menuju finger out dia berlari dari Lift menuju ruangannya.
Hanssel sudah tidak sabar menemui istrinya. Saat Nina tengah membenamkan wajahnya di atas kedua tangannya Hanssel mengecup pucuk kepalanya.
Nina segera bangkit kemudian tanpa basa basi Hanssel menarik tubuh sekretarisnya dalam dekapan menciumnya mesra.
"Aku merindukanmu sayang!!"
Nina terdiam sejenak, memang masih tersisa 3 hari dia dan Hanssel berstatus pacar. Nina selalu lupa bahwa dirinya adalah istri sah Hanssel saat ini.
"Tuan ini di kantor!!" Nina mendorong tubuh bosnya dan menampik semua perlakuan mesra suaminya saat ini.
"Aku bisa jelasin sayang..." Ucapnya kemudian merubah raut wajahnya serius.
"Jelasin apa?" Tanya Nina pura-pura tidak terjadi apapun kemarin sore.
"Wanita yang memelukku dia adalah..."
Belum sempat Hanssel menyelesaikan perkataannya Nina sudah menyangkal "Oh aku tidak peduli!"
"Toh wajar masa status pacaran kita sudah hampir habis jadi kamu pasti akan mendapatkan pengganti patner ranjangmu!"
"KARENNINA!!" Bentak Hanssel emosi dengan jawaban Nina.
"Kenapa marah bukankah itu benar adanya?!"
"Kamu istriku NINA INGAT ITU!!"
"MULAI SAAT INI DETIK INI PATNER RANJANGKU CUMA SATU!!"
"KARENNINA KAVIANDRA SEORANG!!"
"Kamu jelas Nina?!"
"Aku tidak mau berdebat! setelah ini berikan aku berkas Suho! Dia akan memenangkan tender saat ini."
Nina terdiam, dia mengangguk mengikuti instruksi tuannya. Saat akan berbalik Hanssel kembali menarik tubuh Nina dan menyesap kuat bibir kekasihnya. Mereka bertautan cukup lama bahkan keduanya tak tanggung saling me**** satu dengan lainnya.
"Setelah ini Suho akan jadi milikku dan aku akan mengembalikan status Hanssel seperti biasanya pada wanita kencan lainnya."
✲✲✲✲✲✲