Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 118 - Drugs!



Nina mengerjapkan matanya, bau disinfektan menguar di indra penciuman miliknya. Kepalanya masih terasa berat dengan kerongkongan yang kering akibat haus yang mendera. Nina berusaha bangkit dari pembaringannya.


"Nona muda..."


"Apa yang anda butuhkan biar saya yang ambilkan?" Ujar Sam mencegah tuannya melakukan aktifitasnya.


"Hanssel!"


"Dimana dia?!!"


Nina segera mengingat bahwa suaminya telah menjadi sasaran kejahatan antek musuhnya.


"Tuan Hanssel sedang di rawat di ruang sebelah nona."


"Kondisinya cukup baik, dia hanya perlu lebih banyak beristirahat."


"Hasil pemeriksaan darah beliau akan keluar esok nona."


Nina menghembuskan nafasnya dengan berat, dia tidak menyangka akan sejauh ini mereka terlibat dengan bisnis obat terlarang. Bahkan suaminya menjadi korban dari kejahatan pihak lawan.


"Nona beristirahatlah, pulihkan kondisi anda."


"Dengan begitu anda akan dengan mudah bisa melakukan penyelidikan."


Ah! Sam benar... Aku tidak memiliki waktu untuk menyalahkan keadaan. Aku harus segera keluar dari rumah sakit ini dan memeriksa kembali dengan seksama.


Nina berpesan pada Sam untuk memberikan keamanan extra pada Jimmy selama mereka fokus pada dia dan Hanssel di rumah sakit. Sam mengikuti perintah nona mudanya.


Seminggu kemudian,


Kondisi Nina sudah lebih membaik dia di rawat di rumah sakit hanya 2 hari untuk memastikan bahwa kandungannya semakin kuat. Karena dua kali dia mengalami gejala keguguran dokter ingin memastikan bahwa gangguan tekanan mental Nina kuat di sertai obat penguat janin yang memang menyuruhnya untuk Bed Rest. Selang setelah pemulihan tubuhnya Nina menjaga Hanssel.


Menurut analisa team medis virus yang di suntikan pada tubuh Hanssel berfungsi untuk melemahkan fungsi syarat motorik. Dalam kandungan darah Hanssel memiliki kadar glutamat yang lebih tinggi dari jumlah normal. Hal itu memicu ketidaksembangan kimia dalam tubuh Hanssel sehingga dia kesulitan menggerakan tubuhnya. Dalam kondisi terburuk gejala penyakit syaraf motorik ini tidak bisa di sembuhkan. Saat Nina mendengar diagnosis dokter yang menangani khusus suaminya, tubuhnya sungguh lemas. Tulangnya seperti tengah dilucuti paksa dari dalam tubuhnya. Akhirnya dia tidak menyesali telah membunuh Sarah dengan tangannya sendiri.


"Kami jajaran team medis tentu akan melakukan pengobatan secara menyeluruh."


"Karena ini adalah percobaan dengan melakukan mutasi gen. Kami sudah memutus rantai kerusakan dalam tubuh tuan Hanssel."


"Sehingga tidak perlu di khawatirkan lagi."


"Kondisi tuan muda akan berangsur normal seminggu kedepan."


"Sebelumnya juga bawahan tuan Keenan telah memberikan saya antisera yang berfungsi melakukan detoksifikasi."


Nina sungguh lega mendengar penjelasan yang membuatnya tenang, tetapi dia teringat perkataan Sarah bahwa jika Hanssel bisa melewati percobaan obat ini. Maka Wijaya akan mencari Hanssel untuk terus diambil darahnya sebagai obat yang akan mengimbangi virus Y miliknya.


"Oh iya, menurut orang yang menyuntikan virus itu dia berkata bahwa darah Hanssel kelak akan di jadikan obat penawar dari virus itu."


"Sejauh yang saya tahu tidak ada cara seperti itu."


"Kecuali memang dilakukan extrak dan di campur dengan beberapa jenis farmasi lainnya."


"Karena antibody dalam  tubuh sendiri yang memiliki peran penting."


"Maaf nona semua itu diluar nalar saya."


"Saya yang minta maaf dokter sudah berbicara lancang."


"Tidak masalah, namun seperti yang sudah saya bilang."


"Antibody tuan Hanssel memang di kategori bagus."


"Ini memudahkan kami team medis melakukan perawatan pada tubuhnya."


"Terlebih saya juga menginginkan mengamati antsera yang tuan Keenan miliki."


Nina terdiam dia sendiri tidak terlalu banyak mengetahui mengenai obat-obat yang ditekuni juga oleh XK sebagai perisai pelindung dimana musuh mereka adalah penjahat yang menggunakan obat-obatan sebagai senjata paling mematikan musuhnya.


"Terima kasih dok..."


"Saya pribadi dan atas nama suami saya benar-benar berhutang pada ketepatan penanganan Hanssel sebak ini."


"Nona jangan sungkan, ini memang sudah tugas saya selaku dokter pribadi keluarga besar Kaviandra."


Nina beranjak dari ruangan dokter menemui suaminya.


Ceklek!


"Sayaaang!"


"Mamaa..."


"Bagaimana diskusi dengan dokternya?"


Hari ini Nyonya Rossie mengunjungi Hanssel, mungkin ikatan batin seorang ibu dan anak yang begitu kuat. Nyonya Rossie menghubungi ponsel Hanssel dan mengetahui kabar bahwa putra kesayangannya berada di rumah sakit.


"Bagus ma, Hanssel sudah bisa pulang hari ini."


"Oh syukurlah..."


"Aku sudah sangat tidak sabar kelaur dari penjara berkedok kesehatan ini!!"


Semua terkekeh dengan rutukan Hanssel yang pada dasarnya tidak menyukai bau rumah sakit. Sedari kecil kesehatannya memang prioritas utama kedua orang tuanya. Nina sungguh beruntung, suaminya memiliki riwayat kesehatan terbaik.


***


"Kalian siapaaa?!"


"Aaaargh!"


Bruuk!


"Cepat ambil sample darah wanita ini."


Salah satu pesuruh tuan Don mengangkat tubuh Yvone dan membaringkannya di sofa.


"Sungguh beruntung sekali dia!"


"Cuma titisan para dewa yang bisa menghindar dari kekejaman Mr. K!"


Salah satu rekannya masih mengoceh yang di jawab dengan gelengan kepala.


"Btw, mukanya sedikit berbeda ga sih?!"


"Iya..."


"Terus dia pura-pura a kenal kita barusan!"


"Makanya gue refleks mukul!"


"Gue heran sih kenapa tuan Don masih make elu yang lemot ga ketulungan!"


"Anjeeng lo!" Sungut temannya tidak terima. Dia kembali mengotak-ngatik pemograman CCTV.


"Karena Mr. K menggunakan serum obat kita."


"Ternyata obat X itu fungsinya sama seperti Obat Wang."


"Menghilangkan ingatan seseorang."


"Tetapi bedanya Obat X ingatan global."


"Sedangkan Wang dilakukan secara partial."


"Jauh lebih menyiksa dibanding hilang ingatan global."


Keduanya terkekeh kembali melakukan tugasnya.


"Beruntung sekali putri tuan Albert ini di bantu oleh salah satu team penyidik BIN dan pengacara hebat Rangga Adyathama."


"Kita harus hati-hati dan selesaikan tugas secepatnya tanpa meninggalkan jejak."


"Jika pemerintah mulai ikut campur pada aktifitas kita bisa bahaya!"


"Alaah tuan besar tinggal kasih suap saja udah kelaar!"


"Iya jika pejabat itu haus akan uang."


"Rangga terkenal dengan tidak pernah ada kasus yang lolos dari genggaman tangannya."


"Tuan Albert yang tengah kesulitan dia bantu hingga menang!"


"Ooo..."


Salah satu rekan yang sudah selesai dengan mengambil darah Yvone selama kurang lebih 20 menit. Dia memasukan semua peralatan blood transfusion set. Menyimpan darah Yvone yang berjumlah satu kantung darah di dalam blood transport cooler box dengan hati-hati dan aman.


"Kau sudah selesai?"


"Sudah!"


"Mari kita keluar."


"Tunggu!!!"


"Apa..."


"Rangga menuju kemari!!!"


"Ah Sh*it!!"


"Panggil Serra, buat keduanya sibuk sebelum masuk rumah!"


"Oke!"


Rangga telah selesai dengan penyelidikannya di Jakarta. Dia juga merasa tidak tenang jika harus meninggalkan Yvone dalam waktu yang lama. Saat tengah menunggu Lift yang akan mengantarnya menuju unit apartemen miliknya tiba-tiba...


Bruuk!!


"Upss!!"


"Sorry... Sorry!!"


"It's okay..."


"Ah... Saya buru-buru jadi tidak melihat dengan jelas..."


Seorang wanita asing tiba-tiba menabrak Rangga. Pria itu tidak menaruh curiga pada awalnya. Sampai pintu lift terbuka wanita itu tiba-tiba terjatuh.


"Aarrrghh!!"


"Apa kamu tidak apa-apa?"


"Oh..."


"Kepala saya tiba-tiba pusing..."


"Bisakah anda membantu saya menekan tombol 10!" Dengan menunduk dan memegang kepalanya wanita itu meminta bantuan pada Rangga.


Rangga memegang tubuh ringkih wanita yang hampir terjatuh di hadapannya, dia mengangguk biasa dan membantu wanita itu. Rangga mencium bau menyengat dari tubuh wanita itu.


Apa dia memang petugas medis atau memang seorang pasien?


Bau menyengat obat-obatan tercium kuat di hidungku!!!


"Apa anda sedang sakit?" Tanya Rangga yang memeang rasa pedulinya yang begitu tinggi.


Tanpa Rangga ketahui di bawah wajah yang di tekuk wanita itu tengah melengkungkan segaris tipis senyumnya.


✲✲✲✲✲✲


Note : Informasi mengenai obat-obatan diambil dari Sehatq.com