Lets Not Fall In Love

Lets Not Fall In Love
Bab 76 - Mr and Mrs



Hanssel masih menatap istrinya yang tertidur pulas dengan memiringkan tubuhnya. Dia memainkan anak rambut dan mengusap lembut wajah cantik natural istrinya.


"Kamu pake sihir apa sayaang, aku sampe tergila-gila begini?!"


"Hehe..."


Cup ~


"Ehmm..."


Nina terbangun, dia mengulat dan merentangkan tangannya tepat di samping tubuh suaminya.


"Pagi sayang ku..."


Hanssel mengecup kening istrinya mesra.


"Pagi..."


Nina merangkulkan tangannya di kepala suaminya, Hanssel kembali menciumi tubuh polos istrinya yang masih tercium aroma khas istrinya. Walau parfumenya memudar namun semua itu justru menjadi daya magnetis bagi Hanssel untuk terus menciumi istrinya tiada henti.


"Aaahh Hanss..."


"Kita ke rumah sakit ya sayang..."


"Aku ingin melihat bayi kita..."


Hanssel mendongak, menatap penuh rona kebahagian. Nina menganggukan kepalanya. Hanssel bersiap menggendong istrinya dan seperti biasa memberikan service melayani ratunya dengan memandikan dan lain-lain.


Di ruang meja makan Adamson sudah berkumpul semua untuk melakukan sarapan pagi.


"Pengantinnya masih malas-malasan di ranjang sepertinya!" Tuan Adamson mengawali candaan pagi di meja makan.


Para pelayan tengah sibuk mempersiapkan semua hidangan di atas meja.


"Haha!"


"Padahal mereka udah kasih Jimmy adik, semangat mereka masih menggelora."


"Namanya juga anak muda."


"Eh tunggu!"


Nyonya Rossie dan tuan Adamson saling tatap dengan mata terbelalak.


"Hahaha..."


Tuan Kaviandra dan Nyonya Lyn terkekeh bersama saat melihat ekspresi besan mereka yang baru mengetahui bahwa keduanya telah di karunia anak.


"Bocah sialan itu ga pernah bilang apa-apa!!"


"Ada apa pagi-pagi ribut?!"


Hanssel dan Nina menuju meja makan bersama. Nina menghampiri Jimmy mengecup pipinya begitu pula Hanssel kemudian mempersilahkan istrinya duduk lebih dulu.


"Sayaaang..."


"Kamu sudah isi?!"


Nyonya Rossie menatap Nina antusias.


Nina tersipu dan menjawab malu-malu.


"Iya maa..."


"Aaarhh!!"


"Kenapa kalian tidak bilang di awaaal?!!"


"KAU BOCAH KURANG AJAR membuat mama sungguh tidak berguna!!"


Nyonya Rossie menatap putranya dengan tatapan kesal. Hanssel menanggapinya santai dan datar. Semua yang melihat mereka bersuka cita dan memulai sarapan pagi mereka.


***


"Baring disini nyonya..."


Perawat tengah membantu Nina untuk melakukan tindakan USG. Nina menuju tempat periksa melonggarkan celana miliknya dan perawat tengah menaruh gel di atas perut bagian bawah. Dokter Obgyn kini menghampirinya dan bersiap dengan alat transducer yang akan memperlihatkan kondisi janin dalam perutnya.


Hanssel menggendong Jimmy dan menemani istrinya disamping ranjang periksa satu tangannya menggenggam bahu istrinya.


"Mari kita lihat..."


"Ini dia, sangat bagus..."


"Janinnya sehat dan terlihat kuat..."


Hanssel terpaku melihat benda yang bergerak di dalam rahim istrinya di layar hitam putih. Dia menitikan air matanya haru. Perawat dan dokter sungguh tersentuh dengan respon Hanssel.


Tidak banyak suami yang memiliki respon yang begitu emosional seperti Hanssel.


"Apa sudah bisa di ketahui jenis kelaminnya?!" Hanssel berkata terbata.


Nina melengkungkan senyumnya melihat keinginan Hanssel yang sama saat mereka di Negara S.


"Usia kehamilan nyonya baru memasuki minggu ke delapan tuan."


"Jenis kelamin janin baru bisa di ketahui saat usianya menginjak 18 minggu."


Hanssel mengangguk memahami.


"Papa, ada apa di perut ibu?!"


"Itu adek Jimmy..." Hanssel menyentuh hidung Jimmy dengan telunjuknya lembut.


"Benarkaaah?!" Jimmy ikut sangat antusias.


Deg... Deg... Deg... Deg....


"Ini suara detak jantung adek bayi..."


"Dia sangat sehat dan kuat..."


Dokter telah selesai dengan pemeriksaan, kembali menaruh alat transduser di tempatnya dan perawat membantu Nina membersihkan sisa gel. Nina bangkit dari tidurnya, Hanssel membantunya menggenggam tangan istrinya.


Dokter dan perawat tengah iri pada keduanya, kebahagiaan keduanya mempengaruhi atmosfer di sekitarnya sehingga bisa merasakan hal yang serupa.


"Saya meresepkan beberapa vitamin dan penguat untuk anda."


"Dan ini hasil fotonya."


Hanssel menerimanya, dia menatap penuh senyuman pada selembar foto hitam putih yang berisi nyawa generasi penerusnya.


"Lihat Jimmy, adikmu sangat lucu!"


"Kelak dia akan menemanimu bermain!"


"Benaaar papa!"


"Jimmy bakalan sayang sama jagain adek!!"


Hanssel memainkan hidungnya dengan hidung Jimmy. Sungguh kebahagian sempurna bagi Nina. Dokter dan perawat ikut berbahagia dan menyelamati keduanya.


"Mau kemana lagi sayang?!"


Hanssel bertanya pada Nina dan Jimmy yang kini duduk di kursi belakang.


"Mekdi!!!!"


"Haisssh..."


Walau menggerutu tapi Hanssel menuruti setiap permintaan putranya. Hanssel mencium jemari Nina, dan memainkannya bahkan menggigit kecil permukaannya membuat tubuh Nina meremang.


"Sayaaaang!" Rengek Nina lirih.


"I'm so happy..."


"Aku akan meledak saking bahagianya!!"


Nina tertawa kecil dengan respon berlebihan suaminya.


"Ini pertama kalinya untuk ku!!"


Namun tiba-tiba raut mukanya berubah, dia teringat perjanjiannya dengan kakak iparnya. Dia menggenggam erat jemari Nina, beberapa hari lagi dia akan meninggalkan istri dan buah hati mereka dalam waktu yang tidak bisa di tentukan.


Secepat ini pikiran Hanssel berkecamuk hebat. Dia mengingat kembali bagaimana depresi ibunya sesaat setelah menerima kabar papanya menghilang.


Bagaimana dengan Nina? Apa aku harus jujur aku akan melakukan hal apa?


Aku takut kak Keenan mempersulitku jika aku memberitahukan Nina semuanya.


Nina menyadari perubahan mood Hanssel saat ini, kegelisahan suaminya tersalurkan melalui genggaman tangan prianya itu.


"Are you okay honey?!" Tanya Nina perlahan.


"Owh..."


"Yeah, aku hanya tengah berpikir nama anak kita!!"


Nina terkekeh dengan jawaban spontan suaminya, namun demikian Nina menyadari ada yang salah dengan prianya. Dia sangat mengenal Hanssel walau mereka bersama baru seumur jagung namun menjadi sekertaris kepercayaan dan tangan kirinya selama 2 tahun terakhir cukup membuat Nina mengerti seperti apa suaminya.


***


Keenan membolak-balikan berkas di tangannya. Semua data mengenai pekerjaan utamanya telah berada di tangannya. Bagi Keenan menjadi interpol khusus di XK adalah impian dan pekerjaan utamanya. Sedangkan bisnis raksasanya saat ini hanya pekerjaan sampingan.


Walaupun pekerjaan sampingan, Perusahaan Startup miliknya baru saja naik level dari level Unicorn dan tahun ini berada di level Decacorn dengan nilai valuasi sebesar USD$ 20 Miliar atau setara kurang lebih 280 triliun rupiah.


Braaak!


"Besok kamu siapkan keperluan Hanssel, dia akan menggantikan Nina di XK."


"Apa nona muda tahu akan hal ini tuan?!"


"Nina tidak bodoh, cepat atau lambat dia sendiri akan mengetahuinya."


"Tetapi untuk pekerjaan kali ini sangat berat."


"Aku tidak akan pernah mengijinkan dia bertaruh nyawa."


"Terlebih dia sedang mengandung."


"Aku ingin adik ku memiliki kehidupan normal seperti kebanyakan para wanita di bumi ini."


"Lalu bagaimana dengan system dan sumber daya yang nona punya?!"


"Apa tuan akan menariknya?!"


"........"


Keenan berpikir sejenak, dia menyenderkan badannya di kursi kebesarannya.


"Meski aku tarik bocah itu sudah memodifikasi dan menjadikan versi dirinya!"


"Hahaha..."


"Semua itu juga bisa membantu Nina jika suatu saat dia menghadapi bahaya."


"Kamu deactive saja ID user milik Nina."


"Dia tidak bisa mengakses bank data secara universal seperti biasanya."


"Baik tuan... Saya ijin undur diri!"


Sam kembali keluar ruangan tuan mudanya. Keenan memperhatikan foto keduanya.


"Karennina, kakak harap kamu bisa mengerti."


"Aku tidak akan mengijinkan kamu terlibat lebih jauh lagi..."


"Maafkan kakak..."


✲✲✲✲✲✲