
Keenan dan Nina sudah berada di salah satu Coffe Shop tak jauh dari kantor keduanya. Bahkan rencananya Keenan akan mengakusisi warung kopi itu menjadi miliknya.
"Apa yang kamu inginkan dari Hanssel?!"
"Kenapa itu yang kamu tanyakan?"
Keenan menatap Nina terkekeh, Keenan sangat menyayangi adiknya. Sudah lumayan lama dia tidak berinteraksi dengan adiknya itu.
"Dia mengatakan akan pergi keluar negara."
"Walau dia menutupinya dari ku, aku tidak bodoh!"
"Hahaha..."
"Adik ku memang luar biasa pintar!"
"Huh!"
Nina mendengus kasar, dia menyesap kopi cappucino panasnya.
"Berhentilah dari XK."
"Biarkan suamimu yang mengambil alihnya."
"Sejujurnya kakak tidak ingin melibatkan kalian lagi, tapi keterlibatan kalian berdua bagai pedang bermata dua."
"Kamu mengerti bukan?!"
"Jika mengandalkan keahliannya saat ini dia tidak akan bisa melindungimu lebih baik."
"Kakak akan memberikannya sumber daya terbaik."
"Dengan begitu kakak tenang melepasmu!"
"Kak...."
Nina mulai berkaca, dia berpikir kakaknya mulai tidak masuk akal menjaganya.
"Karen, kau tahu hal yang tidak pernah aku lupakan seumur hidupku adalah membiarkan adik kesayanganku disiksa oleh orang lain!"
"Aku menyesal karena aku tidak bisa mencegah hal itu sebelumnya."
Nina sudah menitikan air mata dengan derasnya.
"Jika saat itu aku tidak ada pekerjaan menyelidiki aktifitas Huateng."
Keenan berhenti, terlihat jelas amarah yang terbaca di kedua netranya.
"Aku bersumpah aku akan menghukum diriku sendiri."
"Hari itu aku melihat adik ku dengan tubuh rintihnya menangis di pinggir jalan dengan beberapa luka di tubuhnya."
"Di buang bak sampah!"
"Kami merawatnya dengan baik dan si bajingan itu merusak mu!"
"Aku tidak ingin... Tidak akan pernah mau lagi melunak pada siapapun termasuk kamu!"
"Jika sesuatu terjadi padamu lagi aku akan membuat mereka lenyap dari bumi ini!!"
Keenan menumpahkan emosinya, dia menyeka sudut matanya. Baginya keluarga yang utama, melihat adik yang dia rawat dan jaga sepanjang hidupnya di sia-siakan tentu menjadi pukulan terberat di hidupnya.
Nina beranjak dari tempatnya dan menghambur memeluk kakaknya.
"Aku minta maaf..."
"Aku yang bodoh!!"
Beberapa orang sudah memperhatikan mereka berdua. Tak jarang yang menyimpulkan keduanya justru sebagai sepasang kekasih.
"Nyonya Yun meninggal saat pernikahan mu di gelar."
"Erick Shin dan Soraya aku berikan obat x, salah satu obat yang baru di rilis Huateng."
"Aku membeli secara anonim untuk bahan percobaan XK!"
"Aku ingin lihat apa yang akan terjadi!"
Nina terpaku, memang betapa mengerikan jika kakaknya sudah turun tangan.
"Aku sudah tidak ingin tahu tentang mereka."
"Baguslah kalau begitu!"
"Kau tahu apa yang membuat aku memberi tugas ringan pada Hanssel?!"
Nina beranjak dan kembali di tempatnya. Kali ini dia mengerutkan keningnya.
"Aku spontan bertanya pada Jimmy."
"Sehari sebelum Jimmy di bawa ke Negara S. Aku bertanya sesuatu padanya."
"Jimmy, apa kamu ingat siapa papa mu?!"
Jimmy terdiam sejenak kemudian dia menatap Keenan dengan percaya diri tanpa keraguan.
"Tentu uncle!"
"Papa Hanssel."
"Bukan maksud uncle, Jimmy kan tahu sebelum bertemu papa Hanssel kamu...."
Sebelum Keenan menyelesaikan kalimatnya Jimmy telah menyela lebih dulu.
"Tidak uncle!"
"Papa Hanssel."
"Papa Jimmy hanya satu!"
"Hanya papa Hanssel!"
"Papa Jimmy selamanya hanya ada papa Hanssel seorang!"
Nina menyeka kembali matanya yang berembun dia tidak menyangka putranya yang masih kecil itu sudah berlaku tegas dengan menghilangkan ayah biologisnya.
"Hanssel memang memanjakan Jimmy valid no debat!" Ujar Nina lirih membenarkan.
"Minggu depan akan di adakan rapat koordinasi kembali keanggotaan XK."
"Dengan ini aku membebas tugaskan dirimu Karennina Kaviandra."
"Dan menggantinya dengan Hanssel Adamson."
"Tapi kak!!"
"KAREEN!!"
"Kedepannya kita akan berperang dengan Wijaya."
"Kau tahu siapa dia?!"
"Rival abadi tuan Wira."
"Salah satu penjahat obat terlarang skala internasional."
"Dia sudah mengumumkan obat ilegal namun di pasarkan dengan legal!"
"Dia sangat berbahaya, dia menggunakan obat sebagai senjata membunuh musuh-musuhnya!"
"Lantas apa bedanya dengan memasukan Hanssel?!"
"Dia bisa saja terbunuh!!"
"Lalu bagaimana aku dan anak ku?!"
Nina yang tengah sensitif sangat mudah emosional. Keenan menghirup udara dan menghembuskannya kasar.
"Itulah gunanya pelatihan."
"Jika masa pelatihan dia terluka bahkan mati berarti dia tidak cukup kuat menjagamu Karen!!"
"Dia tidak menjaga dirinya sendiri bagaimana bisa menjaga dirimu dan anak-anaknya?!"
"Bukankah dia juga tidak bodoh?!"
"Aku juga tidak mungkin gegabah!"
"Aku bahkan bisa melatihmu kurang dari satu tahun!"
"Apa suami mu rela tidak berada di sampingmu saat kamu melahirkan kelak!"
Nina mengepalkan tangannya, dia sendiri sangat menyukai menjadi bagian dari team XK. Banyak pengalaman dan ilmu yang dia dapat disana. Sekarang dia harus melepaskannya.
"Hiduplah normal seperti kebanyakan para wanita biasa lainnya."
"Dengan begitu kamu aman..."
Nina hanya menyunggingkan senyumnya, dia pernah hidup normal hasil akhirnya adalah dia disiksa dan tak berdaya melawannya.
Keenan menggenggam jemari adiknya.
"Seumur hidup kakak, aku akan terus berusaha melindungi mu, melindungi papa dan mama dan keluarga besar Kaviandra!"
"Lalu bagaimana dengan kakak?!"
"........"
"Apa kakak tidak ingin hidup normal seperti kebanyakan pria dewasa lainnya?"
"Penghasilan dari bisnis kakak sudah bisa menghidupi hingga 7 turunan!"
"Hahaha..."
"Menikah dan berkeluarga bukan prioritas hidupku!"
"Aku sudah memiliki kamu, papa, mama, Jimmy dan calon ponakan aku yang berikutnya!"
"Kak..."
"Belajarlah menemukan seseorang yang akan menjagamu dan memberikanmu keturunan sendiri."
"Haish!"
"Berhentilah menyuruhku memiliki pasangan."
"Kak!"
"Cukup Karennina!"
"Aku baik-baik saja selama ini."
"Aku tidak seperti suami mu yang haus akan cinta dan sentuhan wanita!"
"Aku tidak membutuhkan wanita dalam hidupku!"
"Mereka beban pekerjaanku!!"
"Hey aku wanita!!!"
"Except you and mom!"
Nina merubah raut wajahnya dan kembali mengatai kakaknya.
"Kau tidak tau saja rasanya!"
"Saat kau tahu mampus candu tar!!"
"Malu sama umur!!"
Nina terus mengolok kakaknya, dia tidak habis pikir kakaknya benar-benar tidak tertarik dengan wanita.
"Najis!!" Umpat Keenan.
Nina terbahak, dia tidak mengerti lagi harus seperti apa menyelamatkan kisah hidup kakaknya.
"Malam ini ada penjamuan di hotel Emperor."
"Kamu datang sebagai perwakilan Suho."
"Kakak sudah mendaftarkan Suho di BEI!"
"Baiklah..."
"Aku ingatkan lagi, jangan halangi Hanssel. Jangan membantunya!"
"Dia harus berkembang atas kemampuannya!"
"Ingat itu..."
"Aku tahu, suamiku hebat tentu tidak butuh bantuanku!!"
"Cih... Ngurus tuan Lim aja butuh kamu yang kasih clue!"
Keenan beranjak dari tempatnya, Nina membayar bill dan mengikuti kakaknya.
***
"Mmmm..."
"Sayaaang... Kamu bilang mau makan malam!!"
"Tidak ingin lagi!!"
"Aku ingin makan kamu!!!!"
Nina menyeringai dia sama inginnya. Keduanya memulai kembali permainan panas mereka. Namun di tengah permainan Nina mengingat sesuatu.
"Jam berapa ini?!"
"Aarrgh!!"
Nina bangkit dan mendorong tubuh Hanssel yang sebentar lagi menuju puncaknya.
"KARENNINA!!" Umpat Hanssel kesal kesenangannya terhenti.
"Tunggu sayang..."
"Aku lupa sesuatu... Kakak menyuruhku datang di penjamuan malam ini sebagai perwakilan Suho."
"Dan aku lupa!!"
"Mampus aku!!!"
Hanssel terkekeh, Nina mengambil ponselnya menghubungi seseorang.
"FARAAAH LEE?!"
"Dimaana kamu?!"
"Di rumah..."
"Bagus, cepat bersiap kamu datang ke Hotel Emperor gantikan aku sebagai perwakilan Suho."
"HEY HOLD ON!"
"WHY ME?!!"
"Gue ga tau apapun!!"
"Lu cuma senyum aja udah... Ngangguk doang, isi buku hadir dah kelar!!"
"Ga datang gue bilang sama kak Keenan!!"
"W H A T?!"
Tutt!
"Kenapa gue jadi tumbal gini?!!!!"
"Dah lah... Besok gue minta kompensasi!!"
Setelah selesai dengan sambungan telponnya Hanssel kembali merangkul tubuh istrinya dan menciuminya.
"Aku pikir kamu akan bergegas pergi sendiri." Hanssel menggigit daun telinga Nina.
"Argh..."
"Aku memilih bersama suamiku menabung daya kehidupan sebelum ditinggalkan."
Hanssel terkekeh dia kembali melayangkan sentuhan yang membuat tubuh keduanya kembali meremang.
"Adek bayi gapapa kan papa tengokin semalaman?!"
"Iya papa..."
Hanssel tertawa melihat Nina yang meresponnya kemudian dia kembali bersiap melayang di atas awan bersama dengan istrinya.
✲✲✲✲✲✲